السلام عليكم ورحمته الله وبركا ته
Semoga Bermanfaat
Wass.......zainal

Keagungan Bismillah 

Syarifuddin mustafa MA
Dalam Hadits Rasulullah saw bersabda, “Setiap pekerjaan yang baik, jika 
tidak dimulai dengan “Bismillah” (menyebut nama Allah) maka (pekerjaan 
tersebut) akan terputus (dari keberkahan Allah)”.
Dalam keseharian kita tentunya selalu melakukan kegiatan dan aktivitas, 
tanpa kegiatan dan aktivitas kehidupan kita akan hampa, hambar dan tidak 
produktif. Kegiatan tersebut bisa dilakukan dimana saja, di rumah, di 
kantor, di jalan, di warung, di pasar, di sekolah dan ditempat-tempat 
lainnya. Dan –bagi orang beriman- kegiatan atau aktivitas adalah sarana 
menebar kebajikan, baik kata maupun perbuatan selalu memberikan kebaikan 
pada dirinya dan orang lain. Bukankah Rasulullah saw mengumpamakan jati 
diri seorang muslim seperti seekor lebah. Makanan yang dimakan adalah baik 
dan yang dikeluarkan pun baik, lebah hinggap atau tinggal tidak pernah 
merusak yang lainnya.
Namun kadangkala kebanyakan dari kita tidak sadar memulai segala aktivitas 
atau kegiatan tanpa mengucapkan membaca kalimat bismillah, padahal 
diterima atau tidak amal perbuatan seseorang bergantung pada kalimat 
tersebut.
Ketika bangun tidur sudahkah kita mengucapkan alhamdulillah dan memulai 
aktivitas hari itu dengan bismillah?
Ketika akan mandi, berpakaian, sarapan pagi sudahkah kita memulainya 
dengan bismillah?
Ketika akan berangkat ke kantor, keluar dari rumah, naik kendaraan 
sudahkah kita memulainya dengan bismillah?
Ketika di kantor, sudahkah ketika kita masuk ruangan kantor, menyalakan 
komputer, membuka berkas atau file, membuka rapat, menulis, membaca 
memulainya dengan bismillah?
Begitu banyak lagi aktivitas yang kita lakukan dalam keseharian kita, 
namun sudahkan kita memulainya dengan bismillah??
Kadang kita menganggap hal tersebut adalah sepele, padahal di sisi Allah 
merupakan kebaikan yang bernilai besar, diberkahi atau tidaknya perbuatan 
dan aktivitas seseorang tergantung pada saat memulainya.
Sebenarnya apa sih keistimewaan dari bismillah sehingga Allah dan 
Rasul-Nya mensyariatkan kepada kita untuk memulai segala aktivitas, 
perbuatan dan kegiatan dengan membaca bismillah?
Sebagian ulama salaf mengatakan bahwa “bismillah merupakan inti kandungan 
ajaran Islam” karena di situ ada unsur keyakinan terhadap Allah yang telah 
memberikan kekuatan sehingga seseorang dapat melakukan aktivitas yang 
diinginkan, pangakuan akan ketidakberdayaan seseorang di hadapan Allah 
Taala. “La haula wala quwwata illa billah (Tiada daya dan upaya kecuali 
atas izin Allah). Apalagi kalau bacaannya kita sempurnakan dengan kata 
bismillahirrahmanirrahim maka kita telah meyakini akan kebesaran Allah 
yang telah memberikan nikmat dan karunia, kasih sayang dan rahimnya kepada 
seluruh makhluk-Nya.
Jika kita runut secara bahasa, maka akan kita dapatkan keagungan kalimat 
bismillahirrahmanirrahim. kata Bismillah misalnya merupakan tiga rangkaian 
kata yang mengandung arti yang agung yaitu Ba (bi), Ism, dan Allah.
1. Huruf ba yang dibaca bi di sini mengandung dua arti:
Pertama: huruf bi yang diterjemahkan dengan kata “dengan” menyimpan satu 
kata yang tidak terucapkan tetapi harus terlintas dalam benak ketika 
mengucapkan basmalah, yaitu memulai. Sehingga bismillah berarti “saya atau 
kami memulai dengan nama Allah”. Dengan demikian kalimat tersebut menjadi 
semacam doa atau pernyataan dari pengucap. Atau dapat juga diartikan 
sebagai perintah dari Allah (walaupun kalimat tersebut tidak berbentuk 
perintah), “Mulailah dengan nama Allah!”.
Kedua: huruf bi yang diterjemahkan dengan kata “dengan” itu, dikaitkan 
dalam benak dengan kata “kekuasaan dan pertolongan”. Pengucap basmalah 
seakan-akan berkata, “dengan kekuasaan Allah dan pertolongan-Nya, 
pekerjaan yang sedang saya lakukan ini dapat terlaksana”. Pengucapnya 
seharusnya sadar bahwa tanpa kekuasaan Allah dan pertolongan-Nya, apa yang 
sedang dikerjakannya itu tidak akan berhasil. Ia menyadari kelemahan dan 
keterbatasan dirinya tetapi pada saat yang sama –setelah menghayati arti 
basmalah ini – ia memiliki kekuatan dan rasa percaya diri karena ketika 
itu dia telah menyandarkan dirinya dan bermohon bantuan Allah Yang Maha 
Kuasa itu.
2. Kata Ism setelah huruf bi terambil dari kata as-sumuw yang berarti 
tinggi dan mulia atau dari kata as-simah yang berarti yang berarti tanda. 
Kata ini biasa diterjemahkan dengan nama. Nama disebut ism, karena ia 
seharusnya dijunjung tinggi atau karena ia menjadi tanda bagi sesuatu.
Syaikh Al-Maraghi dalam tafsirnya menjelaskan dengan penyebutan nama di 
sini berarti dirinya memulai pekerjaan dengan nama Allah dan atas 
perintahnya bukan atas dorongan hawa nafsu belaka.
Penyebutan nama Allah diharapkan pekerjaan itu menjadi kekal disisi Allah. 
Di sini bukannya Allah yang nama-Nya disebut itu yang kita harapkan 
menjadi kekal karena Dia justru Maha Kekal. Namun yang kita harapkan 
adalah agar pekerjaan yang kita lakukan itu serta ganjarannya menjadi 
kekal sampai hari kemudian. Banyak pekerjaan yang dilakukan seseorang 
tetapi tidak mempunyai bekas apa-apa terhadap dirinya atau masyarakatnya, 
apalagi berbekas dan ditemui ganjarannya di hari kemudian. Demikianlah 
Allah mentamsilkan perbuatan orang-orang yang kafir yang tidak dibarengi 
dengan keikhlasan kepada Allah, “Dan Kami hadapi hasil-hasil karya mereka 
(yang baik-baik itu), kemudian Kami jadikan ia (bagaikan) debu yang 
beterbangan (sia-sia belaka). (QS 25: 23)
3. kata Allah, berakar dari kata walaha yang berarti mengherankan atau 
menakjubkan. Jadi Tuhan dinamai Allah karena segala perbuatan-Nya 
menakjubkan dan mengherankan. Karena itu terdapat petunjuk yang 
menyatakan, “Berfikirlah tentang makhluk-makhluk Allah dan jangan berfikir 
tentang Dzat-Nya”.
Sementara itu sebagian ulama mengungkapkan bahwa kata Allah terambil dari 
kata aliha – ya’lahu yang berarti menuju dan bermohon. Tuhan dinamai Allah 
karena seluruh makhluk menuju serta bermohon kepada-Nya dalam memenuhi 
kebutuhan mereka, atau juga berarti menyembah dan mengabdi, sehingga 
lafazh Allah berarti “Zat yang berhak disembah dan kepada-Nya tertuju 
segala pengabdian”.
Syaikh Mutawalli Sya’rawi, seorang guru besar pada universitas Al-Azhar, 
ulama kontemporer dan pakar bahasa menyebutkan dalam tafsirnya tentang 
keistimewaan lafadz Allah ; “Lafadz Allah selalu ada dalam diri manusia, 
walaupun ia mengingkari wujud-Nya dengan ucapan atau perbuatannya. Kata 
ini selalu menunjuk kepada Dia yang diharapkan bantuan-Nya itu. 
Perhatikanlah kata Allah. Bila huruf pertamanya dihapus, maka ia akan 
terbaca Lillah yang artinya “demi/karena Allah”. Bila satu huruf 
berikutnya dihapus, akan terbaca lahu, yang artinya untuk-Nya. Bila huruf 
berikutnya dihapus, maka ia akan tertulis huruf ha yang dapat dibaca hu 
(huwa) yang artinya Dia”.
Apabila anda berkata Allah maka akan terlintas atau seyogianya terlintas 
dalam benak Anda segala sifat kesempurnaan. Dia Mahakuat, mahabijaksana, 
Mahakaya, Maha Berkreasi, Mahaindah, Mahasuci dan sebagainya. Seseorang 
yang mempercayai Tuhan, pasti meyakini bahwa Tuhannya Mahasempurna dalam 
segala hal, serta Mahasuci dari segala kekurangan.
Sifat-sifat Tuhan yang diperkenalkan cukup banyak. Dalam salah satu hadits 
dikatakan bahwa sifat (nama-nama) Tuhan berjumlah sembilan puluh sembilan 
nama (sifat).
Demikian banyak sifat (nama) Tuhan, namun yang terpilih dalam basmalah 
hanya dua sifat, yaitu Ar-Rahman dan Ar-Rahim yang keduanya terambil dari 
akar kata yang sama. Agaknya sifat ini dipilih, karena sifat itulah yang 
paling dominan. Dalam hal ini Allah dalam Al-Quran menegaskan “Rahmat-Ku 
mencakup segala sesuatu”. (QS 7: 156). Sebuah hadits Qudsi menyebutkan 
bahwa rahmat Allah mengalahkan amarah-Nya.
Kedua kata tersebut, Ar-Rahman dan Ar-Rahim, berakar dari kata Rahm yang 
juga telah masuk dalam perbendaharaan bahasa Indonesia, yang berarti 
peranakan atau kandungan. Apabila disebut kata Rahim, maka yang terlintas 
di dalam benak adalah ibu dan anak, dan ketika dapat terbayang betapa 
besar kasih sayang yang dicurahkan sang ibu kepada anaknya. Tetapi, jangan 
disimpulkan bahwa sifat Rahmat Tuhan sepadan dengan sifat rahmat ibu.
Abu Hurairah meriwayatkan sabda Rasulullah saw yang mendekatkan gambaran 
besarnya rahmat Tuhan: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Allah SWT 
menjadikan rahmat itu seratus bagian, disimpan di sisi-Nya sembilan puluh 
sembilan dan diturunkan-Nya ke bumi itu satu bagian. Satu bagian inilah 
yang dibagi pada seluruh makhluk. (begitu ratanya sampai-sampai satu 
bagian yang dibagikan itu diperoleh pula oleh) seekor binatang yang 
mengangkat kakinya karena dorongan kasih saying, khawatir jangan sampai 
menginjak anaknya”. (HR. Muslim)
Dalam ungkapan lainnya disebutkan bahwa kata Rahman adalah merupakan sifat 
kasih sayang Allah kepada seluruh makhluk-Nya yang diberikan di dunia, 
baik manusia beriman atau kafir, binatang dan tumbuh-tumbuhan serta 
makhluk lainnya. Bukankah kita –dengan kasih sayang-Nya- telah diberikan 
kehidupan, diberikan kemudahan menghirup udara, kemudahan berjalan, 
berlari dan melakukan segala aktivitasnya, walaupun sangat sedikit dari 
kita mau merenungkan apalagi mensyukuri segala nikmat tersebut? Allah 
senantiasa memberikan kasih sayang-Nya kepada manusia sekalipun mereka 
ingkar kepada-Nya.
Sementara itu kara Rahim diberikan secara khusus oleh Allah kelak nanti 
dialam akhirat yaitu hanya bagi mereka yang beriman dan mensyukuri segala 
kenikmatan yang telah dianugrahkan kepada mereka. Kasih sayang-Nya secara 
khusus diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang mengabdikan dirinya kepada 
Allah dan yakin bahwa semua kenikmatan adalah bersumber dari Allah. Bahkan 
yakin bahwa segala amal ibadahnya, perbuatan baiknya tidak akan menjamin 
akan dirinya masuk ke surga-Nya kecuali karena Rahmat-Nya.
Suatu kali Rasulullah saw berpesan kepada para sahabatnya, “Bersegeralah 
kalian berbuat baik dan perkuatlah hubungan kepada Allah. Dan ketahuilah 
bahwa amal kalian tidak menjamin kalian masuk surga. Sambil terheran para 
sahabat bertanya, “Termasuk Engkau wahai Rasulullah”? Rasulullah saw 
menjawab, “Betul, termasuk saya..kecuali jika Allah menganugrahkan 
rahmat-Nya dan karunia-Nya kepadaku”. 
Wallahu a’lam.
 

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke