Surat Untukmu, Adjie Massaid…

Oleh: Linda | 11 February 2011 | 15:02 WIB 




Aku tidak sanggup dulu berpanjang lebar, Djie. Tenagaku terkuras sejak ajalmu 
tiba. Enerjiku seakan-akan habis. Air mataku kering sudah.  Hari ini hari 
ketujuh. Acara tahlilan di kediamanmu akan digelar lagi seusai sholat Isya 
bersama. Aku bersama keluarga besar telah menyiapkan segala sesuatunya. Dari 
hari pertama, Djie. Dan sebagian  sudah ambruk flu berat. Biasanya, kamu selalu 
memberikan aku permen khusus untuk flu. Permen apa ya itu Djie? “Hehe..ini 
permen vitamin C. Kakak gitu aja nggak tau, gimana sih?”, begitu katamu saat 
itu sambil tertawa lebar.

Siang ini sudah gelap gulita. Apakah akan hujan lebat setelah ini? Aku tidak 
berharap begitu, agar tahlilan nanti berjalan lancar dan rapi.  Sebagaimana 
kamu selalu mengatur acara apapun di rumahmu, selalu harus necis, tertata rapi, 
dan nyaman. Aku, adik-adik, tentunya Ibu, juga istrimu yang tak henti 
mengalirkan air matanya, tetap menginginkan acara semua berjalan baik. Semua 
demimu, Djie.Apalagi yang bisa kami berikan padamu bila semua sudah terlanjur 
lenyap seperti  ini? Ketiga anakmu terpana, semua pembantu rumah tanggamu, 
sopir, staf yang lain, tersedu-sedu di malam kamu pergi itu. Aku yang pertama 
kali lari dari Rumah Sakit Fatmawati untuk kembali ke rumahmu. Bagaimana aku 
sanggup melihatmu terbujur di ruang jenazah yang mencekam, sementara Angiemu 
begitu pilu tersedu-sedu. Di rumah belum ada yang tahu, dan belum dipersiapkan 
apapun. Pikiranku langsung ke lokasi kelak kamu dibujurkan nanti, pakai tempat 
tidur apa, pakai kain apa untuk menyelimutimu, meja mana yang harus digeser.., 
kursi mana yang harus juga dipindah-pindahkan.

Aku muncul di rumah yang sepi. Perih! Aku bingung harus berbuat apa. 
Pelan-pelan kubangunkan pembantu setiamu. Dia harus membantu aku membereskan 
segalanya. Dengan berurai air mata, kami mengangkut meja jatimu yang berat 
itu,  merapikan karpet. Keanu yang berada di kamarnya harus aku pindahkan 
sementara, karena kasurnya akan dipakai. Untungnya ibuku tak kehilangan akal. 
Dalam kepanikannya di Rumah Sakit ia menghubungi adiknya untuk mendapatkan 
tempat tidur jenazah.

Aku panik begitu kamu sudah muncul di halaman depan dengan ambulans yang 
mencekam itu. Duh… gemetarnya seluruh tubuh ini, bercampur panik dan pedih luar 
biasa, tak bisa dibayangkan lagi! Lalu anak-anakmu muncul dari kamar 
masing-masing…. ya Allah… kubayangkan wajah Zahwa dan Alliyah, Djie. Betapa 
mereka kaget luar biasa dan sedih tak terkira. Aku tak sanggup memeluk mereka, 
ketimbang aku semakin larut dalam nestapa pada detik itu.

Istrimu luar biasa dukanya. Panggilan kesayangan yang selalu ia lontarkan 
kepadamu,’Dal’.., selalu ia sebut di telingamu yang sudah mulai membiru. Air 
matanya menyentuh seluruh wajahmu yang cakep, Djie. Duh, adikku… kamu cakep 
sekali tertidur di dipan jenazah itu. Senyummu yang selalu tulus tetap muncul 
di situ.  Aku sudah tidak ingat lagi siapapun yang datang karena semua bagaikan 
kerumunan tawon di tengah sebongkah madu. Berdengung tiada henti. Saat Presiden 
SBY dan istrinya melayat dan  menyapa aku saat mendampingi Angie istrimu, aku  
juga bagai tak perduli lagi. Yang aku hanya ingat hanyalah duka, duka, dan duka.

Djie, kamu tahu tidak, aku terakhir membohongi kamu lho. Waktu kamu bilang mau 
berziarah  ke makam ayahmu yang tidak jauh dari rumahku, ada nada tanya 
seolah-olah memang kamu mau mampir ke rumahku setelah dari makam. Aku buru-buru 
bilang mau pergi segera. Sebetulnya aku berbohong… ya ampun.. mengapa pula aku 
harus membohongimu. Aku katakan itu semua karena pada jam itu aku masih malas 
mandi, dengan baju tidur yang lusuh, dan rumah sedang berantakan bagai kapal 
pecah. Adjie mau datang ke rumahku yang heboh itu, duh, jangaaaaan… karena aku 
malu memperlihatkan rumahku yang jauh dari kerapihan ketimbang rumahmu yang 
super necis itu. Pokoknya, aku lagi malas deh kedatangan siapapun pada hari 
itu. Sebelumnya, selama seminggu terakhir itu kamu juga agak setengah memaksa 
aku untuk sering-sering datang ke rumah. Saat itu memang aku sedang repot luar 
biasa, mempersiapkan buku biografi seorang sahabat. Aku enggan diganggung 
siapapun agar inspirasiku tidak hilang dalam penulisan. Aku hanya berjanji, 
“Nanti ya Djie, aku masih repot.. aku datang deh, kita nyanyi-nyanyi lagi, aku 
main piano yang lama untuk kamu!”

“Kakak mau dimasakin apa? Kakak mau dibeliin makanan apa? Adjie suruh ya, apa 
mau dianter ke rumah?” , itu kata-katamu.  Duh… mengapa kamu selalu saja ingin 
menyenangkan hati orang. Ibumu yang di Jakarta ini, kenyang mendapat perhatian 
penuh bertumpah ruah darimu. Ibumu yang di Belanda begitu pula. Adik-adikmu, 
kakakmu, selalu kau sirami dengan atensi yang berlebih. Ini bukan soal 
kebendaan., Bukan soal materi, melainkan perhatian dan sapaan hangat selalu.

Kadang kamu telepon aku dari gedung DPR, “Darling, lagi apa kak?”  Dan aku 
hanya tertawa singkat, lalu ngobrol sebentar, lalu tutup telepon.  Kadang aku 
melontarkan kritik pedas untuk  orang-orang partaimu. Kamu hanya senyum-senyum 
saja. Dan kita tidak sampai berdebat soal politik.Banyak orang heran ya Djie, 
kita sama sekali tidak sekandung, tapi hubungan kita  Alhamdulillah akrab 
terpelihara.  Dan selama ini kan aku jarang cerita ke banyak orang, bahwa 
ayahmu dan ibuku menikah selama 23 tahun sampai ajal ayahmu tiba tahun lalu 
itu. Tak dapat kupungkiri bahwa kita pernah pula tak bertegur sapa sebentar,  
karena aku membelamu dalam suatu hal,  namun kamu salah paham. Akhirnya 
hubungan cair kembali dan kita kembali kerapkali mengadakan pertemuan keluarga 
di mana-mana. Di restoran, di rumahmu, di rumah ibu.

Djie, Keanu masih saja memanggil-manggilmu sampai sekian hari setelah kamu 
pergi, “Papa..papa..!” Duh.. segala macam mainannya, mobil-mobilannya yang lucu 
itu terasa sepi karena pengemudinya tidak lagi bersama ayahnya menjalankan 
mobil-mobilan itu. Biasanya kamu yang memainkan kemudi, lalu Keanu yang 
mondar-mandir dengan mobilnya. Kamu berteriak seru, Keanu juga. Belum lagi 
kalau aku ingat, kamu selalu memeluk mencium Zahwa dan Alliyah setiap saat. 
Cintamu kepada mereka sungguh luar biasa.  Bagaimana kamu menjadi  bapak dan 
”ibu’ rumah tangga secara luar biasa cermatnya, tak akan aku lupa sepanjang 
hayatku, Djie. Dan anak-anak pasti juga tak bisa melupakan begitu saja 
kedekatan mereka denganmu, terlebih saat-saat kamu masih hidup sendiri.

Apabila seseorang diwawancarai wartawan dan berbicara ini itu, aku hanya 
tersenyum geli, Djie. Sebab aku tahu ada beberapa uraiannya sama sekali tidak 
benar. Dari mana aku tahu? Tentu dari cerita-ceritamu , curhatmu selama ini kan 
tentang orang itu? Dan aku lebih mempercayai omonganmu.  Jadi, aku, dan 
keluarga besar hanya senyum-senyum saja menanggapi itu semua saat ini. Biarlah 
berbicara maunya apa. Yang penting Tuhan Maha Tahu.., dan kamu yang kini sudah 
pergi  tokh ‘dari awang-awang’  akan mendengar jelas seberapa jauh memang si 
pembohong itu selalu berkata-kata… hhhhmm..!!

Djie, aku tidak mau bercerita lain dulu. Kamu kan masih melihat kami. Betapa 
pontang-pantingnya kami semua selama tujuh hari ini. Tapi kami melakukannya 
dengan ikhlas. Kepedihan Angie menjadi kepedihan kami bersama. Tapi kami tahu 
Djie, kamu tidak akan suka melihat orang bersusah hati.  Cintamu kepada Angie 
yang begitu besar luar biasa, semoga menjadi perekat keluarga kita dan membawa 
ketabahan yang tiada batas.

Di pusaramu tiap hari ada bunga sedap malam  putih kesenanganmu. Si Yanto 
penjual bunga langganan kita itu Djie, sekarang jadi top banget gara-gara ia 
diwawancarai oleh berbagai media, bahkan ia dipanggil dalam acara Tukul. Ia 
bercerita banyak tentang kamu di layar televisi.  Angie nonton si Yanto  dari 
sofa kesayanganmu ditemani kami ramai-ramai, sambil tersenyum pedih…. dan ia 
tetap tak berhenti bertasbih, dari tasbih emas darimu yang lalu….

Adjie, surat ini untukmu. Yang terbaca oleh orang lain. Biar saja. Agar orang 
tahu betapa cinta dan persaudaraan kita memang indah selama ini.  Aku tak putus 
doa untukmu, adikku. Amal ibadahmu selama ini menjadi bekalmu di ’sana’. Semoga 
pula segala kekhilafanmu terhapus dan menjadi ringan adanya menuju Sang Khalik. 
Selamat jalan, adikku. Semua berasal dari NYA, kembali lagi kepadaNYA.  Dan 
saat ini memang giliranmu. Esok hari suatu saat nanti kamipun mengalami hal 
yang sama. Cium sayang dari kakakmu, LINDA

Regards,
Edy Haryanto

Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
Semoga semua makhluk hidup berbahagia

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-----Original Message-----
From: "aga madjid" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Sun, 13 Feb 2011 07:38:02 
To: daffa<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: ~ aga ~ Adjie Massaid

‎​​Tulisan yang amat menyentuh dari Linda Djalil, kakak Adjie Massaid. 
http://sosbud.kompasiana.com/2011/02/11/surat-untukmu-adjie-massaid/


"I am the KING to my own UNIVERSE that rule my MIND, BODY and SOUL !!!"

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke