Injeksi Tinja Obati Sakit Pencernaan Kronis

 
<http://id.news.yahoo.com/viva/20110211/img/pls-1297418731-2011-0-viva-40c82
9b339600.html> Description: Description:
http://d.yimg.com/hb/ng/co/viva/20110211/19/2219454821-injeksi-tinja-obati-s
akit-pencernaan-kronis.jpg?x=213&y=159&sig=pHLvg7_sCwK9ZZQu5fmAaw--sakit
perut 

VIVAnews - Mungkin Anda sudah sering mendengar pengobatan alternatif
menggunakan terapi urin atau darah. Tapi, bagaimana dengan terapi pengobatan
menggunakan tinja?

Sebuah penelitian yang terbit di Journal of Clinical Gastroenterology
mengungkap metode injeksi tinja atau 'transpoosions' untuk menyembuhkan
gangguan pencernaan kronis akibat infeksi bakteri clostridium difficile.

"Pengobatan tersebut sangat efisien, dengan tingkat kesembuhan 90 persen
untuk penggunaan pertama kali. Hasilnya aman, tanpa efek samping, dan dapat
memecahkan masalah dalam hitungan jam," kata Dr Lawrence Brandt dari
Montefiore Medical Center, di New York, seperti dimuat Aol Health.

Brandt mengatakan, injeksi tinja bisa dilakukan melalui enema, prosedur
pemasukan zat ke dalam kolon melalui anus. Bisa juga melalui pipa lambung,
berupa selang yang dimasukkan ke lambung lewat hidung.

Selama ini, pasien terinfeksi bakteri clostridium difficile mengandalkan
suntikan antibiotik sebagai pengobatan. Clostridium difficile merupakan
jenis bakteri yang sulit dimatikan dibandingkan jenis lain seperti C
botulinum, dan C perfringens. Infeksi bakteri Clostridium biasanya ditandai
diare.

Karakter Clostridium difficile yang sulit mati membuat racikan antibiotik
menjadi mahal. Di Amerika Serikat, antibiotik pembunuh Clostridium difficile
mencapai US$60 atau sekitar Rp870 ribu per butir. Sekali pengobatan bisa
mencapai US$2.000 hampir Rp19 juta.

Meski mahal, suntikan antibiotik belum tentu mempan membunuh bakteri.
Bahkan, tak jarang menyebabkan diare kronis. "Tingkat kegagalan antibiotik
10-20 persen dengan peluang kambuh 60 persen," ujarnya.

Itulah mengapa Brandt begitu bersemangat mengembangkan pengobatan alternatif
menggunakan injeksi tinja. Selain lebih murah, metode injeksi tinja tidak
memiliki efek suntikan antibiotik yang dapat mengancam kekacauan metabolisme
tubuh.

Brandt mengatakan, injeksi tinja bisa didapat melalui donor tinja yang telah
melalui uji laboratorium. "Ada beberapa bank donor di Australia, tapi di
Amerika Serikat, kami menggunakan tinja segar dari donor," katanya. "Kami
memisahkan pendonor yang mengidap AIDS, sifilis, hepatitis, patogen dan
parasit lainnya."

Meski klaim keberhasilan pengobatan ini mencapai 90 persen, banyak dokter
enggan beralih ke 'antibiotik' alami tersebut. "Sulit membayangkan
pengobatan menggunakan kotoran. Saya khawatir, penggunaan tinja sebagai
antibiotik berpotensi mencipta masalah baru pada pasien, seperti infeksi
silang," kata Dr Saad Habba, seorang ahli penyakit lambung asal New Jersey.

 

 

Warm Regards,

 

 

Zigo AlCapone

 

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

<<image001.jpg>>

Kirim email ke