HATI ELANG

 

Apa yang tertinggal di kepalaku ketika mengingat tentang perjodohan?
Jawabannya hanya satu, sebuah bentuk kekonyolan. Aku sudah memakai banyak
rumus, dari yang paling sederhana sampai yang ter-rumit sekalipun. Tetap
saja, aku tidak menemukan formula rumus paling yahud untuk bisa memahami
perjodohan adalah hal yang masuk akal.

 

Tidak juga kupahami tentang dia, seorang pria yang berdiri di ambang pintu
kesempurnaan, menurut begitu saja ketika dijodohkan denganku. Ah, yang benar
saja, dia dan aku hidup di jaman dimana orang lain tidak bisa seenaknya
memenggal pendapat dan keinginan seseorang. Karena itu, aku menganggapnya
seorang pria yang lemah. Dia tidak berani menentang keinginan orangtua.
Tidak sepertiku yang mati-matian berusaha meremukkan rencana pernikahan
kami. Dengan segala cara.

 

Aku kabur dari rumah. Ini cara paling ekstrim, daripada aku memilih cara
bunuh diri yang konyol. Ternyata, kabur dari rumah merupakan cara
penyelesaian yang juga konyol. Di tengah pelarian, aku pingsan di jalan.
Hasilnya, aku terkapar di rumah sakit karena infeksi lambung akut.
Keluargaku menemukanku. Pihak rumah sakit memberi informasi ke alamat yang
tertera di kartu identitasku.

Mataku masih menatap ke arah jendela yang menghadirkan lukisan langit yang
menjura. Mendung menggelayut tebal. Setebal kebencianku pada usahaku yang
gagal.

 

"Kamu masih tidak ingin makan?" Dia bertanya dengan nada suara yang sangat
lembut. Tapi aku benci dengan kelembutannya. Dia benar-benar terlihat lemah.

 

"Aku tidak tahu bagaimana harus mengatakannya, tapi aku tidak suka kamu ada
di sini." Kataku penuh kebencian.

 

"Aku tahu kamu tidak suka. Tapi berada di sampingmu adalah kesukaanku." Dia
menjawab dengan senyum sumringah. Aku mendelik hampir muntah mendengarnya.
Pria itu pasti sudah salah makan, otaknya konslet. Aku bergidik menyadari
telah dijodohkan dengan pria lemah semacam dia. Seharusnya dia berusaha
keras menentang perjodohan ini, bukannya malah semakin menikmati rasa sakit
dari penolakanku. Dasar masokis.

 

Berhari-hari aku dirawat di rumah sakit, selama itu pula dia ada di
sampingku. Dia membuatku gila karena tetap penuh sukacita meski aku hanya
menyodorkan sunyi padanya. Dia menyuapiku, membacakan buku hingga aku
terlelap, memapahku mendekati jendela sekedar untuk menunaikan rinduku pada
helaian angin senja, dan yang paling kubenci karena sudah membuatku
tersentuh adalah ketika dia mengeluarkan kotak kosmetikku dari tasku.

 

"Rambutmu mau di ikat atau tergerai? Pakai lipstick yang merah muda atau
yang semi coklat?" Tanyanya seperti perias professional.

"Aku tidak mau dandan."

"Kamu tidak ingin terlihat cantik?"

"Aku sudah cantik!" jawabku ketus.

Dia terkekeh, tapi kubiarkan jari jemarinya menyisir halus rambutku. Aku
biarkan dia mengoleskan lipstick merah muda di atas bibirku. Aku juga
membiarkan dia menyemprotkan parfum melati ke badanku. Mendadak, hatiku
tersekap haru. Dia tidak lemah. Dia lembut.

*************

Airmataku berurai. Doaku tak putus. Kakiku seperti melayang. "Lang!! bangun
Lang!!! Aku mau nikah sama kamu, ayo bangun!!!!!"

 

Elang kecelakaan. Hatiku hancur, takut dia pergi selamanya. Tubuhnya
tergolek lemah. Bajunya penuh darah. Matanya memejam rapat. Selama ini aku
membuangnya, dan menyesal telah melakukannya. Aku ingin Elang menjadi
pendampingku. Dengan segenap keikhlasan dan cintaku. Mendadak aku menangis
sejadinya ketika ada hangat menjalari jemariku.

 

"Hai cantik, sudah mau jadi calon istriku?"

 

"Iya." Jawabku.

 

Dia tertawa. Tawa bahagia miliknya yang menemaniku di sepanjang sisa
hidupku.

 

 

Warm Regards,

 

 

Zigo AlCapone

 

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke