Lucu nih ! *i like this*

Gue baru nyadar kalo gue udah lama banged nggak baca ginian ... Jadi inged 
jaman gue muda dulu ... :p


Keep posting, oom sigid ...


"I am the KING to my own UNIVERSE that rule my MIND, BODY and SOUL !!!"

-----Original Message-----
From: "Zigo AlCapone" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Wed, 16 Feb 2011 06:37:30 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: ~ aga ~ Cerpen Ringan 2

MEMUNGUT ENTAH

 

 

            "Astaga Dir, ibunya makan apa waktu hamil dia ya? Guanteng
banget!!!" Seruku takjub.

            Dira cekikikan. Wajahnya merona, bersemu bahagia. Tangannya
masih memegang erat selembar foto gambar pacarnya. Sudah dua tahun aku tidak
pulang kampung, sekalinya pulang aku disambut oleh curahan hati sahabatku.
Dira terus bercerita tentang Mas Yusuf yang baru sebulan jadi kekasih
hatinya.

            "Rasanya seperti mimpi punya pacar dia. Kok ya ada manusia
nyaris sempurna seperti dia. Ganteng, ibadahnya bagus, rajin kerja, sudah
gitu nggak urakan seperti Mamad dan gengnya itu."

            Aku tertawa. Mamad si ketua geng adalah mantan pacar Dira.
Mereka bahkan pernah berpacaran selama empat tahun. "Bener udah nggak mau
sama Mamad lagi?" godaku yang disambut oleh timpukan bantal ke kepalaku.

            Dira menindihku dan mencak-mencak. Aku terus mengaduh. Dira
semakin senang. Kami berdua tertawa, menggerus rindu yang sempat terangkai
ketika kami terpisah.

**********

            Angin sore itu terasa lembab menerpih kulitku. Airmataku tak
kunjung mengering. Jilbabku berlarian kesana kemari seiring dengan irama
ayunan kakiku yang berlari menuju ke rumah Dira.

            "Ini nggak adil!!!" Erangku menjadi sesampainya di rumah Dira.

            Sahabatku yang kebingungan hanya terus mengusap airmataku.

"Aku dijodohkan, Dir."

            "Hah?!!" Dira terkejut, "sama siapa?"

            "Nggak tahu, tapi aku sudah lihat dia tadi siang."

            "Sudah dikenalkan?"

            Aku menggeleng, "aku mengintipnya waktu siang tadi dia
mendatangi Bapak. Dia sudah tua Dir, seumuran pamanku."

            "Terus?"

            "Dia nggak seganteng mas Yusuf mu itu."

            Dira memelukku. Dia tahu akan lara ku. "Yang penting hatinya
ganteng, Nar. Tidak apa dijodohkan, asal dia jadi imam yang baik dan
mencintaimu dengan luar biasa."

            Entah bagaimana aku harus memaknai perjodohanku dengan kata yang
tepat. Aku ingin bebas memilih seperti Dira. Aku ingin menyempurnakan
ibadahku dengan menjadi pendamping dari seorang pria pilihan hatiku sendiri.
Pria yang kucintai. Bukan pria pilihan Bapak.

************

            "Jilbabnya sudah rapi, Nara. Kamu butuh apa lagi?" Dira
menggenggam jemariku. Sepanjang malam kemarin dia menemaniku. Dira terus
menguatkanku menjelang acara lamaranku dengan pria pilihan Bapak yang bahkan
belum pernah sekalipun dikenalkan padaku. Aku tidak siap. Tidak akan pernah
benar-benar siap.

            Aku menyesal telah pulang kampung. Ternyata Bapak memanggilku
pulang dan menyuruhku berhenti menjadi pahlawan devisa negara hanya untuk
dijodohkan. Andai aku tahu, aku akan menolak disuruh pulang. Tapi aku juga
tidak tega menentang Bapak. Beliau satu-satunya orang tua yang masih hidup.
Ibu sudah meninggal, enam tahun yang lalu. Dengan menjodohkanku dengan
seorang pria, Bapak menginginkan satu-satunya anak gadisnya tinggal di
kampung bersamanya, dan tidak melanglang sendirian di negeri orang.

            Bapak hanya ingin aku berada di dekatnya. Dan cara menghentikan
lompatan-lompatan mimpiku hanyalah dengan mengikatku dengan seorang pria
yang tinggal di kota yang sama denganku. Ah, Bapak, keinginannya yang
sederhana ternyata tidak bermakna sederhana untuk hidupku.

            Aku menggamit tangan Dira erat ketika kami berjalan ke ruang
tamu. Keluarga calon suamiku sudah datang.

            "Nah, sini Nara, Bapak kenalkan dengan calon suamimu."

            Bapak meraih tangan seorang pria, mengajaknya berdiri. Aku
terbelalak, begitu juga dengan Dira. Calon suamiku ternyata mas Yusuf,
sedangkan pria yang tempo hari kulihat ternyata adalah paman Mas Yusuf.

            Dira melepaskan gandengan tangannya. Kepalaku juga mendadak
pening. Aku dan Dira pingsan bersamaan.

 

 

Warm Regards,

 

 

Zigo AlCapone

 

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke