"I am the KING to my own UNIVERSE that rule my MIND, BODY and SOUL !!!"

-----Original Message-----
From: liza herbal <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Wed, 16 Feb 2011 20:27:31 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [Konsultasi-Kesehatan] Bocor Lambung karena Jamu "Kimia"

Dear all,



 Jamu atau dikenal juga dengan suplemen makanan bermanfaat bagi tubuh kita
apabila dibuat 100% dari bahan alami namun apabila dicampur dengan zat tambahan
kimia lainnya maka dapat menimbulkan efek samping yang berbahaya buat tubuh,
berikut ini tuturan dari Kompas mengenai fenomena Jamu Campuran Kimia:
"Sayangnya, ada juga jamu-ja­muan yang pada bungkus luarnya tertera nomor
registrasi Ba­dan POM dan Depkes, tetapi ternyata—setelah ditelusuri lebih
lanjut—palsu. Padahal, masyarakat sulit untuk mengecek apakah nomor Badan POM
tersebut asli atau karangan belaka. Inilah yang membahayakan sebab kita tidak
pernah tahu apa saja bahan-bahan yang terkandung da­lam jamu-jamuan tersebut.
Kompas edisi Kamis, 14 Desember 2006, menurunkan tulisan berjudul "Cara Bijak
Pilih Obat Tradisional". Di dalamnya dibahas mengenai adanya 93 jenis jamu yang
mengandung obat keras. Bahan-bahan obat keras tersebut di antaranya fenibutason,
metampiron, CTM, piroksikam, deksametason, allupurinol, sildenafii sitrat,
sibutramin hidroklorida, dan parasetamol." Produk - produk suplemen Dr. Liza
diproduksi oleh PT. Liza Herbal International (Dr. Liza), Bogor, Jawa Barat yang
berasal dari 100% Herbal Alami tanpa Zat Tambahan & Pengawet Kimia. Produk Dr.
Liza telah terdaftar di Badan POM, Dinas Kesehatan, mendapatkan Sertifikat Halal
dari MUI, dan telah melalui test serta supervisi para ahli dari Laboratorium IPB
Bogor.

Bocor Lambung karena Jamu
Kompas, 7 Sept 2007

Jamu merupakan ramuan tradisional yang sangat umum ditemukan di Indonesia, yang
digunakan baik sebagai tambahan/ suplemen sehari-hari maupun sebagai "obat"
untuk berbagai macam penyakit. Khusus bagi golongan masyarakat menengah-bawah,
jamu masih kerap menjadi pilihan pertama untuk mengatasi gangguan kesehatan
sehari-hari.

Tidak semua jamu-jamuan di Indonesia masuk ke dalam daftar Badan Pengawas Obat
dan Makanan (POM). Jamu gendong, misalnya, yang pembuatannya dilakukan langsung
oleh si penjual jamu dengan ilmu yang turun-temurun. Akan tetapi, banyak pula
jamu-jamuan yang masuk ke dalam daftar Ba­dan POM dan Depkes serta memiliki
nomor registrasi resmi.

Sayangnya, ada juga jamu-ja­muan yang pada bungkus luarnya tertera nomor
registrasi Ba­dan POM dan Depkes, tetapi ternyata—setelah ditelusuri lebih
lanjut—palsu. Padahal, masyarakat sulit untuk mengecek apakah nomor Badan POM
tersebut asli atau karangan belaka. Inilah yang membahayakan sebab kita tidak
pernah tahu apa saja bahan-bahan yang terkandung da­lam jamu-jamuan tersebut.

Kompas edisi Kamis, 14 Desember 2006, menurunkan tulisan berjudul "Cara Bijak
Pilih Obat Tradisional". Di dalamnya dibahas mengenai adanya 93 jenis jamu yang
mengandung obat keras. Bahan-bahan obat keras tersebut di antaranya fenibutason,
metampiron, CTM, piroksikam, deksametason, allupurinol, sildenafii sitrat,
sibutramin hidroklorida, dan parasetamol.

Hampir semua bahan terse­but dapat menyebabkan efek samping langsung terhadap
lapisan sel pelindung pada lambung (mukosa lambung), yaitu peptic ulcer (borok
pada dinding mukosa lambung). Peptic ulcer, merupakan penyebab utama bocor
lambung (± 70 persen) selain keganasan/kanker pada lambung (± 30 persen).
Masyarakat pada umumnya mengetahui penyakit peptic ulcer sebagai penyakit mag.
Pengobatan yang tidak adekuat akan mengakibatkan komplikasi lebih lanjut berupa
perdarahan lambung, keganasan dan akhirnya bocor lambung.

Penyebab tersering dari peptic ulcer adalah produksi asam lam­bung yang
berlebih, obat-obatan, serta infeksi Helicobacter pylori, sejenis bakteri tahan
asam yang memiliki sifat khusus dapat memproduksi enzim urease yang dapat
mengubah derajat keasarnan di dalam lambung menjadi suasana basa. Dengan
demlkian, bakteri itu dapat hidup dan berkembang biak di da­lam mukosa lambung.

Produksi asam lambung berlebih dapat disebabkan oleh faktor stres dan rokok,
sedangkan infeksi H.Pylori dapat dieradikasi dengan obat-obatan tertentu
sehingga pameo saat ini berubah dari no acid, no ulcer (1910) menjadi no
H.Pylori, no ulcer (1989).

Obat-obatan yang paling sering menyebabkan peptic ulcer adalah golongan
anti-inflamasi non-steroid (misalnya, parace­tamol, fenilbutason, metampiron),
serta golongan obat-obat steroid (misalnya, prednison, deksametason). Semua hal
di atas menjadi penyebab utama terjadinya kebocoran lambung yang belakangan ini
meningkat tajam insidensinya di rumah sakit-rumah sakit di Indonesia.

Bukan obat-obatan
Jamu-jamuan sebenarnya dimasukkan ke dalam golongan suplemen makanan, bukan
obat-obatan, yang dibuat dari bahan-bahan alami berupa bagian dari tumbuhan,
seperti akar-akaran, daun-daunan, dan kulit batang. Ada juga yang menggunakan
bahan dari tubuh hewan, seperti empedu kambing atau tangkur buaya. Efeknya ju­ga
tidak akan langsung dirasakan oleh peminumnya. Karena sifatnya berupa suplemen,
jika ada jamu yang efeknya "cespleng", justru harus dicurigai mengandung bahan
obat-obatan kimia tertentu.

Dalam tahun ini, kejadian pasien dengan bocor lambung (perforasi gastef)
meningkat drastis. Di RS Hasan Sadikin, Bandung, kasus pasien dengan bocor
lambung pada tahun 2005 sejumlah 26 orang, tahun 2006 sejumlah 38 orang, dan
2007 dari Januari hingga Juli (6 bulan) saja terdapat peningkatan men­jadi 53
pasien.

Insidensi ini tampaknya akan meningkat terus. Hal ini serupa dengan penelitian
di RS Immanuel, Bandung, di mana kasus­nya pada tahun 2006 tidak lebih dari 10
orang, tetapi dalam enam bulan terakhir (Januari-Juli 2007) kasusnya mencapai 40
orang dan cenderung bertambah. Mayoritas kasusnya adalah pria (77 persen), yang
sesuai dengan insidensi populasi di seluruh dunia. Usia terbanyak berada di
kisaran 50-70 tahun, dengan usia penderita termuda 22 tahun, dan tertua 80 tahun
(rata-rata 60 tahun).

Hal yang menarik mengenai kasus-kasus bocor lambung di kedua rumah sakit
pendidikan di Bandung tersebut adalah se­luruh penderita adalah pengonsumsi
jamu-jamuan kronis (menahun) akibat penyakit rematik, nyeri kepala, flu, dan
sebagainya. Kebanyakan penderita membeli jamu-jamu tersebut dari warung-warung
jamu dan bukan dari produsen yang terpercaya.

Hubungan langsung antara konsumsi jamu-jamuan "gelap" ini dengan peningkatan
kasus bocor lambung yang sangat drastis memang belum jelas terbukti. Namun, dari
hasil pemeriksaan patologi anatomi (pemeriksaan jaringan di sekifar dinding
lambung yang bocor) menunjukkan tidak adanya kuman H.pylori yang merupakan
penyebab paling banyak borok dinding mukosa lambung, maupun adanya
keganasan/tumor pada mukosa lambung penderita.

Hal ini yang menimbulkan suatu hipotesis penyebab lainnya, yaitu konsumsi
obat-obat yang dapat mengiritasi mukosa lambung. Salah satunya adalah
jamu-jamuan, yang menurut Badan POM dicampur dengan obat-obat kimia keras.

Beberapa gejala
Penderita dengan perforasi gaster umumnya datang dengan keluhan nyeri perut
mendadak dan sangat hebat dirasakan di perut bagian atas (ulu hati, mirip gejala
penyakit mag), wajah pucat, keringat dingin, napas pendek-pendek, demam, dan
muntah-muntah, khususnya pa-da jam-jam pertama setelah kebocoran terjadi.

Setelah beberapa jam, penderita biasanya tampak lebih baik, nyeri berkurang,
muntah-mun­tah berhenti, suhu dan nadi nor­mal, bahkan penderita bisa tidur.
Namun, justru pada periode "intermediate' inilah waktu yang paling baik untuk
dilakukan tindakan segera berupa operasi/pembedahan sehingga diagno­sis
penderita harus dilakukan dengan cepat dan benar.

Pada periode lanjut (lebih da­ri 12 jam setelah kebocoran lam­bung terjadi),
pasien akan memburuk dengan cepat dan mulai masuk ke dalam keadaan peri­tonitis
(peradangan hebat pada rongga perut) dan sepsis (infeksi hebat. Racun/toksin
bakteri sudah menyebar ke seluruh tubuh) akibat kontaminasi rongga perut oleh
asam lambung dan isi lam­bung lainnya, berupa sisa makanan dan enzim-enzim
pencernaan.

Jika penderita baru ditangani pada periode lanjut ini, atau bahkan lebih lama,
prognosis (kemungkinan yang terjadi pada penderita) pada pasien tersebut akan
menjadi lebih buruk. Apalagi diperberat lagi dengan faktor usia penderita yang
umumnya sudah lanjut, serta penyakitpenyakit usia lanjut lainnya.

Penanganan penderita yang sudah didiagnosis sebagai perforasi gaster adalah
penanganan secara pembedahan karena ke­bocoran tersebut harus dicari dan ditutup
oleh ahli bedah yang bersangkutan. Umumnya, jika penderita datang pada
periode-periode awal penyakitnya, pasien dapat sembuh sempurna dalam waktu 7-10
hari.

Namun, penelitian di RS Immanuel pada enam bulan terakhir menunjukkan 57 persen
saja penderita dengan perbaikan atau sembuh sempurna, 22 per­sen meninggal
dunia, sisanya dibawa pulang paksa oleh keluarga atau hal lainnya. Pada kasus
penderita yang meninggal dunia, 89 persen akibat menolak dioperasi atau
keadaannya yang sudah sangat berat sehingga ti­dak mungkin lagi untuk dilaku­kan
pembiusan. Hal ini menun­jukkan bahwa level of patient awareness (tingkat
kesadaran) masyarakat kita masih sangat rendah untuk kasus ini, apalagi jika
dokter yang pertama menanganinya juga kurang aware terhadap penyakit ini.

Manajemen paling baik untuk penderita perforasi gaster adalah pencegahan. Sebab,
jika kebo­coran lambung sudah terjadi, penanganannya akan menghabiskan banyak
biaya kesehatan yang harus ditanggung oleh pa­sien, keluarga, rumah sakit, dan
ujungnya adalah negara kita. Untuk itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut
tentang hubungan langsung konsumsi jamu-jamuan "gelap" dengan pe­nyakit bocor
lambung pada pen­derita.

DR ROYS A PANGAYOMAN SPB
Dosen Fakidtas Kedokteran Universitas Krisfen Maranatha Bandung
Demikian semoga bermanfaat.

Salam Hangat,
Dr. Liza Communications
Be Healthy With Herbs
http://www.lizaherbal.com
Email:[email protected]



-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke