-

السلام عليكم ورحمته الله وبركا ته
Semoga Bermanfaat
Wass.......zainal

SIAPAKAH MIRZA GHULAM AHMAD?

Oleh ; Muhammad Ashim


Beberapa waktu lalu, marak pemberitaan di media massa tentang Jemaat 
Ahmadiyah. Berbagai polemik muncul. Banyak media memberikan pembelaan 
terhadap Jemaat Ahmadiyah yang berpusat di London ini, meski ia lahir di 
India. Berbagai kalangan yang menisbatkan diri sebagai cendekiawan muslim, 
ikut menyuarakan argumen pembelaan. Jaringan Islam Liberal (JIL), yang di 
motori Ulil Abshar Abdalla, begandeng tangan dengan sejumlah aktivis HAM 
dan sejumlah tokoh gereja, bahkan bermaksud mengajukan gugatan kepada 
Majelis Ulama Indonesia (MUI) atas fatwa MUI yang menyatakan Jemaat 
Ahmadiyah Qadiyan sesat dan agar segera dibekukan. Dan fatwa ini ternyata 
bukan yang pertama bergulir. Sebelumnya sudah ada fatwa dengan substansi 
yang sama.

Pembelaan yang muncul, semua mengatas namakan HAM dan kebebasan beragama. 
Santernya sikap pro ini, sempat memojokkan MUI, yang katanya bukan sebagai 
otoritas yang berhak menghakimi kebenaran beragama. Sementara itu, nayris 
tidak satupun media massa yang melakukan balance dalam pemberitaan 
tersebut. Sungguh ironi.

Tulisan berikut, bukan bermaksud mengupas mengenai Jemaat Ahmadiyah yang 
tengah diperbincangkan tersebut. Banyak yang sudah membahas. Berikut kami 
sajikan sisi lain. Yaitu mengenal sosok pencetus Jemaat Ahmadiyah ini. 
Tidak lain, dia adalah Mirza Ghulam Ahmad. Siapakah dia sebenarnya? Apakah 
anda mengenalnya?

Tulisan ini kami angat dari Al-Qadiayaniah Dirasat Wa Tahlil, karya Syaikh 
Ihsan Ilahi Zhahir, Idaratu Turjumani As-Sunnah, Lahore, Pakistan, tanpa 
tahun. Meski hanya satu refensi yang kami jadikan pegangan, namun buku 
yang dikarang oleh Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir ini merupakan buku yang 
istimewa. Beliau, yang berkebangsaan Pakistan, sangat menguasai dan 
memahami permasalahan tentang Ahmadiyah sebagaimana tertulis dengan bahasa 
aslinya, yaitu bahasa Urdu. Rujukan beliau banyak bertumpu pada 
karya-karya asli Jemaat Ahmadiyah, baik yang dikarang Mirza Ghulam Ahmad 
atau para penerusnya.

KELUARGA GHULAM AHMAD
Dia menceritakan, namaku Ghulam Ahmad. Ayahku Atha Murthada. Bangsaku 
Mongol. (Kitab Al-Bariyyah, hal. 134, karya Ghulam Ahmad). Namun dalam 
kesempatan lain, ia mengatakan, keluargaku dari Mongol… tapi berdasarkan 
firman Allah, tampaknya keluargaku berasal dari Persia, dan aku yakin ini. 
Sebab tidak ada seorang pun yang mengetahui seluk-beluk keluargaku seperti 
pemberitaan yang datang dari Allah Ta’ala (Hasyiah Al-Arbain, no. 2 hal. 
17, karya Ghulam Ahmad). Dia juga pernah berkata : “Aku membaca beberapa 
tulisan ayah dan kakek-kakekku, kalau mereka berasal dari suku Mongol, 
tetapi Allah mewahyukan kepadaku, bahwa keluargaku dari bangsa Persia” 
(Dhamimah Haqiqati Al-Wahyi, hal. 77, karya Ghulam Ahmad). Yang 
mengherankan, ia juga pernah mengaku sebagai keturunan Fathimah binti 
Muhammad [Tuhfah Kolart, hal. 29]

Begitulah, banyak versi tentang asal-usul Mirza Ghulam Ahmad yang berasal 
dari pengakuannya sendiri. Maha Benar Allah dengan firman-Nya.

“Kalau sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka 
menjumpai pertentangan yang banyak di dalamnya” [An-Nisa : 82]

Setelah itu, ia menceritakan tentang ayahnya : “Ayahku mempunyai kedudukan 
di kantor pemerintahan. Dia termasuk orang yang dipercaya pemerintah 
Inggris. Dia pernah membantu pemerintah untuk memberontak penjajah Inggris 
dengan memberikan bantuan pasukan dan kuda. Namun sesudah itu, keluargaku 
mengalami krisis dan kemunduran, sehingga menjadi petani yang melarat” [1] 
[Tuhfah Qaishariyah, hal. 16, karya Ghulam Ahmad]

Dari keluarga yang tidak jelas garis keturunan lagi melarat, Ghulam 
dilahirkan. Dia berkisah ; “Aku dilahirkan pada tahun 1839M atau tahun 
1840M di akhir masa Sikh di Punjab’ [Kitab Al-Bariyyah, hal. 134, karya 
Ghulam Ahmad]

MASA KECIL GHULAM AHMAD DAN PENDIDIKANNYA
Tatkala mencapai usia tamyiz, ia mulai belajar sharaf, nahwu dan beberapa 
kitab berbahasa Arab, bahasa Persia dan ilmu pengobatan.

Dia berkata : “Aku belajar Al-Qur’an dan kitab-kitab berbahasa Persia 
dengan ustadz Fadhl Ilahi. Sedangkan sharaf dan nahwu serta ilmu 
pengobatan, aku pelajari dari ustadz Fadhl Ahmad’. Hanya saja, sesuai 
dengan keterangan Mahmud Ahmad, salah seorang anaknya di Koran Al-Fadhl (5 
Februari 1929), milik kelompok mereka, sebagian guru yang mengajar Ghulam 
Ahmad adalah pecandu opium dan ganja.

Selain itu, ia juga sempat mengenyam pembelajaran bahasa Inggris di sebuah 
madrasah khusus untuk pegawai pemerintah. Satu atau dua buku bahasa 
Inggris saja yang ia pelajari.

Pendidikan masa kecil yang dijalani Mirza Ghulam Ahmad dengan model ini 
(baca : yang sangat dangkal) menampakkan pengaruhnya dalam tulisan dan 
ucapan-ucapannya. Kesalahan-kesalahannya tidak hanya terjadi pada 
masalah-masalah yang pelik, tetapi juga terlihat pada perkara-perkara yang 
sederhana. Misalnya, ia pernah berkata : “Sesungguhnya saat Rasulullah 
dilahirkan, beberapa hari kemudian ayahnya meninggal” (Baigham Shulh, hal. 
19, karya Ghulam Ahmad). Padahal ayah beliau meninggal dunia ketika beliau 
masih di dalam kandungan ibunya.

Contoh kekeliruan lainnya dalam kitabnya, Ainul Ma’rifah, hal. 286, Mirza 
Ghulam Ahmad menjelaskan, bahwa Rasulullah mempunyai sebelas anak dan 
semuanya meninggal. Padahal yang benar berjumlah enam orang.

Pada waktu itu, keberanian merupakan ciri khas orang-orang yang mulia 
(bangsawan). Tetapi orang yang mengaku sebagai “Al-Masih” ini tidak pernah 
masuk dalam peperangan, tidak belajar ilmu-ilmu keperwiraan, yang dahulu 
dianggap oleh masyarakat sebagai sebuah kemuliaan dan sikap kesatria.

PENYAKIT-PENYAKIT YANG DIDERITANYA
Berbicara tentang penderitaan fisik (baca : penyakit) yang dialaminya 
sangat banyak. Tangan kanannya patah sehingga untuk mengangkat sebuah teko 
pun tidak mampu. (Sirah Al-Mahdi, 1/198). Dia pernah menderita penyakit 
TBC dan diobati selama kurang lebih enam bulan (Hayatu Ahmad, 1/79). Dia 
juga pernah mengakui ditimpa dua penyakit. Di bagian atas tubuh, yaitu 
kepala yang sering pusing dan dibagian bawah, yaitu kencing yang 
berlebihan. (Haqiqatul Wahyi, hal. 206, karya Ghulam Ahmad). Pusing 
kepalanya ini sering mengganggunya. Kadang menyebabkannya terjatuh 
sehingga pingsan. Oleh karena itu, ia sering tidak berpuasa pada bulan 
Ramadhan yang ia jumpai. [Sirah Al-Mahdi, 1/51 karya anaknya]

Dia juga mengalami gangguan syaraf, ingatan buruk tidak tergambarkan. Dua 
matanya sangat lemah. Anaknya menceritakan, bahwa Mirza Ghulam Ahmad 
pernah ingin berphoto bersam murid-muridnya. Pemotret memintanya untuk 
membuka matanya sedikit saja, agar gambar menjadi baik. Dia pun berusaha 
dengan susah payah, tetapi gagal.[Sirah Al-Mahdi, 2/77]

Sebagaimana pengakuannya sendiri di dalam harian Al-Hakam, 31 Oktober 
1901M, otaknya juga mengalami kelemahan.

PERMULAAN KETENARAN DAN DAKWAHNYA
Permulaan ketenarannya dimulai dengan seolah-olah membela Islam. Setelah 
ia meninggalkan pekerjaan kantornya, ia mulai mempelajari buku-buku India 
Nasrani, sebab pertentangan dan perdebatan pemikiran begitu santer terjadi 
antara kaum Muslimin, para pemuka Nasrani dan Hindu. Kebanyakan kaum 
Muslimin sangat menghormati orang-orang yang menjadi wakil Islam dalam 
perdebatan tersebut. Segala fasilitas duniawi pun diberikan kepadanya. 
Ghulam Ahmad berfikir, bahwa pekerjaan itu sangat sederhana dan mudah, 
mampu mendatangkan materi lebih banyak dari pendapatannya saat bekerja di 
kantor.

Untuk mewujudkan gagasan yang terlintas dalam benaknya, maka pertama kali 
yang ia lakukan ialah menyebarkan sebuah pengumuman yang menentang agama 
Hindu. Berikutnya, ia menulis beberapa artikel di beberapa media massa 
untuk mematahkan agama Hindu dan Nasrani. Kaum Muslimin pun akhirnya 
memberikan perhatian kepadanya. Itu terjadi pada tahun 1877-1878M.

Pada gilirannya, ia mengumumkan telah memulai proyek penulisan buku 
sebanyak lima puluh jilid, berisi bantahan terhadap lontaran-lontaran 
syubhat yang dilontarkan oleh kaum kuffar terhadap Islam. Oleh karena itu, 
ia mengharapkan kaum Muslimin mendukung proyek ini secara material. 
Sebagian besar kaum Muslimin pun tertipu dengan pernyataannya yang palsu, 
bahwa ia akan mencetak kitab yang berjumlah lima puluh jilid.

Sejak itu pula, ia menceritakan beberapa karomah (hal-hal luar biasa) dan 
kusyufat tipuan yang ia alami. Sehingga orang-orang awam menilainya 
sebagai wali Allah, tidak hanya sebagai orang yang berilmu saja. 
Orang-orang pun bersegera mengirimkan uang-uang mereka yang begitu besar 
kepadanya guna mencetak kitab yang dimaksud. [Majmu’ah I’lanat Ghulam 
Al-Qadiyani, 1/25]

Volume pertama buku yang ia janjikan terbit tahun 1880M, dengan judul 
Barahin Ahmadiyah. Buku ini sarat dengan propaganda dan penonjolan 
karakter penulisnya. Cerita tentang alam ghaib yang berhasil ia ketahui, 
juga berisi karomah dan kusyufatnya.

Kitab-kitab volume berikutnya pun bermunculan. Namun, tatkala sampai 
kepada masyarakat, mereka keheranan, karena mendapat isi buku tersebut 
tidak seperti yang dikatakan penulis pertama kali, yaitu bantahan terhadap 
agama Hindu dan Nasrani, tetapi justru dipenuhi dengan cerita-cerita 
tentang karamah dan sanjungan terhadap kolonialis Iggris.

Dari sini, masyarakat kemudian mengetahui, ternyata lelaki ini hanyalah 
seorang pendusta dan pencuri harta manusia. Buku yang telah diterbitkan 
hanya untuk mendapatkan popularitas dan memanfaatkan kaum Muslimin, 
menguras harta mereka, bukan untuk membela Islam. Apalagi setelah kaum 
Muslimin menemukan hal-hal yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam 
dalam buku yang ia terbitkan tersebut.

Banyak para ulama yang mendapat informasi, bahwa lelaki itu, sebenarnya 
tidak mempunyai keinginan, kecuali untuk membuat sebuah toko semata. Andai 
ada orang lain yang mampu membayarnya dengan jumlah yang lebih besar, maka 
ia akan mendukungnya, meskipun dengan melakukan pelanggaran terhadap 
Islam. Dan memang seperti itulah yang dikatakan oleh para ulama. Sebab, 
pada waktu itu, penjajah Inggris membutuhkan orang yang dapat 
memporak-porandakan kekuatan kaum Muslimin. Sehingga sang penjajah ini 
mencari orang dari kalangan kaum Muslimin untuk diperalat. Tatkala sudah 
mendapatkannya, kolonial ini akan memanfaatkan semaksimal mungkin. 
Demikian yang terjadi dengan Mirza Ghulam Ahmad. Oleh karena itu, ia 
penuhi kitab volume ketiganya dengan pujian-pujian kepada kolonialis 
Inggris.

Perhatikan pengakuannya dalam volume tersebut, tatkala ia menghadapi 
penentangan dari kaum Muslimin

Dia menyatakan, ada sebagian orang dari kalangan kaum Muslimin yang 
menulis kepadaku, mengapa engkau memuji penjajah Inggris dalam volume 
ketiga? Mengapa engkau berterima kasih kepada pemerintah Inggris? Sebagian 
kaum muslimin mencaci-maki dan mecelaku karena sanjungan ini. Hendaknya 
setiap orang mengetahui, bahwa aku tidak memuji pemerintah Inggris, 
kecuali berdasarkan ajaran Al-Qur’an dan Sunnah. [Barahin Ahmadiyah, 
vol.4]

Ringkasnya, penjajah telah memanfaatkannya dengan memberikan segala yang 
berharga untuknya karena pengkhianatannya kepada agama dan umat Islam. 
Persis seperti ayahnya yang dahulu juga berkhianat, tetapi kepada negeri 
India dan penduduknya.

Pada tahun 1885M, ia memproklamirkan diri sebagai mujaddid dengan mendapat 
bantuan dan dukungan penuh dari penjajah. Enam tahun berikutnya, tahun 
1891M, ia mengklaim diri sebagai Imam Mahdi. Pada tahun itu juga, ia 
mengaku sebagai Al-Masih. Dan klimaksnya pada tahun 1901M, ia 
mendeklarasikan statusnya sebagai nabi yang mandiri, dan lebih mulia dari 
seluruh pada nabi dan rasul.

Sebagian ulama dapat mendeteksi keinginannya sebelum ia mengaku sebagai 
nabi (palsu). Tetapi dengan segera ia mencoba menepisnya dengan berkata : 
“Aku juga beraqidah Ahlus Sunnah. Aku berkeyakinan Muhammad adalah penutup 
para nabi. Barangsiapa mengaku sebagai nabi, maka ia kafir, pendusta. 
Karena aku beriman bahwa risalah itu bermula dari Adam dan berakhir dengan 
kedatangan Rasulullah Muhammad” [Pernyataan Ghulam Ahmad pada 12 Oktober 
1891 yang terdapat dalam kitab Tabligh Risalah, 2/2]

Kemudian dengan bisikan dari penjajah ia mengatakan untuk mengecoh : “Aku 
bukan nabi, tetapi Allah menjadikannku orang yang diajak bicara (kalim), 
untuk memperbaharui agama Al-Musthafa (Muhammad)” [Mir-atu Kamalati 
Al-Islam, hal. 383]

Keterangan lain darinya ; “Aku bukan nabi yang menyerupai Muhamamd atau 
datang dengan ajaran yang baru. Justru yang ada dalam risalahku, aku 
adalah nabi yang mengikutinya (nabiyyun muttabi)” [Tatimmah Haqiqati 
Al-Wahyi, hal. 68, karya Ghulam Ahmad]

Dia juga mengatakan ;” Demi Allah yang ruh-ku berada di genggaman-Nya, 
Dialah yang mengutusku dan menyebutku sebagai nabi…. Aku akan 
memperlihatkan kebenaran pengakuanku dengan mukjizat-mukjizat yang 
jumlahnya tidak kurang dari tiga ratus ribu mukjizat” [Tatimmah Haqiqati 
Al-Wahyi, hal. 68, karya Ghulam Ahmad]

Coba perhatikan pernyataan-pernyataannya. Dia betul-betul berusaha 
mengecoh kaum Muslimin. Padahal sebelumnya, ia mengatakan :”Siapa saja 
yang mengklaim diri sebagai nabi setelah Muhammad, berarti ia saudara 
Musailamah Al-Kadzdzab, kafir lagi busuk” (Anjam Atsim, hal. 28, karya 
Ghulam Ahmad). Dia juga mengatakan : “Kami melaknat orang-orang yang 
mengaku sebagai nabi setelah Muhammad” [Tabligh Risalah, 26/2]

Perlu juga disebutkan, kitab yang ia janjikan berjumlah lima puluh jilid, 
tidak ia selesaikan kecuali lima jilid saja. Sehingga ketika ditanya oleh 
para donatur, ia menjawab : “Tidak ada bedanya antara angka lima dan lima 
puluh, kecuali pada nolnya saja” [Muqaddimah Barahin Ahmadiyah, 5/7, karya 
Ghulam Ahmad]

CACIAN-CACIAN MIRZA GHULAM AHMAD KEPADA SETERUNYA
Dia pernah mengatakan, melalui “wahyu” yang konon diterimanya, bahwa salah 
seorang seterunya akan mati pada waktu tertentu. Tetapi ternyata, seteru 
yang ia sebutkan tidak mati. Maka para ulama pun menyanggahnya dengan 
mengatakan : “Engkau katanya nabi, tidak berbicara kecuali dengan wahyu. 
Bagaimana mungkin janji Allah tidak tepat?”

Menanggapi bantahan dari para ulama ini, Mirza Ghulam Ahmad bukannya 
memberi jawaban dengan bukti dan dalil, tetapi justru melontarkan cacian : 
“Orang-orang yang menentangku, mereka lebih najis dari babi” [Najam Atsim, 
hal. 21, karya Ghulam Ahmad]

Cacian-cacian lain yang keluar dari Mirza Ghulam Ahmad ini sudah sangat 
keterlaluan. Sebab orang-orang umum saja tidak akan sanggup mengatakannya.

Sang anak, Mahmud Ahmad bin Ghulam pernah mendengar ada orang yang mencaci 
orang lain dengan sebutan “hai anak haram”, maka ia (Mahmud Ahmad) 
mengatakan : “Orang seperti ini, pada masa Umar dihukum pidana pukul 
karena melakukan qadzaf (tuduhan zina). Tetapi sekarang, dapat di dengar 
seseorang mencela orang lain dengan celaan itu, namun mereka tidak 
bereaksi. Seolah-olah celaan ini tida ada artinya di mata mereka” [Khutbah 
Al-Jum’ah, Mahmud Ahmad bin Ghulam, Koran Al-Fadhl, 13 Februari 1922M]

Tetapi ironisnya, ayahnya justru pernah mencela seorang ulama dengan 
ucapan “hai anak pelacur”. (Najim Atsim, hal. 228, karya Ghulam Ahmad). 
Mengacu kepada pernyataan Mahmud Ahmad, bukankah berarti Mirza Ghulam ini 
pantas untuk dihukum pukul? Dan ucapan itu tidak hanya terjadi sekali atau 
dua kali, tetapi sangat sering dilontarkan ayahnya “sang mujaddid akhlak”.

Contoh lainnya, di dalam khutbahnya, ia pernah menyampaikan : “Itu adalah 
kitab. Akan dilihat oleh setiap muslim dengan penuh kecintaan dan sayang 
serta ia mendapatkan manfaat darinya. Dia akan menerima dan membenarkan 
dakwahku, kecuali keturunan-keturunan para pelacur yang telah Allah kunci 
hati mereka. Mereka tidak akan menerima” [Mir’atu Kamalati Al-Islam, hal. 
546, karya Ghulam Ahmad]

Begitulah contoh akhlak Mirza Ghulam Ahmad. Semoga kita terlindung dari 
perbuatan tercela.

KOMENTAR MIRZA GHULAM AHMAD TERHADAP RASULULLAH MUHAMMAD
Banyak orang yang celaka muncul di muka bumi karena mencela para rasul, 
tetapi tidak banyak yang sekaliber Mirza Ghulam Ahmad dan para 
pengikutnya, dalam mencela para rasul, “mencuri” kenabian. Allah 
berfirman.

“Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang mengadakan kedustaan 
terhadap Allah …” [Al-An’am : 93]

Dia mengklaim sebagai nabi dan rasul-Nya, seperti yang dilakukan oleh 
Musailamah dan Al-Aswad An-Ansi. Langkah berikutnya, ia mengaku sebagai 
orang yang paling utama dari dari seluruh nabi dan rasul. Sebagaimana ia 
menyatakan dirinya telah dianugerahi segala yang telah diberikan kepada 
seluruh para nabi (Durr Tsamin, hal. 287-288, karya Ghulam Ahmad). Dalam 
pernyataan yang lain, ia mengatakan, sesungguhnya Nabi (Muhammad) 
mempunyai tiga ribu mukjizat saja. “Sedangkan aku memiliki mukzijat lebih 
dari satu juta jenis”, kata Ghulam Ahmad” [Tadzkirah Asy-Syahadatain, hal. 
72, karya Ghulam Ahmad]

Di lain tempat, katanya, Islam muncul bagaikan perjalanan hilal (bulan, 
dari kecil), dan kemudian ditaqdirkan mencapai kesempurnaannya di abad ini 
menjadi badr (bulan pernama), dengan dalil (menurutnya)…. (Khutbah 
Al-Hamiyah, hal. 184, karya Ghulam Ahmad), sebuah tafsiran yang kental 
nuansa tahrifnya (penyelewengan), layaknya perlakuan kaum Yahudi terhadap 
Taurat. Sebuah makna yang tidak dikehendaki Allah, tidak pernah disinggung 
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ataupun terbetik di benak salah seorang 
sahabat, para imam dan ulama tafsir. Demikian salah satu trik untuk 
merendahkan kedudukan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Salah seorang juru dakwah mereka, juga tidak ketinggalan ikut membeo 
merendahkan martabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengatakan 
: “Sesungguhnya Muhammad pernah sekali datang kepada kami. Pada waktu itu, 
beliau lebih agung dari bi’tsah yang pertama. Siapa saja yang ingin 
melihat Muhammad dengan potretnya yang sempurna, hendaknya ia memandang 
Ghulam Ahmad di Qadian” [Koran milik Qadiyaniah, Badr, 25 Oktober 1902M]

KRITIK SANG NABI PALSU TERHADAP BEBERAPA NABI
Mirza Ghulam Ahmad pernah berkomentar tentang Nabi Isa : “Sesungguhnya Isa 
tidak mampu mengatakan dirinya sebagai orang shalih. Sebab orang-orang 
mengetahui kalau dia suka minum-minuman keras dan perilakunya tidak baik” 
[Hasyiyah Sitt Bahin, hal. 172, karya Ghulam Ahmad]

Komentar miring lainnya, menurutnya, Isa cenderung menyukai para pelacur. 
Karenanya nenek-neneknya adalah termasuk pelacur [Dhamimah Anjam Atsim, 
Hasyiyah, hal. 7, karya Ghulam Ahmad]

Anehnya, meski perkataan yang keluar dari mulutnya sangat kotor, tetapi 
ternyata Mirza Ghulam Ahmad “bersabda” dalam hadits palsunya : 
“Sesungguhnya celaan, makian, bukan perangai orang-orang shidiq. Dan orang 
yang beriman, bukanlah orang yang suka melaknat” [Izalatul Auham, hal. 66]

CACIAN MIRZA GHULAM AHMAD KEPADA PARA SAHABAT
Para sahabat pun tidak lepas dari cercaan yang dilancarkan Ghulam Ahmad. 
Termasuk penghulu para remaja/pemuda di surga kelak, yaitu Hasan, Husain, 
juga Abu Bakar dan Umar

Mirza Ghulam Ahmad ini mengataan : “Orang-orang mengatakan aku lebih utama 
dari Hasan dan Husain. Maka aku jawab, ‘Itu benar. Aku lebih utama dari 
mereka berdua. Dan Allah akan menunjukkan keutamaan ini” [I’jaz Ahmadi, 
hal. 58, karya Ghulam Ahmad]

Salah seorang anaknya dengan congkak berkata : “Dimana kedudukan Abu Bakar 
dan Umar (tidak ada apa-apanya) bila dibandingkan dengan kedudukan Mirza 
Ghulam Ahmad? Mereka berdua saja tidak pantas untuk membawa sandalnya” 
[Kitab Al-Mahdi, Pasal 304, hal. 57, karya Muhammad Husain Al-Qadiyani]

Tentang Abu Hurairah, Ghulam Ahmad mengatakan : “Abu Hurairah orang yang 
dungu. Dia tidak memiliki pemahaman yang lurus” [I’jaz Ahmadi, hal. 140]

Perhatikan! Padahal ia sendirilah orang yang dungu, lagi bodoh. Lihat 
pengakuannya : “Sesungguhnya ingatanku sangat buruk. Aku lupa orang-orang 
yang sering menemuiku” [Maktubat Ahmadiyah, hal. 21]

KEMATIAN MIRZA GHULAM AHMAD
Menyaksikan sepak terjangnya yang kian menjadi, maka para ulama saat itu 
berusaha menasehati Mirza Ghulam Ahmad, agar ia bertaubat dan berhenti 
menyebarkan dakwahnya yang sesat. Nasihat para ulama ternyata tidak 
membuahkan hasil. Dia tetap bersikukuh tidak memperdulikan. Akhirnya, para 
ulama sepakat mengeluarkan fatwa tentang kekufurannya. Di antara para 
ulama yang sangat kuat menentang dakwah Mirza Ghulam Ahmad, adalah Syaikh 
Tsanaullah.

Mirza Ghulam Ahmad sangat terusik dengan usaha para ulama yang 
mengingatkannya. Akhirnya dia mengirimkan surat kepada Syaikh Tsanaullah. 
Dia meminta agar suratnya ini dimuat dan disebarkan di majalah milik 
Syaikh Tsanaullah.

Di antara isi suratnya tersebu, Mirza Ghulam Ahmad tidak menerima gelar 
pendusta, dajjal yang diarahkan kepadanya dari para ulama masa itu. Mirza 
Ghulam Ahmad menganggap dirinya, tetap sebagai seorang nabi, dan ia 
menyatakan bahwa para ulama itulah yang pendusta dan penghambat dakwahnya.

Sang nabi palsu ini menutup suratnya dengan do’a sebagai berikut :

“Wahai Allah Azza wa Jalla Yang Maha Mengetahui rahasia-rahasia yang 
tersimpan di hati. Jika aku seorang pendusta, pelaku kerusakan dalam 
pandangan-Mu, suka membuat kedustaan atas nama-Mu pada waktu siang dan 
malam hari, maka binasakanlah aku saat Ustadz Tsanaullah masih hidup, dan 
berilah kegembiraan kepada para pengikutnya dengan sebab kematianku.

Wahai Allah ! Dan jika saya benar, sedangkan Tsanaullah berada di atas 
kebathilan, pendusta pada tuduhan yang diarahkan kepadaku, maka 
binasakanlah dia dengan penyakit ganas, seperti tha’un, kolera atau 
penyakit lainnya, saat aku masih hidup. Amin”

Begitulah bunyi do’a Mirza Ghulam Ahmad. Sebuah do’a mubahallah. Dan 
benarlah, do’a yang ia tulis dalam suratnya tersebut dikabulkan oleh Allah 
Azza wa Jalla. Yakni 13 bulan lebih sepuluh hari sejak do’anya itu, yaitu 
pada tanggal 26 bulan Mei 1908M, Mirza Ghulam Ahmad ini dibinasakan oleh 
Allah Azza wa Jalla dengan penyakit kolera, yang dia harapkan menimpa 
Syaikh Tsanaullah. Di akhir hayatnya, saat meregang nyawa, dia sempat 
mengatakan kepada mertuanya : “Aku terkena penyakit kolera”. Dan setelah 
itu, omongannya tidak jelas lagi sampai akhirnya meninggal. Sementara itu, 
Syaikh Tsanaullah masih hidup sekitar empat puluh tahun setelah kematian 
Mirza Ghulam Ahmad.

Meski kematian telah menjemput Mirza Ghulam Ahmad, tetapi bukan berarti 
ajarannya juga ikut mati?. Ternyata kian tersebar di tengah masyarakat. 
Karenanya, sebagai seorang muslim, hendaklah lebih berhati-hati, agar 
tidak terjerat dengan berbagai ajaran sesat.

Ya, Allah. Perlihatkanlah kepada kami kebenaran itu sebagai sebuah 
kebenaran, dan berilah kami kekuatan untuk melakukannya. Ya, Allah. 
Perlihatkanlah kepada kami kebatilan sebagai sebuah kebatilan, dan berilah 
kami kekuatan untuk menjauhinya.

[Sumber Al-Qadiayaniyah Dirasat Wa Tahtil, karya Syaikh Ihsan Ilahi 
Zhahir, Idarati Turjuman As-Sunnah, Lahore Pakistan, tanpa tahun]

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi Khusus/Tahun IX/1426H/2005M. 
Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Alamat Jl. Solo-Purwodadi 
Km.8 Selokaton – Gondangrejo Solo, 57183]

__________
Foote Note
[1]. Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir, penulis kitab Al-Qdiayaniyah, Dirasat Wa 
Tahtil mengatakan, hal itu kemungkinan lantaran pengkhianatannya kepada 
penduduk pribumi dan kerjasamanya dengan kekuatan kolonialis yang aniaya 
lagi kafir. (hal. 103)

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke