-----Original Message-----
From: Ummi Fikri <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Sat, 19 Feb 2011 23:53:37 
To: wordsmartcenter<[email protected]>; temen 
kuliah<[email protected]>; nunung dd<[email protected]>; Irma 
Juliasmi Nasution<[email protected]>; desy DD<[email protected]>; lia 
nugrahati<[email protected]>; lia redin<[email protected]>; 
Fernando Agustianto<[email protected]>; uda cahayank<[email protected]>; 
ryan centil<[email protected]>; fajar gamal<[email protected]>; 
ryan<[email protected]>; nova uda<[email protected]>; ade<[email protected]>; 
Agung<[email protected]>; lili cici<[email protected]>; 
dheaty<[email protected]>; uni eva<[email protected]>; achmad 
farhan<[email protected]>; kiki friendster<[email protected]>; Redin 
herlan<[email protected]>; intan icad<[email protected]>; wino 
josephino<[email protected]>; lia kampus<[email protected]>; &#39;Emoy 
Kedoya&#39;<[email protected]>; andika kesumah<[email protected]>; 
mahendra kharismawan<[email protected]>; mahendra 
km<[email protected]>; idhon Lampung<[email protected]>; itong 
lampung<[email protected]>; bunga maharani<[email protected]>; ikaa 
mahendra<[email protected]>; Irma Intan 
Muslihah<[email protected]>; nasiyat<[email protected]>; 
nocky_ratu<[email protected]>; Ahmad Nuriman<[email protected]>; Ahmad 
Nuriman Padang<[email protected]>; Hendrik 
PLK<[email protected]>; Diah PS<[email protected]>; lia 
redin<[email protected]>; Mba 
Riana<[email protected]>; ridha<[email protected]>; Arlansyah 
Rusli<[email protected]>; &#39;Boedi Santosa&#39;<[email protected]>; 
umi senam<[email protected]>; uda singapur<[email protected]>; 
Irma Intan Muslihah CRC Supomo<[email protected]>; adhe telkom 
telkom<[email protected]>; dolly yenny<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Cc: rumah rivaria<[email protected]>; bank 
mandiri<[email protected]>; tahajud 
comunnity<[email protected]>
Subject: [bank-mandiri] PULO GADUNG - Kami Terpisah Disini (fiksi)

"Mba... aku haus..." rengek Aldi, bocah kecil berusia 3 tahun.
 
"Sabar ya, De.." Risa merogoh sakunya seraya mengeluarkan uang kertas ribuan 
dan 
beberapa uang receh.
 
"Dua  belas ribu rupiah... hmmm ibu bilang ongkos dari sini ke rumah  paman  
per 
orangnya 5000, kalau berdua... berarti aku masih punya sisa  uang  2000... 
mungkin bisa beli air mineral.." ucap Risa dalam hati.
 
 
"De,  kamu pegang uang ini ya.. nanti kalau ada kondektur yang bertanya  kamu  
kasih uang ini buat bayar bis ya" ujar Risa memberikan lembar  seribuan  10 
lembar.
 
"Mba Risa mau kemana??" tanya Aldi dengan suara cadel-nya.
 
"Mba  mau beli minuman dulu... kamu tunggu disini ya.. mba nggak jauh kok   
cuma 
disana" ucap Risa sambil; menunjuk ke arah pedagang asongan yang   berada di 
luar bis. Aldi menggukan kepalanya.
 
Risa pun  turun dari bis meninggalkan Aldi sendiri. Ia berjalan  menghampiri  
pedagang asongan yang berada dibelakang bis dekat halte.  Ternyata ia  masih 
punya uang lebih. Risa pun sibuk memilih-milih permen  hendak ia  berikan 
kepada 
Aldi. "Aldi pasti suka.."pikirnya.  Setelah ia  ketemu  permen yang Aldi suka, 
ia langsung memberikan uangnya. Namun saat  ia  membalikkan badannya, ia tidak 
melihat bis yang tadi ia naiki ada di   belakangnya.
 
"Pak... bis yang tadi disni kemana ya??" tanya Risa mulai panik.
 
"Baru  aja berangkat... tuh dia" ujar bapak-bapak yang duduk di dekat  tempat  
bis terparkir, sambil menunjuk ke arah Bis yang sudah melaju  dengan  kencang.
 
"Ya Allah.... TUNGGU... TUNGGU...." teriak Risa.
 
Gadis  berusia 12 tahun itu berlari sekuat tenaga  mengejar bis yang ditunjuk  
oleh bapak tadi. Namun sekuat apapun ia  berlari, ia tak mampu untuk  
menghampiri bis tersebut. Dengan nafas yang  terengah-engah, Risa jatuh  
bersimpuh. Dan airmatanya pun jatuh  bercucuran. "Aldi.... Aldi...  maafkan 
mba, 
de.... Ya Allah lindungilah  adikku" hanya kalimat tersebut  yang keluar dari 
bibirnya di sela isak  tangisnya.
 
*****
 
3 hari kemudian
Adzan  dzuhur berkumandang. Risa dengan keringat bercucuran, duduk  melepas  
lelah di teras masjid. Ia mengeluarkan uang receh hasil kerjanya  selama  2 
hari 
menjadi kuli panggul dipasar dekat terminal Pulo Gadung.
 
"15.000...  cukup untuk sampai ke Depok... Aldi, tunggu mba ya... nanti  
setelah  
mba bertemu dengan paman, mba akan mencarimu" airmata Risa  kembali  mengalir 
jika ia mengingat Aldi, adiknya. Ia tak sanggup  membayangkan,  bagaimana nasib 
adiknya itu. Ia hanya sanggup mengadukan  semua  kegelisahannya kepada Allah. 
Diseka airmatanya dan berjalan menuju   tempat wudhu. Ia bertekad, hari ini ia 
akan pergi ke rumah pamannya.   Bersyukur ia masih memiliki catatan nomor 
telepon pamannya, walaupun ia   harus menebak 2 nomor terakhir. Saat ia 
menemukan kertas tulisan nomor   telepon pamannya, tangannya basah dengan 
airmata. Sehingga menghapus 2   nomor dibelakangnya.
 
Selesai sholat dzuhur, ia kembali ke wartel untuk kesekian kalinya.
"Nyoba lagi, Neng??" ucap ibu penjaga wartel.
 
"Iya, bu..." ucap Risa dengan senyum hormatnya yang khas.
 
"Ibu doain.. kali eni ketemu ye, neng..." doa ibu itu dengan iba.
 
"Amin..  Ma kasih, Bu" Risa pun kembali menekan tombol-tombol angka  seperti  
yang tertera dalam kertas dan menerka-nerka 2 angka terakhir.
 
"Halo?"
 
"Halo Assalamu'alaikum.. Bisa bicara dengan le' Dirman?"
 
"Wah tidak ada yang namanya Dirman... Ada juga Parman..." ujar suara diseberang 
sana dengan khas logat bataknya.
 
"Oh.. maaf, Bu salah sambung"
 
Klik...
 
77738...
Tuuut... tuuut... tuuut....
 
Klik..
"Halo??"
 
"Halo Assalamu'alaikum... Bisa bicara dengan le' Dirman?"
 
"Maaf ini siapa ya??"
 
"Ini Risa, Pak.. Saya mau bicara dengan le' Dirman.. Ada??"
 
"Oh, Risa suaranya bagus... Sekarang Risa dimana??"
 
"Eh.. Risa di Pulo Gadung.. Maaf ada ga ya le' Dirman??"
 
"Ngapain cari le' Dirman sih?? sama saya saja..."
Klik.. "uuggghhh... buang2 uang saja..." gerutu Risa dalam hati.
 
77738...
Tuuuut.... Tuuuut... Tuuut....
"Halo??"
 
"Halo.. Assalamu'alaikum.. Bisa bicara dengan le' Dirman??"
 
"Wa'alaikumussalam... Dari siapa ini??"
 
"Dari Risa, Pak... Le' Dirman-nya ada?"
 
"Risaaa.... Ya Allah, nak... ini le' Dirman... Adik ibumu.. Lastri...kamu ada 
dimana??"
Suara  laki-laki diseberang sana membuat airmata Risa tak mampu lagi   
terbendung. Ya Allah, ternyata pengorbanannya berakhir hari ini, setelah   ia 
menelepon hampir 100 nomor.
 
"Pak leeeee'... Risa sekarang ada di Pulo Gadung.."
 
"Sama Siapa, Nak??"
 
"Sendiri, Le' "
 
"Aldi tidak diajak??"
Airmata  Risa makin deras saat mendengar pertanyaan le' Dirman. Lalu  dengan  
dada yang sesak, ia ceritakan semua kejadian yang ia alami.
 
"Ya  Allah... anakku... Pak le salah, nak.. Pak le' tidak datang   menjemputmu 
saat ibumu meninggal, sehingga kamu harus datang kemari   sendiri dan terpisah 
oleh adikmu... Maafkan pak le', Nak... Sekarang   kamu ada uang buat datang 
kemari??" Le' Dirman ikut menangis saat   mengucapkan kalimat tersebut.
 
"Ada pak le' hanya 10.000"
 
"Ya  sudah, cukup, Nak... Naik yang ke terminal Depok ya ! Nanti pak Le'   
jemput disana. Kamu tunggu di lobinya saja" perintah Le' Dirman.
 
Tanpa menunggu lebih lama lagi. Risa langsung berlari ke terminal Pulo Gadung 
dan mencari bis tujuan Depok.
 
****
 
2 hari yang lalu
"Mbaaaaa....  Mba Risaaaaa...." Aldi kecil berteriak dan menangis saat ia  
terbangun  dari tidurnya. Ia terus menangis duduk di bangku bis, membuat  
seluruh  mata penumpang menatapnya. Matanya mencari mba-nya yang tak  berada  
disisinya.
 
"Mbaaaa... Mba Risaaaa... Aldi Hauuussss"  teriaknya lagi sambil terus  matanya 
mencari orang yang dipanggilnya.  Tiba-tiba seorang ibu  menghampiri Aldi. 
"Kamu 
sama siapa kemari, Nak??"
 
"Sama Mba Risa"
 
"Lalu  Mba-mu mana??" Aldi hanya menggelengkan kepalanya. "Nda tau..."   
ujarnya 
masih dengan menangis. Sadar jika mba Risanya tidak   datang-datang, tangis 
Aldi 
makin kencang.
 
Akhirnya ibu tersebut mengelus Aldi dan memberikan minuman.
 
"Sudah..  jangan nangis ya, nak... ikut ummi saja ya... nanti kita cari,  
mba-mu"  rayu ibu itu. Aldi pun perlahan menghentikan tangisnya. Dan  kemudian  
bergelayut manja dalam gendongan seorang ibu berjilbab yang  ramah.
 
****
 
 
Risa  menghela nafas panjang setiap kali ia duduk di halte bis Pulo  Gadung.  
Ia 
teringat atas peristiwa 13 tahun yang lalu. Ia teringat akan   adiknya, Aldi. 
Kini halte tersebut menjadi halte transit sepulangnya ia   dari kerja untuk 
kembali ke rumah Le' Dirman. Dan seperti sudah menjadi   rutinitas, airmatanya 
pasti mengalir di pipinya. Menangisi  kevodohannya  waktu itu.
 
Rasanya seluruh Jakarta sudah di  susuri oleh Risa dan Le' dirman untuk  
mencari 
Aldi. Namun hingga kini  sedikitpu tak ia temukan tanda-tanda  kehadiran Aldi. 
Mungkin kini hal  tersebut makin susah bagi Risa untuk  menemukan Aldi. Karena 
pastinya  wajah Aldi makin berubah mengikuti  usianya. Sedangkan Risa hanya  
memiliki sobekan foto Aldi yang sedang  digendong ibu. Foto ini aslinya  foto 
komplit keluarganya. Hanya saja  Risa merobeknya menjadi 2.  Sebagian foto 
dirinya berdiri disamping bapak  ia berikan kepada Aldi.
 
"Kamu  simpan bagian yang ini ya, De. Dan mba simpan foto kamu ini.  Jangan  
sampai hilang ya ! Nanti kalau kamu sudah besar taruh di dompet  kamu  atau 
simpan yang rapih. Karena kata ibu, hanya ini foto kenangan  kita  bersama 
bapak. Sekarang ibu juga sudah ga ada, kamu simpan kenangan  aku  dan bapak, 
sedangkan aku menyimpan kenangan kamu dan ibu... Ingat  ya..  jaga 
baik-baik...!" pinta Risa sebelum ia berangkat ke Jakarta saat   itu. Dan 
memasukkan foto milik Aldi kedalam saku baju Aldi. Sedangkan   Aldi kecil hanya 
mengangguk saja.
 
"Mba, kenapa??" sapa  seorang anak laki-laki berseragam SMA disebelahnya.  Risa 
segera  menghapus airmatanya. Ia tidak menyangka jika airmatanya  menjadi pusat 
 
perhatian orang.
 
"Nggak pa pa kok, De.."
 
 
"Nih.. Aku punya tisu.."
 
"Terima kasih.." ucap Risa mengambil tisu yang diberikan anak SMA tersebut.
 
"Ditinggal pacar ya??" tebak anak tersebut sambil cengar-cengir. Risa hanya 
tersenyum mendengarnya.
 
"Belum pernah pacarn..."
 
"Wuih.. masa sih, mba?? kalo aku seumuran, mba pasti mba dah aku jadiin 
pacarku.. Wong cantik begini.."
 
"Dasar ABG..." gerutu Risa dalam hati.
 
"Kalo bukan karena pacar, trus nangis kenapa?" lanjut anak lelaki tersebut.
 
"Iiihhh... mau tau aja ni bocah" runtuk Risa dalam hati, tapi tetap dijawab 
oleh 
Risa,"Nangisi adikku"
 
"Loh mang Adikknya kenapa, mba??"
 
"Terpisah disini"
 
"Maksud,  mba??" tanya anak lelaki tersebut penasaran. Risa menceritakan  
kembali  peristiwa 13 tahun silam, tentunya dengan airmata bercucuran.
 
"Wah kita senasib dong, mba.."
 
"Maksudmu??"
 
 
"Seminggu  yang lalu saya baru tahu kalau aku bukan anak kandung ummi.  Ummi  
bilang saya ditemukan di bis saat aku berusia 3 tahun. Ibu tak tega   melihat 
saya menangis sendirian. Kebetulan juga Ummi tidak punya anak.   Lalu saya 
dibawa pulang"cerita anak tersebut dengan lugunya. Jantung   Risa berdegub 
dengan cepat emndengar penuturan anak tersebut.
 
"Ummimu cerita kamu ditemukan di Bis jurusan mana??" tanya Risa penasaran.
 
"Kata  Ummi dijurusan Pulogadung Depok. Makanya mulai saat itu, setiap  pulang  
sekolah selalu saya sempatkan nongkrong disini... yaaahhh mungkin  saja  ada 
mu'jizat dari Allah saya dipertemukan dengan mba saya" ujarnya   lagi.
 
"Mba?? kamu punya, mba??" degub jantung Risa makin tidak karuan.
 
"Kata ummi saat aku nangis yang aku teriakan nama mba saya"
 
"Siapa nama mbamu??" Risa makin gelisah menanti jawabannya.
 
"Hmmm.... siapa ya?? hhh... kata ummi.... adduuuhhh aku lupa.. pokoknya ada 
huruf R-nya"
 
"Risa??"  mata anak tersebut berbinar saat Risa menebak nama kakaknya.  
"Naaahhh  
bener banget, mba.. Risa namanya... kok, Mba bisa tepat sih  nebaknya??  mba 
dukun ya??" tanya anak tersebut masih dengan  cengar-cengirnya.
 
"Kalau boleh tau, Apakah namamu Aldi??" bibir Risa gemetar saat bertanya hal 
tersebut.
 
"Iya...  kok tau lagi sih, mba... Beneran dukun ya??" Aldi masih  menanggapinya 
 
dengan tawa kecilnya. Namun tawa dibibirnya perlahan  menghilang, saat  ia 
menyadari sesuatu... "Mba Risa???" tanyanya pelan.  Risa menganggukan  
kepalanya. Airmatanya tak mampu lagi dibendung, ingin  rasanya ia  memeluk 
adiknya itu. Tapi Aldi justru mengelak,"Jangan  becanda deh,  mba... buktinya 
apa??"
 
Risa buru-buru mengambil sobekan  foto yang ada dalam dompetnya. "Ini"  
ujaranya 
seraya menunjukkan foto  tersebut kepada Aldi. Tangan Aldi  gemetar mengambil 
foto yang  disodorkan oleh Risa. Ia pun mengambil  sobekan foto yang ia miliki, 
 
lalu dicocokan dengan sobekan foto yang  diberikan oleh Risa.
 
Bibir  Aldi gemetar. Airmatanya pun ikut turun membelah pipinya. Ia  seolah  
tak 
yakin dengan apa yang dialaminya hari ini. Namun anggukan  kepala  Risa 
membuatnya segera memeluk mbanya tercinta yang selama ini   terpisah. "Ya 
Allah.. ternyata mu'jizat itu memang ada..."
 
"Adikku... Aldi... Maafkan, mba ya... saat itu mba ingin sekali membelikan 
permen untukmu..." ucap Risa dalam tangisnya..
 
"Nggak ada yang perlu dimaafkan, mba... Bersyukur Allah sudah mempertemukan 
kita.."
 
"LARRIIII....  ADA TAWURAAANNN..." teriak salah seorang pedagang kaki  lima. 
Aldi pun  tak tinggal diam. Ia menarik lengan Risa untuk segera  berlari 
mengikuti  pedagang kaki lima tersebut. Namun baru saja ia  berlari, langkahnya 
 
dihadang oleh sekelompok anak berseragam SMA.
 
"Eh, mocoba  kabur lo ye??? Lo anak cepe dua ye??" tanya salah satu  diantara 
anak  SMA tersebut sambil mencengkram kerah baju Aldi.
 
"Bukan.. gue anak Depok" jawab Aldi.
 
"Aaarrgghhh mo ngelak lo.." ...BUUUGGG...
 
Sebuah bogem mentah mendarat di perut Aldi. Lalu dilanjutkan tonjokan 
bertubi-tubi dari yang lainnya.
 
"Sudaaahhh....  Cukuuppp...." Risa berteriak dan berlari ketengah  keroyokan 
tersebut,  berusaha melindungi adiknya. Aldi panik melihat  kakaknya berada  
ditengah kerumunan orang yang mengeroyoknya. Namun ia  lebih panik lagi  saat 
salah satu pengeroyok tersebut mengambil sebilah  samurai dan......  JLEEEBBB...
 
"ALDIIIIIIIIIIIII" 
 
source by www.cerita-fiksiku.blogspot.com
 


Wassalam
Ummi Fikri
http://www.cerita-cantiq.blogspot.com/


      

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke