Selasa, 22/02/2011 09:42 WIB
 Nurdin dan Politisasi PSSI
 *Djoko Suud Sukahar* - detikNews


   * *


  *Jakarta* - Repotnya menggeser Nurdin. Ketua umum mulai zaman baheula
sampai ‘baheuli’ itu tak lengser-lengser. Zaman indah memimpin. Masuk
penjara ‘menggerakkan’ dari bui. Dan sekarang ‘diobrak-obrak’ pun tetap
kukuh tak mau diganti.

Rekam jejak sang ketum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) itu
nabrak banyak persoalan. Dari sisi Undang-Undang terbilang menyimpang. Dan
dari sisi etika serta moral, selayaknya tidak perlu ‘diteriaki’ harus sudah
undur diri. Ini belum kalau dipertalikan dengan gengsi sebuah organisasi.

Tapi itulah yang terjadi. Nurdin tetap memimpin. Berkali-kali pertemuan yang
digelar PSSI tetap mengukuhkannya. Akhirnya tidak cuma pribadi Nurdin yang
dianggap ‘ndablek’, tetapi juga institusi sepak bola ini.

Aib itu (ketidaksukaan yang dipelihara), kian jauh berkembang. Setelah
gelaran piala Suzuki AFF yang finalnya mempertemukan Indonesia dan Malaysia,
Nurdin dengan gagah bilang, bahwa sukses itu berkat Partai Golkar. Ini
implisit ‘diamini’ Ketum Partai Golkar Aburizal Bakrie yang tidak
menyangkalnya.

Akibat itu, aib ini bak bola salju. Tebaran tidak sekadar di pribadi Nurdin
dan PSSI, tetapi juga merambat pada Partai Beringin. Dan spekulasi yang
berkembang pun membulat, Nurdin ‘ngotot’ di PSSI dan kuat menjaga posisinya
karena didukung Partai Golkar. Partai ini pun otomatis dicap sebagai
‘pendorong’ sikap ndablek.

Sekarang ini, ya atau ya, semua orang akan bilang keruwetan PSSI akibat
Nurdin yang didukung Partai Golkar. Itu pangkal pengurusnya disindir tak mau
minggir. Dicibir dianggap ekstra pudding. Digebrak, penggebraknya balik
dituding. Malah prestasi minor pun bukan alasan untuk cabut sebagai ketum.

Terlalu lama memang PSSI diurus orang itu-itu saja. Saking lamanya sampai
ada yang berasumsi PSSI itu sudah ‘dinotariskan’ menjadi badan usaha. Usaha
yang diurus pengurus. Sahamnya dipegang pengurus. Dibagi-bagi pengurus.
Dividen dinikmati bareng-bareng. Dan ‘pasti’ untung karena ‘dibiayai’
pemerintah. Nurdin Halid adalah pemegang saham mayoritas.

Kalau benar begitu, maka dia tak akan bisa diganti. Kata dalang,
kopat-kapito koyok ulo tapak angin. Jungkir balik kayak ular sakti di udara,
tak bakalan Nurdin bisa digeser. Sebab PSSI itu ‘perusahaan pribadi’. Mau
diapakan saja tergantung yang punya, yaitu Nurdin Halid dan kawan-kawan.

Patut diduga seperti itu karena sulitnya untuk merombak tatanan yang sudah
tak disukai di mana-mana ini. Dari pertemuan ke pertemuan ‘disetting’ agar
pengurus tetap yang ada, dan itu mencolok sejauh dari laporan yang
disampaikan media.

Dan mendekati kongres PSSI hari-hari ini, tim verifikasi ternyata ‘sejalan’
dengan Nurdin Halid. George Toisutta dan Arifin Panigoro dinyatakan tidak
lolos. Mereka bukan ‘orang bola’, dan kalaulah orang bola, belum memenuhi
syarat ‘umur’.

Dari empat calon ketua umum PSSI itu hanya dua yang lolos. Selain Nurdin
Halid, satu lagi adalah Nirwan Bakrie. Memang betul yang terakhir ini
pecinta bola dan sebagai wakil Nurdin di PSSI. Namun karena ucapan Nurdin
‘meng-Golkar-kan’ PSSI dan kebetulan Nirwan adalah adik Ical Ketum Partai
Golkar, maka sinyal rakyat tepat sasaran.  Aburizal Bakrie, dan tentu,
Partai Golkar ada di belakang ‘kekisruhan’ institusi sepak bola ini.

Di detik-detik terakhir ini, Menpora Andi Mallarangeng mulai bicara atas
nama pemerintah. Dia menyoal tidak lolosnya George Toisutta dan Arifin
Panigoro. Untuk itu Andi mendesak komisi banding mengubah hasil verifikasi.
Adakah ini akan berhasil menggeser Nurdin Halid?

Rasanya Nurdin akan tergeser. Tapi lengsernya Nurdin sebagai Ketum PSSI
nanti akan membawa luka. Kebesaran Partai Golkar ikut ternodai. Biarpun agak
sedikit terobati jika Nirwan yang sibuk itu jadi dan mengakomodasi George
Toisutta. Apa benar begitu?

PSSI memang bukan partai politik. Bagi yang berpolitik di sini butuh kemasan
untuk mengesankan fair-play. ‘Mempolitisirnya’ juga perlu kecanggihan, agar
rekayasa tidak tampil telanjang sebagai ‘cara menguasai’, tapi hadir sebagai
‘strategi’ mens sana in corpore sano.  Hanya sayang, kemampuan terakhir ini
sekarang mulai hilang dari Partai Golkar.
*
* Budayawan, tinggal di Jakarta*
* (adi/nrl)

**Warm Regards,


Zigo AlCapone
*

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke