-----Original Message-----
From: muhamad agus syafii <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Wed, 23 Feb 2011 20:02:56 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [bank-mandiri] Hati Yang Tersayat

Hati Yang Tersayat

By: M. Agus Syafii

Hati siapa yang tidak tersayat perih bila pasangan hidupnya berubah. Suaminya 
bekerja sebagai kontraktor dengan berbagai fasilitas dinikmatinya. Mobil, rumah 
semuanya tersedia. Namun semua menjadi terasa kering karena begitu pulang kerja 
suami langsung tidur. Pasangan hidupnya tidak memiliki rasa humor, lebih suka 
jalan ke mall bersama teman2nya daripada dengan anak & istrinya. Terkadang hal 
itulah yang membuat sang istri menjadi sakit hati. Begitulah yang dituturkan 
seorang Ibu bersama yang buah hatinya di Rumah Amalia. 

Dalam soal keuangan suami juga sangat tertutup, dirinya tahu bahwa 
penghasilannya besar tetapi sebagian besar selalu suami pegang sendiri dan 
tidak pernah tahu berapa uang yang dipegangnya, Padahal dirinya tahu sering 
melihat dompet suami yang penuh uang. kalau ditanya selalu saja dijawab bahwa 
itu uang kantor, baru setelah uang itu habis suami bercerita. Biasanya bila 
saudara datang tanpa sepengetahuan dirinya, suami memberikan uang kepada 
saudara-saudaranya. Dia sendiri tahu setelah saudaranya itu yang mengatakan.  
Menurut ukuran dirinya uang itu cukuplah besar. Sementara bila dirumah suami 
lebih memilih banyak diam, tidak banyak bicara. Tak pernah ramah bila ada 
keluarga atau orang tua istri yang datang namun ramah bila ada saudara atau 
keluarganya sendiri.

Tiga kali dirinya sebagai istri mengetahui suaminya menelpon seorang perempuan 
ke hapenya. Bicaranya mesra sekali. Dirinya juga sering menemukan SMS dari 
perempuan. Sampai kemudian hal itu menjadi keributan di dalam rumah tangganya. 
Suaminya marah karena hapenya suka dibuka oleh istri. Sekarang suami malah kalo 
dirumah hapenya dimatikan. Apalagi sikapnya lebih sering cuekin & terasa dingin 
ketika berkumpul bersama anak & istrinya. Padahal waktu sebelum menikah, 
suamilah yang mengejar-ngejar dirinya. 'Apa yang harus saya lakukan Mas Agus 
Syafii? Kenapa Allah memberikan cobaan yang begitu berat kepada rumah tangga 
kami?

Kemudian saya menjelaskan kepada beliau bahwa sesungguhnya cara pandang 
terhadap permasalahan seringkali tidak obyektif, kita sering memilih dan 
memilah masalah, mana yang kita suka. Padahal itu bukanlah masalah utamanya. 
Yang terjadi masalah semakin rumit karena ini menyangkut soal perasaan, cinta, 
dan hubungan suami istri. Mengapa persoalan menjadi ruwet & rumit? Karena 
hubungan suami istri di dalamnya terdapat harapan, cinta, kerinduan, ketakutan, 
depresi, kecemasan, kekecewaan, bila ekspektasi yang terlalu berlebihan tapi 
kenyataan sehari-hari berbeda dari apa yang diharapkan. Tidak ada suami yang 
sempurnah & tidak ada istri yang sempurna, bila cara memandang pasangan hidup 
sudah terlanjur buruk maka apapun yang dikerjakan sudah tidak ada yang terlihat 
baik & positif sehingga kecendrungan ini harus diwaspadai kalo tidak hubungan 
semakin memburuk & hidup keluarga semakin menderita, anak-anak akhirnya menjadi 
korban.

dalam penilaiannya, suami sudah tidak lagi memiliki sisi yang baik dan positif. 
Tidak punya humor, marah kalo ditanya, tidak ramah kepada orang tua & 
keluarganya, tidak mengajak jalan2, tidak royal kepada keluarganya, tak satupun 
ada sisi baik & positifnya bukan? Bila kita masih melihat sisi baik & positif 
dari pasangan hidup kita maka banyak hal yang bisa memperkokoh rumah tangga. 
Usahakan untuk mencari & menemukan sisi yang baik & positif pada diri suami.  
Bila suami tidak memiliki rasa humor maka kitalah yang menciptakan rasa humor 
itu, selain suasana menjadi tidak tegang, keriangan tercipta dengan humor yang 
kita buat, suamipun juga tertular oleh humor kita. Bila kita bertutur dengan 
baik yang keluar dari hati yang tulus justru memberikan kesempatan pasangan 
kita untuk mengeluarkan isi hatinya. Anda perlu berisiatif menciptakan suasana 
dimana suami berbicara, dia menjadi nyaman karena didengarkan. Untuk itu 
tidaklah mudah karena dibutuhkan kekuatan
 yang sangat besar agar bisa menjadi pendengar yang baik.

Kita mencoba dengan mengajaknya ngomong dari hati ke hati. 'Ayo Mas, cerita 
dong, apa yang membuat Mas kemaren diam aja.' atau 'Mas, kita enaknya ngapain 
ya biar nggak marahan terus?' Lontaran pertanyaan seperti menjadi pertanda 
bahwa kita siap menjadi pendengar yang baik. Menjadi pendengar yang baik 
membutuhkan latihan dan usaha yang terus menerus, kalo pasangan kita berbicara, 
tidak menyela, tidak memotong pembicaraan atau tidak berkomentar, 'Mas sih, 
nggak ngertiin aku!' Mendengarkan dan menyimak, tanpa bersikap reaktif seketika 
namun dikaji dilihat dari sisi yang lebih baik dan lebih positif akan membuat 
diri kita dan pasangan kita menjadi nyaman. Itulah langkah awal yang bisa 
beliau lakukan untuk memperbaiki kualitas hubungan dengan suami. Langkah 
selanjutnya tentu saja bagaimana ibu lebih menghargai sisi-sisi positif pada 
diri suami dan menciptakan suasana nyaman bagi keluarga dan anak2nya. Dan yang 
jauh lebih penting dari semua itu adalah
 kekokohan dan sadaran kepada Allah itulah menjadi pondasi bagi keluarga kita. 
Bila pondasinya kuat maka goncangan seberat apapun keluarga tetap akan utuh. 
Hanya pertolongan Allahlah yang menjadikan keluarga kita menjadi keluarga 
sakinah mawaddah warahmah. Mohon & berdoalah kepada Allah agar keluarga kita 
senantiasa diberkahi oleh Allah.

Wassalam,
M. Agus Syafii
-
Yuk, hadir di kegiatan 'Amalia Bersyukur' Ahad, 20 Maret 2011, di Rumah Amalia. 
Bila  berkenan berpartisipasi dg menyumbangkan buku2, Majalah, Komik, Novel, 
Cerpen,Kaset VCD, CD, DVD ( ISLAMI ), IPTEK, buku Pelajaran, peralatan sekolah, 
baju layak pakai. silahkan kirimkan ke Rumah Amalia.  Jl. Subagyo IV blok ii, 
no. 24 Komplek Peruri, Ciledug. Tangerang 15151. Dukungan & partisipasi anda 
sangat berarti bagi kami. Info: [email protected] atau SMS 087 8777 12 
431,http://agussyafii.blogspot.com/




      

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke