Purnama sedang cantik-cantiknya. Sinarnya berkilauan, seperti terbuat dari
cahaya emas. Katanya, memandanginya semalaman bisa membuat awet muda.
Benarkah? Apa masih ada yang akan percaya? Entahlah. Aku tidak peduli. Aku
tengah sibuk memunguti tanya lain yang tercecer di lantai, yang menempel di
dinding, tergantung di langit-langit, atau yang tersangkut di kusen pintu
dan jendela.

 

Ya, aku tengah berada di sebuah rumah, yang ruang-ruangnya selalu sunyi.
Rumah yang berhias beku, yang justru kunikmati tanpa henti.

 

Kala itu, aku datang ke rumah yang tak berpenghuni. Aku membawa
berkoper-koper mimpi. Seharusnya aku pandai membaca pertanda, bukannya
justru terburu-buru menjejakkan kaki ke dalam rumah. Membiarkan dingin
mencekik sukmaku, dan mendengarkan kekosongan yang melolong pilu.

 

Aku terlalu bahagia. Aku berpikir bahwa aku telah menemukan rumah yang
kucari. Aku tidak peduli pada sunyinya. Aku masa bodoh pada bekunya. Aku
juga tidak takut pada kekosongan yang melolong. Aku sudah terlalu bahagia.
Toh rumah itu juga akan nampak indah dengan sentuhanku. Nanti.

 

Tapi sore ini, aku tergagap ketika lagi-lagi bertatap muka dengan luka.
Rasanya menyakitkan. Dia menerkam seluruh cahaya milikku, dan hanya
menyodorkan pekat. Lalu luka akan membiarkanku terperangkap dalam gulita.

 

Malam pun terbangun. Senja diusirnya dengan pasti. Aku masih terperangkap
pada rumah tanpa cahaya, dan memunguti tanya. Mengapa? Kenapa? Bagaimana?
Untuk apa? Dimana? Karena apa? Beragam tanya bergetar. Mereka menanti untuk
ku ambili satu per satu.

 

Tiba-tiba angin gemerisik pelan. Mataku nyalang, menuding angin bersalah
atas semuanya. Seharusnya dia membisikkan sesuatu padaku, dulu. Seharusnya
dia jadi pemantik yang mengepulkan ragu padaku. Atau menerbangkan
koper-koper mimpiku hingga aku bergegas berlari mengejar koper-koperku, lalu
menjauhi rumah itu. Tanpa harus kembali lagi.

 

Lelahku pun kini semakin kusut. Keluh menggenangi ceruk di kepalaku.
Ternyata, aku sudah tersesat.

 

Rumah itu, bukan rumah yang kucari. Aku telah salah alamat. Aku mendatangi
rumah yang salah. Aku  telah menyinggahi hati yang salah. Hatimu.

 

 

Warm Regards,

 

 

Zigo AlCapone

 

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke