السلام عليكم ورحمته الله وبركا ته
semoga bermanfaat
wass....zainal
Janjimu Adalah Utangmu 

Oleh : Muhammad Nuh
 “Hai orang-orang yang beriman penuhilah akad-akad itu.” (Al-Maidah: 1)
Sungguh beruntung orang-orang yang beriman. Segala perilakunya terjaga 
dari kekurangan dan keburukan. Sepak terjangnya memberi manfaat buat 
lingkungan sekitarnya. Pepohonan hijau lestari dalam kekuasaannya. 
Hewan-hewan tak terzalimi dengan tangan-tangan mukmin itu. Dan manusia 
sekitar merasa senang dengan kehadirannya.
Siapapun, yang di langit dan di bumi, akan menaruh simpati pada seorang 
mukmin sejati. Hampir tak satu pun buah amal yang dihasilkan muncul 
sia-sia. Tak ada yang mentah bergetah. Dan tak ada yang busuk berbau. 
Ucapannya begitu menyejukkan telinga yang mendengar. Dan janjinya begitu 
terpelihara.
Betapa beraninya seorang manusia yang mengobral janji. Seolah, tak pernah 
ada pertanggungjawaban dari janji yang ia sebar. Padahal, tak satu pun 
janji yang keluar dari lisan seorang kecuali sebuah utang yang harus 
dibayar. Seberapa besar dan sekecil apa pun, janji akan dimintai 
pertanggungjawaban oleh Allah swt.
Sungguh mulia baginda Rasulullah saw yang terkenal dengan sifat Al-Amin. 
Siapa pun yang pernah bergaul dengan beliau akan merasa puas, aman, dan 
hormat. Tak sekali pun Rasul mulia itu berdusta, walau dalam canda. Tak 
pernah terucap janji dari lisan beliau kecuali tertunaikan dengan 
sempurna. Tak ada satu amanah pun terpikul di pundak beliau, melainkan 
terlaksana memuaskan. Semuanya bergulir lancar, tanpa cacat.
Tak sedikit manusia yang lupa, lalai. Kesibukan duniawi telah 
menelantarkan seribu satu janji yang pernah terucap. Badai ambisi dan 
obsesi telah menenggelamkan semua kerikil janji: besar dan kecil. Kasih 
sayang Allalah yang telah menghidupkan kesadaran hamba Allah akan 
janji-janji mereka.
Betapa banyak janji yang telah terucap dari mulut seorang manusia. Ada 
janji-janji pasti yang terikrar sejalan dengan rute hidup yang telah 
ditempuh seorang anak Adam: janji pada Allah, jamaah dan dakwah, janji 
sebagai seorang yang mengemban amanah, sebagai suami atau isteri, sebagai 
orang tua kepada anak-anak, dan sebagai anggota masyarakat. Ada juga 
janji-janji lain yang lahir bersamaan dengan pergaulan sesama manusia.
1. Janji pada Allah
Sudahkah kita tunaikan janji kita pada Allah swt. Ucapan dua persaksian 
seorang mukmin kepada Allah dan Rasul adalah janji. Bahwa, tidak ada ilah 
selain Allah. Dan Muhammad sebagai utusan Allah.
Benarkah persaksian sakral itu telah kita jaga dengan seluruh kesungguhan. 
Masihkah kita menjadikan tuhan-tuhan lain selain Allah. Adakah hal lain 
yang lebih kita takuti selain Allah. Adakah hal lain yang lebih kita 
cintai selain Allah. Adakah hal lain yang lebih kita ikuti aturannya 
selain aturan Allah swt. Sudahkah kita letakkan sosok teladan bagi diri 
kita pada Rasulullah saw. Atau, ada idola-idola lain yang dengan penuh 
keridhaan tertancap kuat dalam hati kita yang paling dalam. Benarkah 
ungkapan cinta dan pengorbanan kita buat Allah dan RasulNya hanya sekadar 
hiasan bibir. Ungkapan yang sering terdengar, tapi berat dalam pembuktian.
Kita pun sering berucap janji lain pada Allah. Saat shalat, ada janji 
terucap. Tak kurang dari tujuh belas kali janji itu mengalir dari lidah 
kita. “Hanya kepadaMu kami menyembah, dan hanya kepadaMu kami memohon 
pertolongan.”
Benarkah? Benarkah seluruh diri kita secara khusyuk tunduk dalam ibadah 
hanya pada Allah. Benarkah hati kita hadir dengan seluruh keikhlasan pada 
Allah. Hanya karena dan untuk Allah. Atau, masih ada bayang-bayang lain 
selain Allah. Bagaimana mungkin seorang hamba Allah bisa menuntut 
terkabulnya doa secara sempurna, sementara nilai ibadahnya hanya separuh. 
Sebagian buat Allah, dan sisanya tercecer ke hal-hal lain: ingin dibilang 
saleh, dipuji, dihormati.
2. Janji pada Jamaah dan Dakwah
Sebagian besar sahabat ada yang telah berjanji setia pada Rasulullah. 
Janji setia atau bai’ah itu menjadi pagar yang senantiasa menjaga 
kelurusan jalan dakwah yang mereka tempuh. Kala tarikan-tarikan 
kepentingan duniawi mulai menggiring mereka ke jalan lain, janji bai’ah 
itu menjadi ingatan.
Mungkin, ada di antara kita yang sudah berjanji setia untuk istiqamah 
dalam jalan dakwah. Sungguh, janji setia itu adalah utang. Kalau ia 
tertunaikan dengan baik, kebaikan itu akan berpulang pada pelaku itu 
sendiri. Dan jika terkhianati, buruknya pengkhianatan itu pun akan 
berbalik pada sang pelaku. Semoga, Allah menjauhi kita dari jalan tempuh 
yang kedua itu.
Allah swt mengabadikan peristiwa bai’ah nan penuh makna itu dalam surah 
Al-Fath ayat 10. “Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu 
sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas 
tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janji maka akibat 
pelanggaran itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati 
janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.”
3. Janji pada Isteri 
Berhati-hatilah buat mereka yang sudah menikah. Secara sadar dan 
disaksikan orang banyak, para suami telah menyatakan sebuah janji. Bahwa, 
mereka akan mempergauli isteri-isteri mereka dengan cara yang baik. Dan 
tidak akan lalai dari pemberian nafkah kepada isteri, baik yang lahir 
maupun batin.
Itulah janji pada isteri. Suatu saat, Allah swt yang juga diatasnamakan 
dalam janji itu akan minta pertanggungjawaban para suami. Sudahkah para 
suami menepati janji itu. Adakah ucapan itu benar-benar janji yang 
bermakna tinggi. Atau, hanya sekadar basa-basi formalitas. Dan akan 
terlupakan dalam hiruk-pikuk rutinitas kehidupan berumah tangga.
Pada saatnya, nilai janji seorang suami menjadi luntur dengan gerusan 
romantisme cinta sesaat. Itulah mungkin, kenapa ada seorang suami yang 
tega-teganya menelantarkan tanggungjawab sebagai suami hanya karena 
kebutuhan sesaat. Semoga Allah swt senantiasa menguatkan hati hamba-hamba 
Allah yang amanah dengan isterinya.
4. Janji pada Anak
Seringkali, seorang ayah atau ibu memberikan janji karena ingin 
mengalihkan perhatian anak. Mereka tidak sadar, kalau semua ucapan janji 
itu terekam kuat oleh anak. Ada anak yang berani menuntut. Tapi, tidak 
sedikit anak yang memendam kecewa. Suatu yang oleh orang tua remeh, 
padahal buat anak teramat besar.
Dari situlah, anak-anak belajar tentang janji. Seberapa suci dan tingginya 
sebuah janji sangat bergantung pada kepentingan. Anak-anak menyimpulkan 
bahwa janji hanya permainan. Bisa ditepati, bisa juga tidak. Tergantung 
pada kepentingan yang berjanji. Jika kepentingannya sudah terpenuhi, janji 
tinggallah janji: hanya ucapan basa-basi. Kelak, anak-anak akan mewariskan 
tabiat buruk itu.
Sungguh beruntung orang-orang yang beriman. Yaitu, mereka yang senantiasa 
menjaga amanah dan janji yang telah terutangkan. Maha Benar Allah dalam 
firmanNya pada surah Al-Fath ayat 10. “Sesungguhnya beruntunglah 
orang-orang yang beriman. (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam 
shalatnya… Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah (yang dipikulnya) 
dan janjinya.”
 

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke