Nice article J

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On
Behalf Of aga madjid
Sent: Wednesday, March 23, 2011 7:58 AM
To: milis aga
Subject: ~ aga ~ Quick Response

 

 

 

 

QUICK RESPONSE


Eileen Rachman & Sylvina Savitri


EXPERD         


One Day Assessment Center


Dimuat di KOMPAS, 19 Maret 2011

Kita sudah biasa membicarakan kecanggihan Jepang dalam kualitas produk,
efisiensi proses, inovasi, teknologi, juga keteguhannya melestarikan
nilai-nilai budaya timur secara turun-temurun. Dengan bencana gempa dan
tsunami yang melanda Jepang baru-baru ini, Jepang sang raksasa Asia memang
berduka, namun tidak terpuruk. Jepang malahan kembali membuka mata dunia
untuk mengakui betapa mereka memang layak mendapat pengakuan dan pantas
menjadi contoh dalam begitu banyak hal. Selain karakter dan kekuatan mental
manusianya dalam menghadapi bencana, satu hal yang juga begitu nyata
kelihatan adalah responsiveness atau kecepatan bertindak yang luar biasa. 

Selain rangka gedung yang lebih kokoh, pondasi karet anti gempa yang
terkenal itu, sepuluh menit setelah terjadinya gempa, sudah ada helikopter
yang terbang untuk memantau situasi gempa dan mengumandangkan instruksi pada
penduduk serta mengingatkan  petunjuk menyelamatkan diri. Masyarakatnya pun
terlihat sudah begitu terlatih untuk patuh pada "Standard Operation
Procedure" saat gempa. Pengunjung di Disney, misalnya, dikumpulkan dan
diminta menunggu sampai dengan jam 8 malam. Mereka berbaris rapi dan patuh
keluar arena Disney dan di pintu keluar telah dibagikan peta jalur kereta
yang bisa digunakan bergiliran pada jam tersebut. Dalam keadaan tidak
bersandang pangan ini tidak seorang pun menjarah  makanan dari tempat-tempat
yang tidak dijaga penghuninya. Mereka percaya pada gilirannya untuk
mendapatkan pembagian logistik. Cerita ini baru segelintir dari begitu
banyak contoh kekuatan mental manusia dan kesigapan bertindak yang
ditunjukkan oleh Jepang.

Ya, tentunya Jepang tidak bisa disamakan dengan negara-negara lain yang
tidak mengalami bencana seperti mereka. Jepang mengalami gempa dahsyat tahun
1923 yang membunuh 100.000 jiwa. Gempa Kobe, tahun 1995, meluluhlantakkan
seluruh kota dan menewaskan 6.000 orang. Pengalaman ini membuat Jepang
menerapkan dan menyediakan mekanisme quick response yang siap setiap saat.
Seakan-akan tidak ada orang yang "bengong" dan menunggu. Dalam kondisi
bencana yang datang tiba-tiba dan tidak bisa diantisipasi pun, setiap
individu seakan otomatis tahu apa yang harus dilakukan. Para petugas
pemerintah segera bergerak memberi bantuan, sebanyak 80.000 tentara, pelaut,
penerbang dan ditambah pasukan cadangan semua turun tangan. Jelas negara ini
terbukti maju dan membuktikan state-of-the-art dari quick response yang bisa
dibuktikan oleh dan untuk  setiap rakyatnya. "No country may be better
prepared for a major earthquake than Japan" demikian tulis "TIME".

Situasi ini tentu memaksa kita bercermin pada diri kita sendiri. Kita pun
mengalami sendiri bertubi-tubinya gempa di berbagai daerah, baik dalam skala
kecil sampai yang mahadahsyat seperti gempa di Aceh. Pertanyaannya, apakah
kesiagaan kita sudah bertambah? Pemahaman terhadap penanganan gempa masih
begitu minim sosialisasinya. Apakah kita tidak ingin menanamkan kesiapan
pada setiap anggota keluarga, karyawan dan lingkungan kita? Kita tentu tidak
hanya bicara gempa, namun begitu banyak aspek di sekitar kita, misalnya saja
hujan deras yang menimbulkan banjir, kemacetan yang terus meningkat, bahkan
teror bom yang datang silih berganti. Tidakkah kita bisa belajar dari
keadaan orang lain? Haruskah kita mengalami bencana, "kena batu"-nya dulu,
baru kemudian menyusun sistem 'alertness'?

Berlatih untuk Responsif 

Tidak banyak orang yang sadar bahwa kualitas seorang pemimpin atau atasan
dinilai dari bagaimana ia berespons terhadap suatu situasi. Begitu gempa
terjadi, semua mata tertuju kepada Naoto Kan, Perdana Menteri Jepang,
menunggu apa respons yang dilakukannya. Segera setelah gempa, pengumuman
dikeluarkan, beliau pun keesokan harinya melakukan kunjungan ke lokasi.
Dalam kondisi penyelamatan yang belum sepuluh hari ini, beliau sudah
menyerukan rekonstruksi sekolah, distribusi pasokan ikan ke seluruh negara
dari pelabuhan Hachinohe, pembangunan 32,800 rumah sementara, prioritas
pembagian bahan bakar dan pasokan listrik, serta melakukan komunikasi yang
sejelas-jelasnya mengenai bahaya pencemaran nuklir. Respons individu dinilai
berkualitas bila ia melakukannya dengan mempertimbangkan kebutuhan orang
lain di samping dirinya, menunjukkan kemampuan bekerja sama dan selalu
memfokuskan untuk berkomunikasi sejelas-jelasnya, kemudian menindaklanjuti
tindakan demi tindakan sampai tuntas.  

Sebetulnya kita bisa menguji respons dari berbagai situasi. Bila ada barang
jatuh, apakah individu yang punya posisi lebih tinggi mau bergerak mengambil
barang tersebut atau menunggu sampai bawahan atau orang yang lebih rendah
"derajat"-nya untuk "turun tangan"? Bila ada kegagalan proses kerja, apakah
sikap kita cenderung menyelamatkan diri sendiri atau berusaha menyelamatkan
orang lain, tim, organisasi dan situasi dari kegagalan yang lebih besar?
Kembali belajar dari Jepang, kita melihat bahwa untuk menjadi seorang yang
responsif juga dibutruhkan latihan-latihan yang dilakukan dalam kehidupan
sehari-hari. Kita harus berlatih untuk lebih mendengar aktif, berempati,
fokus pada pemecahan masalah, juga disiplin dalam antrian atau kesediaan
menggunakan dan merawat fasilitas umum di sekitar kita. 

Peduli pada Hal di luar Diri

Tidak mudah memelihara kesigapan berespon bila kita lalai mengevaluasi cara
kita memproses tugas dan bagaimana selama ini pelayanan yang kita berikan
pada orang lain. Kebutuhan dan keadaan orang di sekitar kita sering berubah.
Respons kita pun perlu disesuaikan terus-menerus. Kita memang harus berlatih
untuk selalu mengikutsertakan kepentingan orang lain bersamaan dengan
kepentingan kita. Bila  kita membiasakan 'mindset' peduli pada hal-hal di
'luar' diri kita, maka tenaga kita pun akan terdistribusi dan tidak terpusat
pada diri sendiri saja. Seperti bangsa Jepang, kita pun perlu bercita-cita
untuk menjadi contoh, acuan, dan terbiasa untuk melakukan hal-hal yang lebih
bernilai daripada sekedar menjalankan tugas, menyelamatkan diri atau berebut
fasilitas. 

EXPERD CONSULTANT
Adding value to business results
Plaza Pondok Indah 3 Blok C/2
Jl. Tb. Simatupang Jakarta 12310
Telp. 021-7590 6448 <tel:021-7590%206448> 
Fax.  021-7590 6442 <tel:021-7590%206442> 
http://www.experd.com <http://www.experd.com/> 

-- 

".... I am the KING to my own UNIVERSE that Rule my MIND, BODY and SOUL !!!
...." 

 

- Aga Madjid -

 

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke