http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2011/03/12/1540106p.jpg

 
<http://female.kompas.com/read/2011/05/12/13220428/Bila.Calon.Ibu.Tak.Suka.A
nakanak> BEST EYE CANDY

Biasanya orang yang kaku atau dingin sulit mengekspresikan emosi. Itu
sebabnya dia cenderung jarang melakukan kontak fisik dengan anaknya.

KOMPAS.com - Saya wanita berusia 34 tahun dan belum menikah. Rencananya
pertengahan tahun ini saya akan naik pelaminan bersama pasangan yang sudah
menjalin hubungan dengan saya selama dua tahun terakhir. Selama ini ada satu
hal yang menjadi kekhawatiran saya. Saya termasuk wanita yang tidak suka
anak-anak. Jika kebetulan teman kerja ada yang membawa anak ke kantor,
rekan-rekan lain sering gemas dan mengajak anak kecil itu bermain. Saya
sendiri tidak melakukan hal yang sama karena memang tidak tertarik.
Bagaimana nanti kalau punya anak sendiri? Saya pernah mengungkapkan
kekhawatiran ini ke calon suami, tetapi dia tenang-tenang saja. Menurutnya,
sikap saya pasti berbeda kalau nanti punya anak sendiri. Terus terang saya
tidak terlalu yakin. Mungkinkah sifat saya ini dipengaruhi sikap ibu saya
yang memang cenderung dingin dan kaku? Saya memang tidak sampai dikasari
ibu, tetapi saya tidak pernah diajak bermain atau bermanja-manja. (Ovi, via
e-mail)

Bila Anda merasakan hal yang dialami oleh Ovi di atas, sebenarnya Anda tak
sendiri. Menurut Dra Tiwin Herman, MPsi, psikolog dari Universitas
Indonesia, ia sering mendapat pertanyaan senada.

Naluri keibuan atau ada yang juga menyebutnya sebagai rasa keibuan (sense of
motherhood) sebetulnya dimaknai sebagai tindakan seorang ibu yang
memerhatikan, menyayangi, mengasihi, mendampingi, mengayomi, melindungi
(baik fisik maupun psikis) anaknya. Kata "ibu" sendiri merujuk kepada
perempuan sebagai calon ibu.

Oleh karenanya, lanjut Tiwin, ketika tidak bersikap demikian saat bertemu
anak kecil, perempuan dewasa akan disebut belum mempunyai naluri keibuan.
Sebaliknya, ketika ada gadis atau perempuan dewasa yang menyukai anak kecil,
mereka akan dikatakan sudah mempunyai naluri atau rasa keibuan.

Pengertian di atas agaknya tidak berlaku untuk pria. Coba lihat, meski Kak
Seto sepanjang hidupnya bergelut dengan anak-anak, tidak ada yang menyebut
dia memiliki naluri kebapakan. Seorang bapak yang sangat peduli dan selalu
memberi perhatian penuh kepada anak pun tidak pernah disebut mempunyai
naluri kebapakan.

Merujuk pada hal di atas, seorang ibu yang dingin atau kaku belum tentu
tidak memiliki naluri keibuan. Meski kaku, ia bisa saja tetap melakukan
tindakan-tindakan seperti ibu pada umumnya. Akan tetapi, biasanya orang yang
kaku atau dingin sulit mengekspresikan emosi. Itu sebabnya dia cenderung
jarang melakukan kontak fisik dengan anaknya (mungkin seperti yang Anda
rasakan).

Bila berbicara mengenai rasa keibuan, cara "menumbuhkannya" tidak dapat
diukur dari senang atau tidak senangnya seseorang dengan anak kecil. Banyak
ibu yang siap melakukan apa pun untuk anaknya sendiri, tetapi enggan
bersinggungan dengan anak orang lain. Ada juga ibu yang hamil kemudian tidak
mengurus anaknya, dan bahkan menyerahkan anaknya ke tangan orang lain yang
mengurusnya secara total (bisa babysitter atau pembantu). Tanpa keterlibatan
emosi antara ibu dan anak, bagaimana bisa ada rasa keibuan terhadap anaknya?

Menurut saya, hamil dan masa kehamilan bukanlah masa yang menentukan
pembentukan naluri seorang ibu. Naluri keibuan dibentuk dari kemauan diri
untuk terlibat dan menerima secara tulus kepada siapa pun, tentunya terlebih
kepada anak sendiri. Dibutuhkan kesediaan, waktu, dan hati yang terbuka.
Jadi, memang ada wanita yang sudah merasakan hal tersebut sebelum menikah,
ketika hamil, atau setelah melahirkan. Bahkan, ada pula yang merasakan
naluri keibuan justru ketika anaknya sudah tumbuh besar.

Membaca kisah-kisah inspiratif tentang seorang ibu yang memperjuangkan
anak-anaknya pun bisa membantu "mengasah" kepedulian dan perhatian kepada
anak-anak. Intinya, semakin intensif interaksi, diharapkan kita semakin bisa
mengenali seorang anak, terlebih anak sendiri. Ketika rasa kasih sayang
timbul (karena sudah "mengenal"), pada akhirnya keibuan atau menjalankan
peran ibu yang memerhatikan, menyayangi, mengasihi, mendampingi, mengayomi,
dan melindungi pun dapat diekspresikan. Selamat menjadi ibu.

 

 

Warm Regards,

 

 

Zigo AlCapone

 

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

<<image001.jpg>>

Kirim email ke