-----Original Message-----
From: [email protected]
Date: Mon, 23 May 2011 09:24:42 
Reply-To: 
Subject: Fw: Hati Hati Membicarakan Orang Lain

السلام عليكم ورحمته الله وبركا ته
 semoga bermanfaat
wass....zainal
Hati Hati Membicarakan Orang Lain
Oleh ; Hisyam bin Ismail ash-Shiini. 
Membicarakan aib orang lain atau ghibah telah Allah haramkan secara jelas 
dan tegas di dalam kitab-Nya dan melalui lisan rasul-Nya. Allah subhanahu 
wata’ala berfirman, artinya, 
“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah 
seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka 
tentulah kamu merasa jijik kepadanya.” (QS. al-Hujurat:12) 

Penjelasan tentang hakikat ghibah telah disebutkan di dalam hadits Nabi 
shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah 
radhiyallahu ‘anhu yaitu, 
"Engkau membicarakan saudaramu dengan sesuatu yang dia tidak suka (untuk 
diungkapkan)." (HR. Muslim) 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga telah mengharamkan kehormatan 
seorang mukmin dan mengaitkannya dengan hari Arafah, bulan haram, dan 
tanah haram. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Bakar radhiyallahu 
‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 
"Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian adalah 
haram atas kalian, sebagaimana haramnya hari kalian ini, di bulan kalian 
ini, dan di negri kalian ini. Ingat! Bukankah aku telah menyampaikan?" (HR 
Muslim). 

Bahkan dalam hadits yang lain disebutkan dengan sangat tegas bahwa 
membicarakan aib dan kehormatan seorang mukmin itu lebih parah 
dibandingkan dengan seseorang yang menikahi ibunya sendiri. Diriwayatkan 
dari al-Barra' bin Azib radhiyallahu ‘anhu dia berkata, "Rasulullah 
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 
"Riba itu mempunyai tujuh puluh dua pintu, yang paling rendah seperti 
seseorang yang menikahi ibunya. Dan riba yang paling besar yakni seseorang 
yang berlama-lama membicarakan kehormatan saudaranya." (Silsilah 
ash-Shahihah no. 1871) 

Di dalam sebuah potongan hadist, riwayat dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 
"Siapa yang berkata tentang seorang mukmin dengan sesuatu yang tidak 
terjadi (tidak dia perbuat), maka Allah subhanahu wata’ala akan 
mengurungnya di dalam lumpur keringat ahli neraka, sehingga dia menarik 
diri dari ucapannya (melakukan sesuatu yang dapat membebaskannya).” (HR. 
Ahmad, Abu Dawud dan al-Hakim, disetujui oleh adz-Dzahabi, lihat Silsilah 
ash-Shahihah no. 437) 

Diriwayatkan dari Abdur Rahman bin Ghanam radhiyallahu ‘anhu, bahwa 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda, 
"Sebaik-baik hamba Allah adalah orang yang jika dilihat (menjadi 
perhatian) disebutlah nama Allah, dan seburuk-buruk hamba Allah adalah 
orang yang berjalan dengan mengadu domba, memecah belah antara orang-orang 
yang saling cinta, dan senang untuk membuat susah orang-orang yang baik.” 
(HR. Ahmad 4/227, periksa juga kitab "Hashaid al-Alsun" hal. 68) 

Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah 
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 
"Wahai sekalian orang yang telah menyatakan Islam dengan lisannya namun 
iman belum masuk ke dalam hatinya, janganlah kalian semua menyakiti sesama 
muslim, janganlah kalian membuka aib mereka, dan janganlah kalian semua 
mencari-cari (mengintai) kelemahan mereka. Karena siapa saja yang 
mencari-cari kekurangan saudaranya sesama muslim maka Allah akan mengintai 
kekurangannya, dan siapa yang diintai oleh Allah kekurangannya maka pasti 
Allah ungkapkan, meskipun dia berada di dalam rumahnya." (HR. at-Tirmidzi, 
dishahihkan oleh al-Albani dalam shahih sunan at-Tirmidzi 2/200) 

Para salaf adalah orang yang sangat menjauhi ghibah dan takut jika 
terjerumus melakukan hal itu. Di antaranya adalah sebagaimana yang 
diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, dia berkata, "Aku mendengar Abu ‘Ashim 
berkata, "Semenjak aku ketahui bahwa ghibah adalah haram, maka aku tidak 
berani menggunjing orang sama sekali." (at-Tarikh al-Kabir (4/336) 

Al-Imam al-Bukhari mengatakan, "Aku berharap untuk bertemu dengan Allah 
subhanahu wata’ala dan Dia tidak menghisab saya sebagai seorang yang telah 
berbuat ghibah terhadap orang lain." 

Imam Adz-Dzahabi berkomentar, "Benarlah apa yang beliau katakan, siapa 
yang melihat ucapan beliau di dalam jarh dan ta'dil (menyatakan cacat dan 
jujurnya seorang perawi) maka akan tahu kehati-hatian beliau di dalam 
membicarakan orang lain, dan sikap inshaf (obyektif) beliau di dalam 
mendhaifkan/melemahkan seseorang. 

Lebih lanjut beliau (adz-Dzahabi) mengatakan, "Apabila aku (Imam 
al-Bukhari) berkata si Fulan dalam haditsnya ada catatan, dan dia diduga 
seorang yang lemah hafalannya, maka inilah yang dimaksudkan dengan ucapan 
beliau "Semoga Allah subhanahu wata’ala tidak menghisab saya sebagai orang 
yang melakukan ghibah terhadap orang lain." Dan ini merupakan salah satu 
dari puncak sikap wara'. (Siyar A'lam an -Nubala' 12/439) 

Beliau juga mengatakan, "Aku tidak menggunjing seseorang sama sekali 
semenjak aku ketahui bahwa ghibah itu berbahaya bagi pelakunya." (Siyar 
a'lam an-Nubala' 12/441) 

Para salaf apabila terlanjur menggunjing orang lain, maka mereka langsung 
melakukan introspeksi diri. Ibnu Wahab pernah berkata, "Aku bernadzar 
apabila suatu ketika menggunjing seseorang maka aku akan berpuasa satu 
hari. Aku pun berusaha keras untuk menahan diri, tetapi suatu ketika aku 
menggunjing, maka aku pun berpuasa. Maka aku berniat apabila menggunjing 
seseorang, aku akan bersedekah dengan satu dirham dan karena sayang 
terhadap dirham, maka aku pun meninggalkan ghibah." 

Berkata imam adz-Dzahabi, "Demikianlah kondisi para ulama, dan itu 
merupakan buah dari ilmu yang bermanfaat." (Siyar: 9/228) 

Bahkan seorang yang melakukan ghibah pada hakikatnya sedang memberikan 
kebaikannya kepada orang lain yang dia gunjing. Bahkan Abdur Rahman bin 
Mahdi berkata, "Andaikan aku tidak benci karena bermaksiat kepada Allah 
subhanahu wata’ala, maka tentu aku berharap tidak ada seorang pun di 
Mesir, ini kecuali aku menggunjingnya, yakni karena dengan itu seseorang 
akan mendapatkan kebaikan di dalam catatan amalnya, padahal dia tidak 
melakukan sesuatu." (Siyar: 9/195) 

Maka para aktivis dakwah di masa ini yang melakukan ghibah atau 
membicarakan aib saudaranya sesama muslim dengan alasan untuk meluruskan 
kesalahan dan demi kebaikan, alangkah baiknya sebelum membicarakan orang 
lain merenung kan beberapa masalah berikut: 

Pertama; Apakah yang dia lakukan itu adalah ikhlas dan merupakan nasihat 
untuk Allah subhanahu wata’ala, Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dan 
kaum muslimin? Ataukah merupakan dorongan hawa nafsu baik tersembunyi atau 
terang-terangan? Atukah itu merupakan hasad dan kebencian terhadap orang 
yang dia gunjing? 

Memperjelas apa latar belakang yang mendorong untuk membicarakan orang 
lain sangatlah penting. Sebab berapa banyak orang yang terjerumus ke dalam 
ghibah dan menggunjing orang lain karena dorongan nafsu tercela 
sebagaimana tersebut di atas. Lalu dia menyangka bahwa yang mendorong 
dirinya untuk menggunjing adalah karena menyampaikan nasehat dan 
menginginkan kebaikan. 

Ini merupakan ketergelinciran jiwa yang sangat pelik, yang tidak diketahui 
oleh kebanyakan manusia, kecuali setelah merenung dan berpikir mendalam 
penuh rasa ikhlas dan murni karena Allah subhanahu wata’ala. 

Ke dua; Harus dilihat dulu bentuk masalahnya ketika membicarakan aib 
seseorang, apakah merupakan hal-hal yang di situ memang dibolehkan untuk 
ghibah ataukah tidak? 

Ke tiga; Renungkan berkali-kali sebelum mengeluarkan kata-kata untuk 
membicarakan orang lain; Apa jawaban yang saya sampaikan nanti di hadapan 
Allah subhanahu wata’ala pada hari Kiamat jika Dia bertanya, "Wahai 
hamba-Ku si Fulan, mengapa engkau membicarakan si Fulan dengan ini dan 
ini?” 

Hendaknya selalu ingat bahwa Allah subhanahu wata’ala telah berfirman, 
“Dan ketahuilah bahwasannya Allah mengetahi apa yang ada dalam hatimu; 
maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi 
Maha Penyantun.” (QS. Al-Baqarah: 235) 

Dan Ibnu Daqiq al-Ied juga telah berkata, "Kehormatan manusia merupakan 
salah satu jurang dari jurang jurang neraka yang para ahli hadits dan ahli 
hukum diam apabila telah berhadapan dengannya. (Thabaqat asy Syafi'iyyah 
al Kubra 2/18). Wallahu a’lam. 

Sumber: “Manhaj Ahlussunnah fi an-Naqdi wal Hukmi ‘alal Akharin, hal 
17-20, 
 

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke