-----Original Message-----
From: [email protected]
Date: Mon, 23 May 2011 14:27:58 
Subject: Fw: SHOLAT ITU CAHAYA

السلام عليكم ورحمته الله وبركا ته
 semoga bermanfaat
wass....zainal
 
SHOLAT ITU CAHAYA

Syarh Hadits Abu Malik al-Asy’ary 

 
“Bersuci adalah separuh keimanan. (Kalimat) Alhamdulillah memenuhi mizan 
(timbangan amal di akhirat). Dan (kalimat) Subhaanallaahi wal hamdulillaah
, keduanya memenuhi apa-apa yang berada di antara langit dan bumi. Sholat 
adalah cahaya, dan sedekah adalah bukti. Sabar adalah sinar yang terik, 
dan al-Qur-an adalah hujjah yang akan membelamu atau (boleh jadi) yang 
akan melawanmu. Semua manusia berangkat di pagi hari untuk berusaha, ada 
yang menjual dirinya (kepada Allah) sehingga ia terbebas (dari adzab), 
atau (kepada setan) sehingga ia binasa.”
Hadits di atas derajatnya SHAHIH, diriwayatkan oleh Imam Muslim: 223, 
at-Tirmidzi: 3517, Ibnu Majah: 280, Ahmad: 22395, 22401, dan ad-Darimi: 
653; dari Sahabat Rasulullah yang mulia, Abu Malik al-Haarits bin ‘Aashim 
al-Asy’ary radhiallaahu’anhu
 
BERSUCI, SEPARUH KEIMANAN
Para ulama Salafush Shalih menjelaskan dua makna yang terkandung dalam 
kata ath-Thuhuur (Bersuci) dalam hadits ini. 
Pertama; ath-Thuhuur bermakna mensucikan hati dari na’jis-na’jis maknawi, 
yaitu kotoran-kotoran hati dan jiwa seperti; syirik, kekufuran, 
kemunafikan dan aqidah-aqidah yang menyimpang dari al-haq tentang Allah 
baik tentang Dzat, Nama-Nama-Nya dan Sifat-Sifat-Nya, serta beragam 
kotoran hati lainnya. Juga termasuk dalam pengertian ini, membersihkan 
diri dari kotoran maksiat yang diperbuat oleh anggota badan.
Berangkat dari pengertian pertama inilah, Allah menyebut orang-orang 
musyrik sebagai orang-orang yang na’jis dalam firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا ...الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ
“Wahai orang-orang beriman, sesungguhnya orang-orang musyrik itu 
na’jis...” [QS. at-Taubah: 28]
Disebut Syathrul Imaan (separuh keimanan) karena iman yang sempurna itu 
mencakup dua hal; Fi’lun (berbuat) dan Tarkun (meninggalkan/tidak 
berbuat). Nah, ath-Thuhuur menurut pengertian pertama ini termasuk dalam 
kategori Tarkun, yaitu meninggalkan na’jis dan kotoran maksiat baik itu 
maksiat hati ataupun anggota badan. Sehingga tinggal separuhnya lagi yaitu 
Fi’lun, melakukan amalan yang membersihkan dan menghiasi diri seseorang di 
hadapan Allah. Barulah iman dikatakan sempurna.
Kedua; ath-Thuhuur dalam hadits ini bermakna bersuci dengan air atau 
pengganti air (yang disyaria’tkan). Sehingga yang masuk dalam pengertian 
ini adalah; wudhu/tayammum, mensucikan badan dan pakaian dari hadats dan 
na’jis, mandi suci (karena junub), mandi suci wanita sehabis haidh atau 
nifas. 
Adapun yang ditekankan oleh para ulama -menurut pengertian kedua ini- 
adalah ath-Thahaarah (bersuci) untuk sholat. Karena Allah menyebut sholat 
sebagai Iman dalam firman-Nya:
وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ 
لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ
“...Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan iman (sholat) kalian. Sesungguhnya 
Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada manusia.” [QS. al-Baqarah: 
143] 
Ayat tersebut turun berkenaan dengan perintah mengalihkan kiblat dari 
Baitul Maqdis (di Palestina) ke Ka’bah (di Makkah). Sebagian para Sahabat 
menganggap sholat yang mereka kerjakan dulu ketika berkiblat ke arah 
Baitul Maqdis menjadi sia-sia. Maka Allah menjawab dengan ayat ini.
Bersuci untuk sholat disebut Syathrul Iman (separuh iman), karena hal 
tersebut merupakan syarat sah-nya sholat. Jika seseorang telah bersuci 
untuk sholat, maka ia telah mengerjakan separuh nilai keimanan, tinggal 
menyempurnakan separuhnya lagi dengan mengerjakan sholat itu sendiri.
Demikianlah intisari penjelasan Syaikh Shalih Alu Syaikh hafizhahullaah 
dalam Syarh al-Arba’iin an-Nawawiyyah (hal.262-263, Cet. Daarul Mustaqbal)
DZIKIR BERPAHALA SEJAGAT
Dalam hadits Abu Malik al-Asy’ary di atas juga terkandung keistimewaan 
kalimat Tahmiid “Alhamdulillaah”. Ibnu Daqiiqil I’id berkata: “
Alhamdulillaah memenuhi miizan (timbangan) maksudnya; besarnya pahala 
orang-orang yang ber-tahmid sampai-sampai memenuhi timbangan amal kebaikan 
kelak di akhirat.” [Syarh al-Arba’iin hal. 258]
Imam Ibnu ‘Utsaimin menjelaskan dalam Syarh al-Arba’iin (hal. 260): “ 
Alhdamdulillaah adalah; mensifatkan Allah dengan segala sifat terpuji dan 
sempurna baik itu pada Dzat-Nya ataupun pada Sifat dan Perbuatan-Nya.” 
(Ketika ber-tahmid mengucapkan “Alhamdulillaah”, seseorang harus meyakini 
makna ini), maka pahala bagi yang mengucapkannya akan memenuhi timbangan 
amal. 
Sedangkan kalimat “Subhaanalaahi wal Hamdulillaah” memiliki keutamaan yang 
memenuhi apa yang berada di antara langit dan bumi. Kalimat ini 
menggabungkan antara Tashbiih (penyucian) dan Tahmiid. Kalimat Tashbiih 
mengandung makna Tanziih, yaitu mensucikan Allah dari segala sifat kurang 
dan tidak sempurna. 
Mengenai keagungan makna yang terkandung dalam kalimat Tashbiih dan 
Tahmiid ini, Rasulullah bersabda (yang artinya):
“Dua kalimat yang dicintai ar-Rahmaan, dua kalimat yang ringan di lisan 
namun berat di timbangan (yaitu); Subhaanallaahi wa Bihamdihi, 
Subhaanallaahil ‘Azhiim.” [Muttafaq ‘Alaihi. Bukhari: 6406, 6682, 7563. 
Muslim: 2694]
Para ulama juga menegaskan bahwa mizan (timbangan) dalam hadits Abu Malik 
al-Asy’ary ini adalah hakiki, bukan kiasan. Memiliki dua daun timbangan 
yang akan digunakan untuk menimbang amal manusia kelak di akhirat.
SHOLAT ITU CAHAYA
Rasulullah menyebut sholat sebagai Nuur (cahaya), maksudnya adalah cahaya 
di hati seorang mukmin. Apabila hati bercahaya, maka wajah pun akan 
bercahaya. Sedangkan di akhirat kelak di saat yang gelap, sholat seorang 
mukmin benar-benar menjadi cahaya hakiki yang memancar di sekelilingnya 
memberikan penerangan, sebagaimana Allah berfirman (artinya):
“(Yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan 
perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan 
mereka...” [QS. al-Hadiid: 12]
Ibnu Daqiiqil I’id menerangkan bahwa sholat disebut cahaya karena ia mampu 
mencegah seseorang dari kemaksiatan, dari kefasikan dan kemungkaran, dan 
juga memberikan petunjuk kepada jalan kebenaran, sebagaimana cahaya yang 
sesungguhnya digunakan sebagai pemberi petunjuk dan penerangan.
Termasuk dalam cakupan makna Nuur (cahaya) di sini adalah ilmu agama. 
Karena Allah juga menyebut Rasulullah dan al-Qur-an sebagai sumber ilmu 
agama dengan kata “Nuur” dalam QS al-Maa-idah: 15.
Sehingga tidak heran jika Imam Ibnu ‘Utsaimin mengatakan bahwa sholat bisa 
membuka pintu ilmu dan fiqh bagi seseorang (tentunya jika dikerjakan 
dengan ikhlas sesuai tuntunan sunnah yang shahih).
SEDEKAH ADALAH BUKTI
“As-Shodaqotu Burhaanun” maksudnya; sedekah adalah bukti kejujuran iman 
seseorang. Sedekah membedakan iman seorang mukmin sejati dengan iman yang 
dicemari oleh sifat munafiq. Karena orang-orang munafiq sangat pelit dalam 
bersedekah.
al-Imam Ibnu ‘Utsaimin berkata: “Sedekah adalah bukti kejujuran cinta 
ber-taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah, karena tabiat jiwa sangat 
mencintai harta, dan tidaklah seseorang rela mengorbankan sesuatu yang ia 
cintai melainkan untuk meraih sesuatu yang lebih ia cintai (dari harta 
tersebut, yaitu Allah). Maka ini burhan (bukti) akan kejujuran imannya 
serta kekuatan yakinnya kepada Allah.” [Syarh al-Arba’iin hal. 260]
SABAR, SINAR YANG TERIK
Sabar disifatkan oleh Rasulullah sebagai dhiya’. Dhiya’ adalah nuur 
(cahaya) yang sangat terang benderang dan panas. Dalam al-Qur-an, Allah 
mensifatkan cahaya bulan dengan kata nuur sementara cahaya matahari 
disifatkan dengan kata dhiya’, karena selain cahayanya sangat terang, 
cahaya matahari juga terik dan panas menyengat:
هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا
“Dialah (Allah) yang menjadikan matahari (dhiya’) bersinar dan bulan 
(nuur) bercahaya...” [QS. Yunus: 5] 
Demikianlah sabar, sangat panas dan menyusahkan bagi jiwa, namun kebesaran 
cahaya bagi orang-orang yang sabar sungguh tiada tara layaknya sinar 
matahari.
Sabar menurut definisi para ulama adalah: menahan hati dan anggota badan 
untuk tetap dalam ketaatan, menahannya dari maksiat, dan menahannya untuk 
selalu ridho atau bersyukur atas ketentuan taqdir Allah, baik taqdir itu 
pahit ataupun manis.
Kelak di akhirat, manusia akan menemui saat-saat yang gelap dan sulit. 
Manusia sangat-sangat membutuhkan cahaya yang bersumber dari sholatnya, 
sedekahnya dan kesabarannya, melebihi kebutuhannya terhadap apapun juga.
Renungkanlah bagaimana orang-orang munafik dalam al-Qur-an memelas 
secercah cahaya milik orang-orang mukmin di akhirat. Allah berfirman (yang 
artinya):
“Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata 
kepada orang-orang yang beriman: “Tunggulah kami supaya kami dapat 
mengambil sebahagian dari cahayamu”. dikatakan (kepada mereka): 
“Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)”. lalu 
diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu, di sebelah 
dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya ada siksa.” [QS. al-Hadiid: 13]
AL-QUR-AN, HUJJAH UNTUKMU ATAU ATASMU
Al-Qur-an akan menjadi pembela kelak di akhirat, bagi orang-orang yang 
membacanya, menjalankan hukum-hukumnya, menghalalkan yang dihalalkannya 
dan mengharamkan apa yang diharamkannya. Namun jika sebaliknya, al-Qur-an 
itu justru akan menjadi lawan yang akan memberatkan dan menghinakan 
manusia di dunia maupun di akhirat.
“Kelak akan didatangkan al-Qur-an pada hari kiamat. Yang lebih dulu 
didatangkan adalah Surat Al-Baqarah dan Ali Imran. Keduanya datang bak dua 
awan. Keduanya akan ber-hujjah (berargumentasi) membela para pembaca dan 
pengamalnya.” [Lih. Shahih Muslim: 804, 805]
MENJUAL DIRI UNTUK ALLAH 
ATAU SETAN?
Kalimat terakhir hadits ini yaitu “Kullun Naasi Yaghdu...dst”, 
mengisyaratkan bahwa di antara manusia ada yang bekerja untuk meraih 
kebebasan dan kemerdekaan atas apa yang diinginkannya. Namun untuk itu, 
ada yang menjual dirinya kepada setan dan hawa nafsu dengan bermaksiat 
kepada Allah. Alih-alih merdeka, justru ia menjadi budak setan dan hawa 
nafsunya. Sehingga pada akhirnya ia akan hancur binasa. 
Padahal dengan mentaati Allah, ia akan meraih kebebasan yang hakiki. Ibnul 
Qayyim berkata dalam (kumpulan sya’ir) Nuuniyyah-nya:
هَرَبُوا مِنَ الرِّقِّ الَّذِي خُلِقُوا لَهُ وَبَلَوْا بِرِقِّ النَّفْسِ 
وَالشَّيْطَانِ
“Mereka lari dari penghambaan yang menjadi tujuan mereka diciptakan.”
“Dan mereka berpaling menuju penghambaan kepada nafsu dan setan.” 
(Wallaahua’lam) 
Sumber Bacaan: Syarh al-Arba’iin an-Nawawiyah (Majmu’atul ‘Ulama) Cet. 
Daarul Mustaqbal
 

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke