Ada di mall mana aja sih J

Hunting.mode.on

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On
Behalf Of Morningmoon
Sent: Thursday, July 07, 2011 10:42 AM
To: [email protected]
Subject: Re: ~ aga ~ Strategi Dan Alasan ABG Mencari Pria Hidung Belang Dan
Om-om

 

weks, kok rata2 di mall kalibata? (bener yak mall kalibata?)
jangan2 ntar mall kalibata city juga jadi tempat sasaran mereka mangkal
neeeeeh
oh tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak





~You crap on my leg, I'll cut it off  "Coach Beiste - Glee" 





2011/7/7 Zigo AlCapone <[email protected]>

Strategi Dan Alasan ABG Mencari Pria Hidung Belang Dan Om-om

 
<http://www.gallerydunia.com/2011/04/strategi-dan-alasan-abg-mencari-pria.ht
ml> 


Menjadi cewek metropolis ataupun cewek gaul yang glamor dan tak ketinggalan
mode, hanya bisa terwujud bila memiliki uang dan uang. Untuk meraih impian
itu, sejumlah anak baru gede (ABG) yang ekonomi orangtuanya lemah, menempuh
berbagai cara. Sebagian di antara cewek usia belasan tahun ini mencari uang
dengan jalan menjual diri alias menjadi pelacur amatiran .wkakakkakakakkaa,,

"Uang dari orangtua mana cukup buat beli baju gaul, HP model terbaru? Bisa
ketinggalan kita," kata Ratna,17, (bukan nama sebenarnya), cewek ABG kormod
alias korban mode.

Upaya memenuhi keinginannya itu, Ratna rela jadi pelacur amatir. Pusat
perbelanjaan dijadikan sebagai ajang bergaul sekaligus meraup rupiah dari
lelaki iseng pencari kenikmatan sesaat. Mejeng di mal sambil mencari mangsa.

Terhadap ABG kelompok ini, pria iseng cukup bermodal Rp100 ribu, bisa kencan
sambil menjamah tubuh, meskipun hanya sebatas close up alias setengah badan.

Sepak-terjang ABG yang menjajakan diri ini bisa ditemui di sejumlah pusat
perbelanjaan di ibukota. Ironisnya, mereka rata-rata berstatus pelajar, ada
juga mahasiswi.

Alasan mereka kepada orangtua, pergi belajar kelompok atau mengikuti
kegiatan sekolah agar bisa bebas keluar rumah. ABG bangor beroperasi di mal
tak cuma malam hari, tapi banyak pula dijumpai nongkrong siang bolong
menjajakan diri.

Mereka ada yang dijuluki cewek parkir lantaran mangkalnya di tempat parkir,
ada pula mangkal di pusat jajan makananan (food court), ada juga yang
mencari sasaran di depan gedung bioskop. Pekcun alias perek culun, begitulah
julukan yang sering dilontarkan publik terhadap mereka.

Lebih Agresif

Dari pantauan sebuah koran Jakarta, di mal pada kawasan Kalibata misalnya,
ada sekitar 30 cewek ABG mencari mangsa tersebar di ruang tunggu bioskop,
food court dan tempat parkir. Pemandangan serupa dapat dipantau pada pusat
perdagangan dan perbelanjaan di kawasan Senen serta pusat perdagangan dan
perbelanjaan di kawasan Rawamangun.

Gaya mereka menyerupai gadis lainnya yang datang ke mal untuk belanja.
Inilah yang kerap membuat jengah gadis baik-baik karena kena imbas dikira
cewek mal cari mangsa.

Mengenakan celana jins model pensil, kaos lengan pendek, blus model baby dol
yang sedang ngetren, penampilan mereka sama sekali jauh dari kesan sebagai
pelacur.

Namun bila diperhatikan, ada hal yang membedakan antara ABG pelacur dengan
ABG baik-baik. ABG pelacur tampil centil, genit, agresif, berani menggoda
lelaki meski belum dikenal dan bersikap sangat ramah.

Sasaran mereka, selain pria yang biasa dijuluki brondong juga lelaki
setengah baya alias om-om parlente dan tajir alias berkantong tebal.

"Nih brondong keren euy. Tapi keren-keren gitu namanya Parto lho, atau Gino
kali ya?" celetuk satu cewek ABG di depan bioskop yang disambut tawa
cekikikan dua teman lainnya.

Bagi pria yang masuk perangkap, kencan pun dimulai. Obrolan mereka nyambung
dan langsung akrab.

Sama halnya di food court, cara mereka menarik perhatian lelaki dengan
kerlingan mata atau membuat canda berlebihan. "Meskipun cuma dibayarin makan
aja, gak apa-apalah, lumayan juga," kata Ratna, yang mengaku dirinya dan
bersama geng kerap mangkal di satu mal kawasan Kalibata.

Lain lagi dengan cewek parkir, tampilannya berlagak menunggu teman. Padahal
mereka mejeng sambil matanya melirik-lirik ke arah lelaki yang diincar.

Layanan Close Up

Kelompok ABG ini selain mencari uang juga mencari kesenangan di mal. Target
lain bisa belanja barang harga mahal dan dapat menyantap makanan enak.

Tarif mereka terbilang murah antara Rp 100 ribu hingga Rp300 ribu. Pelaku
prostitusi terselubung ini memberi pelayanan dari pinggang ke atas. Istilah
mereka close up.

Pelayanan colse up berlangsung singkat. Tempatnya di dalam gedung bioskop
sambil nonton film. Lelaki iseng leluasan menggerayangi tubuh ABG selama
pemutaran film berlangsung. Kencan bisa juga dilakukan di dalam mobil yang
sedang diparkir.

Bila mau pelayanan lebih, harus tambah ongkos minimal Rp300 ribu untuk
di-booking ke hotel. Harga pasaran ABG ini bisa turun asal mereka diajak
shoping.

"Sebelum ngeroom (istilah untuk ngamar) kita belanja-belanja dulu," cerita
Ririn, ABG lainnya.

Bagi lelaki pemburu ABG di mal, paham betul cara menggaet mereka. Tentu
dengan cara mengajak belanja pakaian dulu, baru dibawa ke kamar hotel.

Mau mencari cewek parkir dimal? Mereka biasa mejeng sekitar Pk. 19:00 saat
pengunjung banyak yang mulai meninggalkan mal. Operasi pekcun kelompok ini
cukup rapih. Mereka tak hanya mejeng di area parkir, tapi kadang bersembunyi
di tempat tertentu.

Untuk bisa menemui mereka, lebih dulu ketemu juru parkir (jukir) nyambi
sebagai germo. Jukir yang nyambi ini kemudian mengontak mereka. Pekcun
beroperasi di arena parkir, geliatnya lebih profesional ketimbang yang
mangkal di sekitar bioskop atau di food court.

Tentu saja si tukang parkir mendapat jatah dari cewek yang dapat tamu.
Setiap kali dapat tamu, si cewek memberi upah Rp20 ribu hingga Rp50 ribu.

Tak hanya tukang parkir yang kecipratan uang. Kalangan preman pun mendapat
jatah uang perlindungan. "Kalau mau aman, ya kita bagi juga mereka, sekedar
buat beli rokok," ucap Siska, 19, cewek parkir, sambil menyebut nilai
minimal Rp20 ribu untuk jatah preman.

Preman ini bukan tanpa jasa. Kerja mereka menghubungi si pekcun bila ada
razia petugas. "Tugas mereka harus cepet-cepet kasih tau kita kalau ada
petugas," ungkap Lina, 17, dara yang mengaku pelajar satu SMA di Jaksel.

Dalam satu minggu, pekcun mengantongi uang antara Rp200 ribu Rp400 ribu.
Mereka mengaku tak ada germo yang mengkoordinir secara khusus.

Beberapa tahun silam, aparat merazia puluhan ABG dirazia di mal kawasan
Kalibata. Terbukti keberadaan mereka dikoordinir seorang cewek yang
bertindak sebagai germo.

Fenomena ABG jual diri merupakan imbas dari rongrongan gaya hidup
metropolis, tak seimbang dengan kemampuan ekonomi orangtua.

Butuh duit buat jajan

SISKA begitu ia biasa dipanggil. Gadis yang baru tumbuh dewasa itu mengaku
menjadi 'penjudi' (penjual diri) karena ingin seperti kawan-kawannya yang
hidup berkelimang kemewahan. Tapi dia sadar, kalau keinginannya untuk
seperti itu tidak akan bisa karena kedua orang tuanya hidupnya serba
pas-pasan.

"Jangankan untuk membeli pakaian yang harganya cukup mahal, untuk belanja
sehari-hari aja kurang,"kata gadis yang mengaku masih sekolah di SLTA
dibilangan Jakarta Selatan tersebut.

Dengan ketiadaannya itu, ABG (anak baru gede) yang satu ini terpaksa mejeng
dan menjual diri di mal. Tujuannya hanya satu, dapat nonton dan menemani
om-om yang berkantong tebal. Gadis mungil berkulit putih itu pun hampir tiga
kali dalam satu minggu nongkrong di pusat perbelanjaan dibilangan Kalibata,
Jakarta Selatan.

Kebutuhan hidup

Sepintas orang tidak akan menyangka kalau perempuan yang mengaku baru
berumur 15 tahun itu menjual diri demi memenuhi kebutuhannya hidup yang
mewah. Sebenarnya Siska malu. Apalagi jika bertemu dengan teman atau
tetangga rumahnya. "Habis gimana Bang, jika nggak begini saya tidak punya
duit jajan yang cukup. Uang yang dikasih orang tua tak cukup," kata Siska
yang mengaku tinggal di kawasan Cempaka Putih, Jakpus.

Anak kedua dari empat bersaudara itu mengaku bapaknya hanyalah buruh pabrik
di kawasan Bekasi dengan gaji yang sangat pas-pasan. Hidup serba kekurangan,
sementara teman sebayanya hidup serba berkecukupan. Iri ingin seperti teman
- temanya membuatnya mengambil jalan pintas.

Berbekal tubuh yang seksi, dia terpaksa terjun ke dalam bisnis "esek- esek".
"Pertama-tama saya melakukannya sempat gemeter dan takut akan ketahuan
orang, tapi kini sudah terbiasa, " katanya seraya menambahkan sekali kencan,
dia pasang tarif antara Rp 200.000 hingga Rp 250.000.

Kesepian di rumah

Lain lagi dengan Lia. Kebiasaan nongkrong di bioskop itu karena merasa
kesepian di rumah setelah kedua orang tuanya sibuk dengan bisnisnya
masing-masing. Hampir setiap pulang sekolah gadis itu menyempatkan diri
datang ke bioskop yang berada di kawasan Atrium, Senen, Jakarta Pusat. Di
tempat itu, ABG ini mengaku banyak teman bukan hanya sesama pelajar
seusianya, tapi om-om yang suka mencari daun muda.

"Saya sering diajak nonton sama om-om dan brondong. Saya nggak pernah pasang
tarif, berapa pun dia mengasih pasti saya terima,"ujar Lia sambil
menambahkan setiap diajak nonton dirinya di kasih uang Rp 100 ribu hingga
200 ribu.

Lia mengaku setiap hari selalu membawa baju dan celana ganti. " Kalau pakai
seragam sekolah dilarang satpam masuk ke mal. Saya bawa ganti untuk
mengelabuhi petugas keamanan," tambah gadis yang mengaku tinggal di daerah
kawasan elite Kelapa Gading, Jakut.

Lia nongkrong di mal bukan semata mencari uang, tapi yang utama kesenangan.
Tak heran jika ada pria yang cocok dengannya, tanpa dikasih uang pun nggak
apa-apa. Tapi kalau tidak sesuai dengan kehendak hatinya, dibayar berapa pun
akan ditolaknya. "Kalau cocok, cepek ceng (Rp 100.000) bersih, kita sikat
aja Mas," kata Lia sambil tertawa lepas.

Jika sudah transaksi, kencan berlanjut di hotel-hotel transit tak jauh dari
lokasi. Tapi kadang-kadang Lia tak segan menolak tunge, istilah mereka untuk
hubungan intim, kalau pelanggannya itu tak royal membelikan makanan dan
rokok.

Susan lain lagi. Kebiasaan nongkrong di mal setelah beberapa kali diajak
teman sekolahnya mejeng di pusat pembelanjaan tersebut. Awalnya, dia takut
dicap cewek yang nggak benar, tapi lama-lama mengaku terbiasa bahkan
ketagihan.

"Berani berkenalan dan mau diajak jalan sama om-om setelah beberapa kali
ditemani teman saya. Semula saya malu-malu, tapi karena duit yang saya dapat
banyak akhirnya keterusan deh,"ungkap ABG yang mengaku tinggal di daerah
Rawamangun, Jaktim tersebut.

 

 

Warm Regards,

 

 

Zigo AlCapone

 

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
<mailto:aga-madjid%[email protected]> 
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
<mailto:aga-madjid%[email protected]> 
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

 

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

<<image001.gif>>

Kirim email ke