Pada tanggal 08/07/11, Arsianti Dewi <[email protected]> menulis:
> http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/07/08/menantang-tuhan/
>
> Menantang Tuhan
>
> OPINI | 08 July 2011 | 12:05 4 0   Nihil
> ________________________________
>
> Entah kenapa, malam ini  saya ingat kejadian yang buat sangat penting  dalam
> titik keimanan saya ini. Suatu hari, 7 tahun yang lalu. Ketika  Mimi,anak
> pertama saya baru berusia kira-kira 6 bulan. Saat itu, saya  memilih jadi
> ibu
> rumah tangga full time. Hanya mengurus mimi dan  mengerjakan  pekerjaan
> rumah
> tangga. Hal yang paling terasa saat itu  adalah, tidak  punya uang dari
> hasil
> keringat sendiri. Ya, setiap bulan  hanya menunggu  transferan dari suami.
> Tak
> nyaman rasanya. Apalagi  setelah  bertahun-tahun terbiasa bekerja, mendapat
> gaji, lalu  mengaturnya sesuka  hati.
>
> Lebih tak enak lagi, ketika kadang diakhir bulan  terasa sekali situasi
> yang
> “mendebarkan.” Biasanya situasi paling kacau  adalah ketika banyak  sekali
> undangan pernikahan atau sunatan dalam satu  bulan. Dijamin,  kalau semua
> harus
> didatangi, akan terjadi “tsunami”  kecil pada posisi  keuangan rumah tangga.
>
> Karena banyaknya amplop -dan  isinya- yang harus  disiapkan. Namun,
> memutuskan
> tak datang pada satu  undangan sepertinya  juga riskan, karena ketika
> undangan
> itu tiba,  pastinya pihak pengundang  berharap kita hadir. Nyaris tidak
> mungkin,
> ada  undangan lalu pihak  pengundang berharap yang diundang tak hadir. Aneh
> kalau ada pengundang  yang berharap tamunya tak hadir. Buat apa dia
> mengundang??
>
> Jungkir balik mengakali gaji suami sudah biasa  dilakukan. Potong sana,
> pangkas
> sini, semuanya dilakukan demi pengetatan  anggaran. Maklum, cuma  ada satu
> tiang
> penyangga finansial keluarga.  Berhemat? sudah pasti  laaahhh… Misalnya,
> untuk
> menghemat anggaran,  kami memutuskan tak ada  PRT. Toh saya memilih jadi ibu
> rumah tangga full  time, jadi dengan anak  yang masih satu, rasanya
> sangguplah
> mengurus  rumah tanpa bantuan orang  lain. Cara lain? Ongkos rekreasi
> diganti
> pergi  ke toko buku. Numpang  baca, hehehe.. Lalu jajan diluar dipangkas
> besar-besaran. Masuk dapur,  masak. Ga enak ga apa-apa, yang penting  hemat
> :)
>
> Namun, saya pernah berada pada posisi yang sangat  kritis. Seperti saya
> katakan
> diatas, 7 tahun yang lalu. Waktu itu usia  mimi, anak pertama  saya masih
> beberapa bulan. Tahun sebelumnya, kami  baru pindah rumah,  yang kami
> putuskan
> untuk beli dengan cara kredit.  Cicilan rumah lumayan  besar. Ditambah
> dengan
> pengeluaran rumah tangga  lainnya, ternyata  benar-benar menguras kantong.
> 2
> hari sebelum tanggal  gajian, saya  sadar saya tak punya uang sepeser pun.
> Benar-benar tak ada.  Saya masih  punya stok bahan pangan, seperti beras,
> telur,
> sayuran  mentah untuk  dimasak, gula, kecap, garam, dan air mineral di galon
> yang  cukup hingga  tanggal gajian. Mimi ga ada masalah, saat itu masih ASI
> eksklusif.  Namun saya sungguh-sungguh tak punya uang sepeser pun. Ini
> pertama
> kalinya dalam hidup saya, saya tak memegang uang sepeser pun.  Saya  sempat
> menangis. Saya takut. Tak pernah mengalami situasi ini.
>
> Saat  itu, saya tak tega menyampaikan pada suami, bahwa kondisi keuangan
> sudah
> lampu merah. Jadi saya biarkan saya menangis sendiri. Hanya  berdua  mimi,
> yang
> pasti malah tertawa lucu melihat saya menitikkan air  mata.   Entah kenapa,
> tiba-tiba saya ingin menantang Tuhan. Siang itu,  usai  sholat zuhur. Saya
> bergumam dalam doa. “Ya Allah, jika Engkau Maha   Kuasa, tunjukkan padaku
> keMAHAan-MU itu. Saya sedang tak memiliki uang   sepeser-pun, lalu apa yang
> akan
> KAU lakukan padaku untuk meyakinkanku   bahwa Engkau Maha Segalanya?”
> Setelah
> itu saya tutup doa. Tak ingin   memikirkan apa yang akan terjadi. Saya lipat
> mukena. Lalu memutuskan   untuk tidur berdua mimi. Pusing, stress, sedih,
> dan
> takut. Mungkin tidur   akan sejenak menenangkan saya.
>
> Jam empat sore saya  terbangun. Ah, tak ada yang berubah. Tak ada uang  yang
> tiba-tiba hadir  dihadapan saya. Jadi, doa saya belum didengar,  begitu
> kesimpulan saya.  Lalu saya memutuskan masak air untuk memandikan  mimi.
> Setelah
> mimi  cantik dan rapi, gantian saya yang mandi, berwudhu  dan sholat Ashar.
> Doa
> yang sama saya sampaikan kembali. Entah setan  mana yang sedang singgah,
> terasa
> sekali bahwa saat itu saya  sungguh-sungguh menantangNYA. Meski  jauh
> disudut
> hati, saya agak takut  juga. Takut kualat. Tapi saya  sungguh-sungguh ingin
> membuktikan  janjiNYA yang sering IA ucapkan. Bahwa  kepadaNYA kita bisa
> meminta
> apapun.
>
> Usai sholat dan  melipat mukena, saya berencana membawa mimi jalan-jalan
> sore.
> Saat  sedang merapikan jilbab, pintu rumah diketuk tetangga. Saya  keluar
> dan
> menyambut salamnya. Ah, tetangga tiga rumah terdekat. Teman  curhat saya.
> Lalu
> dia berkata, “Mama mimi, kalo ga salah mama mimi  pernah cerita  punya
> simpanan
> mainan edukatif ya? Yang katanya mo  disimpan tunggu mimi  ngerti buat
> maininnya?” tanyanya pada saya. Saya  mengangguk, mengiyakan.  “Iya ada. Mau
> buat apa?” tanya saya bingung.  “Ini, temennya kiki ada  yang ulang tahun.
> Saya
> ga sempat cari kado.  Sini deh saya bayarin aja.  Kan nanti kalo mimi udah
> ngerti tinggal beli  lagi,” katanya dengan  santai. Saya tertegun. Bagai
> ditampar, saya  terkesima. Sungguh  terkesima. Astaghfirullah, doa saya
> langsung
> diijabahNYA. Sementara  tetangga saya tetap berbicara, “Keluarin aja,  biar
> saya
> bisa milih,”  pintanya dengan paksaan yang sulit saya tolak.
>
> Lalu saya  mengeluarkan kotak mainan edukatif itu. Ya, saya memang  pernah
> membeli  beberapa mainan ini. Beli dicicil biar ga terasa  mahalnya,
> hehehe..
> Maka  tetangga dekat saya itu memilih dengan leluasa.  Diambilnya satu set
> puzzle dan satu buah papan abjad. “Nih, saya ambil  dua yang ini, mau
> dihargai
> berapa?” tanyanya lagi. Sepertinya ia tidak  menyadari  keterkejutan yang
> saya
> rasakan. “Ya udah, bayarin aja 50rb.  Itu harga  belinya,” saya jawab
> pertanyaannya. Mungkin dia tak sadar  bahwa  tenggorokan saya terasa
> tercekat.
> Susah sekali untuk bicara.  Dengan  gembira, tetangga dekat itu
> mengangsurkan
> selembar 50 ribuan.  “Nih ya,  lunas ya..,” balasnya dengan wajah puas.
> Mungkin
> lega karena  sudah ada  kado untuk yang berulang tahun. “Saya langsung
> pulang
> ya,  kasian anaknya  udah nunggu, siap ke ulang tahun,” lanjutnya. Saya
> hanya
> mengangguk-angguk. Begitu ia keluar, saya menutup pintu. Terduduk.  Lalu
> mengalirlan air mata itu. Sungguh luar biasa kuasaMU ya Allah…  bisik  hati
> saya. Saya genggam uang itu erat-erat. Nyaris tak percaya  bahwa ini
> sungguh-sungguh terjadi. Mungkin jumlah 50rb terasa kecil  buat sebagian
> orang,
> tapi bagi saya yang saat itu sama sekali tak  memegang uang sepeser pun,
> jumlah
> itu jadi terasa luar biasa. Yang  menjadikannya terasa luar biasa adalah
> saya
> menyadari MAHA KUASANYA.
>
> Sejak itu saya senang menantang  Tuhan. Bukan untuk kesombongan saya.  Namun
> untuk selalu menambah rasa  syukur saya, karena IA tak pernah  ingkar janji.
> Bahwa  benar adanya,  “AKU adalah menurut sangkaan  hambaKU,” dan bahwa “AKU
> lebih dekat dari  urat lehermu.” Jadi,  percayalah…. janjiNYA selalu pasti.
> IA
> tak pernah  tidur. Jangan takut  menghadapi hidup, karena IA tak pernah
> meninggalkan  hambaNYA. Yakinlah  bahwa setiap janjiNYA adalah kebenaran.
> Dibalik  setiap kesulitan, pasti  ada kemudahan. Dibalik setiap kesulitan,
> pasti
> ada kemudahan. Mari  bahagia dengan janjiNYA.
>
> Sawangan, 5 Juli 2011
>
> --
> you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
> to post emails, just send to :
> [email protected]
> to join this group, send blank email to :
> [email protected]
> to quit from this group, just send email to :
> [email protected]
> please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
> add my Yahoo Messenger at [email protected] or
> add my twitter @aga_madjid
> thanks for joinning this group.
>

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke