Mengapa Gencar Meminta Maaf Saat Ramadhan Baru Datang?

Eramuslim, Rabu, 27/07/2011 10:11 WIB 

Bulan suci Ramadhan 1432 H sebentar lagi insya Allah akan kita masuki. Tentu
banyak persiapan yang kita lakukan untuk menyambut bulan tersebut, seperti
mempersiapkan daftar menu sahur dan berbuka khususnya bagi para ibu rumah
tangga, sampai mempersiapkan fisik yang bugar dan juga tentunya telah
jauh-jauh hari telah melakukan "Pemanasan amaliyah" agar lancar ketika
beramal ibadah yang wajib maupun yang sunnah di bulan Ramadhan nanti.

Dalam persiapan yang saya sebutkan di atas, tentu sudah merupakan hal yang
lumrah. Namun yang menjadi persoalan selanjutnya adalah adanya sebuah
"persiapan" lain yang juga dilakukan bahkan terkesan menjadi wajib hukumnya
setiap mau memasuki bulan Ramadhan, yakni saling meminta maaf terhadap
kerabat ataupun rekan kerja, teman sepermainan, pun terjadi di kalangan
aktivis dakwah.

Salahkah saling meminta maaf? Tentu tidak. Manusia memang adalah tempatnya
berbuat khilaf, jadi sudah selayaknya saling meminta maaf.

Nabi SAW bersabda : "Siapa yang merasa pernah berbuat aniaya kepada
saudaranya, baik berupa kehormatan badan atau harta atau lain-lainnya,
hendaknya segera meminta halal (maaf) nya sekarang juga, sebelum datang
suatu hari yang tiada harta dan dinar atau dirham, jika ia punya amal
shalih, maka akan diambil menurut penganiayannya, dan jika tidak mempunyai
hasanat (kebaikan), maka diambilkan dari kejahatan orang yang dia aniaya
untuk ditanggungkan kepadanya." [HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah
r.a]

Dari Anas radhiallahu 'anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta'ala telah berfirman :
"Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku
akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam,
walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku,
niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku
dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula". (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih)

Namun yang menjadi persoalan adalah jika meminta maaf itu menjadi ritual
setiap tahun satu kali yakni menjelang memasuki bulan Ramadhan.

Jika perbuatan itu menjadi ritual tahunan dan juga menjadi sebuah keyakinan
dalam beramal maka tentu saja perbuatan itu harus dibarengi dengan dalil
seputar amal, karena sebuah ibadah harus dikerjakan dengan tuntunan syariah
Islam, jika tidak maka amalan itu akan tertolak. Sebagaimana rasulullah saw
bersabda :

"Barangsiapa yang membuat-buat sesuatu yang baru dalam urusan (agama) kami
yang bukan berasal daripadanya, maka semua itu tertolak." (Shahih, HR.
Al-Bukhari dan Muslim dari 'Aisyah)

Memang ada dalil (yang di duga dalil) yang juga sering di sertakan oleh
orang-orang yang melakukan ritual meminta maaf sebelum ramadhan tersebut,
yakni yang berbunyi :
Ketika Rasullullah sedang berkhutbah pada Shalat Jum'at (dalam bulan
Sya'ban), beliau mengatakan Amin sampai tiga kali, dan para sahabat begitu
mendengar Rasullullah mengatakan Amin, terkejut dan spontan mereka ikut
mengatakan Amin. Tapi para sahabat bingung, kenapa Rasullullah berkata Amin
sampai tiga kali. Ketika selesai shalat Jum'at, para sahabat bertanya kepada
Rasullullah, kemudian beliau menjelaskan: "ketika aku sedang berkhutbah,
datanglah Malaikat Jibril dan berbisik, hai Rasullullah Amin-kan do'a ku
ini," jawab Rasullullah.
Do'a Malaikat Jibril itu adalah:
"Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki
bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:

1.              Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya
(jika masih ada); 

2.              Tidak bermaafan terlebih dahulu antara suami istri; 

3.              Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang
sekitarnya. 

Namun yang menjadi persoalan adalah, mereka yang sering memforward hadist
ini tidak pernah mengikutsertakan perawinya. Yang berarti menunjukan bahwa
teks hadist di atas adalah hadist yang hanya sering di share setiap mau
memasuki bulan Ramadhan, padahal sebuah hadist harus ada perawi yang
disebutkan guna mengetahui sahih ataukah dhaif hadist itu atau bahkan
terkategori hadist palsu.

Entah siapa orang yang menjadi Trendsetter sehingga sekarang telah berhasil
memililki follower dengan ritual tahunan ini.

Memang ada hadist yang mirip dengan hadist di atas, namun isinya sangat
berbeda, walaupun masih menjelaskan seputar ramadhan. Dan hadist ini
memiliki perawi, tidak seperti hadist di atas.

Untuk lebih jelasnya, makna hadits tersebut bisa anda baca salinan dibawah
ini.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu juga, (bahwasanya) Rasulullah SAW
pernah naik mimbar kemudian berkata : Amin, Amin, Amin" Ditanyakan kepadanya
: "Ya Rasulullah, engkau naik mimbar kemudian mengucapkan Amin, Amin, Amin?"
Beliau bersabda. "Artinya : Sesungguhnya Jibril 'Alaihis salam datang
kepadaku, dia berkata : "Barangsiapa yang mendapati bulan Ramadhan tapi
tidak diampuni dosanya maka akan masuk neraka dan akan Allah jauhkan dia,
katakan "Amin", maka akupun mengucapkan Amin...." 

[Hadits Riwayat Ibnu Khuzaimah 3/192 dan Ahmad 2/246 dan 254 dan Al-Baihaqi
4/204 dari jalan Abu Hurairah. Hadits ini shahih, asalnya terdapat dalam
Shahih Muslim 4/1978. Dalam bab ini banyak hadits dari beberapa orang
sahabat, lihatlah dalam Fadhailu Syahri Ramadhan hal.25-34 karya Ibnu
Syahin]. Disalin dari Sifat Puasa Nabi SAW, hal. 27-28, Pustaka Al-Haura.

Yang lebih lengkap lagi dari buku Birrul Walidain oleh Ustadz Yazid bin
Abdul Qadir Jawas, hal. 44-45 terbitan Darul Qalam

"Artinya : Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam naik ke atas mimbar kemudian
berkata, "Amin, amin, amin". Para sahabat bertanya. "Kenapa engkau berkata
'Amin, amin, amin, Ya Rasulullah?" Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda, "Telah datang malaikat Jibril dan ia berkata : 'Hai Muhammad
celaka seseorang yang jika disebut nama engkau namun dia tidak bershalawat
kepadamu dan katakanlah amin!' maka kukatakan, 'Amin', kemudian Jibril
berkata lagi, 'Celaka seseorang yang masuk bulan Ramadhan tetapi keluar dari
bulan Ramadhan tidak diampuni dosanya oleh Allah dan katakanlah amin!', maka
aku berkata : 'Amin'. Kemudian Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata
lagi. 'Celaka seseorang yang mendapatkan kedua orang tuanya atau salah
seorang dari keduanya masih hidup tetapi justru tidak memasukkan dia ke
surga dan katakanlah amin!' maka kukatakan, 'Amin". [Hadits Riwayat Bazzar
dalama Majma'uz Zawaid 10/1675-166, Hakim 4/153 dishahihkannya dan disetujui
oleh Imam Adz-Dzahabi dari Ka'ab bin Ujrah, diriwayatkan juga oleh Imam
Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 644 (Shahih Al-Adabul Mufrad No. 500 dari
Jabir bin Abdillah)]

Dengan demikian, hadist diatas tidak ada hubungan dengan keharusan bermaafan
sebelum puasa Ramadhan.

Sebagaimana yang saya katakan di atas, meminta maaf itu memang sebuah
kewajiban, terlebih lagi jika kita memang memiliki kesalahan terhadap orang
lain, namun bukan berati harus menjadi ritual tahunan ketika mau memasuki
bulan Ramadhan. Mengapa tidak meminta maaf sebelum mau datang Ramadhan saja,
apakah meminta maaf yang dilakukan ketika mau memasuki bulan Ramadhan bukan
didasari niat yang ikhlas mau meminta maaf kepada orang yang kita memiliki
salah dengannya? Karena hanya takut puasanya tidak diterima oleh Allah swt
dengan berhujjah pada hadist yang tidak jelas sumbernya itu, bukan karena
takut dengan dosa karena tidak dimaafkan?

Selain itu, kesalahan yang tidak sengaja atau tidak disadari tidak dihitung
sebagai dosa di sisi Allah Ta'ala. Sebagaimana sabda Rasulullah
Shallallahu'alaihi Wasallam,
"Sesungguhnya Allah telah memaafkan ummatku yang berbuat salah karena tidak
sengaja, atau karena lupa, atau karena dipaksa" (HR Ibnu Majah, 1675, Al
Baihaqi, 7/356, Ibnu Hazm dalam Al Muhalla, 4/4, di shahihkan Al Albani
dalam Shahih Ibni Majah)

Sehingga, perbuatan meminta maaf kepada semua orang tanpa sebab bisa
terjerumus pada ghuluw (berlebihan) dalam beragama.

Khatimah

Meminta maaf itu bisa dilakukan kapan dan dimana saja, jika merasa punya
salah dan menyakiti hati orang lain maka bersegeralah kita meminta maaf,
tidak perlu menunggu datangnya bulan Ramadhan, sehingga seolah ketika mau
memasuki bulan Ramadhan barulah berlomba-lomba meminta maaf, padahal itu
bukan ibadah yang Islam ajarkan. Sehingga mengkhususkan suatu waktu untuk
meminta maaf dan dikerjakan secara rutin setiap tahun tidak dibenarkan dalam
Islam dan bukan ajaran Islam.

Wallahu A'lam.

 

 

Best & Regard,

Titik_LupH

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke