**

  Kadang kala penyebab kebahagiaan timbul namun sebab penderitaan banyak
sekali. Tanpa adanya penderitaan tak mungkin ada pelepasan. Karena itu,
wahai pikiran, engkau harus berdiri kokoh
Join to :
web : http://www.accuratehealth.blogspot.com
forum : http://www.accuratehealth.forumshealth.com

(Lelucon) Salon Gratis
Join to : http://www.galeriterapiakupunktur.blogspot.com
Seorang wanita paruh baya memasuki salon sambil menggendong seorang anak.
Setelah wanita itu selesai potong rambut, kini giliran anak tersebut.
"Tunggu sebentar ya?" kata wanita itu kepada si anak yang duduk di kursi
salon, "Aku beli minuman sebentar."
Ketika anak itu selesai potong rambut, wanita itu belum juga kembali.
"Mungkin ibumu lupa engkau masih di sini," kata seorang pegawai salon kepada
anak tersebut.
"Dia bukan ibuku," jawabnya, "Aku bertemu dengannya di jalan, dan dia
berkata padaku, 'Hai, Nak. Kau mau ke salon gratis?'"

(Tipitaka) 336
Join to : http://www.terapiakupunkturmedan.blogspot.com
Kisah Kapila dan Ikan
Pada masa Buddha Kasapa, ada seorang bhikkhu bernama Kapila yang sangat
terpelajar dalam Kitab Suci (Pitaka). Karena sangat terpelajarnya, ia
memperoleh kemasyuran dan keberuntungan. Ia juga menjadi sangat sombong dan
memandang rendah bhikkhu-bhikkhu lain. Bila para bhikkhu lain menunjukkan
padanya apa yang pantas dan apa yang tidak pantas, ia selalu saja menjawab
dengan pedas, “Berapa banyak yang kau tahu?” Hal itu menyiratkan bahwa ia
tahu lebih banyak daripada bhikkhu-bhikkhu lain. Dengan demikian, lama
kelamaan semua bhikkhu yang baik menjauhinya dan hanya bhikkhu-bhikkhu yang
tidak baik berada di sekelilingnya.
Pada suatu hari Uposatha, ketika para bhikkhu mengulang ‘Peraturan Pokok’
bagi para bhikkhu (=Patimokkha), Kapila berkata, “Tidak ada apa yang
dikatakan sebagai Sutta, Abidhamma, atau Vinaya. Tidak ada bedanya apakah
kamu mempunyai kesempatan untuk mendengar Patimokkha atau tidak,” dan
lain-lainnya. Kemudian ia meninggalkan para bhikkhu yang sedang berkumpul.
Jadi, Kapila merupakan rintangan bagi pengembangan dan pertumbuhan Ajaran
(Sasana).
Untuk perbuatan jahat ini, Kapila harus menderita di alam neraka (niraya)
antara masa Buddha Kasapa dan Buddha Gotama. Setelah itu ia dilahirkan
kembali sebagai seekor ikan di Sungai Aciravati. Ikan tersebut, seperti
disebutkan di atas, mempunyai tubuh berwarna keemasan yang sangat indah,
tetapi mulutnya berbau tidak enak yang sangat menusuk hidung.
Suatu hari, ikan tersebut ditangkap oleh beberapa nelayan dan karena sangat
indah, mereka membawanya kepada Raja. Kemudian Raja membawa ikan tersebut
kepada Sang Buddha. Ketika ikan itu membuka mulutnya, bau yang tidak enak
dan sangat menusuk menyebar ke sekeliling. Raja bertanya kepada Sang Buddha,
mengapa ikan seindah itu mempunyai bau yang sedemikian tidak enak dan
menusuk hidung.
Kepada Raja dan para pengiringnya, Sang Buddha menjelaskan, “O Raja! Pada
masa Buddha Kasapa, ada seorang bhikkhu yang sangat terpelajar, yang
mengajarkan Dhamma pada lainnya. Karena perbuatan baik itu, ketika ia
dilahirkan kembali pada kehidupan yang lain, meskipun sebagai seekor ikan,
ia memiliki tubuh keemasan. Tetapi bhikkhu itu sangat serakah, sombong, dan
memandang rendah orang lain; ia juga mengabaikan Peraturan Ke-bhikkhu-an
(Vinaya), dan mencaci maki para bhikkhu yang lain. Karena perbuatan buruk
ini, ia dilahirkan di alam neraka (niraya), dan sekarang, ia menjadi seekor
ikan yang indah dengan mulut yang berbau busuk.”
Sang Buddha kemudian beralih kepada ikan itu dan bertanya apakah ia
mengetahui ke mana ia akan dilahirkan kembali pada kehidupan yang akan
datang. Ikan tersebut memberi isyarat bahwa ia akan masuk kembali ke alam
neraka (niraya) dan ia dipenuhi dengan perasaan sangat sedih. Sebagai mana
diperkirakan, pada saat kematiannya, ikan tersebut dilahirkan kembali di
alam neraka (niraya), untuk menerima akibat perbuatan buruk lain.
Semua yang hadir mendengarkan kisah ikan tersebut menjadi terkejut. Pada
mereka, Sang Buddha memberikan khotbah tentang manfaat mengkombinasikan
antara belajar dengan praktek.
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 334, 335, 336, dan 337 berikut ini :
Bila seseorang hidup lengah,
maka nafsu keinginan tumbuh,
seperti tanaman Maluwa yang menjalar.
Ia melompat dari satu kehidupan
ke kehidupan yang lain,
bagaikan kera yang senang mencari
buah-buahan di dalam hutan.
Dalam dunia ini,
siapapun yang dikuasai oleh
nafsu keinginan rendah dan beracun,
penderitaannya akan bertambah
seperti rumput Birana yang tumbuh dengan cepat
karena disirami dengan baik.
Tetapi barang siapa dapat mengatasi nafsu keinginan
yang beracun dan sukar dikalahkan itu,
maka kesedihan akan berlalu dari dalam dirinya,
seperti air yang jatuh dari daun teratai.
Kuberitahukan hal ini kepadamu:
Semoga engkau sekalian yang telah datang
berkumpul di sini memperoleh kesejahteraan!
Bongkarlah nafsu keinginanmu,
seperti orang mencabut akar rumput Birana yang harum.
Jangan biarkan Mara
menghancurkan dirimu berulang kali,
seperti arus sungai menghancurkan rumput ilalang
yang tumbuh di tepi.

(Vegetarian)
Join to : http://www.akupunkturkecantikanmedan.blogspot.com
Ajaran Buddha sebenarnya tidak mengecam ataupun menganjurkan praktik
vegetarian. Di dalam sutta-sutta, Sang Buddha tidak mengatakan bahwa praktik
vegetarian adalah benar atau salah. Di dalam ajaran Buddha, seseorang bebas
untuk memilih apa yang akan mereka jadikan makanan, baik itu sayuran maupun
daging. Menkonsumsi makanan penting sekedar untuk bertahan hidup dalam
jangka waktu lama. Mengenai hal ini Sang Buddha pernah berkata, "Semua
makhluk hidup bertopang pada makanan".
Sebelum munculnya ajaran Buddha, ada banyak brahmana dan pertapa yang
percaya bahwa kesucian hanya dapat tercapai dengan jalan mengatur dengan
ketat apa yang mereka makan. Berdasarkan pandangan itu mereka hanya makan
nasi dan sayuran dalam jumlah yang sangat sedikit. Bahkan sering kali mereka
tidak makan apa pun. Mereka percaya bahwa dengan cara ini, yang semacam
penyiksaan diri, kesucian dapat tercapai. Sang Buddha menolak konsep
penyucian diri dengan jalan semacam itu.
Sang Buddha tidak menganggap bahwa vegetarian merupakan praktik moralitas.
Bahkan praktik vegetarian sama sekali bukan bagian dari moralitas (sila)
yang merupakan salah satu faktor dari Jalan Mulia Beruas Delapan.
Sang Buddha menganjurkan kepada semua murid-Nya untuk mempraktikkan
Dhutanga. Dhutanga secara harfiah diartikan sebagai latihan untuk
menghancurkan kekotoran batin. Praktik vegetarian tidaklah termasuk dalam
faktor dhutanga, yang berarti bukan merupakan faktor penting untuk
mengakhiri penderitaan. Oleh karenanya, Sang Buddha tidak mendorong para
murid-Nya untuk menjadi vegetarian. Tetapi Beliau menyarankan mereka untuk
bersikap terkendali dalam hal makan.
Pada masa kehidupan Sang Buddha, dalam Kanon Pali (Pacittiya Pali, Vinaya
Pitaka) disebutkan bahwa ada lima jenis makanan yang biasa disajikan sebagai
menu sehari-hari dan juga biasa didanakan kepada para bhikkhu, yaitu nasi,
bubur beras, terigu rebus, ikan, dan daging. Selain dari lima jenis makanan
di atas, disebutkan pula sembilan jenis makanan yang lebih istimewa, yaitu
makanan yang dicampur dengan mentega cair, mentega segar, minyak, madu,
sirup gula, ikan, daging, susu, dan dadih.
Sembilan jenis makanan tersebut umumnya ditemukan di kalangan keluarga kaya
dan mereka juga mendanakannya kepada para bhikkhu. Para bhikkhu
diperbolehkan menerima makanan itu bila didanakan oleh para umat awam, namun
mereka akan dikatakan melanggar vinaya jika dengan sengaja meminta makanan
tersebut kepada umat, tanpa disertai alasan tertentu, yaitu ketika mereka
sedang sakit.
Dari hal-hal di atas dapat diketahui bahwa ikan dan daging sudah biasa
dikonsumsi sejak masa hidup Sang Buddha. Sang Buddha dan para murid-Nya
hanya makan dari hasil pindapatta. Sang Buddha sendiri memakan daging dan
memperkenankan para murid-Nya berlaku serupa, dengan catatan bahwa daging
tersebut tidak khusus disediakan atau dibunuh untuk Beliau dan para bhikkhu.
Sebagai pendukung, ada beberapa contoh yang membuktikan bahwa daging sudah
biasa dikonsumsi sebelumnya dan Kanon Pali menyebutkan bahwa ada beberapa
macam daging yang didapati dalam mangkok (patta) Sang Buddha.
Pada suatu ketika, di sebuah hutan, segerombolan perampok membunuh seekor
sapi untuk dimakan. Pada saat yang sama, di hutan itu seorang bhikkhuni
arahat bernama Uppalavamna sedang duduk bermeditasi di bawah pohon. Ketika
melihat bhikkhuni tersebut, kepala gerombolan perampok menganjurkan anak
buahnya untuk tidak mengganggu. Dia sendiri menggantungkan sepotong daging
sapi di cabang pohon, mempersembahkannya kepada bhikkhuni ini, dan berlalu.
Bhikkhuni Uppalavamna kemudian mengambil potongan daging tersebut dan
mempersembahkannya kepada Sang Buddha (Nissaggiyapacittiya Pali, Vinaya
Pitaka).
Pada peristiwa lainnya, Sang Buddha dalam perjalanan menuju Kusinara (hari
terakhir sebelum Sang Buddha Parinibbana). Cunda, perajin emas dari Pava,
mempersembahkan makanan terhadap Sang Buddha, termasuk sukaramaddava di
dalamnya. Sukaramaddava berarti daging babi berusia setahun yang dijual.
Daging babi semacam ini lunak dan kaya gizi. Meskipun kata sukaramaddava ini
ditafsirkan dalam banyak arti, namun arti seperti di atas didukung oleh Y.M.
Buddhagosa, penulis kitab Komentar Mahaparinibbana Sutta, Digha Nikaya.
Di dalam bukunya Y.M. Buddhagosa menyebutkan penafsiran pengajar-pengajar
lain tentang sukaramaddava. Ada yang mengatakan bahwa itu adalah semacam
susu beras atau puding beras susu; beberapa lagi menyebutkan bahwa itu
adalah semacam obat penguat (tonik). Belakangan ini, beberapa pelajar
vegetarian menyebutkan bahwa sukaramaddava adalah sejenis jamur.
Jadi kita mendapati adanya daging dalam mangkok Sang Buddha dan murid-Nya,
tetapi Sang Buddha menganjurkan untuk menghindari memakan sepuluh jenis
daging. Kesepuluh jenis daging tersebut adalah daging manusia, daging gajah,
daging kuda, daging anjing, daging ular, daging singa, daging harimau,
daging macan tutul, daging beruang, dan daging serigala atau hyena
(Mahavagga Pali, Vinaya Pitaka).
Seorang Bhikkhu dianjurkan untuk tidak mengkonsumsi sepuluh macam daging
tersebut karena beberapa alasan yang secara ringkas tercantum di kitab
Komentar Vinaya (Samattpasadika) seperti berikut ini. Daging manusia tidak
seharusnya dimakan karena berasal dari spesies yang sama. Daging gajah dan
kuda tidak seharusnya dimakan karena mereka adalah peliharaan dari seorang
raja. Sedangkan daging anjing dan ular dikarenakan mereka termasuk jenis
hewan yang menjijikkan, kelompok terakhir adalah singa, harimau, dan
sebagainya, tidak seharusnya dimakan karena mereka tergolong binatang
berbahaya dan jika dimakan bau daging binatang tersebut bisa membahayakan
para bhikkhu yang bermeditasi di hutan.
Meskipun Sang Buddha mengizinkan para pengikut-Nya untuk menkonsumsi daging
kecuali kesepuluh jenis di atas, Beliau memberlakukan tiga persyaratan,
yaitu seorang bhikkhu tidak diperbolehkan menerima daging apabila:
1. Melihat secara langsung pada saat binatang tersebut dibunuh.
2. Mendengar secara langsung suara binatang tersebut pada saat dibunuh.
3. Mengetahui bahwa binatang tersebut dibunuh khusus untuk dirinya.
Karena Sang Buddha dan para murid-Nya bersikap non-vegetarian, tidak sedikit
tokoh keagamaan lainnya yang mencela Sang Buddha. Sebagai contoh, suatu
ketika kepala suku Vajji yang bernama Siha mengundang Sang Buddha dan
murid-Nya untuk makan siang. Siha mempersembahkan nasi dan lauk, termasuk
daging yang dibelinya di pasar. Sekelompok pertapa Jain mendengar bahwa Siha
mempersembahkan nasi campur daging kepada Sang Buddha. Mereka mencela Sang
Buddha maupun Siha, mereka memfitnah: "Siha, sang kepala suku, telah
membunuh binatang besar untuk diambil dagingnya dan dipersembahkan kepada
Sang Buddha, dan sekalipun Sang Buddha mengetahuinya, Ia tetap saja memakan
daging tersebut (Siha-senaoati Sutta, Anguttara Nikaya).
Berdasarkan Jainisme, memakan daging adalah hal yang salah. Mereka
berpandangan bahwa seseorang yang memakan daging akan mewarisi setengah
karma buruk yang dibuat oleh si pembunuh hewan itu. Si pembunuh membunuh
hewan karena si pemakan memakan daging. Sebelum menjadi pengikut Sang
Buddha, Siha adalah pengikut Mahavira, pendiri Jainisme.
Suatu ketika, seorang tabib bernama Jivaka mengunjungi Sang Buddha dan
memberitahukan tentang berita yang didengarnya. "Yang mulia, ada yang
mengatakan bahwa beberapa bintang telah dibunuh untuk diambil dagingnya dan
dipersembahkan kepada Pertapa Gotama. Pertapa Gotama menerimanya sekalipun
mengetahui bahwa binatang itu khusus dibunuh untuk-Nya. Yang Mulia, mohon
dijelaskan apakah yang mereka katakan itu benar atau tidak."
Sang Bhuddha menolak kebenaran berita tersebut dan menjelaskan, ''O Jivaka,
barang siapa yang terlibat dalam pemotongan hewan untuk diambil dagingnya
dan dipersembahkan kepada-Ku dan para murid-Ku, orang itu akan melakukan
banyak kejahatan karena lima hal:
dengan tujuan berdana, orang itu memerintahkan agar seekor binatang dibawa
untuk dibunuh; binatang itu mengalami kesakitan dan derita ketika ditarik
dengan paksa; perintah untuk membunuh binatang itu; binatang itu mengalami
kesakitan dan derita ketika dibunuh; ia menyulitkan Aku dan murid-murid-Ku
dengan mempersembahkan makanan yang tidak sesuai untuk kami." (Jivaka Sutta,
Majjima Nikaya)
Sang Buddha mengizinkan untuk mengkonsumsi daging asalkan bebas dari ketiga
syarat di atas, karena memakan daging bukanlah perbuatan buruk, seperti
halnya perbuatan membunuh makhluk hidup. Karena itu Sang Buddha menolak
kepercayaan bahwa orang yang makan daging akan ikut mewarisi perbuatan buruk
dari orang yang membunuh hewan.
Bhikkhu Devadatta, sepupu Sang Buddha, yang selalu menentang Sang Buddha,
pada suatu ketika datang dan meminta Sang Buddha untuk tidak mengizinkan
para bhikkhu mengkonsumsi daging dan ikan sepanjang hidup mereka, dan
apabila hal itu dilanggar maka mereka dinyatakan bersalah. Dengan tegas Sang
Buddha menolak permintaan Devadatta ini (Culavagga Pali, Vinaya Pitaka).
Sehubungan dengan konsumsi daging, Amagandha Sutta adalah sutta yang sangat
penting. Sutta yang termasuk dalam Sutta Nipata, Khudaka Nikaya, ini untuk
pertama kalinya dibabarkan oleh Buddha Kassapa dan kemudian dikatakan ulang
oleh Buddha Gotama.
Pada suatu ketika, seorang pertapa yang menjalani vegetarian mendatangi Sang
Buddha dan menanyakan apakah Sang Buddha memakan amagandha atau tidak. Sang
Buddha bertanya kepada pertapa itu, "Apakah amagandha itu?", dan pertapa itu
menjawab bahwa amagandha adalah semacam daging. Amagandha secara harfiah
berarti bau daging, dalam hal ini berkonotasi sesuatu yang busuk,
menjijikkan, dan kotor. Karena itulah pertapa ini memakai istilah amagandha.
Selanjutnya Sang Buddha menjelaskan bahwa sesungguhnya daging bukanlah
amagandha, tetapi segala jenis kekotoran Batin dan semua bentuk perbuatan
jahatlah yang semestinya disebut amagandha. Sang Buddha berkata:
Membunuh, menganiaya, memotong, mencuri, berdusta, menipu, kepura-puraan,
berzinah, inilah yang disebut amagandha, bukannya memakan daging. Jika
seorang tidak terkendali hawa nafsunya, serakah, melakukan tindakan yang
tidak baik, berpandangan salah, tidak jujur, inilah yang disebut amagandha,
bukannya memakan daging. Jika seseorang berlaku kasar dan kejam, suka
memfitnah, pengkhianat, tanpa belas kasih, sombong, kikir, dan tidak pernah
berdana, inilah yang disebut amagandha, bukannya memakan daging. Kemarahan,
kesombongan, keras kepala, bermusuhan, munafik, dengki, tidak mau
mendengarkan pendapat orang lain, berhubungan dengan hal-hal yang tidak
baik, inilah yang disebut amagandha, bukannya memakan daging. Jika seseorang
bermoral buruk, menolak membayar hutang, pengumpat, penuh tipu daya, penuh
dengan kepura-puraan, inilah yang disebut amagandha, bukannya memakan
daging.
Menurut ajaran Buddha, pemurnian dari kekotoran batin (kilesa) adalah hal
yang sangat penting untuk mencapai Nibbana. Kita harus berusaha dengan
sungguh-sungguh untuk membersihkan pikiran, kemurnian pikiran hanya dapat
dicapai melalui pengembangan kebajikan dalam diri masing-masing, yaitu
melalui pengembangan moralitas (sila), konsentrasi (samadhi), dan
kebijaksanaan (panna). Kita tidak akan menjadi ternoda atau menjadi suci
dengan makan daging atau sayuran.
Telah disebutkan di atas bahwa Sang Buddha tidak pernah menganjurkan para
pengikut-Nya untuk menjadi vegetarian atau non-vegetarian, namun Beliau
menyarankan mereka untuk bersikap terkendali dalam hal makan (bhojana
mattannuta). Apa pun yang Anda konsumsi, baik daging maupun sayuran, Anda
harus mengendalikan diri terhadap rasa dari makanan itu untuk mencegah
timbulnya kemelekatan pada makanan tersebut (rasatanha).
Kemelekatan terhadap rasa dapat dikikis dengan jalan mengembangkan
ketidakmelekatan terhadap makanan atau melalui perenungan tujuan makan
(paccavekkhana).
Seorang bhikkhu seharusnya mengkonsumsi makanan bukan dengan tujuan
kenikmatan, bukan untuk mendapatkan kekuatan khusus, bukan untuk
mengembangkan bagian tubuh agar tampak menarik, dan bukan untuk mempercantik
diri. Tetapi hendaknya sekedar demi kelangsungan hidup, memelihara
kesehatan, dan memungkinkan mereka tetap bisa menjalankan kehidupan suci
(Apannaka Sutta, Anguttara Nikaya).
Di dalam Puttamamsupama Sutta, Sang Buddha menjelaskan bagaimana seharusnya
seorang bhikkhu merenungkan makanan mereka dengan mengibaratkan kabalikara
sebagai daging anak sendiri. Semua jenis makanan, daging atau sayuran,
disebut sebagai kabalikara.
Sang Buddha memberi perumpamaan, "Ada sepasang suami istri dengan
satu-satunya anak bayi mereka sedang menempuh perjalanan jauh. Di tengah
perjalanan mareka kehabisan bekal makanan dan tidak mampu meneruskan
perjalanan tanpa makanan. Di tengah cekaman bayangan kematian karena
kelaparan, gagasan buruk muncul dalam pikiran mereka. Akhirnya mereka
sepakat untuk membunuh bayinya dan memakan dagingnya. Selanjutnya mereka
meneruskan perjalanan dengan penuh kesedihan karena telah membunuh anak
satu-satunya."
Setelah memberikan perumpamaan tersebut, Sang Buddha menjelaskan artinya
melalui tanya-jawab, "O Bhikkhu, bagaimana pendapatmu? Apakah suami istri
itu memakan daging bayi sendiri untuk tujuan kenikmatan (davaya), untuk
mendapatkan kekuatan khusus (madaya), untuk mengembangkan bagian tubuh agar
tampak menarik (mandanaya), atau untuk mempercantik diri (vibhusanaya)?"
Para bhikkhu menjawab, "Tidak Yang Mulia. Mereka tidak akan memakan daging
anaknya karena tujuan-tujuan itu." Sang Buddha bertanya lagi, "Apakah mereka
makan hanya dengan tujuan agar dapat meneruskan perjalanan mereka?" "Benar,
O Yang Mulia".
Menurut sutta di atas, hendaknya seseorang merenungkan makanannya seolah
seperti daging anak sendiri. Dengan melakukan perenungan semacam ini
seseorang bisa mengurangi kehausan atau kemelekatan terhadap rasa dari
makanan.
Selanjutnya, mari kita bahas mengenai makanan ditinjau dari sudut pandang
Empat Kesunyataan Mulia. Menurut ajaran Buddha, makanan termasuk materi,
yang berkaitan dengan Agregat materi (rupa khanda). Agregat materi adalah
suatu jenis penderitaan. Karena itulah makanan juga subjek dari penderitaan.
Ini salah satu hal yang harus dimengerti secara benar (parinneyya). Makanan
bukanlah suatu hal yang harus dihancurkan (na pahatabba). Nafsu terhadap
rasa yang ditimbulkan oleh makanan itu adalah sebab dari penderitaan
(dukkhasamudaya). Sebab inilah yang harus dihancurkan (phatabba). Hilangnya
nafsu terhadap rasa dari makanan adalah berakhirnya penderitaan
(dukkhanirodha). Inilah yang harus dicapai (sacchikatabba). Merenungkan
makanan secara benar agar bebas dari kemelekatan terhadap makanan adalah
jalan menuju berakhirnya penderitaan (dukkha nirodha gamini patipada).
Inilah yang seharusnya dikembangkan dalam diri masing-masing (bhavetabba).
Menurut ajaran Buddha, berakhirnya penderitaan adalah hal yang paling
penting. Hal ini hanya bisa tercapai dengan jalan melenyapkan hawa nafsu
atau kehausan (tanha). Oleh karenanya, Anda harus berupaya untuk mencabut
akar dari kehausan, kemelekatan terhadap rasa yang ditimbulkan oleh apa pun
yang kita makan untuk mencapai akhir dari penderitaan. Nibbana adalah tujuan
akhirnya. Anda bebas menjadi vegetarian ataupun non-vegetarian. Tetapi hal
penting yang harus Anda upayakan adalah melatih diri untuk menghilangkan
kemelekatan terhadap rasa dari makanan yang Anda makan sehari-hari.
__._,_.___

-- 
*".... I am the KING to my own UNIVERSE that Rule my MIND, BODY and SOUL !!!
...." *
**
*- Aga Madjid -*

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke