Semen putih ada kalsiumnya ngak yah wakakaka J

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On
Behalf Of Morningmoon
Sent: Friday, May 11, 2012 4:41 PM
To: [email protected]
Subject: Re: ~ aga ~ Misteri Kenapa Wanita di Cina Tidak Terkena Kanker
Payudara

 

terus buat asupan kalsium dari mana dunkkkkkkkkkkkk?




 I do my thing & u do ur thing, I'm not in this world to live up to ur
expectations & u are not in this world to live up to mine.
U are u & I am I, & if by chance we find each other, it's beautiful.... If
not, it can't be helped 

The Gestalt prayer, FP





2012/5/11 Aga Madjid <[email protected]>

 

 

Misteri Kenapa Wanita di Cina Tidak Terkena Kanker Payudara

February 1, 2012 at 3:48 pm by Misteri

Tags: kanker, kanker payudara, misteri

Oleh: Prof. Jane Plant, PhD, CBE

 

Prof. Jane Plant, PhD, CBE

Saya tidak mempunyai pilihan lain kecuali mati atau menemukan obat untuk
menyembuhkan diri saya sendiri yang saat ini menderita kanker payudara. Saya
seorang ilmuwan, yang butuh penjelasan dan masuk akal tentang penyakit yang
mematikan dan menyerang satu dari 12 wanita di Inggris ini.

 

Kanker Payudara

Saya telah telah menderita karena kehilangan satu payudara dan telah
menjalani radioterapi. Sekarang saya menjalani kemoterapi yang menyakitkan
dan saya juga telah diperiksa oleh beberapa spesialis yang paling terkemuka
di negeri ini. Saya merasa maut akan menjemput saya. Tapi, saya ingin hidup
karena saya mempunyai suami yang mencintai saya, rumah indah dan dua anak
kecil yang memerlukan bimbingan saya.

 

Dan, keinginan hidup ini mendorong saya untuk menggali fakta-fakta, yang
baru sedikit diketahui oleh sejumlah kecil ilmuwan pada waktu itu. Setiap
orang yang berhubungan dengan kanker payudara akan tahu bahwa beberapa
faktor penyebab atau resiko dari penyakit ini antara laini usia tua, mens
terlalu dini, menopause terlambat dan sejarah keluarga dengan kanker
payudara, sungguh-sungguh tidak dapat kita cegah. Tetapi ada banyak faktor
resiko lainnya yang dapat kita kontrol dengan baik. Faktor-faktor resiko
yang 'terkontrol' ini dengan mudah terwujud dalam perubahan-perubahan
sederhana yang dapat kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari kita untuk
mencegah atau mengobati kanker payudara.

 

Petunjuk pertama dalam memahami penyebab berkembangnya kanker payudara saya
datang pada saat suami saya Peter, yang juga ilmuwan, pulang ke tanah air
setelah bekerja di Cina, ketika saya sedang menjalani pengobatan kemoterapi.
Ia membawa kartu-kartu dan surat-surat, serta beberapa ramuan dari
tumbuh-tumbuhan, yang diberikan oleh teman-teman dan ilmuwan-ilmuwan mitra
saya di Cina.

 

Ramuan-ramuan itu dikirimkan kepada saya untuk menyembuhkan kanker payudara
ini. Meskipun kami menghadapi keadaan yang menyedihkan pada saat itu, kami
dapat tertawa lepas, dan saya ingat telah mencetuskan perkataan bahwa ramuan
ini merupakan pengobatan bagi kanker payudara di Cina, dan tidak
mengherankan bahwa wanita-wanita di Cina berusaha terhindar dari penyakit
ini. Kata-kata itu selalu teringat di benak saya. "Mengapa wanita-wanita di
Cina tidak terkena kanker payudara?" Saya pernah bekerja sama dengan
mitra-mitra Cina dalam penelitian tentang hubungan antara kimia tanah dan
penyakit, dan mengingat beberapa statistik yang telah dibuat.

 

Faktor Gaya Hidup

 

Penyakit ini boleh dikatakan tidak terdapat di seluruh negeri Cina.Hanya
10.000 wanita di Cina wafat karena penyakit ini, dibandingkan dengan
persentase menakutkan bahwa satu di antara 12 wanita di Inggris meninggal
dunia karena penyakit ini. Bahkan angka ini lebih mengerikan lagi dan
menjadi rata-rata satu di antara 10 wanita di sebagian besar negara-negara
Barat. Hal ini bukanlah karena Cina merupakan negeri yang lebih bersifat
pedesaan, dan tidak banyak terkena polusi perkotaan. Di daerah Hong Kong
yang padat, persentase meningkat menjadi 34 di antara 10.000 wanita, namun
toh masih jauh lebih sedikit daripada di Barat.

Kota-kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang juga memiliki persentase yang
hampir sama dengan Cina. Padahal kedua kota ini telah diserang dengan
senjata nuklir, sehingga selain kanker yang berhubungan dengan polusi, kita
dapat memperkirakan adanya kasus-kasus kanker yang terkait dengan radiasi.

 

Kesimpulan yang dapat kita peroleh dari statistik ini sungguh mengejutkan.
Apabila seorang wanita Barat pindah ke kota industri Hiroshima yang terkena
radiasi, resiko terkena kanker payudara ini dapat menjadi satu berbanding
dua. Tentu saja hal ini tidak masuk akal. Saya merasa yakin bahwa ada sebuah
faktor gaya hidup yang bukan terkait dengan polusi, urbanisasi atau
lingkungan hidup yang nyata-nyata telah meningkatkan kemungkinan wanita
Barat terkena kanker payudara.

Saya kemudian menemukan bahwa penyebab perbedaan besar dalam persentase
kanker payudara antara negara-negara Timur dan Barat bukanlah karena faktor
genetika. Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa apabila orang Cina atau Jepang
pindah ke Barat, dalam satu atau dua generasi persentase kanker payudara
mereka mendekati persentase dari penduduk negara di mana mereka tinggal.

Hal yang sama terjadi apabila orang-orang Timur sepenuhnya meniru gaya hidup
Barat di Hong Kong . Sesungguhnya, nama populer yang disebutkan orang di
Cina bagi kanker payudara adalah 'Penyakit Wanita Kaya'. Ini disebabkan
bahwa di Cina, hanya orang-orang kaya yang dapat menikmati apa yang disebut
sebagai 'Makanan Hong Kong.'

 

Orang-orang Cina menggambarkan semua makanan Barat, termasuk semua kudapan
dari es krim dan coklat sampai spaghetti dan keju, sebagai 'Makanan Hong
Kong' karena hanya terdapat di bekas koloni Inggris dan dulu jarang ada di
daratan Cina.

Jadi sungguh masuk akal bagi saya bahwa apa yang menyebabkan kanker payudara
saya ini dan banyaknya penderita penyakit tersebut di negara saya hampir
dipastikan berasal dari sesuatu yang berhubungan dengan gaya hidup Barat
kita, dari kalangan menengah yang lebih baik. Angka ini juga besar bagi para
pria di sini. Saya telah mengamati dalam penelitian saya bahwa banyak data
tentang kanker prostat juga sampai pada kesimpulan yang sama.

 

Tidak Mengkonsumsi Produk Susu

 

Produk-produk dari susu

 

Menurut angka dari WHO, jumlah pria yang terkena kanker prostat di Cina
pedesaan hampir tidak ada, hanya 0,5 pria di antara 100.000. Namun demikian
di Inggris, Skotlandia dan Wales , angka ini 70 kali lebih tinggi. Seperti
kanker payudara, penyakit ini merupakan penyakit kalangan menengah dan
terutama menyerang kelompok-kelompok sosial yang lebih kaya dan mempunyai
kehidupan sosial-ekonomi yang lebih tinggi, yaitu mereka yang dapat
menikmati makanan yang bergizi tinggi. Saya teringat berkata kepada suami
saya, "Ayo Peter, kamu baru saja pulang dari Cina. Apa sih gaya hidup Cina
yang sangat berbeda dengan kita?"

"Mengapa mereka tidak terkena kanker payudara?"

 

Kami memutuskan untuk menggunakan latar belakang ilmu kami bersama-sama dan
melakukan pendekatan dengan logika. Kami memeriksa data ilmiah yang
mengarahkan kami pada kandungan lemak dalam makanan. Para peneliti pada
tahun 1980-an telah menemukan bahwa hanya 14% kalori di hidangan Cina
terdiri atas lemak, dibandingkan dengan hampir 36% di Barat.

 

Tetapi makanan yang telah saya makan selama bertahun-tahun sebelum terkena
kanker payudara ini sangat rendah lemak dan berserat tinggi. Selain itu,
sebagai ilmuwan saya tahu bahwa asupan lemak pada orang dewasa tidak
menunjukkan peningkatan resiko kanker payudara dalam sebagian besar
investigasi yang telah dilakukan pada kelompok-kelompok besar wanita selama
dua belas tahun.

Lalu pada suatu hari sesuatu yang agak istimewa terjadi. Peter dan saya
telah bekerja sama begitu erat selama bertahun-tahun lamanya sehingga saya
tidak yakin siapa di antara kami berdua yang berkata terlebih dahulu:
"Orang-orang Cina tidak makan produk dari susu!"

 

Sulit untuk menjelaskan kepada orang yang bukan ilmuwan terjadinya
'dentingan' pikiran dan perasaan yang mendadak ketika menyadari bahwa
pikiran kita terbuka pada sesuatu hal yang penting. Rasanya seperti ada
banyak potongan gambar di dalam otak kita dan tiba-tiba, dalam beberapa
detik, semua teka-teki ini terangkai dengan baik sehingga membentuk gambar
yang jelas.

 

Tiba-tiba saya teringat kembali betapa banyak orang Cina yang tidak dapat
mencernakan susu dengan baik, betapa orang-orang Cina yang bekerja dengan
saya selalu berkata bahwa susu hanya untuk bayi, dan bagaimana salah seorang
sahabat karib saya, yang keturunan Cina, dengan sopan selalu menolak keju
pada saat jamuan malam.

 

Saya tahu bahwa tak ada orang Cina yang hidup secara tradisional, yang
menggunakan susu sapi atau produk dari susu untuk memberi makan kepada
bayinya. Dalam adat istiadat mereka, mereka menggunakan inang untuk menyusui
tetapi tidak pernah produk dari susu. Dan, secara budaya, orang-orang Cina
menganggap gaya Barat kita yang sangat menyukai susu dan produk dari susu
sebagai sesuatu yang sangat aneh. 

 

Saya teringat ketika menjamu sebuah delegasi besar ilmuwan Cina tidak lama
setelah berakhirnya Revolusi Budaya di Cina pada tahun 1980-an.

Atas nasihat Biro Luar Negeri, kami telah meminta kepada perusahaan jasa
boga untuk menyediakan puding yang mengandung banyak es krim. Setelah
menanyakan dari apa puding itu dibuat, semua ilmuwan Cina itu, termasuk
interpreter, dengan sopan namun tegas menolak untuk memakannya, dan mereka
tidak dapat dibujuk untuk mengubah pikiran mereka. Pada waktu itu kami semua
senang dan menikmati porsi tambahan!

Saya menemukan bahwa susu adalah salah satu penyebab umum alergi makanan.
Sekitar 70% penduduk dunia tidak dapat mencernakan gula susu, Laktosa,
sehingga para ahli gizi berpendapat bahwa kondisi ini normal bagi orang
dewasa, dan bukan merupakan sebuah Deficiency (kekurangan) . Mungkin alam
berusaha mengatakan kepada kita bahwa kita telah mengkonsumsi makanan yang
salah.

 

 

Menghentikan Produk Susu

Sebelum saya terkena kanker payudara untuk pertama kali, saya telah makan
banyak produk dari susu, seperti susu tanpa lemak, keju rendah lemak dan
yoghurt. Saya menggunakannya sebagai sumber protein saya yang utama. Saya
juga makan daging cincang sapi yang tidak berlemak, yang sekarang baru saya
sadari mungkin sering berasal dari sapi perah.

Agar dapat mengatasi kemoterapi untuk tonjolan kanker saya yang kelima ini,
saya telah makan yoghurt organik agar alat-alat pencernaan saya dapat pulih
kembali dan mengembalikan bakteri-bakteri 'yang baik' ke dalam usus saya.

Baru-baru ini, saya menemukan bahwa pada tahun 1989 yang lalu, yoghurt telah
terlibat dalam kanker ovarium (indung telur). Dr. Daniel Cramer dari
University of Harvard telah meneliti ratusan wanita penderita kanker indung
telur dan telah mencatat dengan rinci apa yang biasa mereka makan. Coba saya
tahu tentang hal ini ketika ia pertama kali menemukannya.

 

Mengikuti nasihat Peter dan pendapat saya tentang makanan Cina, saya
memutuskan untuk tidak saja menghentikan yoghurt tetapi semua produk dari
susu, saat ini juga. Keju, mentega dan yoghurt serta semua makanan yang
mengandung susu saya buang ke sampah. Betapa mengherankan bahwa begitu
banyak produk termasuk sup buatan, biskuit dan kue mengandung susu. Bahkan
banyak merk margarin yang dijual dengan bahan dari minyak kedelai, minyak
bunga matahari atau minyak zaitun dapat mengandung produk susu. Oleh karena
itu saya kemudian membaca semua kandungan yang tercetak di label-label
makanan.

Sampai saat itu, saya setia mengukur perkembangan tonjolan kanker saya yang
kelima ini dengan alat pengukur dan mencatat hasilnya. Meskipun para dokter
dan suster banyak memberi semangat dan berkata positif kepada saya,
pengamatan saya sendiri mengungkapkan kenyataan yang pahit.

 

Seri kemoterapi saya yang pertama untuk tonjolan kelima ini tidak berhasil -
tonjolan itu tetap sama. Kemudian saya menghapuskan produk-produk dari susu.
Beberapa hari kemudian tonjolan itu mulai mengecil.

Sekitar dua minggu setelah seri kemoterapi saya yang kedua dan seminggu
setelah tidak mengkonsumsi produk dari susu, tonjolan di leher saya mulai
terasa gatal. Kemudian tonjolan itu melunak dan mengecil. Garis di alat
pengukur, yang tadinya tidak menunjukkan perubahan, sekarang menunjuk ke
bawah setelah tumor itu menjadi kecil dan mengecil lagi.

Dan secara signifikan, saya mencatat bahwa daripada menurun secara
perlahan-lahan (membentuk curve yang halus) seperti biasanya terjadi pada
kanker, tumor yang mengecil ini digambarkan seperti garis lurus yang menuju
ke bagian bawah alat pengukur, yang menggambarkan penyembuhan, bukan
pembasmian (atau pengurangan) tumor.

 

Tonjolan Menghilang

Pada hari Sabtu siang sekitar enam minggu setelah tidak mengkonsumsi
produk-produk susu ini, saya melakukan meditasi selama sejam kemudian meraba
apa yang yang masih tersisa dari tonjolan saya. Saya tidak menemukannya
lagi. Padahal saya sangat berpengalaman dalam mendeteksi tonjolan kanker,
karena saya menemukan kelima tonjolan kanker saja itu sendiri. Saya turun ke
tingkat bawah rumah dan meminta suami saya meraba leher saya. Ia pun tidak
menemukan tonjolan apapun juga.

 

Hari Kamis berikutnya saya harus memeriksakan diri saya pada dokter
spesialis kanker saya di Cross Hospital London . Ia memeriksa saya dengan
teliti, terutama leher saya di mana sebelumnya ada tumor. Tadinya ia
tercengang dan kemudian gembira ketika berkata, "Saya tidak menemukannya,".
Ternyata tidak seorangpun dari dokter-dokter saya yang memperkirakan bahwa
seseorang dengan jenis dan stadium kanker saya (yang jelas-jelas sudah
menyebar ke sistem getah bening) dapat bertahan hidup, apalagi begitu sehat
dan gembira.

 

Dokter spesialis saya merasa sangat bahagia seperti saya. Tadinya ketika
saya membicarakan gagasan saya dengannya, ia dapat memahami tetapi bersikap
skeptis. Tetapi saya tahu bahwa sekarang ia menggunakan peta yang
menunjukkan persentase kanker di Cina di dalam kuliah-kuliah yang
diberikannya, dan menganjurkan makanan tanpa produk susu bagi pasien-pasien
penderita kanker.

 

Saya sekarang meyakini adanya kesamaan dalam pertalian antara produk dari
susu dan kanker payudara dengan merokok dan kanker paru-paru. Saya percaya
bahwa dengan mengidentifikasi pertalian antara kanker payudara dan produk
susu dan kemudian mengembangkan makanan yang khusus ditujukan untuk
mempertahankan kesehatan dari payudara dan sistem hormon saya, telah
menyembuhkan saya.

Sangat sulit bagi saya, dan mungkin juga bagi anda, untuk menerima bahwa
sebuah zat yang begitu 'alami' seperti susu dapat berdampak begitu
mencelakakan bagi kesehatan. Tetapi saya merupakan bukti hidup bahwa hal itu
benar-benar terjadi dan mulai besok saya akan mengungkapkan rahasia kegiatan
saya yang mengubah semuanya ini.

 

Dikutip dari buku "Your Life in Your Hands" karangan Professor Jane Plant,
Ph.D, CBE. (RS/FGD)

 


-- 

".... I am the KING to my own UNIVERSE that Rule my MIND, BODY and SOUL !!!
...." 

 

- Aga Madjid -

 

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
<mailto:aga-madjid%[email protected]> 
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
<mailto:aga-madjid%[email protected]> 
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

 

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke