thx bro..

selalu menarik artikel tentang mantan bos Jawa Pos ini.



  ----- Original Message ----- 
  From: Firman Rahmansyah 
  To: Milis Aga 
  Sent: Thursday, May 17, 2012 6:12 PM
  Subject: ~ aga ~ Sidak ATC





  Sent from My Epic Touch
  ICS 4.0.4

  -----Original Message----- 
  From: [email protected] 
  Sender: [email protected] 
  Date: Thu, 17 May 2012 08:10:51 
  To: <[email protected]> 
  Reply-To: [email protected] 
  Subject: [Jalansutra] OOT : Sidak ATC 

  Rasanya penting juga untuk diketahui para JSers, yang biasa memakai jasa 
perhubungan udara : 

  SIDAK ATC Dahlan Iskan 

  Minggu, pukul 06.00 wib, saat jalanan di Jakarta masih lengang, mobil Mercy L 
1 JP melaju kencang menuju bandara Soekarto Hatta. Penumpangnya hanya berempat. 
Pak Menteri BUMN, aku dan pak Jusak. Pak Dis duduk di depan kiri berdampingan 
dengan Zahidin, sopir pribadinya. Sedangkan aku dan pak Jusak, duduk di 
belakang. Kami berdua seperti juragan di mobil mewah itu. Terlihat beberapa 
botol air mineral dan camilan kecil tersedia rapi. Juga ada permen. ''Kita 
berangkat pagi, karena aku pingin mampir ATC (Auto Traffic Control) di Soeta,'' 
kata pak menteri sambil menggulung lengan hem bergaris-garis warna biru yang 
dikenakan. Sesegera mungkin, tas kopor kutarik dan kumasukkan ke dalam bagasi 
mobil berwarna hitam metalik itu. 

  Sepinya jalanan ibukota, membuat Zahidin tancap gas full. Tidak sampai 1 jam, 
perjalanan menuju bandara Soeta dari Capital Residence, dilalui tanpa hambatan. 
Lucunya, saat sampai di pintu gerbang Perum Angkasa Pura (PAP), mobil melaju 
pelan. Pak menteri bergegas menurunkan kaca sambil menyapa sekurity dan satpam 
yang tengah berjaga. ''Pagi, pak. Permisi, ya'' sapa pak Dis dengan ramah. 
Belum sempat menjawab, mobil yang membawa kita melaju menuju sebuah gedung 
paling ujung. Rupanya gedung ini adalah tempat paling vital milik PAP. Karena 
di gedung inilah letak berbagai mesin pengontrol lalu lintas udara yang ada di 
bandara Soeta. 

  Belum sampai di tempat parkir, terdengar peluit dari security yang kita 
lalui. Dari belakang, kulihat petugas jaga yang ada di pos, berlari-lari 
menghampiri mobil kami. Dengan wajah garang, seorang petugas berbadan agak 
tambun menyuruh mobil kami kembali. Alasannya, tempat terlarang dan tidakb oleh 
sembarangan orang masuk. Untuk urusan itu, pak Dis menyerahkan pada Zahidin. 
Sepintas, kulihat ada adu argumentasi antara sopir pribadi pak Dis dengan 
petugas security. Sedangkan Pak Jusak buru-buru mencari toilet. Apa yang 
terjadi, aku tidak tahu pasti. Bagiku, mengikuti langkah pak Dis yang sangat 
cepat, lebih penting. Setengah berlari, kuikuti langkah pak Dis menuju sebuah 
gedung yang salah satu mejanya bertuliskan receptionis. ''Pagi, Assalamulaikum, 
permisi,'' sapa pak Dis. Ternyata, ruangan itu kosong. Tak ada jawaban. Namun 
demikian, Pak Dis tetap bertahan dan berusaha memasuki ruang demi ruang yang 
ada sambil melihat-lihat keadaan. Kotor dan perlatan kantor berserakan tidak 
pada tempatnya. Disamping itu, terlihat meja kerja maupun meja tamu, terdapat 
botol air menieral, bekas piring makan dan satu lagi, asbak penuh puntung 
rokok. Padahal, ruangan itu full AC. Dingiiiiiin. 


  Bagiku, ini aneh. Meskipun minggu dikenal hari libur bagi masyarakat umum, 
tidak demikian dengan PAP dan dunia airline. Hari libur, justru hari-hari sibuk 
bagi instansi yang ada dalam salahs atu BUMN tersebut. Makanya, ada 3 shift 
yang diberlakukan bagi karyawannya di bagian ini. Belum tuntas keanehanku, 
muncul suara nyanyian dari laki-laki yang ada di dalam ruangan yang ada di 
televisinya itu. Akupun kembali mengeraskan suaraku mengucapkan salam. Bukan 
jawaban salam, yang kuterima, malah semprotan sinis. ''Siapa sih lo, pagi-pagi 
gini. Berisik amat,'' demikian jawab laki-laki berseragam dengan wajah ketus. 
Begitu melihat wajahku, laki-laki lain muncul dengan suara tak kalah garang. 
''Siapa yang suruh masuk ke sini,'' katanya dengan suara lebih keras. Akupun 
tak mau kalah. ''Mana bosmu, pak menteri pingin ketemu,'' jawabku dengan tak 
kalah garang. Mendengar suara galakku, laki-laki yang ada di dalam, ikutan 
keluar. Sampai akhirnya ada lima orang lelaki yang bersiap menghadapiku. Saat 
kutoleh ke belakang, pak Dis buru-buru beranjak pergi. Pak Dis keluar dan 
mencari-cari sendiri ruangan ATC. Akupun bergegas mengikuti langkah gesitnya. 
''Lho, bukannya itu pak Dahlan Iskan ya,'' kata dua petugas yang masih muda dan 
ganteng. Tanpa menjawab, akupun pergi berlari menguntit langkah pak Dis dari 
belakang. 

  Kulihat, ada perubahan wajah pak Dis dari yang sebelumnya ramah, agak kecut. 
HP blakberry warna hitam dikeluarkan dan memencet nomor telepon. Sambil terus 
berjalan, pak Dis menelepon seseorang. ''Assalamulaikum, selamat pagi mas. 
Mohon maaf, mengganggu libur anda ya. Sory, nih, saya nuwun sewu, dan kulo 
nuwun, ingin melihat ATC. Melihat komputer yang baru kita beli kemarin. Nuwun 
sewu lho, mas,'' ucap pak menteri. Rupanya, pak Dis menelpon bos PAP yang 
tengah menikmati libur minggu. ''Tidak usah, tidak usah. Biar saya sendiri saja 
yang mencari. Saya sudah ada di dalam kantor anda kok ini. Cuma mencari-cari 
belum ketemu,'' ucap pak menteri sambil terus membuka-buka pintu ruangan yang 
dilalui. Rupanya, sebelum itu, pak Dis sudah pernah berkunjung. Hanya saja, 
lupa tempatnya. Meski demikian, pak Dis tidak putus asa. Sampai akhirnya, ada 
ruangan yang bertuliskan ATC. Bergegas, pak Dis masuk. ''Nah, ini dia,'' 
ucapnya dengan wajah berbinar. 

  Akupun mengikuti langkah pak Dis. Benar. Di ruangan yang agak tersembunyi 
itu, terdapat sebuah ruangan khusus. Di dalam ruangan itu ada beberapa orang 
bekerja. Sambil mengucapkan salam, pak Dis menyalami satu persatu karyawan yang 
tengah bertugas. Tentu saja mereka kaget. Tidak mengira, jika ruangan mereka 
dikunjungi menteri. Beberapa orang yang tadinya santai, terlihat kembali ke 
komputernya. Begitu juga yang tengah merokok, meletakkan putung rokoknya di 
asbak yang ada di sampingnya. ''Wah, nglembur ya. Maaf, saya menganganggu,'' 
ucap pak Dis sambil bertanya-tanya pada karyawan yang berkerja kala itu. 
Setelah meminta penjelasan bagian apa ruangan yang tengah didatangi, pak Dis 
minta ditunjukkan tangga menuju tower ATC. ''Wah, disini perokok semua ya,'' 
kata pak Dis setengah menyindir. Kudengar ada yang menjawab dan ada yang 
membisu, sambil mematikan putung rokoknya. Beberapa orang, kulihat sibuk 
menelepon. Entah siapa yang ditelepon. 


  Pastinya, ada dua orang lelaki yang memperkenalkan diri sebagai supervisor 
menjadi penunjuk jalan menuju tower. Kamipun berjalan menuju ruangan yang 
ditunjukkan. ''Di sini pak. Mari,'' ucap lelaki bertubuh tegap yang mengenakan 
hem kuning muda. Di depan pintu masuk ruangan itu, terdapat tulisan ''dilarang 
masuk'' dan tulisan ''steril''. Selain itu juga ada tulisan ''jagalah 
kebersihan''. 

  Karena tempatnya steril, tanpa diminta pak Dis mencopot sepatu ketsnya. 
Apalagi di tempat itu juga terdapat rak sepatu. ''Di sini tidak sembarang orang 
boleh masuk, pak,'' kata petugas tadi menjelaskan ruangan khusus itu. Pak Dis 
hanya manggut-manggut. Setelah itu, kami diajak naik ke sebuah tangga. Kalau 
tidak salah, ada 10 anak tangga yang kami naiki. Di ujung anak tangga, terdapat 
sebuah ruangan yang dipintunya bertuliskan ''yang tidak berkepentingan di 
larang masuk''. Rupanya, kita diajak ke sebuah ruangan kontrol yang seluruh 
ruangannya full komputer. Suasananya ramai. Sedikitnya ada 30 komputer berbagai 
ukuran. Masing-masing komputer ada seorang operatornya. Cuma sayang, ruangan 
yang super dingin itu tidak sesteril, seperti slogan yang dituliskan. Buktinya, 
di samping meja komputer, ada beberapa makanan. Mulai makanan kecil, sampai 
piring bekas makan mie. Tragisnya, ruangan ber suhu super dingin itu terdapat 
beberapa asbak ukuran 1 meter. Sangat kontradiksi, memang. 


  STRES 

  Melihat ini semua, pak Dis bertanya-tanya. ''Kenapa masih ada rokok dan bekas 
makanan di ruangan ini? Katanya steril,'' ucap pak Dis serius. Kulihat, 
leki-laki yang mengaku supervisor itu gelagapan. ''Oh, iya pak. Rokok itu untuk 
menghilangkan stres saja. Kalau tidak, temen-teman tidak bisa konsentrasi dalam 
memantau jalur-jalu penerbangan,'' jawab lelaki itu sekenanya. ''Oh, gitu ya. 
Kalau stres ya gak usah bekerja saja. Cukup di rumah. Di sini kan butuh orang 
sehat. Bukan untuk orang stres,'' jawab pak Dis tak mau kalah. Melihat jawaban 
itu, lelaki tadi tersenyum kecut. ''Iya, pak. Siap,'' jawabnya dengan wajah 
pucat. ''Tolong ya, pak. yang stres diistirahatkan saja,'' tambah pak Dis. 
Setelah itu, pak Dis minta penjelasan tentang komputer raksasa yang baru saja 
didatangkan oleh kementeriannya. Setelah itu, pak Dis berkeliling dan melihat 
sekeliling. Begitu melihat ada piring makan, sendok, mangkuk dan beberapa bekas 
pembungkus mie, pak Dis berucap lagi. ''Lebih komplit disini, dibuka kantin 
atau resto ya,'' ucapnya sinis. Sindiran ini ternyata direspon positif. 
Buktinya, beberapa lelaki yang sebelumnya mengikuti langkah kita, buru-buru 
menugasi kawannya membersihkan bekas makanan, piring atau apa saja yang ada di 
meja sekitar komputer. Akupun hanya senyum-senyum melihat karyawan di bagian 
komputer itu kelabakan. 

  KONSER 

  Puas berkeliling, pak Dis minta ditunjukkan tower tempat mesin ATC berada. 
Sesuai namanya, Tower ini merupakan bagian tertinggi yang ada di bandara Soeta. 
Tower inilah tempat paling vital dari setiap bandara. Karena di tempat inilah 
komunikasi antara petugas dengan pilot pesawat untuk minta ijin landing atau 
take off pesawat. Sial. Meskipun tempat ini bisa dikatakan jantungnya bandara, 
tidak seperti yang digambarkan. Super sterilnya tidak tampak. Puntung rokok 
juga masih ada di beberapa tempat. Bahkan, sebuah asbak tinggi, juga disiapkan. 
Pak menteri, kembali kecewa. Peralatan serba canggih dan super mahal, tidak 
diimbangi dengan attitude operatornya. Ketika ditanya mengapa masih ada puntung 
dan asbak, petugas tadi berkata lugu. 

  ''Biasanya kalau teman-teman panik, pelampiasannya memukul-mukul berbagai 
alat yang ada untuk pelampiasan kegalauan sambil menyanyi-nyanyi, pak. Apalagi 
jika cuacanya buruk seperti akhir-akhir ini,'' ujar petugas yang bertanggung 
jawab di bagian tower. Pak Dis pun mendengar dengan serius jawaban petugas 
tersebut. ''Oh begitu. Bagus, bagus,'' jawab menteri kelahiran Takeran sambil 
mengangguk-anggukkan kepala. Sejenak, pak Dis minta penjelasan secara rinci, 
bagaimana dan apa keluhan yang dirasakan karyawan di bagian tower itu. Puas, 
pak Dis mengajak beberapa supervisor turun. Di sebuah ruangan kecil, pak Dis 
mengatakan, bahwa semua keluhan akan ditindak lanjuti. Utamanya, masalah stres 
dan menabuh bunyi-bunyian di bagian tower sebagai pelampiasan kegalauan 
karyawan. 

  ''Ita, tolong, bapak-bapak ini anda beri penjelasan, bagaimana kinerja kita 
di Jawa Pos dulu. Bila perlu, besok, yang dibagian tower dibuatkan orkestra 
untuk konser musik. Anda kan mantan wartawan musik toh, jadi gampang untuk 
mengatur mereka,'' kata pak Dis kepadaku. Mendengar ucapan pak Dis kepadaku, 
beberapa supervisor tadi hanya menganggukkan kepala. 

  Jelas sekali, jika pak Dis kecewa. Jelas, bila pak menteri gundah. 

  DOSEN 

  Sampai akhirnya, akupun angkat bicara. Pada saat pak menteri mengenakan 
sepatu, akupun memberi pencerahan. Seperti seorang guru, akupun mengisahkan 
bagaimana sterilnya ruangan redaksi Jawa Pos. Bapak-bapak, kataku memulai 
''ceramah'' kecil''. Di Jawa Pos, peralatannya juga canggih karena ada alat 
cetak jarah jauh dan lain sebagainya yangberkaitan dengan satelit. Untuk 
menjaga itu semua, bukan berarti karyawan yang merokok tidak boleh merokok. 
Boleh. Asalkan di luar ruangan. Begitu juga dengan makan. Semuanya boleh 
dilakukan. Karena merupakan kebutuhan utama manusia. Namun, semuanya itu harus 
dilakukan pada tempatnya. Untuk merokok, haruslah di luar ruangan. Di dalam 
ruang redaksi, harus steril. Jadi, kataku lebih lanjut, tolong, di sediakan 
ruangan merokok bagi yang merokok. Sehingga, selain ruangan ber AC jadi segar 
dan bersih, peralatan super canggih yang dibelikan dengan uang rakyat bisa 
diperlihara dengan aman. Melihat aku berceramah seperti dosen di depan 
mahasiswa, pak Dis menahan senyum sambil pura-pura sibuk membetulkan tali 
sepatunya. 
  Oalah....rek....rek. Dadi opo aku iki. Setelah itu, kamipun pamitan pulang. 
Di tengah perjalanan menuju mobil, kulihat ada seorang pejabat yang buru-buru 
hendak menemui kami. ''Mana pak menteri Dahlan,'' tanyanya kepadaku. Akupun 
segera menunjukkan dengan tanganku ke arah belakang. Kulihat pak Dis sibuk 
menelpon di temani tiga orang supervisor yang tadi kukuliahi. Sayup-sayup, ku 
dengar, pejabat yang berlari-lari itu meminta maaf pada pak Dis karena 
keterlambatannya itu. ''Maaf pak. Tadi saya ada di tempat lain,'' ucapnya 
memberi alasan. Akupun berlari menuju toilet karena dinginnya ruangan 
''steril'' tersebut. 

  (bandara Soekarno-Hatta medio februari 2012) 

  dituturkan oleh Siti Ita Nasyi'ah wartawan di Majalah Kartini 


  ------------------------------------ 

  Jalansutra 
  "Sekali Jalan-jalan Terus Makan-makan!" 
  Kunjungi WebJS di www.jalansutra.or.id. Join di 
  Twitter: Jalansutra. Facebook: Jalansutra 
  Ikuti acara jalan-jalan paling Mak Nyuss bersama TourJS. Ikuti beritanya di 
WebJSYahoo! Groups Links 



  __._,_.___
  Reply to sender | Reply to group | Reply via web post | Start a New Topic
  Messages in this topic (1)
  Recent Activity:
  Visit Your Group
  di sini wajib OOT, jangan pada serius ya..
  harap sertakan [SERIUS] di subject jika ingin serius..
  buat mengenal H@Milers lebih jauh, silahkan kunjungi blog ini :
  http://nurdinhamid.wordpress.com/2010/04/09/apa-sih-milis-tamsur-itu
  Switch to: Text-Only, Daily Digest • Unsubscribe • Terms of Use
  .

  __,_._,___


  -- 
  you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
  to post emails, just send to :
  [email protected]
  to join this group, send blank email to :
  [email protected]
  to quit from this group, just send email to :
  [email protected]
  please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
  add my Yahoo Messenger at [email protected] or
  add my twitter @aga_madjid
  thanks for joinning this group.

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke