MENJAGA LISAN.

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam pernah bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kalian apa itu
ghibah ?” Para sahabat menjawab, “Allah dan RasulNya yang lebih
mengetahui. “Beliau berkata, “Ghibah ialah engkau menceritakan hal-hal
tentang saudaramu yang tidak dia suka”

Ada yang menyahut, “Bagaimana apabila yang saya bicarakan itu
benar-benar ada padanya?” Beliau menjawab, “Bila demikian itu berarti
kamu telah melakukan ghibah terhadapnya, sedangkan bila apa yang kamu
katakan itu tidak ada padanya, berarti kamu telah berdusta atas
dirinya”

Imam Abu Hatim Ibnu Hibban Al-Busti berkata dalam kitabnya Raudhah
Al-‘Uqala wa Nazhah Al-Fudhala, “Orang yang berakal selayaknya lebih
banyak diam daripada bicara. Hal itu karena betapa banyak orang yang
menyesal karena bicara, dan sedikit yang menyesal karena diam. Orang
yang paling celaka dan paling besar mendapat bagian musibah adalah
orang yang lisannya senantiasa berbicara, sedangkan pikirannya tidak
mau jalan”.

“Orang yang berakal seharusnya lebih banyak mempergunakan kedua
telinganya daripada mulutnya. Dia perlu menyadari bahwa dia diberi
telinga dua buah, sedangkan diberi mulut hanya satu adalah supaya dia
lebih banyak mendengar daripada berbicara. Seringkali orang menyesal
di kemudian hari karena perkataan yang diucapkannya, sementara diamnya
tidak akan pernah membawa penyesalan. Dan menarik diri dari perkataan
yang belum diucapkan adalah lebih mudah dari pada menarik perkataan
yang telah terlanjur diucapkan. Hal itu karena biasanya apabila
seseorang tengah berbicara maka perkataan-perkataannya akan menguasai
dirinya. Sebaliknya, bila tidak sedang berbicara maka dia akan mampu
mengontrol perkataan-perkataannya.

Beliau menambahkan, “Lisan seorang yang berakal berada di bawah
kendali hatinya. Ketika dia hendak berbicara, maka dia akan bertanya
terlebih dahulu kepada hatinya. Apabila perkataan tersebut bermanfaat
bagi dirinya, maka dia akan bebicara, tetapi apabila tidak bermanfaat,
maka dia akan diam. Adapun orang yang bodoh, hatinya berada di bawah
kendali lisannya. Dia akan berbicara apa saja yang ingin diucapkan
oleh lisannya. Seseorang yang tidak bisa menjaga lidahnya berarti
tidak paham terhadap agamanya”.

Dan dari hadits riwayat Muslim juga diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW
pernah berkata : “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut ? Para
sahabat pun menjawab, ‘Orang yang bangkrut adalah orang yang tidak
memiliki uang dirham maupun harta benda. ‘Beliau menimpali,
‘Sesungguhnya orang yang bangkrut di kalangan umatku adalah orang yang
datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa dan zakat,
akan tetapi, ia juga datang membawa dosa berupa perbuatan mencela,
menuduh, memakan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain.
Kelak kebaikan-kebaikannya akan diberikan kepada orang yang terzalimi.
Apabila amalan kebaikannya sudah habis diberikan sementara belum
selesai pembalasan tindak kezalimannya, maka diambillah dosa-dosa yang
terzalimi itu, lalu diberikan kepadanya. Kemudian dia pun dicampakkan
ke dalam neraka”.

---------

Doa hari ke 26:
Ya Allah, jadikanlah setiap langkah usahaku di bulan ini sebagai
ungkapan rasa syukur dan ampuni dosa-dosaku, terimalah amal-amalku dan
tutupilah seluruh aib kejelekanku...



-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke