Suasana hati Nabi Ibrahim a.s. sangat mengharu-biru ketika Allah SWT memerintahkannya untuk mengorbankan Ismail, putra yang sangat dicintainya, karena Ismail adalah anak yang sangat sholeh dan kehadirannya memerlukan pengorbanan yang berat saat usia Nabi Ibrahim sudah lanjut.
Gejolak hati Nabi Ibrahim dapat kita resapi dalam QS Ash-Shafaat: 102-107 “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” Setelah terjadi dialog dengan putranya, Ibrahim mengajak Ismail pergi sejauh ratusan meter dari tempat tinggalnya (Mina). Baru sekitar 70-80 meter berjalan, setan menggoda Siti Hajar, Ibunda yang telah melahirkan dan membesarkan Ismail dengan perjuangan yang luar biasa dalam kesendirian dan terik matahari yang sangat panas: “Ya Hajar! Apakah benar suamimu yang membawa parang akan menyembelih anakmu Ismail yang sedang tumbuh dan menggemaskan itu?”. Siti Hajar berteriak: “Ya Ibrahim, ya Ibrahim, mau dikemanakan anakku?” Tapi Nabi Ibrahim tetap melaksanakan perintah Allah SWT. Subhanallah, dialog tersebut, kalaulah kita renungkan dengan hati yang mendalam, maka akan mengalirlah air mata kita. Kekaguman pada sosok Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan Siti Hajar dalam perjuangannya menjalankan perintah Allah, menggapai cinta Allah, maka Nabi Ibrahim dan Siti Hajar rela mengorbankan anak yang sangat mereka cintai. Demikian juga Nabi Ismail. Kecintaannya kepada Allah yang sangat mendalam membuatnya rela mengorbankan kehidupannya di dunia yang sangat menawan hati. *“Cinta di atas cinta”* adalah ungkapan yang mungkin mendekati kebenaran ketika seorang hamba Allah yang mengaku dan mengharap mencintai Allah maka akan diuji dengan pengorbanan dari hal-hal yang dicintainya. Sesungguhnya Allah Ta’ala telah berfirman: “Barangsiapa memusuhi Wali-Ku, maka aku mengumumkan perang terhadapnya. Dan tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu ibadah yang lebih Aku cintai dari apa yang telah Aku wajibkan kepadanya, dan senantiasa seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya jadilah aku sebagai pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, dan sebagai penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, dan sebagai tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan sebagai kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Dan jika ia meminta (sesuatu) kepada-Ku pasti Aku akan memberinya, dan jika ia memohon perlindungan dari-Ku pasti Aku akan melindunginya”. (HR Bukhari) *Kurban wujud cinta di atas cinta.* Itulah hakikat terdalam makna kurban. Allah menginginkan hamba-Nya untuk memberikan hal yang paling dicintainya untuk diberikan yang terbaik kepada Allah karena cinta. Daging, darah tidaklah berharga disisi Allah, tetapi manusialah memerlukan surga dari buah cintanya kepada Allah karena berkurban. *Cinta Berbalas Cinta.* Idhul Qurban selain merupakan wujud kecintaan kita kepada Allah, maka secara langsung juga merupakan bukti kecintaan kita kepada saudara seiman kita, bahkan secara luas kepada seluruh manusia. “Tidak ada perbuatan yang paling disukai Allah pada hari raya haji selain berkurban. Sesungguhnya orang yang berkurban akan datang pada hari kiamat dengan membawa tanduk, bulu, dan kuku binatang kurban itu. Dan sesungguhnya darah kurban yang mengalir itu akan lebih cepat sampai kepada Allah dari pada (darah itu) jatuh ke bumi. Maka sucikanlah dirimu dengan berkurban” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah) *Kurban wujud cinta di atas cinta.* Cinta kepada Allah, cinta kepada Rasul, dan cinta kepada orang-orang sesama serta kepada orang miskin untuk menggapai cinta Allah. [image: Picture (Metafile)] *".... I am the KING to my own UNIVERSE that Rule my MIND, BODY and SOUL!!! ...." * ** *- Aga Madjid -* -- you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups. to post emails, just send to : [email protected] to join this group, send blank email to : [email protected] to quit from this group, just send email to : [email protected] please visit to www.facebook.com/aga.madjid, add my Yahoo Messenger at [email protected] or add my twitter @aga_madjid thanks for joinning this group.
<<ole0.bmp>>
