Menjadi bahagia, bukanlah karena sikap orang lain yang menyenangkan atau 
menyakiti kita. Tetapi menjadi bahagia adalah karena pilihan kita sendiri untuk 
menjadi bahagia.

Menjadi bahagia adalah tentang bagaimana kita mensetting hati, pikiran dan laku 
dan keseharian kita, dan semua itu adalah terletak diatas keinginan dan kemauan 
kita sendiri.

Ketika definisi tentang bahagia kita letakkan dengan cara banyak menguliti 
orang lain dan meminta mereka bersikap begini dan begitu, yang tentunya 
mengharuskan mereka mengikuti apa yang kita mau, saat itulah sebenarnya 
kekurangan adalah menjadi milik kita dan bukan mereka.

Betapa tidak, dalam menyusun rencana pembahagiaan diri kita tersebut, maka 
harus dihadirkan adanya sikap memaksa, tak jarang malah berakhir dengan 
konflik. Padahal dengan bersabar, hal itulah yang bukan hanya menjadikan kita 
lebih bahagia, tapi sekaligus memberi peluang kita untuk lebih mulia.

Lalu, apakah ada kebahagiaan dalam kesabaran? 
Tentu saja ada. Seseorang yang beriman kepada Allah, akan selalu bahagia dalam 
sabarnya, dan dia akan bersyukur dalam segala hal.
Karena pikirannya akan tertuju kepada nikmat beribadah, rasa syukur akan segala 
berkah yang diterimanya dan kebahagiaan akhirat yang pasti Allah berikan 
sebagai balasannya. Dan sekali lagi, hal ini hanya berlaku hanya untuk para 
hati yang benar- benar beriman.

-- 
-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.



Kirim email ke