Eileen Rachman & Sylvina Savitri

EXPERD

Feedback 360 Degree

Dimuat di Kompas, 12 Januari 2013

Seorang teman dikenal memiliki reputasi sebagai “supersalesman”.
Kemampuannya dalam product knowledge dan mempersuasi pelanggan tidak
diragukan lagi. Dengan catatan prestasinya ini, ia diangkat menjadi manajer
penjualan dan ditantang untuk membawahi 10 orang ‘salesman’. Dengan track
record seperti ini, saat ia memangku jabatan baru, kita tentu mengharapkan
sudah tidak ada resistensi lagi dari anak buah. Namun ternyata, terasa
benar ada ketidakinginan anak buah untuk bekerja sama dengannya, bahkan ada
bisik-bisik yang mendiskreditkannya. Ia yakin bahwa dengan kemampuan
‘sales’-nya, suatu saat ia akan bisa memimpin tim dengan baik.  Namun
demikian, momentum itu tidak kunjung datang. Ia tetap sulit ‘mingle’ dengan
anak buah. Pertanyaannya ditanggapi dengan muka kecut, jawaban seadanya,
bahkan kerap membuat ‘berang’ anak buah. Padahal, ia tidak pernah
mengungkapkan kata kata-kasar, memarahi, atau menyudutkan anak buah. Timbul
pertanyaan, mengapa orang bisa-bisanya menutup hati untuk suatu hubungan
baik, sehingga seolah-olah ada dinding yang tidak tertembus?

Kita tentu bertanya-tanya, apa yang membuat seseorang tidak bisa memulai
hubungan dengan bawahan? Padahal, kita sadari betapa kepemimpinan bisa
macet, bila tidak ada hubungan interpersonal yang lancar antara atasan dan
bawahan. Situasi ini juga membuka mata kita betapa pembentukan hubungan
baik merupakan dasar dan menjadi persyaratan utama dari kepemimpinan, juga
hubungan ‘coaching-mentoring’. Dalam ilmu psikologi, pencairan hubungan
antara satu orang dengan yang lain ini disebut ‘rapport’. Rapport ditandai
keinginan kedua belah pihak untuk saling menguatkan. Para ahli mengatakan
bahwa dasar dari rapport adalah menghilangnya rasa curiga dan tumbuhnya
rasa percaya. Pertanyaannya, Mengapa ada orang yang begitu sulit menembus
dinding penahan rasa percaya ini?

Membuka diri dengan ‘life lessons”

Seorang teman, bercerita bahwa ia pernah mendapat sahabat justru ketika ia
mengalami kecelakaan kecil. Saat itu, orang yang menyaksikan menaruh iba
dan menunjukkan empati pada kejadian yang dialaminya. Momen ini kemudian
membuka jalan keduanya lebih membuka diri dan tidak ragu untuk berbagi
pengalaman hidup, sehingga tanpa disadari hubungan baik pun terbentuk.
Namun, membuka diri memang bukan hal yang mudah. Dalam hubungan bisnis atau
hubungan atasan bawahan, kita sering dikelabui oleh hubungan yang diwarnai
oleh wewenang, sehingga seorang anak buah terpaksa mematuhi perintah
atasan, ataupun seorang customer service memang mempunyai keharusan
melayani pelanggan. Rapport tidak terjadi.

Dalam hubungan atasan-bawahan, di mana atasan menuntut bawahan untuk
berprestasi, tetapi sekaligus belajar, hubungan tanpa raport tidak akan
mempan. Ini sebabnya, atasanlah yang perlu aktif berstrategi membina
rapport. Kitalah yang mesti membiarkan diri mengalami penetrasi sosial.
Kuncinya sebetulnya sederhana, orang bisa dengan mudah ‘masuk’ dalam
hubungan yang lebih mendalam, bila mengenal orang lain secara lebih
mendalam. Artinya, pengenalan tidak di permukaan saja. Bayangkan bagaimana
rasa percaya dan hubungan bisa mendalam, jika banyak hal dalam kehidupan
pribadi ataupun di pekerjan dirahasiakan, disembunyikan, ditutup-tutupi?
Membuka diri bukan berarti membuka aib kita. Namun, yang kita bagi adalah
pelajaran hidup atau “life lesson” secara rendah hati, yang diperoleh dari
asam-garam pengalaman.

Seorang coach basket mengatakan bahwa bila ia tidak  berbagi ‘life lessons’
dengan timnya, maka timnya tidak akan mengembangkan kualitas hubungan baik
antar tim. Ia memberi contoh, bahwa dengan mengajak anggota tim untuk
memberi bantuan pada orang-orang yang memerlukan, kelompoknya lebih peka
terhadap kegiatan memberi. Hal yang kemudian dipelajari oleh anggota tim
adalah bahwa membuat seseorang senang juga membuahkan kesenangan. Hal-hal
inilah yang bernilai jauh lebih besar daripada pengajaran ‘hardskill” yang
lebih teraga, namun ini juga yang sering dilupakan para atasan. Padahal
banyak sekali hal-hal yang bisa di ‘share’ yang juga akan membangun simpati
ke diri kita, misalnya kebiasaan bicara apa adanya, bersikap proaktif,
kerja keras, berusaha memahami orang lain tanpa minta dipahami, tidak
mengeluh dan selalu memfokuskan perhatian pada hal-hal yang positif. Dalam
hubungan atasan-bawahan atau tim, seorang atasan juga bisa berbagi, tentang
bagaimana ia menghadapi kesulitan, bagaimana ia belajar atau bagaimana ia
menyayangi orang disekitarnya. Kita perlu berani mengekspose ‘life lessons’
kita pada anak buah, karena mau tidak mau, sebagian besar dari materi
coaching juga berisi “life lessons”: “laws of life”, ”truths of life”, yang
berupa sikap dan nilai-nilai kehidupan. Rapport akan lebih mudah terbentuk
bila daya tarik  dan ‘familiarity’ sudah terjadi.

Menciptakan ‘rasa dimengerti”

Rapport terjadi bila individu merasa aman sepenuhnya dengan keberadaan
kita. Selain itu, ia perlu merasa bahwa ia dimengerti. Ini sulit terjadi
bila atasan terlalu sibuk dengan agenda dirinya dan memikirkan dirinya
sendiri. Untuk itu, atasan perlu untuk sementara waktu bersikap ‘selfless’
dan ‘selesai’ dengan dirinya sendiri. Caranya, antara lain dengan
menunjukkan dirinya 100% siap menolong, menghadapi orang lain dengan tulus
dan penuh minat mencari tahu tentang keadaan bawahan. Sikap proaktif
seorang pemimpin tetap harus terarah pada anggota tim, bukan kepada dirinya
sendiri. Karisma dan sikap saling mengerti hanya terarah pada anggota
timnya, tidak pernah memikirkan untung rugi atau timbal baliknya hubungan.
Ketika mengajukan pertanyaan atau ditanya, kita pun perlu bersikap sebagai
“open space listener”, yaitu dengan sabar menunggu jawaban dan pendapat
orang lain, tanpa kehendak untuk mengeluarkan pendapat kita sendiri, karena
‘agenda’ kita memang tidak lain daripada membuat orang lain merasa
dimengerti. Hanya dengan upaya keras untuk membuat ‘impact’ pada pihak
lainlah kita bisa membina hubungan kondusif yang ujungnya bisa mempengaruhi
anggota tim kita untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik.




 [image: Picture (Device Independent Bitmap)]



*".... I am the KING to my own UNIVERSE that Rule my MIND, BODY and
SOUL!!! ...."
*
**
*- Aga Madjid -*

-- 
-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

--- 
You received this message because you are subscribed to the Google Groups 
"aga-madjid" group.
To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an email 
to [email protected].
For more options, visit https://groups.google.com/groups/opt_out.


<<ole0.bmp>>

Kirim email ke