Sang Sufi Pemecah Batu Oleh: Sonny Wibisono * "I am extraordinarily patient, provided I get my own way in the end." -- Margaret Thatcher
DI satu sudut pekarangan rumah, seorang lelaki bertubuh tegap hendak mulai bekerja. Ia melepas bajunya. Tak lama ia mengambil alat pemecah batu. Ancang-ancang dilakukannya. Terpancar rasa optimis di wajahnya. Lalu ia mulai memukul batu dihadapannya dengan keras. Suara pukulan pada batu memecah keheningan di waktu pagi. Satu kali, dua kali, sepuluh kali. Batu belum pecah. Ia memukul kembali. Dua puluh kali. Tiga puluh kali. Batu masih tetap utuh. Ia kembali memukul dengan keras. Empat puluh kali. Lima puluh kali. Batu belum juga pecah. Kali ini, ia memukul dengan lebih keras lagi. Tapi hingga seratus kali pukulan, batu belum pecah juga. Sang lelaki nampaknya putus asa. Ia pun bersandar di batu tersebut. Nafasnya turun naik. Lelah menghampiri tubuhnya. Tiba-tiba dari arah depan, datang seorang lelaki kurus berbaju putih. Ia tampak seperti seorang sufi dan bermaksud membantu lelaki yang sedang kepayahan tersebut. "Boleh saya bantu memecahkan batu itu?" tanya sang sufi. Sang lelaki yang tampak kepayahan tadi nampaknya pesimis. Ia saja sudah seratus kali mencoba memecahkan batu, tetapi tetap gagal. Namun, ia mempersilahkan sang sufi itu mencobanya. "Silahkan saja, saya sudah menyerah." katanya. Sang sufi pun lalu mengayunkan alat pemecah batu dan memukul batu yang belum pecah tersebut. Sekali, dua kali, tiga kali, hingga kali kelima pukulan yang diayunkan, batu itu akhirnya pecah juga. Lelaki dihadapannya yang menyaksikannya begitu keheranan sekaligus takjub. "Luar biasa, Anda tentunya mempunyai ilmu khusus!" ujarnya penuh kekaguman. "Tidak, tidak, aku tidak mempunyai ilmu apapun, aku sama seperti dirimu." jawab sang sufi merendah. Ia melanjutkan, "Batu itu sebenarnya pecah pada hitungan ke seratus lima. Hanya saja Anda tidak sabar melakukannya." Perhatikan, sering kali kita tidak sabar pada 'detik-detik' akhir dalam perjuangan yang kita lalui. Bisa jadi perjuangan itu sudah dekat di mata. Tapi, karena ketidak sabaran, kita sering gagal mencapai apa yang kita ingini. Meraih cita-cita yang dituju, tak hanya membutuhkan kerja keras, tapi juga tingkat kesabaran yang tinggi. Sabar tanpa kerja keras merupakan omong kosong belaka. Sedangkan kerja keras tanpa kesabaran hanya menghasilkan kesia-siaan. -- *".... I am the KING to my own UNIVERSE that Rule my MIND, BODY and SOUL!!! ...." * ** *- Aga Madjid -* -- -- you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups. to post emails, just send to : [email protected] to join this group, send blank email to : [email protected] to quit from this group, just send email to : [email protected] please visit to www.facebook.com/aga.madjid, add my Yahoo Messenger at [email protected] or add my twitter @aga_madjid thanks for joinning this group. --- You received this message because you are subscribed to the Google Groups "aga-madjid" group. To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an email to [email protected]. For more options, visit https://groups.google.com/groups/opt_out.
