Eileen Rachman & Sylvina Savitri
EXPERD
SERVICE WITH EQ

Dimuat di Kompas, 20 Juli 2013

Bila berbicara dengan orang yang sudah sepuh, berusia di atas 80-an, kita
tentu menyadari bahwa untuk memasukkan isi pembicaraan kita ke dalam
pemahamannya, biasanya kita perlu berbicara dengan volume lebih keras,
lebih perlahan, menggunakan kata sederhana dan mudah dimengerti, juga
membatasi kata-kata kita. Mengapa? Nenek atau kakek ini, meskipun
menunjukkan usaha untuk mendengarkan apa yang kita bicarakan, namun
kemampuan reseptif  alias kemampuan mencernanya sudah tidak 100% bekerja
lagi. Kebanyakan, memori mereka sudah tidak lagi sempurna untuk mengaitkan
apa yang baru diterimanya.  Bisakah kita bayangkan dalam posisi seperti
orang tua tersebut? Tentu kemampuan kita dalam menerima informasi menjadi
sangat terbatas. Kita mungkin sering tidak menyadari bahwa dengan kemampuan
mendengar yang sempurna sekalipun, kita kerap tidak mencerap informasi
secara keseluruhan.

Pernahkah di dalam rapat, kita memikirkan hal lain atau berbicara sendiri
dengan orang di sebelah kita karena ada agenda pembicaraan lain di luar
topik yang tengah dibicarakan dalam rapat? Bisa jadi, kita menatap lawan
bicara, mendengar semua kata-katanya, mengangguk-angguk seolah mengerti,
namun sebetulnya tidak menyerap dan mengolah informasi yang kita terima.
Ada orang yang sibuk dengan pikirannya sendiri, ada yang bersiap-siap untuk
membantah, ada juga orang yang tidak mengerti tetapi tidak menyatakannya.
Apa akibatnya? Topik  pembicaraan yang didiskusikan, tidak sempat kita
kembangkan menjadi tindak lanjut yang berarti dan serius. Bayangkan berapa
banyak waktu yang kita buang-buang dengan tidak benar-benar mendengarkan
apa yang dikatakan orang lain? Kita jelas tidak menambah pengetahuan,
wawasan kita dari diskusi yang terjadi.  Bagaimana kita bisa mengembangkan
solusi, tindak lanjut dan keputusan yang tajam bila tidak benar-benar
mendengarkan?

Mendengarkan tidak sama dengan mendengar Kita tahu bahwa berkat dari alam
semesta, yaitu kemampuan mendengar, dimiliki hampir semua orang. Kita
mengindrai suara secara otomatis. Namun, dengan akal budi yang kita miliki,
manusia sebenarnya bisa memanfaatkan pendengaran dan indra lainnya secara
lebih. Koordinasi panca indra bisa mengaktifkan untuk mengaktifkan intuisi
atau sering diistilahkan orang sebagai indra ke-6. Dengan sedikit upaya
lebih, selain mendengar, kita bisa membaca pesan-pesan nonverbal yang
disampaikan orang. Di sini, atensi kita juga sangat penting. Dengan
mengaktifkan indra kita secara serius, fungsi interpretasi dalam pemikiran
kita terdorong untuk bekerja intensif dan mulai mengaktifkan memori jangka
panjang maupun jangka pendek, kemudian meramunya dengan informasi yang baru
masuk. Disinilah proses pemahaman bekerja dengan lebih baik.

Bila berita yang masuk optimal, berita tersebut sudah terolah melalui
proses interpretasi yang sempurna, maka si pendengar bisa berespons, bisa
menyimpannya di dalam memori, membuat penilaian dan menjawab sesuai dengan
pemikiran dan pendapatnya. Disinilah  kita bisa membedakan pendengar dengan
atensi yang kuat dengan yang lemah. Orang yang dikatakan pendengar yang
baik, memfokuskan atensi dan sudah biasa memproses hasil pendengarannya.
Betapa “powerful”-nya individu yang bisa memanfaatkan proses sederhana ini,
untuk membantu dirinya dalam memberi solusi, juga mengambil keputusan
dengan tepat sasaran dan terarah. Tidakkah kita ingin bisa juga menjadi
pendengar yang baik?

“Mendengarkan” harus menjadi DNA kita
Kita tahu bahwa perusahaan servis banyak menyediakan pos-pos ‘customer
service’ untuk mendengarkan keluhan pelanggan. Bahkan, pos-pos pelayanan
pelanggan ini pun “beroperasi” juga di social media. Namun, kita pun
menyaksikan betapa banyak perusahaan ini seolah tidak coba betul-betul
memahami, berempati dan menindaklanjuti keluhan pelanggan tersebut. Ini
tentu malah menjadi masalah baru, karena pelanggan jadi makin kesal dan
frustrasi. Mengapa hal ini terjadi? Permasalahannya adalah mendengar saja
tidak berarti otomatis menyelesaikan masalah. Setiap keluhan pelanggan
adalah 1 kasus yang tidak hanya perlu didengar dan dipahami, tapi harus
dibedah dan diproses sampai tuntas. Andaikata saja kita menyediakan waktu
cukup untuk mencerna dan memproses berita yang sampai dan
menindaklanjutinya, kita bisa mendapatkan banyak manfaat ketimbang
mengacuhkannya. Garuda Indonesia, misalnya, melalui twitter menanggapi
keluhan pelanggan mengenai keterlambatan dengan sopan dan informatif.
Alhasil, si pelanggan yang kebetulan mempunyai banyak follower ini
mengucapkan terimakasih secara terbuka pula. Alangkah besar pengaruh
positif yang didapat bila kita betul-betul serius mendengarkan keluhan
pelanggan.

Kita sering menjadikan kegiatan mendengar ini sekedar jargon dan ‘take for
granted’. Apa buktinya? Apakah kita terbiasa mencatat apa yang dikatakan
orang lain dalam rapat?  Apakah kita mengolah dulu apa yang kita dengar
kemudian baru berespons? Apakah dalam ‘talkshow’ kita sempat menunggu orang
lain selesai bicara tanpa sibuk mempersiapkan apa yang akan kita katakan?
Apakah dalam menginterview kita serius melakukan ‘probing’ alias sambungan
pertanyaan dari apa yang sudah diceriterakan orang? Kalau kita tidak
memahami istilah tertentu, apakah kita melakukan pendalaman dan menanyakan
apa artinya istilah tersebut? Apakah kita betul-betul mendengarkan, bukan
hanya pura-pura terlihat melibatkan emosi kita dalam suatu percakapan?

Ungkapan para ahli komunikasi bahwa mendengar lebih penting dari berbicara
memang memerlukan praktek yang jelas. Kita tidak bisa mendengar
sepotong-sepotong. Kita juga tidak bisa mengklaim telah mendengar bila
tidak mengendapkan dan mengkaitkan informasi yang masuk dengan memori dan
pengetahuan kita. Jadi, proses mendengarkan lawan bicara, walaupun terlihat
cepat dan sederhana, adalah proses yang kompleks dan lengkap. Jadi bukannya
bicara, tetapi mendengarkanlah yang harus dikembangkan dalam budaya kita.
Mendengarkan jauh lebih penting daripada kegiatan berkoar-koar mengatakan
bahwa perusahaan, lembaga, atau negara kita ini terbaik. Bisa kita
bayangkan bila dalam organisasi kita, semua orang rajin mendengar,
mencatat, dan mencerna, serta menindak lanjuti baik permintaan pelanggan
ataupun kejadian di pasar, alangkah majunya kita.



EXPERD CONSULTANT
Adding value to business results
Kemang 89 Building, 3rd - 4th Floor
Jl. Kemang Raya No. 89, Jakarta 12730
Telp. 021-718 0805
Fax.  021-718 3101
*http://www.experd.com* <http://www.experd.com>
*http://jobs.experd.com* <http://jobs.experd.com>














*".... I am the KING to my own UNIVERSE that Rule my MIND, BODY and
SOUL!!! ...."
*
**
*- Aga Madjid -*

-- 
-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

--- 
You received this message because you are subscribed to the Google Groups 
"aga-madjid" group.
To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an email 
to [email protected].
For more options, visit https://groups.google.com/groups/opt_out.


<<Picture (Device Independent Bitmap) 1.jpg>>

Kirim email ke