KOMUNIKASI PLUS

Eileen Rachman & Sylvina Savitri
EXPERD
SERVICE WITH EQ

Dimuat di Kompas, 27 Juli 2013

Isu komunikasi bisa jadi salah satu tantangan “abadi” sepanjang hidup kita.
Kita jelas melihat komunikasi berubah dari waktu ke waktu. Komunikasi lebih
instan dan real time. Jalur dan metode komunikasi lebih beragam, bahkan
kerap tidak ada hambatan untuk mengakses berbagai content komunikasi,
bahkan yang tergolong rahasia dan tabu sekali pun. Anak-anak usia 1-2 tahun
sekarang, tampak lebih pandai berceloteh, daripada balita di 3-4 dekade
lalu. Kemampuan berbahasa asing anak-anak ini pun jauh lebih mahir, tanpa
mengikuti kursus formal, namun sekedar karena melihat tayangan film asing
saja. Bagaimana di perusahaan? Cara, proses, alur komunikasi memang berubah
dan lebih canggih, namun tetap saja isu komunikasi dipersoalkan, bukan?

Orang sadar bahwa berbicara belum tentu berarti berkomunikasi. Orang juga
tahu bahwa komunikasi melibatkan gerak, kemampuan memilih kata kata,
kemampuan mendengar. Namun, kita masih kerap mengeluhkan tidak mengerti
jalan pikiran ‘boss’ atau tidak bisa menerangkan pada atasan sehingga harus
berbicara melalui sekretarisnya. Keberhasilan komunikasi memang dilihat
dari dampaknya. Apakah dengan komunikasi yang kita lakukan hubungan satu
sama lain lebih erat, lebih saling mengerti? Apakah informasi penting
diterima dengan utuh dan tepat, dari jajaran bawah hingga  pihak pembuat
strategi dan keputusan, seperti manajemen puncak, baik di perusahaan,
lembaga ataupun pemerintah?

Ada penelitian yang menyatakan bahwa informasi yang di dapat para
frontliners dan individu di ‘grass root’ hanya 7 % saja yang sampai ke
manajemen puncak atau pembuat strategi. Rumor beredar, tetapi informasi
yang obyektif, terutama yang negatif, sering seolah terhambat. Seroang
karyawan mengatakan :” mulut rasanya tersendat bila mengkritik, apalagi ke
atasan, atau kebijakan perusahaan. Lebih baik cari aman saja...”. Jadi
sekalipun sistem ‘knowledge management’ disediakan sekalipun, informasi
yang penting penting banyak terpendam di sana sini perusahaan. Padahal
sistem komunikasi dimaksud , tidak lain untuk memperkaya pengambilan
keputusan para  top management. Tanpa informasi terkini, obyektif dan
benar, keputusan bisa merugikan. Dan, nampaknya hambatan komunikasi ini
berlangsung terus , walaupun kita sadar akan bahayanya.

Menyikapi komunikasi dengan benar
Teman saya biasanya adalah orang terakhir yang diberitahu kabar buruk
karena ia selalu panik dan heboh  dalam menyikapinya. Walaupun ia berjanji
untuk memperbaiki diri, orang di sekitarnya sudah terlanjur berhati-hati
berkomunikasi dengannya. Beginilah situasi yang sering menyebabkan
informasi tidak berpindah. Banyak orang memilih untuk menutup mulut, karena
dampak negatif yang menjadi akibat beritanya.

Kita jelas tahu ungkapan, “Dont shoot the messenger”, tapi praktek di
lapangan masih terus terjadi. Seorang CEO kerap menyerang individu yang
memberi informasi mengenai rumor, kabar burung atau berita sepotong yang
beredar di perusahaan. Ia akan menanyakan siapa yang mengatakan, sumber
beritanya dari mana dan tidak segan-segan memanggil orang yang dinilai
menjadi sumber beritanya. Walaupun kebanyakan berita mengandung kebenaran,
si pembawa berita tentu akan merasa sangat tidak nyaman dengan kondisi
interogasi ini. “Bukannya berterimakasih diberi informasi, malahan kami
yang  diserang” demikian komplen beberapa orang yang berpengalaman buruk
ini. Bila kita serius ingin mengoptimalkan arus komunikasi, rasanya kita
perlu ingat bahwa salah satu rahasia keberhasilan komunikasi adalah bahwa
pemberi informasi maupun penerimanya perlu mengupayakan agar sikap defensif
tidak muncul. “Don`t communicate to be understood; rather, communicate so
as not to be misunderstood.” Begitu salah-paham terjadi, mulut langsung
terkunci.

Hal yang juga lazim terjadi adalah tidak adanya ‘follow up” terhadap
komunikasi , atau bahkan komitmen tertentu. Banyak orang, baik pejabat
maupun top management, sering, sengaja atau tidak, mengambangkan persoalan
atau membiarkan komitmen yang sudah dibuat, tidak dilaksanakan. Hal ini
juga sering membuat komunikasi jadi tidak bersemangat dan hambar. Jadi
hirarki yang memang tetap berlangsung, dengan ketidakseimbangan ‘power’lah
yang sering tanpa kita sadari menciptakan kesenjangan organisasi. Pejabat
atau manajer yang tidak berusaha menjembatani ‘jarak’ ini, akan  tetap
sulit menciptakan suasana keterbukaan komunikasi.

Beyond division, Beyond communication
Komunikasi masa sekarang jelas berubah drastis dengan adanya media sosial.
Berita, data, kritik, bisa diterima dan dikirimkan secara instan dan
global. Informasi membanjir, sehingga seringkali malah membuat bingung.
Dengan media sosial ini, siapa pun bisa menjangkau siapa saja. Beberapa
teman yang tadinya merasa mustahil untuk  menjangkau pejabat tinggi negara,
sekarang bisa melompat kegirangan karena di ‘follow’ oleh kepala negara di
media sosial ‘twitter’. Kitanya pun berubah. Kemampuan konsentrasi dan
‘attention span’ kita juga semakin singkat. Kita tidak biasa memberi waktu
untuk mendengarkan presentasi yang kita anggap ‘bertele tele’, padahal
menyajikan latar belakang permasalahan, atau hasil riset.

Belakangan ini, beberapa perusahaan juga tidak segan membagikan gadget
canggih atau “tablet” untuk komunikasi, pada karyawan-karyawan intinya.
Tujuannya jelas untuk mengoptimalkan komunikasi. Berkaitan dengan media
sosial ini, seorang ahli J. B. Priestley menyatakan” The more we elaborate
our means of communication, the less we communicate.” Ini jelas sinyal
betapa kita juga perlu mengukur efektivitas komunikasi dari media
komunikasi canggih yang kita pakai ini. Kadang kita melihat 2 orang
berembug atau juga berbantah melalui e-mail, padahal duduknya bersebelahan.
Bila dipikir-pikir, apa susahnya memutar badan dan kemudian berembug secara
bertatap muka? Meskipun komunikasi elektronik memang efisien, tetapi jelas
tidak selamanya efektif untuk segala macam komunikasi. Kita memang tidak
bisa menghindar dari alat komunikasi yang sudah lebih elektronik, instan,
pendek dan  singkat. Ini adalah ‘game’ kita saat sekarang. Satu-satunya
jalan kita untuk membuat komunikasi kita mempan adalah tidak lagi mengikuti
birokrasi kaku, misalnya pemilahan divisi. Komunikasi tidak bisa dilihat
sebagai ‘benda asing’, namun arus di-‘main’- kan, dianggap merasuk dalam
hidup kita, sehingga menjadi bagian penting dari hidup. “Communication
works for those who work at it.” John Powell.













*".... I am the KING to my own UNIVERSE that Rule my MIND, BODY and
SOUL!!! ...."
*
**
*- Aga Madjid -*

-- 
-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

--- 
You received this message because you are subscribed to the Google Groups 
"aga-madjid" group.
To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an email 
to [email protected].
For more options, visit https://groups.google.com/groups/opt_out.


<<Picture (Device Independent Bitmap) 1.jpg>>

Kirim email ke