*PEMIMPIN: “**PEOPLE **EXPERT”*
Eileen Rachman & Sylvina Savitri
EXPERD
HOGAN PERSONALITY ASSESSMENT

Dimuat di Kompas, 14 September 2013

Siapa pemimpin yang Anda idolakan? Bila kita memuji seorang pemimpin,
biasanya kita akan menonjolkan keberhasilan dan kinerjanya. Saat kita
memuji Jokowi – Ahok, kita akan membahas apa yang sudah berhasil di
rombaknya, bagaimana ia berhasil melakukan perubahan, dan memperbaiki kota
dengan cepat. Di perusahaan pun serupa. Pemimpin yang dinilai berhasil
adalah mereka yang sukses meningkatkan laba perusahaan, menciptakan inovasi
dan perubahan. Di balik prestasi yang terlihat ini, jarang sekali kita
mendalami, bagaimana proses tercapainya pemikiran, prestasi dan kinerja
kesuksesan  itu. Ada prestasi yang diraih karena kinerja tim yang baik,
namun tidak jarang kita melihat tidak seimbangnya upaya atasan – bawahan
dalam pencapaian target kerja. Sering kita melihat bawahan hanya sekedar
menjalankan sistem atau perintah saja, belum sepenuhnya mencurahkan seluruh
pemikiran dan emosinya dalam pekerjaan. Ini tentu saja jauh dari kondisi
ideal yang kita harapkan, bukan?

Banyak orang mengeluhkan bahwa situasi pendidikan dan pemerintahan membuat
kita ‘dibodohkan’. Di lingkup hidup dan tanggung jawab kita sendiri,
pernahkah kita berpikir apakah kita sudah memahami cara mencerdaskan
orang-orang di sekitar kita? Apakah kita mendalami bagaimana anak buah
harus dikembangkan? Tanpa kita sadari kita juga juga sering ikut-ikutan
me-’robot’-kan manusia. Kita pun tidak jarang melihat manusia sebagai mesin
yang produktif dengan ‘lifetime’ tertentu. Sebagai pemimpin, belum tentu
kita tuntas mempertimbangkan keseimbangan harapan dan tindakan tiap
individu. Begitu kita menghadapi resistensi, kemalasan, rendahnya motivasi,
kita mencap kondisi itu sebagai sifat umum manusianya. Kita kerap mudah
mengeneralisir sulitnya mendekati  karyawan atau bawahan secara individual
dan mendalam. Seberapa sering kita berpikir bahwa mendekati individu secara
psikologis akan menciptakan produktivitas, motivasi bahkan kreativitas?
Pernahkah kita mendalami diri sendiri dan bertanya-tanya apa yang salah
dalam sikap dan kepemimpinan kita, sehingga bawahan tidak bersemangat?

*Perubahan digerakkan Manusia

*Perubahan yang begitu cepat akibat semakin cerdasnya manusia, semakin
gilanya perkembangan teknologi, menyebabkan  cepat usangnya ketrampilan
bekerja. Sales manager yang 10 tahun lalu berprestasi bagus, sekarang
nampak sudah seperti macan ompong. Teknik-teknik kesuksesannya sudah tidak
bisa dipergunakan lagi. Perusahaan yang sudah mabuk kemenangan dan
keuntungan, juga bisa kalang kabut menyiapkan kompetensi baru karena
keharusan mengantisipasi ‘golden eggs’ baru. Era industrial di mana
ketrampilan bisa dipakai berulang-ulang sudah lewat. Sekarang, pemimpin
perlu menyiapkan pembuat perubahan: “every individual needs to be a
changemaker.” Bila seorang individu tidak gemar berubah, ia jelas akan
menjadi beban bagi teman-temannya yang ingin berubah.  Tim bukan sekedar
tim, tetapi perlu bersinergi dengan tim-tim lainnya. Inilah format
organisasi di era sekarang : “Change begets change … and the world we are
going to is better”. Dengan kondisi ini, jelas fokus kita harus lebih
banyak kepada penekanan bobot manusia, sumberdaya yang paling canggih di
muka bumi ini , dan paling bertahan. Kita musti angkat topi dengan
perusahaan seperti Kompas–Gramedia Grup, yang jelas memiliki visi
menomorsatukan karakter dengan keyakinan bahwa ketrampilan bisa diajarkan,
meski sadar bahwa pembentukan karakter akan memakan waktu yang tidak
sebentar.

Kalau dulu kita sering mendengar ungkapan mempersiapkan ‘the future leader”
seolah mempersiapkan putra mahkota, saat sekarang secara ‘real time’ kita
sudah perlu mendorong anak buah kita, menjadi leader itu sendiri. Dalam
realitanya, pada banyak CEO ditemukan bahwa kunci sukses mereka sangat
terletak pada kemampuan mendorong bawahan secara personal dan emosional,
kemampuan mengangkat ‘self interest’ bawahannya. Walaupun penelitian sering
membuktikan adanya kekuatan pendekatan manusia ini, sungguh disayangkan
betapa masih banyak orang menomorduakan ‘softskills’ dan menganggapnya
sebagai tambahan ketrampilan setelah ketrampilan bisnis lainnya.

*Empati sebagai “Power”

*Seorang peneliti manajemen, Galinsky, menyatakan "As power increases,
power-holders are more likely to assume that others' insights match their
own." Penelitian ini mengungkapkan pula bahwa bila seseorang mulai
merasakan ‘power’ dari hasil kinerjanya, maka empatinya ke orang lain bisa
berkurang. Ia menjadi ‘self centered’ dan ‘self assured’, atau dengan kata
lain, seolah ‘tidak butuh orang lain’. Penelitian lain menemukan bahwa
‘power’ bisa menimbulkan "mirror system" di otak, di mana penyerapan
terhadap pegalaman orang lain tidak terjadi, seolah ada proses ‘shut down’
secara otomatis. Sebagai akibat, mekanisme empati dari pemilik power jadi
berkurang drastis. Padahal, kemampuan empati, bermain rasa, dan kesadaran
diri adalah alat-alat menuju pematangan jiwa. Inilah sebabnya kita sering
melihat gejala beberapa pemimpin yang memiliki otoritas dan jabatan tinggi
di institusi ataupun perusahaan menjadi tidak peka terhadap situasi
eksternal, pandangan orang di sekitarnya ataupun masukan-masukan di media
massa. Apa yang bisa kita harapkan dari sosok pemimpin seperti ini?
Alih-alih membimbing, membesarkan dan memberi semangat anggota timnya,
kapasitasnya menjadi model pun sudah tidak ada.

Kita bisa melihat banyak perusahaan mencari ‘salesman’ dengan ciri-ciri:
“berempati, mempunyai ego drive, dan ego strength’ yang kuat. Bukankah
kualitas-kualitas ini sepenuhnya soft-skills? Mau tidak mau, pemimpin pun
tidak bisa lagi menyepelekan kualitas manusia yang terbukti akan menjadi
andalan utama dari kinerja organisasi. Kita tidak semata memanfaatkan
tenaga dari anak buah, tetapi yang lebih penting adalah mengolah hati dan
kreativitas pemikirannya. Pemimpin masa sekarang jelas perlu mengubah cara
dalam berempati. Kita tidak boleh hanya  berorientasi internal, sibuk
menyusun organisasi, tanpa mempedulikan bagaimana anggota mempergunakan
empatinya untuk bekerja. Empati bahkan perlu menjadi “way of life” kita.
Tentunya sebagai pemimpin kita juga perlu berlatih membuat laboratorium
manusia, yang subyeknya adalah pengikut atau bawahan kita sendiri. Kita
perlu mendominasi komunikasi kita dengan bertanya, mendengar, mendapat
berita dari luar, serta berdiskusi dengan prinsip kesejajaran, sehingga
pada akhirnya kita betul-betul berada di pusat kelompok kita. Pada saat
itulah kita akan menikmati  unsur ‘kemanusiaan’ dan merasakan kemudahan
menjadikan setiap anggota tim seorang ‘leader’ sejati.



*EXPERD CONSULTANT
*Adding value to business results
Kemang 89 Building, 3rd - 4th Floor
Jl. Kemang Raya No. 89, Jakarta 12730
Telp. 021-718 0805
Fax.  021-718 3101
*http://www.experd.com* <http://www.experd.com>
*http://jobs.experd.com* <http://jobs.experd.com>















-- 
*".... I am the KING to my own UNIVERSE that Rule my MIND, BODY and
SOUL!!! ...."
*
**
*- Aga Madjid -*

-- 
-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

--- 
You received this message because you are subscribed to the Google Groups 
"aga-madjid" group.
To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an email 
to [email protected].
For more options, visit https://groups.google.com/groups/opt_out.

<<Picture (Device Independent Bitmap) 1.jpg>>

Kirim email ke