*K**EMEWAHAN SINERGI*****

Eileen Rachman & Sylvina Savitri
EXPERD
TEAM ALIGNMENT & SYNERGY TRAINING

Dimuat di Kompas, 28 September 2013

Begitu banyak organisasi yang kita temui mencantumkan “teamwork” sebagai
salah satu nilai perusahaan. Apakah organisasi Anda pun begitu? Ya,
biasanya kita merasa risih bila mengetahui kelompok A tidak cocok dengan
kelompok B. Meski nilai-nilai teamwork digaungkan terus, dalam dinamika
organisasi, kita bisa melihat bahwa perseteruan, pembeda-bedaan begitu
sulit dihindari. Kita tahu kelompok “back office” kerap dipandang kelas
dua, dibanding jajaran sales yang berkontribusi langsung pada penghasilan
perusahaan. Ada juga kelompok yang merasa lebih hebat karena mencetak laba
yang lebih besar dari kelompok lain. Ada divisi yang merasa lebih bergengsi
karena bertemu dengan klien korporasi dan bukan “bermain” di pasar becek.
Perbedaan peran yang sebetulnya natural, terkadang malah membuat orang
dalam organisasi menumbuhkan dinding virtual dan mulai ‘tidak berbicara’
satu sama lain. Ini tidak aneh. Perusahaan dengan reputasi fortune 500 pun
mengalami hal serupa. Salah satu pimpinan perusahaannya mengatakan: “As
long as humans are running the business – not robots, there’s going to be
human relationship problems running in the business” .

Sinergi sebetulnya justru bersumber dari keberbedaan ‘nature’ manusia,
kompetensi, keahlian, karakter, generasi, ego, kebiasaan talenta,
kekurangan dan kelebihannya. Namun, entah mengapa, kita kerap merasakan
sendiri betapa sinergi seolah menjadi semakin jauh dari kehidupan
organisasi. Di perusahaan yang sedang berkembang pesat, dengan ukuran
kinerja divisi yang ketat, tidak adanya sinergi ini kemudian menggejala.
Orang semakin menerima saja, bila ada departemen yang berseteru di media
massa, atau bahkan secara fisik. Bukankah kita juga sering menyaksikan
proyek yang tidak selesai, bahkan dibongkar pasang, tidak disupport, dan
terkesan tidak adanya koordinasi? Bagaimana mungkin kita mengharapkan
sinergi bila berkoordinasi saja sudah sulit?

Tidak adanya sinergi jelas akan berakibat fatal, mulai dari produktivitas
yang rendah, kordinasi yang buruk, individu tidak happy, saling
menyalahkan. Hal yang sering kita lupakan adalah bahwa sinergi tidak sama
dengan sekedar menjumlahkan semua kinerjanya satu per satu. Kelompok yang
bersinergi akan terasa melahirkan pemikiran baru, tenaga baru yang hasilnya
tidak sama dengan sekedar penjumlahan enerji masing masing individu atau
bagian. Inilah yang namanya sinergi. Pelatihan yang memancing emosi dan
mendorong keberanian bisa jadi memang membawa keakraban, namun bila tidak
menyentuh esensi untuk bersinergi, seringkali tidak berhasil juga
meningkatkan sinergi. Sangat disayangkan bila ada organisasi yang
menomorduakan penggarapan sinergi, karena berpikir bahwa sinergi bisa
datang dengan sendirinya. Padahal, jelas sinergi tidak akan tumbuh bila
didiamkan. Sikap tinggal diam, sungguh sudah bukan tren lagi di masa
sekarang.

*Tujuan bersama *
Bayangkan sebuah misi penyelamatan terhadap seseorang yang berada di tengah
laut. Para penyelamat yang berada di helikopter, tentunya mempunyai
pandangan yang berbeda dengan penyelamat yang berada di laut. Mereka pasti
bertukar hasil pemandangan mereka, untuk menambah informasi. Pertukaran
informasi pasti dilakukan dengan intensif, demi tindakan penyelamatan.
Dalam kondisi dengan urgensi yang tidak terlihat, biasanya perbedaan
persepsi ini dibiarkan. Seseorang melihat dengan kacamata marketing,
sementara yang lain melihat dengan kacamata finance. Terkadang kita lupa
bahwa yang menjadi misi adalah kebutuhan pelanggan dipenuhi, pelanggan
puas, sehingga bisnis bisa terus bertumbuh.

Pentingnya kejelasan visi, misi dan sasaran bisnis, jelas diketahui oleh
semua perusahaan. Sayangnya, visi yang dibuat kerap terlihat abstrak, jauh
dari kegiatan sehari-hari, sehingga individu tidak bisa merasakan perlunya
sinergi. Individu yang tidak mengenal misi perusahaan akan terlihat tidak
saling berbagi informasi, mengembangkan mentalitas tidak mau dipersalahkan,
bahkan semangat ‘memikirkan kepentingan diri sendiri’ tetap dinomorsatukan.
Bisa kita bayangkan kalau para menteri di pemerintahan tidak sibuk
sendiri-sendiri, tetapi  lebih mendekatkan kepala untuk melahirkan strategi
negara yang kreatif, kita pasti akan menikmati pembaharuan yang ‘beda’.
Dalam organisasi, kerugian signifikan akan kita alami bila antar bagian
tidak merasakan partnership tapi justru permusuhan. Pertumbuhan perusahaan
pasti tidak terjadi bila di internal perusahaan keputusan tepat waktu tidak
diambil karena diwarnai penolakan terus-menerus dari bagian lain.

*Berkontribusi dan Berdiskusi Produktif*
“The A team” hanya bisa mencapai puncak prestasinya bila setiap anggota
kelompok menuju satu sasaran dan menyadari akan peran dan kontribusinya.
Tidak ada pemain basket yang menang semata karena salah satu anggota. Itu
pasti tim. Dan kontribusinya pun rata. Dalam tim yang bersinergi semua
anggota tim berkontribusi, sehingga bila ada ide brilian yang muncul dan
terimplementasi dengan baik, biasanya anggota tim sudah tidak bisa
mengenali siapa yang paling berhasa menemukan ide itu, karena sudah
dikeroyok bersama-sama. Karena semua berkontribusi, semua tahu sama tahu,
dan memusatkan perhatian pada hasil. Dalam seleksi dan pelatihan, kita
perlu menekankan bahwa sinergi harus dicapai melalui kontribusi setiap
orang. Sebagai anggota tim, kita pun perlu juga belajar menurut. Menjadi
‘follower’ pun adalah  eksistensi tersendiri.

Kita juga perlu mewaspadai dan senantiasa membangun suasana diskusi positif
untuk menumbuhkan sinergi. Seorang teman yang mengabarkan beberapa ‘brutal
facts’ pada atasannya, seketika terdiam karena atasannya hanya menanggapi
dengan pernyataan bahwa ia terlalu pesimis. Terkadang, walaupun mempunyai
visi yang sama, individu, apalagi atasan dalam perusahaan, jelas perlu
hati-hati dengan komentar dan celetukan yang bisa memadamkan api sinergi.
Kita memang perlu mengingatkan pada setiap anggota kelompok, agar dalam
debat dan beda pendapat, sikap kolaboratif perlu dipertahankan. Kita jelas
perlu selalu mendapatkan informasi lain dari pihak lain sebelum mengambil
keputusan. Bahkan kebiasaan ‘brainstorming’ harus disuburkan, di mana
opini, ide-ide, dan pengalaman tiap-tiap orang dihargai sebagai aset
perusahaan yang berharga. Perbedaan perlu di’welcome’ sebagai masukan dan
informasi, sambil kitapun mawas diri mengenai perbedaan yang kita bawa yang
mungkin dapat membawa ketidakharmonisan tim. Seperti halnya hubungan
interpersonal antara 2 orang, sinergi pun perlu dilihat sebagai sesuatu
yang harus dijaga terus. Bukan sekali jadi, apalagi “hit and run”.




*EXPERD CONSULTANT*
Adding value to business results
Kemang 89 Building, 3rd - 4th Floor
Jl. Kemang Raya No. 89, Jakarta 12730
Telp. 021-718 0805
Fax.  021-718 3101
http://www.experd.com
http://jobs.experd.com



****

*
*



-- 
*".... I am the KING to my own UNIVERSE that Rule my MIND, BODY and
SOUL!!! ...."
*
**
*- Aga Madjid -*

-- 
-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

--- 
You received this message because you are subscribed to the Google Groups 
"aga-madjid" group.
To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an email 
to [email protected].
For more options, visit https://groups.google.com/groups/opt_out.

<<image001.jpg>>

Kirim email ke