*Eileen Rachman & Sylvina Savitri*
*EXPERD*
*Character Building Training*

*Dimuat di Kompas, 11 Januari 2014*


Tahukah Anda apa kata yang paling sering digunakan oleh pencari kerja untuk
menggambarkan kekuatan diri mereka? Linked-in, situs pencari kerja paling
populer, menyebutkan bahwa “integritas” adalah kata paling sering
disebut-sebut oleh para professional dalam CV-nya. Ya, integritas memang
sangat menarik dan powerful. Tidak hanya individu, namun banyak sekali
perusahaan yang juga mencantumkan integritas dalam visi, misi dan taglines
mereka, misalnya: “Kami menggabungkan* ‘excellence’* dan ‘integrity’” atau
“Kami melakukan semua hal berlandaskan integritas.”. Hal ini bukan hanya
populer di Negara kita saja, tetapi di mana-mana di seluruh dunia. Berbagai
statement ini jelas dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran moralitas.

Bila kita pikir-pikir, integritas jelas adalah dasar dalam menjalankan
bisnis. Bayangkan, siapa yang mau bekerja sama dengan perusahaan yang
integritasnya rendah, misalnya berbohong mengenai kualitas produknya, tidak
menghasilkan output sebagaimana yang dijanjikan, tidak mau bertanggung
jawab bila pelanggan mengalami kerugian? Siapa orang yang mau bekerja di
perusahaan seperti itu? Sebaliknya, perusahaan mana yang mau merekrut calon
karyawan yang diragukan kejujurannya? Berarti, sebetulnya integritas
bukanlah kekhasan suatu institusi atau industri. Integritas memang selalu
harus ada dan bekerja tanpa perlu digembar-gemborkan, apalagi dianggap
sebagai kelebihan dan keunikan perusahaan. Seperti yang dikatakan seorang
eksekutif perusahaan sukses, *“Integrity is a threshold characteristic for
our people — if they don’t have it, they aren’t here.”* Jadi, integritas
ini sebetulnya mutlak.

Kita tentu bertanya-tanya, mengapa sekarang integritas kerap dilihat
sebagai benda yang licin, susah dipegang? Di beberapa situasi, integritas
bahkan dilihat seperti barang langka. Semua orang melanggar, semua orang
korupsi, semua orang menyembunyikan ‘rahasia-rahasia’ kecil. Sampai-sampai,
koruptor juga tidak lagi menampakkan rasa malu, apalagi bersalah. Di
beberapa institusi, kita lihat integritas menjadi fokus dari manuver
perubahan. PT. KAI, misalnya, bisa dengan cepat mencetak laba dan
memperbaiki nasib karyawannya, setelah serius menumpas
‘permainan-permainan’ yang beredar. Di sini, integritas yang dimaksud lebih
kepada permainan uang, korupsi atau juga penegakkan kejujuran.
Pertanyaannya, apakah kualitas manusia yang sering disebut dengan
integritas ini hanya sebatas kejujuran saja? Bukankah tidak konsistennya
kita dalam bersikap juga adalah bagian dari integritas? Dalam kehidupan
kita sehari-hari, kita selalu dihadapkan pada pilihan  tindakan, antara
yang benar dan tidak benar, walapun konsekuensi dan risiko yang
berbeda-beda. Tanggung jawab terhadap pilihan tindakan ini pun adalah
bentuk integritas juga, bukan? Kalau integritas merupakan kualitas yang
begitu penting, mengapa kita seolah begitu sulit mengembangkannya?

*Prinsip & Alasan Tindakan *
Sejak kecil kita pastinya sudah diperkenalkan dengan *‘do’s* dan *don’ts*,
termasuk di antaranya larangan untuk berbohong, mengambil hak orang lain,
melanggar peraturan, dan lain lain. Ada orang tua atau pendidik ada yang
dengan tekun mengajarkan ‘alasan’ larangan. Individu yang sejak kecil
dilatih untuk memahami alasan tindakannya, mengapa ia boleh berbuat dan
tidak berbuat, bisa lebih kokoh dengan prinsip dan dalam memilih
tindakannya. Di sisi lain, ada juga individu yang dibesarkan dengan
berbagai larangan tanpa adanya dialog sama sekali, bahkan semata memahami
ancaman atau hukuman sebagai konsekuensi negatif dari tindakannya. Individu
yang terbiasa sekedar menghindari hukuman, cenderung mudah goyah saat
dihadapkan pada situasi dilematis di mana ia harus memiliki sikap dan
tindakan yang ‘benar’.

Dalam perkembangannya, setiap individu memang mempunyai kapasitas membuat
alasan. Mahasiswa yang ‘nyontek’ bisa beralasan bahwa semua temannya juga
melakukan hal yang sama atau mengatakan bahwa itu adalah hal yang terlalu
kecil untuk dibicarakan. Ini adalah pangkal tolak  hilangnya rasa bersalah.
Saat melanggar aturan, misalnya korupsi, bisa jadi ia mencari alasan,
seperti gajinya terlalu kecil, uang korupsi disetorkan kepada pihak lain,
atau alasan lain yang ‘masuk akal’. *“Reasoning”* yang  dicari-cari
tentunya bisa dikemukakan bila kita memang memilih untuk tidak
berintegritas. Selain itu, individu pun bisa berlindung dengan membuat
definisi integritas yang bermacam-macam. Apakah melebihkan honor tambahan
ke penghulu, dari honor 9 ribu rupiah disebut gratifikasi atau sekedar uang
penghargaan? Pendefinisian yang berbeda-beda inilah yang menyebabkan setiap
inividu bisa goyah atau tidak secara kontinyu memelihara integritasnya.

*Integritas: kualitas manusia*
Bila seorang pemimpin berhasil meningkatkan kadar integritas di sebuah
perusahaan, maka sebenarnya ia sudah memperbaiki kualitas hidup dari
manusia di dalamnya. Tentunya siapapun akan menikmati menjadi orang yang
lebih ‘fair’ dan penuh respek, bernegosiasi secara win-win, menepati janji,
dan tegas. Untuk itu, di samping memerangi korupsi, kita juga perlu
menegakkan panduan hidup berkualitas, seperti, “bersikap berani kalau
benar, selalu menuntaskan pekerjaan, menepati janji, sedikit bicara banyak
bekerja, tidak bisa ‘dibeli’, dan selalu menyadari batas-batas aturan
sosial yang berlaku.

Tantangannya adalah, kita perlu menyadari bahwa pengembangan integritas
bersifat sangat individual. Jadi, walaupun kita menggarap budaya perusahaan
agar lebih berintegritas, yang perlu kita sentuh adalah pribadi
masing-masing, pilihannya dan rasionalisasinya. Dalam organisasi, kita
menemui orang orang yang sudah dewasa yang sudah punya ‘reasoning’-nya
sendiri-sendiri, dan masing-masing sudah punya definisi dari integritasnya.
Untuk itu kita perlu menembus penalarannya dan definisi yang telah tertanam
dalam diri individu, kemudian merangsang mereka merombak sistem nilai di
dalam dirinya dengan iming iming kualitas kehidupan yang benar. Seperti
yang tercantum di buku *Harry Potter : “ you will not be known by your
abilities, you will be known the choices you make.” *










-- 
*".... I am the KING to my own UNIVERSE that Rule my MIND, BODY and SOUL
!!! ...." *

*- Aga Madjid -*

-- 
-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

--- 
You received this message because you are subscribed to the Google Groups 
"aga-madjid" group.
To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an email 
to [email protected].
For more options, visit https://groups.google.com/groups/opt_out.

<<image003.jpg>>

Kirim email ke