---------- Forwarded message ----------
From: Zulhiga Muttaqin Jenai <[email protected]>
Date: 2014-03-11 8:23 GMT+07:00
Subject: Menanam Integritas
To:


   *Eileen Rachman & Sylvina Savitri*
*EXPERD*
*Character Building Training*

*Dimuat di Kompas, 18 Januari 2014*


Integritas memang isu yang tidak ada habisnya. Saat menulis bukunya, *The
Millionaire Mind, Thomas J. Stanley* mendapatkan jawaban yang seragam dari
733 miliuner yang ia wawancarai, yaitu betapa pentingnya integritas sebagai
kunci sukses para pebisnis sukses tersebut. Bagi mereka, integritas bukan
hanya menekankan pentingnya bersikap jujur, tetapi juga pentingnya
memperkuat prinsip-prinsip moral yang diterapkan di perusahaan. Hal ini
berarti tidak sekedar melarang menerima gratifikasi ataupun korupsi,
melainkan mengupayakan agar semua individu di dalam organisasi
mengembangkan sikap luhur yang utuh secara menyeluruh. Ini yang tentu harus
kita juga kaji dalam pengembangan kultur integritas di dalam organisasi
kita, bukan? Tidak semata menggaungkan kejujuran, menuntut kepatuhan yang
kaku pada peraturan dalam poster *campaign* di seluruh organisasi, namun
mengajak individu untuk mengembangkan kualitas pribadinya secara utuh.

Adakalanya ada atasan yang meminta staffnya untuk menolak tamu yang tidak
disukai, dengan mengatakan bahwa beliau tidak di tempat. Begitu kita
menganggap bahwa instruksi itu bisa dituruti karena ini dipandang sebagai
hal yang sepele, kita sebetulnya juga bisa berpikir bahwa kita juga boleh
berbohong dalam hal lain, seperti apa yang dilakukan oleh atasan kita. Dari
contoh situasi kecil ini saja kita bisa melihat betapa integritas tidak
gampang dikembangkan. Begitu banyak alasan yang bisa kita karang, bila
misalnya, pengiriman barang tidak tepat waktu, lupa dengan kesepakatan yang
dibuat, atau kita 'kabur' dari suatu pertemuan dengan alasan yang
dibuat-buat. Situasi-situasi ini, sering membuat kita tidak kunjung
berhasil untuk menegakkan integritas di dalam organisasi. Dari bagaimana
individu berespon dan bersikap terhadap hal-hal kecil, kita sesungguhnya
bisa membaca ada atau tidaknya integritas di lingkungan tertentu. Kita bisa
menduga apakah kultur perusahaan memang tidak konsisten dengan nilai luhur
yang dijunjung tinggi, yang biasanya tertera di dinding-dinding ruang
kerja. Bayangkan betapa mudahnya pelanggan pergi bila merasakan adanya
ketidakkonsistenan dalam pelayanan dan nilai. Karyawan sendiri pun tentu
tidak akan nyaman, apalagi bangga, berada di organisasi yang tidak
menegakkan integritas. Jelas, menanamkan integritas di perusahaan tidak
semudah kita mengatakan atau mengumumkan di dalam acara sosialisasi saja.
Namun, hal ini begitu krusial untuk digarap, bila tidak ingin pelanggan dan
karyawan potensial merasa frustrasi.

*Misi yang Memperkuat Integritas*
Seorang CEO yang meyakini penanaman integritas sebagai kunci perubahan
organisasi, ketika diwawancara mengatakan, bahwa beliau berupaya memperkuat
'sense of purpose' bagi seluruh jajaran. Jadi bentuk integritas terletak
pada kejelasan misi perusahaan, sehingga setiap karyawan bisa dengan mudah
menerapkannya. Katakanlah misi sebuah perusahaan angkutan adalah melayani
kebutuhan dan keamanan pelanggan. Tindakan karyawan yang tidak membuat
penumpang 'happy' ataupun merasa aman, akan berlawanan dengan tujuan
perusahaan. Dengan demikian, tujuan karyawan adalah agar semua pelanggan
yang dilayani bisa merasa 'aman' dan dimudahkan.

Bila setiap karyawan kita dilengkapi dengan pemahaman tentang misi
perusahaan, ia setidaknya akan mengetahui 'Demi apa ia harus memuaskan
pelanggan', 'Demi apa ia harus memperbaiki produk', 'Demi apa ia harus
begadang menyelesaikan proyek'. Misalnya, perusahaan Negara bisa langsung
mengaitkan kepentingan 'bela negara', sehingga karyawan bisa merasa dirinya
sebagai 'patriot' yang berkontribusi bagi kemajuan dan kesejahteraan
Negara. Perusahaan swasta pun bisa menggambarkan misi yang lebih mulia
daripada sekedar mencari untung saja, misalnya mengembalikan sebagian laba
kepada kesejahteraan karyawan, pengembangan karyawan dan juga pengembangn
perusahaan. Berarti karyawan yang bergadang tahu bahwa misi kerjanya tidak
sekedar memperkaya empunya perusahaan,  tetapi mereka tahu bahwa tujuan
kerjanya adalah juga untuk kesejahteraan dan pengembangan diri mereka
sendiri.

Saat individu jelas dengan misi yang ia jalankan, mustahil orang melihat
bahwa fungsinya di pekerjaan lebih penting daripada fungsi orang lain.
Tanpa susah-susah, setiap fungsi pun otomatis akan menghargai fungsi lain,
bahkan berusaha mendekatkan diri agar bisa berkolaborasi lebih efektif.
Bagian pembelian, *'engineering',* customer service mengerti bahwa mereka
harus bergandengan tangan demi sasaran bersama: peningkatan kepuasan
pelanggan. Pemahaman atas tanggung jawab ini pun tidak lepas dari
integritas, bukan? Hanya dengan organisasi yang 'clear' seperti inilah kita
bisa memperbaiki kualitas kepribadian individu sampai 'ke dalam'.

*Integritas yang Menyehatkan*
Banyak pimpinan yang tidak menyadari bahwa* 'fairness'* juga bentuk dari
integritas. Itu sebabnya, dalam memberi upah dan hukuman kita juga perlu
mempertimbangkan integritas . Orang yang berkinerja perlu dihargai dan yang
tidak berkinerja perlu pula mendapatkan peringatan. Ada perusahaan
cenderung memberi 'lebih' kepada para karyawannya, namun pemberian
*'reward'* ini sering tidak ditinjau secara obyektif. Individu yang tidak
berkinerja dihargai, dan sebaliknya yang berkinerja dilupakan. Bahkan,
'upah' yang *'intangible'* seperti pujian, penghargaan, respek, dan
'permainan politik' yang tidak pas, bila tidak dilakukan dengan* 'fair'*,
bisa membuat individu yang kinerjanya baik menjadi frustrasi dan
kehilangan semangat untuk mensupport perusahaannya. Tidak konsistennya
pemberian upah ini akan berdampak pada pengembangan integritas. Terasa
bahwa menanamkan integritas hanya akan ampuh bila diikuti dengan
praktik-praktik yang *'walk the talk'*, bahkan tercermin di dalam system
yang mengedepankan *'fairness'.* Kita perlu membuat sebuah arsitektur
integritas dalam satu lingkungan sehingga perusahaan benar-benar bisa
dipuji karyawannya sendiri, dan karyawan bangga bekerja di perusahaan ini.

Karyawan dengan integritas dirinya kuat, pastilah akan terlihat lebih keren
daripada yang lain. Ia tidak akan melecehkan teman kerja. Ia pun tidak
mengenal waktu.  Ia tidak mengaku-aku pekerjaan orang lain. Pada dasarnya,
setiap individu pastilah lebih *happy* bila ia menyadari dirinya
menjalankan nilai-nilai luhur, menjadi manusia berkualitas yang
*'happy*dengan dirinya sendiri' dalam menjalankan misi perusahaan.
Jadi, sebetulnya
individu pun secara naluriah akan mendukung upaya penanaman integritas yang
ujungnya akan membuat dirinya merasa lebih berharga.








*EXPERD CONSULTANT Adding value to business results Kemang 89 Building, 3rd
- 4th Floor Jl. Kemang Raya No. 89, Jakarta 12730 Telp. 021-718 0805 Fax.
021-718 3101 *

*http://www.experd.com <http://www.experd.com/>*

*http://jobs.experd.com <http://www.experd.com/>*
















-- 
*".... I am the KING to my own UNIVERSE that Rule my MIND, BODY and SOUL
!!! ...." *

*- Aga Madjid -*

-- 
-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

--- 
You received this message because you are subscribed to the Google Groups 
"aga-madjid" group.
To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an email 
to [email protected].
For more options, visit https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke