*Eileen Rachman & Sylvina Savitri*
*EXPERD*
*Character Building Training*

*Dimuat di Kompas, 22 Februari 2014*

Pernahkah mengamati, berapa banyak foto diri yang kita unggah di *social
media*? Demi mendapatkan satu foto diri yang keren untuk diletakkan di
*soc-med*, tak jarang kita  melakukan beberapa kali jepretan sampai
mendapatkan hasil '*image*' diri yang kita ingin tampilkan, bukan? Kita
jelas tahu betapa dalam hal ini kita tidak sendirian. Bila kita mengecek
kode #*selfie *di instagram, maka tidak kurang dari 31 juta foto ada di
*databas*e-nya. Ditambah lagi, berjuta foto dengan *hashtag *#*me*. Tidak
mengherankan bila *Oxford University Press* menyebutkan "*selfie*"
sebagai *"word
of the year*" di tahun 2013 lalu. Penggunaan kata ini meningkat 17.000%
dalam periode 10 tahun! Bukan saja orang biasa yang ingin populer,
melakukannya, karena Rihanna dan Justin Bieber, juga terkenal hobi
memuat *selfie
*mereka di media masa. Gejala apakah ini? Kita bisa melihat, betapa saat
sekarang kita secara instan bisa mengendalikan bagaimana kita ingin
dipandang orang secara fisik.

*Self portrait* ini, jaman dulu dilakukan dengan rumit. Kadang menggunakan
cermin atau lukis diri, atau gambaran kartun tentang diri sendiri. Saat
sekarang, ponsel yang paling murah pun sudah mempunyai fasilitas potret
diri, yang praktis. Bahkan, alat seharga 250 ribu untuk memotret diri
sendiri, yang disebut "tongsis" atau 'tongkat narsis', menjadi demikian
populernya, karena bisa membangkitkan keceriaan bersama. Di saat yang sama,
kita sebetulnya menyadari bahwa "*selfie*" tidak selalu mengundang tawa
atau keceriaan. Bahkan, Ibu negara Amerika, sampai-sampai pernah dikabarkan
runyam rumah tangganya, ketika suami melakukan '*selfie*' dengan 'orang
lain'. Beberapa ahli psikologi yang melakukan studi mengenai gejala baru
yang kita kenal tidak lebih dari 10 tahun terakhir ini, berpendapat bahwa
gejala mem'*posting*' potret diri ini bukan trend, tetapi akan tetap ada.
Namun, bisakah kita membayangkan bila kita melakukannya secara dominan
setiap hari? Pernahkah kita memikirkan 'reputasi' kita di mata orang lain,
bila kita terpaku pada *image *diri sampai terlihat tidak memikirkan
kegiatan lainnya, tidak memiliki minat lainnya, atau bahkan tidak terasa
memiliki minat pada orang lain? Pertanyaannya, apakah kita bisa
memanfaatkan promosi diri ini menjadi hal yang positif?

*Potret Diri yang Bermakna*
Kegiatan memotret diri dan mempublikasikannya ini memang kegiatan unik.
Bila kita pada masa kecil sering diingatkan orang tua untuk bersikap rendah
hati dan tidak menonjolkan diri, maka tindakan *selfie *ini bisa merupakan
sesuatu yang baru dan asing, meski tidak dipungkiri bisa kita nikmati juga.
Kegiatan '*selfie*' ini kadang memberi kesempatan pada kita untuk melihat
dan menampilkan diri kita dari lebih banyak sisi: sisi lucu, sisi artistik,
sisi glamor atau yang lain. Kita, maupun orang lain, seolah-olah bisa
menemukan * 'the new me' *melalui *selfie*. Bisa jadi, inilah saatnya,
individu bisa 'menjual' dirinya, tanpa banyak bicara melalui narasi ataupun
bukti bukti. Tentunya, kita perlu mengingat bahwa ini hanya langkah awal
dari identifikasi diri. Karena sesudahnya kita dituntut oleh lingkungan
sekitar kita, dan dipertanyakan  *'so what'* atau '*now what*'-nya.

Seorang teman yang hobi membaca dan mengikuti instagram atau facebook
teman-temannya, pernah mengatakan: "Ada instagram yang bisa membuat mata
relaks, karena variasi, dan karena '*soties*' yang terkandung di
dalamnya'. Sebaliknya, foto diri bisa menjadi sangat hambar, bila tidak
disertai keterangan-keterangan yang menyertai gambar-gambar tersebut. Ini
berarti wajah, kita bisa menjadi pembuka ceritera yang lebih panjang dan
berbobot. Foto diri yang kita pajang adalah sebatas '*cover*'-nya. Isinya
harus kita sediakan, apakah melalui foto-foto lain, yang akan menuntut otak
bagian kanan untuk mengamatinya. Inilah gunanya memberi konteks pada gambar
wajah kita. Sedang di mana kita, apa *concern *kita, bagaimana kita melihat
dunia, dan bagaimana dunia melihat kita. Tentunya bila ekspresi diri ini
dibuat 'berceritera', ia sungguh akan menjadi tontonan yang menarik bagi
yang mengikuti. Kita yang awam sekalipun bisa membedakan rangkaian foto
yang itu-itu lagi dan 'basi', monoton atau 'tidak berceritera", dengan
rangkaian foto yang mencerminkan minat yang luas, intelektualitas dalam
mencermati situasi sosial, bahkan kebanggaan pada profesi yang menyentuh.
Bukankan ini jauh lebih luas daripada sekedar promosi diri?

*Eksplorasi Diri*
Kita ini memang mahluk sosial yang membutuhkan validasi sosial. Kita ingin
dihargai, diapresiasi, dimasukkan dalam kelompok yang kita inginkan. Citra
sosial, belakangan ini sudah dianggap oleh kebanyakan orang sesuatu yang
penting. Bahkan Robert Hogan, ahli psikologi kawakan, sudah menganggap
bahwa kita bisa menganggap bahwa citra sosial itu  adalah bentuk
kepribadian yang sah. Kita tidak terlalu perlu mendalami masa kecil kita
dan menggambarkan kepribadian kita berdasar histori kita. Hal yang penting
saat sekarang adalah kesadaran atau self-awareness kita terkait bagaimana
kita melihat diri kita, bagaimana 'bright side' atau reputasi kita di mata
orang lain, dan apakah potret diri yang kita tampilkan sekaligus bisa
meningkatkan kesadaran kita akan hal-hal yang bisa menghambat efektivitas
kita dalam menjalin hubungan, berelasi atau berkinerja efektif.

Mengamati foto diri kita sebetulnya juga bisa memancing kita untuk
mengeksplorasi apa nilai-nilai yang kita miliki, bagaimana nilai-nilai kita
bisa membantu kita menemukan kegiatan yang produktif. Kita juga perlu
belajar melihat bagaimana reaksi-reaksi kita bila '*under pressure*' yang
kadang tidak sama dengan apabila kita menghadapi situasi yang biasa.
Mengenal potret diri kita yang sesungguhnya ini, sama seperti membuat
*selfie*, namun bisa memberi *impact *positif karena memberi kesempatan
bagi kita untuk menyesuaiakan reaksi-reaksi kita sehingga positif dan bisa
pas dengan berbagai situasi sosial maupun interpersonal yang kita hadapi.








*EXPERD CONSULTANT Adding value to business results Kemang 89 Building, 3rd
- 4th Floor Jl. Kemang Raya No. 89, Jakarta 12730 Telp. 021-718 0805 Fax.
021-718 3101 *

*http://www.experd.com <http://www.experd.com/>*

*http://jobs.experd.com <http://www.experd.com/>*

















-- 
*".... I am the KING to my own UNIVERSE that Rule my MIND, BODY and SOUL
!!! ...." *

*- Aga Madjid -*

-- 
-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

--- 
You received this message because you are subscribed to the Google Groups 
"aga-madjid" group.
To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an email 
to [email protected].
For more options, visit https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke