*Eileen Rachman & Sylvina Savitri*
*EXPERD*
*Character Building Training*

*Dimuat di Kompas, 15 Februari 2014*

Seorang manajer yang sangat jago dalam membagi kerja, melakukan *'people
management',* menerapkan '*excellence*' di timnya, suatu saat tercengang
karena anak buahnya mengeluhkan kurangnya kedekatan tim. Ketika hal ini
dipertanyakan, argumentasinya adalah bahwa anak buahnya sudah bertambah
banyak, sehingga tidak lagi bisa ditraktir bersama-sama seperti saat jumlah
anggota timnya masih sedikit. Hal ini ia akui menjadikannya kehilangan '
*feel*' pada anak buahnya. Bertambah besarnya tim, kesibukan mengejar
bisnis, adanya prioritas dan urgensi tugas lain, memang satu dari sekian
banyak hal yang bisa menjadi penghalang kita untuk menjalin kedekatan *personal
*dengan rekan kerja kita. Padahal, kita tahu, kedekatan personal
jelas-jelas bisa menciptakan '*magic*' yang membuat semangat kerja menjadi
'tidak ada matinya'.

'*Personal touch*' sebenarnya tak selalu perlu diartikan secara
harafiah, '*person
to person*' bertatap muka. Pak Jokowi, sejak kepemimpinannya, bisa membuat
orang merasa dekat dengan sosoknya. Kehadirannya, sikap terbuka untuk
mendengar dan berkomunikasi, menjadi ciri yang membuat orang merasa
'dekat'. Pak Ahok kita kenal berusaha meladeni semua orang yang meng-sms.
Meski ia pun mungkin dibantu asistennya, namun sikap responsif menunjukkan
betapa ia 'hadir' untuk melayani. Bapak Ignasius Jonan, justru dalam
deskripsinya mengenai 27000 karyawannya, bisa menggambarkan betapa ia dekat
dengan karyawannya. Kedekatan dibangun dalam bentuk kultur, di mana siapa
saja bisa masuk kantor pimpinan, bisa mengatakan apa saja, bahkan bisa
mengatakan "tidak" bila diperlukan. Kultur seperti inilah yang dibentuk
oleh para pemimpin yang berfokus pada manusia.

*Pentingnya Umpan Balik Interpersonal*
Bila kita ingin bekerja efektif dan berbobot, kita perlu menyadari betapa
tiap individu membutuhkan pemahaman bersama, hati ke hati, tentang  apa '
*impact*' yang ia buat terhadap orang lain. Pimpinan perlu mengecek dan
merabarasakan, bagaimana anggota timnya menerima apa yang ia sampaikan
dalam *'morning briefing'.* Dengan menggali umpan balik, terbuka terhadap
kritik, kita akan mempunyai kesempatan untuk menyesuaikan pendekatan kita.
Kita perlu dengan kepala dingin mengevaluasi bagaimana reaksi kita terhadap
umpan balik. Apakah kita mendalami isu yang disampaikan oleh anak buah atau
malah '*kill the messenger'*, menyerang individu yang memaparkan* brutal
facts*? Apakah kita terbuka menerima fakta pahit atau malah menutup salurah
umpan balik, entah karena sikap pemarah, atau tidak mau mendengar, atau
keras kepala?  Bila kita tidak berlatih untuk menerima umpan balik,
bukankah kita bisa kehilangan monitor yang super-penting? Bisakah kita
membayangkan berada di lingkungan kerja, di mana kita tidak bisa buka
mulut, dan harus membiarkan hal-hal yang tidak menguntungkan terjadi bahkan
berlanjut?

Teman saya yang betul-betul percaya pada "*personal touch*", mempraktekkan,
mencontohkan, bahkan membuktikan bahwa memberi kritik kepada dirinya akan
berdampak positif. Senegatif-negatifnya kritik, ia mengupayakan emosi dan
sikap  positif. Hal ini menyebabkan orang lain, di sekitarnya juga
mempunyai kesiapan untuk tantangan dan menghadapi situasi yang sulit. Orang
jadi mempunyai rasa '*trust*' dan merasa 'aman' walaupun umpamanya berbuat
salah atau kurang *perform*.

Emosi, kerap kali kita pandang sebagai suatu hal yang negatif dan tidak '
*businesslike*'. Bukankah ini pun perlu mulai kita pandang secara berbeda?
Pembicaraan mengenai apa yang kita rasakan, membuat hubungan *interpersonal
*lebih mudah. Bila kita menegur, dengan dilengkapi ungkapan perasaan,
misalnya: "Kamu jangan tersinggung ya, aku pikir rok mu terlalu pendek,
sehingga hal ini mengganggu konsentrasi teman-temanmu, baik pria maupun
wanita". Teman yang tadinya bisa tersinggung, karena sudah ada introduksi
yang menyatakan bahwa pembicara mempertimbangkan emosinya, jadi lebih siap
menerima masukan. Emosi seperti kaget, kecewa, terharu, sedih, bisa kita
gunakan sehari-hari sebagai bumbu hubungan, di mana kita mendapatkan dampak
emosional di samping hubungan kerjanya. Kita juga perlu bisa menjaga 'rasa'
di lingkungan kerja kita, dengan menjaga ungkapan-ungkapan yang dominan
positif. Seorang ahli mengatakan, antara dampak positif dan negatif
harusnya ber perbandingan 5 : 1. Tidak ada salahnya royal memberi pujian
pada individu yang memang kita tahu berupaya, bekerja keras dan pantas
menerimanya. Dengan begini suasana 'person to person' bisa dijaga.

*Banyak Melayani*
Kita sebagai manusia sering mempunyai rasa gengsi juga, sehingga terbiasa
untuk bersikap pasif dan 'menunggu'. Padahal, apa yang kita harapkan bila
kita pasif? Kita tahu benar betapa hubungan antar manusia itu selalu timbal
balik. Ada yang mengatakan: "Bila ingin dicintai, berikan cintamu terlebih
dahulu". Hal ini juga berlaku di setiap situasi. Selama kita hidup, emosi
tidak akan ada habisnya. Itu sebabnya, kepedulian kita ke anak buah dan
lingkungan sekitar perlu kita latih dan praktekkan. Hal yang sederhana,
seperti ulang tahun, perkawinan, dan kematian orang orang di sekitar kita,
bisa kita 'ikuti' dengan lebih intensif. Ini adalah latihan kita untuk
lebih '*care*', lebih bersentuhan emosi dengan orang sekitar. Hal ini bisa
dianggap sepele oleh sebagian orang, namun dalam kenyataannya, pemimpin
yang  banyak mengenal keluarga anak buah biasanya lebih disukai dan
didukung oleh anak buahnya. Inilah dampak dari '*personal touch*'-nya.

Seorang pakar manajemen dari Harvard mengatakan bahwa orang yang 'kalah
power' biasanya lebih peka terhadap kesenjangan yang ada dalam '*values*'
yang dianut para pimpinan dan juga lebih jeli melihat kebiasaan-kebiasaan
mereka. Jadi, kita sebetulnya perlu juga memberi gambaran kepada orang lain
tentang '*value*' yang kita anut. Kitalah yang perlu aktif meminta tolong,
meminta *feedback*, meminta orang lain untuk berpartisipasi. Kedudukan
seseorang sebagai pimpinan tidak perlu menghentikan seseorang dari meminta
dan melayani. Atasan atau pimpinan bisa berbuat salah, tetapi bila sudah
ada keterbukaan, dan hubungan yang dirasakan 'pribadi' , maka bawahan pun
akan berempati terhadap sukses dan gagalnya. Jadi, transparansi adalah
prinsip utama dalam peningkatan *'personal touch'* di organisasi.
Transparansi dalam belajar, beremosi dan berkebiasaan.








*EXPERD CONSULTANT Adding value to business results Kemang 89 Building, 3rd
- 4th Floor Jl. Kemang Raya No. 89, Jakarta 12730 Telp. 021-718 0805 Fax.
021-718 3101 *












-- 
*".... I am the KING to my own UNIVERSE that Rule my MIND, BODY and SOUL
!!! ...." *

*- Aga Madjid -*

-- 
-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

--- 
You received this message because you are subscribed to the Google Groups 
"aga-madjid" group.
To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an email 
to [email protected].
For more options, visit https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke