*Eileen Rachman & Emilia Jacob*
*EXPERD*
*Character Building Training*

*Dimuat di Kompas, 03 Mei 2014*

Kita semua rasanya masih terhenyak, dengan berita kasus kekerasan seksual
yang mencuat 2 minggu ini, di sebuah sekolah yang dikenal sangat ketat
pengawasannya. Reaksi media, masyarakat dan media sosial yang bermuatan
emosi, terasa simpang siur dan kerap membuat kita semakin bingung. Pihak
otoritas dan pakar pun terasa lebih bernuansa adu retorika, sehingga kita
seolah menonton film horor yang tidak berujung. Kita jadi bertanya-tanya,
apa yang terjadi pada ‘*awareness*’, kewaspadaan, sumpah profesi dari para
pendidik, penguasa, “pengusaha” pendidikan, yang sehari-hari menangani dan
mendidik anak? Mengapa pemberitahuan ke orang tua murid terlambat, seolah
hal ini tidak urgen? Mengapa yang ditekankan oleh para pembuat aturan
justru hal-hal yang tidak berkenaan dengan bahaya dan penderitaan anak?
Mengapa tiba-tiba kita melihat bahwa kepedulian menjadi tumpul, justru di
lembaga di mana anak tumbuh dan belajar membedakan baik dan buruk? Lalu,
apakah kita tidak bisa bersikap tegas, menyatakan niat memerangi kejahatan
ini, sampai titik darah penghabisan? Ke mana hati nurani yang mendasari
kebijakan keputusan kita sebagai profesional?

Albert Einstein mengatakan, “*The world is a dangerous place to live, not
because of the people who are evil, but because of the people who don't do
anything about it.” *Jadi, mengambangkan masalah, membiarkan sebuah masalah
berkepanjangan, berlarut-larut apalagi mendiamkan, adalah suatu kesalahan
profesi yang sangat besar. Ketika kita merasa geram, melihat orang tidak
bertindak saat menemui pelanggaran hak maupun etika, ada baiknya kita juga
melakukan refleksi pada diri kita sendiri. Apakah kita melakukan intervensi
ketika melihat senior yang melakukan perploncoan di luar batas kepada para
juniornya? Apakah kita diam saja saat melihat ada rekan kerja yang mencuri
ide rekan lainnya, dan sang korban tidak kuasa menyuarakan ketidakadilan
yang dialaminya? Bagaimana sikap kita bila melihat ada informasi yang tidak
dikelola secara transparan? Apakah kita menutup mata saat mengetahui ada
informasi diputarbalikkan atau bila ada pihak yang tidak bersalah namun
dijadikan kambing hitam karena kegagalan yang dilakukan oleh pihak lain?
Sebagai professional di dunia kerja, dari waktu ke waktu, kita tentu
dihadapkan pada ujian untuk menegakkan etika dan integritas juga. Kita
jelas juga perlu melatih untuk “mengambil sikap”, bila kita memang ingin
memperkuat profesionalisme, juga kepemimpinan kita.

*Keberanian Angkat Bicara*
Kita bisa tidak mengambil sikap karena berbagai alasan. Kita tahu begitu
banyak kasus kekerasan dalam rumah tangga yang tidak dilaporkan, karena
pelakunya adalah orang yang disayangi atau orang yang ia kagumi. Orang
kadang merasa lebih baik tutup mulut, daripada melaporkan sikap tidak etis
yang dilakukan oleh guru atau sosok yang punya nama baik di lingkungan.
Kita sendiri pun, mungkin bisa saja menyetujui perintah untuk
menandatangani dokumen yang “salah”, karena khawatir kehilangan pekerjaan
yang menghidupi keluarga kita. Bila pimpinan kita sendiri yang berbuat
curang atau bersikap tidak adil, kita kerap enggan bersuara karena takut
dianggap berkhianat. Tidak jarang, alasan untuk tidak melapor, tidak
bersuara, tidak mengambil sikap adalah karena kita tidak mau terlibat
terlalu jauh di dalamnya. Ini semua bukti betapa mengungkapkan kebenaran
itu tidak selamanya mudah. Ungkapan ‘don’t kill the messenger’ membuktikan
betapa sering orang yang mengungkapkan kebenaran justru dipersalahkan. Bisa
kita bayangkan, betapa besarnya konflik yang dialami para ‘*whistleblowers*’,
seperti kasus Enron lalu, ketika mereka kemudian mengungkapkan fakta dan
kebenaran ke muka publik.

Masyarakat sesungguhnya sangat menghargai saat seorang professional,
pemimpin, pemegang otoritas tidak menyalahkan pihak lain, tidak diam saja,
dan justeru  secara terbuka menyatakan, “saya salah”, “saya minta maaf”
atau “saya bertanggung jawab”. Kita bisa melihat ada tokoh seperti Perdana
Menteri Korea Selatan, yang mengundurkan diri karena kesalahan kapten kapal
Sewul. Masyarakat, tidak malah kemudian mencela tokoh ini, bukan?
Masyarakat malah kemudian menilai bahwa perdana menteri ini berpihak pada
kebenaran. Kita, sebagai penonton, pastilah bernafas lega bisa menyaksikan
ketegasan, kejantanan sikap dan pembedaan benar- salah yang tegas. Kita
bisa melihat bahwa dibutuhkan keberanian besar untuk bersikap, dan inilah
yang sebetulnya akan menegaskan profesionalisme kita.

*Dilema Profesionalisme*
Kita tahu tidak semua situasi bisa dituangkan secara “hitam-putih”. Kita
bisa mem-PHK karyawan yang mencuri barang, namun bagaimana dengan karyawan
yang mencuri ide? Bila kesalahan dilakukan oleh pihak yang punya “power”,
apakah kebenaran akan diungkapkan? Dalam situasi di mana kebingungan
terjadi, bisa kita bayangkan sorot mata orang di sekitar kita yang menunggu
sikap pemimpin atau profesional mengenai situasinya. Bila situasi terlalu
kompleks, tidak ada rumusnya, tidak bisa diselesaikan dengan panduan SOP
(Standard of Procedures), sebetulnya masih ada kode etik yang kita bacakan
saat wisuda atau dilantik dulu. Kalau kode etik tidak menggariskan apa-apa,
masih ada hati nurani yang bisa membimbing pilihan kita.

Dalam film Cinderella Man, yang diangkat dari kisah nyata kehidupan juara
dunia tinju kelas berat James Braddock, terdapat sebuah adegan yang sungguh
mengharukan, yaitu saat seorang anaknya mencuri daging untuk keluarganya
yang kelaparan. Pemilik toko sebetulnya tidak menyadari dagingnya dicuri.
Apa yang dilakukan Braddock sebagai ayah? Ia membawa anaknya untuk
mengembalikan daging tersebut, meminta anaknya mengakui kesalahannya, namun
tidak menghukum si anak dan tetap menunjukkan rasa cintanya yang besar pada
anaknya. Dengan tegas ia berkata, “Sesulit apapun situasi kita, kita tidak
mencuri.” Standar yang jelas seperti inilah yang juga perlu dinyatakan oleh
para pemimpin dalam organisasi, untuk memandu sikap dari anggota timnya.

Kita akan melihat betapa tingkat professionalitas dan kehebatan seseorang
sebagai pemimpin justru dinilai dari keberaniannya mengambil sikap dalam
situasi dilematis. Mengapa? Karena dalam dilemma  inilah individu
menggunakan pengetahuan, ketrampilan dan pertimbangan-pertimbangan moralnya
dalam mencari data dan membuat keputusan. Harga profesional dan
kepemimpinan kita justru terletak pada seberapa kuat kita membuat
pilihan-pilihan berat dengan penuh kesadaran akan konsekuensinya. Kita
perlu menunjukkan prinsip kita, dan tahu yang mana yang berarti untuk
diperjuangkan. Memilih sikap untuk berpihak pada kebenaran, misalnya
melaporkan anggota tim yang melakukan kesalahan, bukanlah bentuk
pengingkaran pada cinta, malah sebaliknya meneguhkan cinta kita pada
profesi, pada kebenaran. Kalimat bijak ini, ada baiknya selalu kita ingat:

*“Washing one’s hands of the conflict between the powerful and the
powerless means to side with the powerful, not to be neutral” – Paulo
Freire.*










*EXPERD CONSULTANT Adding value to business results Kemang 89 Building, 3rd
- 4th Floor Jl. Kemang Raya No. 89, Jakarta 12730 Telp. 021-718 0805 Fax.
021-718 3101 *

*http://www.experd.com <http://www.experd.com/>*

*http://experdfresh.com <http://www.experd.com/>*

















-- 
*".... I am the KING to my own UNIVERSE that Rule my MIND, BODY and SOUL
!!! ...." *

*- Aga Madjid -*

-- 
-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

--- 
You received this message because you are subscribed to the Google Groups 
"aga-madjid" group.
To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an email 
to [email protected].
For more options, visit https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke