Antara Peluang Bisnis Gula Dan Kesejahteraan Petani Gula

Gula termasuk kedalam salah satu kebutuhan sembilan bahan pokok. 
Gula 
juga merupakan komoditas primer mayarakat dan sulit untuk 
mendapatkan 
subtitusinya, sehingga permintaan akan gula ini akan selalu ada dan 
cenderung meningkat. Pada tahun 2004 kebutuhan konsumsi gula untuk 
industri makanan dan rumah tangga mencapai 3,5 juta ton. Namun 
kebutuhan 
yang terpenuhi baru 55%, atau dengan kata lain kebutuhan yang masih 
belum terpenuhi masih 45 % dari kebutuhan nasional. Seharusnya 
dengan 
melihat begitu banyak kebutuhan yang masih belum tercukupi, 
sedangkan 
permintaan akan gula tersebut akan terus meningkat, usaha perkebunan 
tebu sebagai bahan baku gula memiliki prospek yang sangat cerah, 
tetapi 
petani masih saja belum sejahtera. Mengapa? 
Salah satu indikator kesejahteraan petani adalah Indeks Nilai Tukar 
Petani (NTP). NTP adalah perbandingan antara indeks yang harus 
dibayar 
petani dengan indeks nilai tukar yang diterima oleh petani. Indeks 
tersebut juga berlaku untuk para petani gula. Selama ini, nilai NTP 
para 
petani, khususnya di lima Propinsi, yakni NAD, Sumatera Utara, 
Sumatera 
Barat, NTB, dan Lampung masih dibawah 100 (BPS). Laju kenaikan harga 
kebutuhan petani, baik kebutuhan pokok atau kebutuhan input 
pertanian 
pergerakannya jauh lebih cepat dibanding kenaikan output yang 
dihasilkan, sehingga menurunkan daya beli petani. Menurut data BPS 
yang 
terakhir, di ke-lima Propinsi tersebut, tingkat kesejahteraan petani 
lebih rendah dibanding tahun dasar (1993), misalnya, bila pada tahun 
1993 petani tersebut dapat membeli 10 liter beras dari hasil 
penjualan 
panennya, kini petani hanya mampu membeli 5 liter beras saja, bahkan 
kurang akibat menurunnya daya beli mereka. Sumber pendapatan dari 
para 
petani gula umumnya hanyalah dari bertani gula. Jika dilihat dari 
besarnya peluang pasar seharusnya akan memotivasi para petani gula 
untuk 
meningkatkan produktivitasnya, namun yang terjadi adalah sebaliknya. 
Nur Hidayati (Kompas 10/07 2004) mengemukakan bahwa pasokan utama 
dari 
bahan baku industri gula di Pulau Jawa adalah Tebu Rakyat berskala 
kecil 
saat ini masih mencapai 67% dari produksi tebu nasional. Sensus 
Pertanian 2003 menunjukkan bahwa jumlah petani bertambah 2,2 persen, 
tetapi pada waktu yang sama jumlah petani dengan garapan lahan 
sekitar 
kurang dari 0,5 hektar pun bertambah 2,6 persen per tahun. Ini 
berarti 
petani yang sebelumnya tidak digolongkan petani gurem merosot dengan 
lahan garapan yang kian menciut. Dengan luas lahan tersebut jumlah 
produksi yang dihasilkan hanya sekitar 1,35 ton dalam sekali musim 
tanam. Pendapatan petani dengan luas garapan tersebut hanya sebesar 
Rp 
3.5 juta dengan biaya produksinya sebesar Rp 250.000. sehingga 
pendapatan rata – rata petani per bulannya hanya sebesar Rp 400.000. 
yang jika digunakan untuk biaya hidup satu bulan tidak mencukupi. 
Untuk 
menekan biaya produksi tersebut, maka petani gula menerapkan sistem 
kepras, namu sistem ini mengakibatkan produksi terus menurun, 
sedangkan 
biaya produksi tetap tinggi. 
Tingginya biaya produksi menyebabkan petani tidak dapat membeli 
varietas 
dan pupuk yang baik. Akhirnya untuk menekan biaya produksi tersebut 
para 
petani menggunakan bibit asalan yang menyebabkan kualitas dan 
kuantitas 
tebu menurun. Rendahnya kualitas tebu tersebut mengakibatkan harga 
tebu 
rendah dan kualitas gula menjadi rendah. Rendahnya kuantitas akibat 
penurunan produktivitas sementara kebutuhan dan permintaan akan gula 
tersebut tinggi mengakibatkan Indonesia tidak memiliki pilihan lain, 
kecuali mengimpor gula. 
Siswono Yudo Husodo, Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani (HKTI), 
memperhitungkan kebutuhan gula ini akan terus meningkat, sedangkan 
potensi produksi gula dalam negeri tidak dapat memenuhi permintaan 
yang 
kian tinggi. Mau tidak mau pemerintah harus mengimpor gula guna 
memenuhi 
permintaan. Namun disisi lain impor gula tersebut memberikan tekanan 
tersendiri bagi para petani gula Indonesia . Petani kita tidak mampu 
bersaing dengan gula impor, baik dari segi harga maupun kualitas. 
Harga 
gula impor hingga bongkar muat masih dibawah Rp 2800 per kilogram, 
sementara petani kita tidak mampu memasang harga serendah itu, 
apalagi 
dibawah harga impor, karena biaya produksi gula dalam negeri diatas 
harga gula impor tersebut, yakni sebesar Rp 3100 – Rp 3200 per 
kilogramnya. Ketua Gapperindo, Agus Pakpahan mencatat biaya produksi 
gula rata – rata dunia dalam kurs rupiah senilai Rp 2340. Bila 
dibandingkan dengan biaya produksi gula lokal yang cukup tinggi, 
maka 
harga gula nasional tidak dapat bersaing dengan gula impor. Ditambah 
lagi, murahnya harga gula impor dibanding harga lokal membuat 
membuat 
praktik gula illegal makin semarak. Seperti belum lama ini kita 
disuguhi 
berita tentang INKUD yang mengimpor gula illegal sebanyak 73.259 ton 
(Bisnis Indonesia 28 Juni 2004). Hal tersebut membuat petani gula 
kita 
semakin tertindas. 
Sempitnya lahan, produktivitas dan kualitas rendah, biaya produksi 
yang 
lebih tinggi dari harga pasar membuat petani membayar lebih besar 
daripada yang ia peroleh. Belum lagi gula impor dan gula impor 
illegal 
yang terus menekan harga gula semakin membuat kata "sejahtera" 
menjauh 
dari petani. Ironisnya, justru tingginya permintaan dan terbatasnya 
barang yang menurut ilmu ekonomi dapat menjadi peluang justru malah 
membuat kesejahteraan petani semakin merosot. (Farida Nur Latifah).








REKOMENDASI MILIS:
http://groups.yahoo.com/group/hatihatilah
http://groups.yahoo.com/group/relasimania
http://groups.yahoo.com/group/ebookmaniak
http://groups.yahoo.com/group/agromania
http://groups.yahoo.com/group/katasibijak
http://groups.yahoo.com/group/agromania
http://groups.yahoo.com/group/indogitar
http://groups.yahoo.com/group/sukasukamu
http://groups.yahoo.com/group/indowanted 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/agromania/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke