Pertarungan bisnis padi hibrida mulai marak

Penyempitan lahan, berkurangnya tenaga kerja usia muda di sektor pertanian 
serta permintaan beras yang bertambah seiring dengan pertambahan penduduk, 
memaksa bangsa ini harus memutar otak menemukan solusi untuk memenuhi pangan 
warga bangsa ini. Apalagi jika perluasan lahan dan produktivitas benih padi 
konvensional terseok-seok di belakang permintaan.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pada acara Panen Raya Padi musim tanam 
2005-2006 di Kabupaten Buru, Provinsi Maluku, 18 Maret 2006, mengatakan 
konsumsi beras per kapita penduduk Indonesia, pada 2005 mencapai 139 kg per 
kapita per tahun perorang. Artinya mengkonsumsi rata-rata 139 kg. Hal itu 
menunjukkan angka konsumsi beras yang meningkat cukup tinggi, tentu 
dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Kebutuhan yang besar itu sangat 
menggembirakan para petani karena hasil jerih payah mereka akan laku dijual. 
Namun, kebutuhan yang terus meningkat itu, tidak selalu dapat diimbangi oleh 
para petani. "Mengingat luas lahan untuk bertani sulit untuk bertambah, betul 
apa betul? Betul sekali jawabannya."

Menurut dia, jumlah lahan pertanian semakin hari semakin berkurang. Untuk 
itulah perlu menerapkan cara-cara bercocok tanam yang efektif dengan 
menggunakan teknologi pertanian. Di negara lain produktivitas itu tinggi, 
padahal daerah-daerah persawahan juga tidak terlalu luas. "Kita harus memadukan 
lahan yang tersedia, teknologi yang tepat, kemudian cara bercocok tanam yang 
tepat pula. Itulah pentingnya petugas penyuluh lapangan yang harus bekerja di 
seluruh Tanah Air. Dengan teknologi yang maju, kita dapat melipatgandakan hasil 
pertanian tanpa harus menambah lahan."

Kerisauan itulah yang mungkin ditangkap oleh para pengusaha yang bergerak di 
sektor pertanian di negeri ini. Kini, tanpa disadari, perkembangan usaha bisnis 
padi hibrida, mulai terlihat. Beberapa waktu lalu, Kepala Badan Penelitian dan 
Pengembangan (Badan Litbang) Deptan Achmad Suryana mengakui pengembangan padi 
hibrida di Indonesia tergolong kecil dibandingkan dengan sejumlah negara lain. 
"Di China, hampir 50% dari areal yang ada sudah ditanami padi hibrida."

Di Indonesia penanaman benih padi hibrida masih kecil dan terpencar di berbagai 
daerah. Padahal, apabila ada pertambahan penggunaan benih padi hibrida, 
produksi bisa meningkat. "Dari penelitian dan kajian yang ada, benih padi 
hibrida bisa memiliki produktivitas hingga 15% di atas benih biasa."  Di China, 
padi hibrida mampu memproduksi sekitar 22 juta ton gabah lebih banyak untuk 
luas lahan yang sama. Sekaligus menghemat hampir empat juta hektare lahan yang 
dapat digunakan untuk keperluan lain, seperti budi daya tanaman alternatif atau 
kawasan perlindungan alam.

Mulai berkiprah
Kini, kiprah sejumlah perusahaan swasta di Indonesia, mulai menjajaki bisnis di 
benih tersebut. Awalnya, ada tiga perusahaan yang menyatakan berminat untuk 
memproduksi benih padi hibrida. Ketiga perusahaan itu Syngenta, DuPont, dan PT 
Karya Beras Mandiri. Suryana mengatakan untuk Syngenta dan PT Karya Beras 
Mandiri akan memproduksi dua varietas padi hibrida yaitu Hipa 3 dan Hipa 4 yang 
sudah dikeluarkan 2003.

Kini, DuPont Indonesia pun masuk dengan varietas PP1 yang menghasilkan 11,8 
hingga 11,9 ton padi per hektare atau lebih banyak 20% hingga 25% dibandingkan 
jenis IR 65. General Manajer Seed PT DuPont Indonesia Mardahana mengatakan 
varietas PP1 memiliki malai panjang dan penuh serta memiliki bulir dan padi 
yang banyak. Selain itu, juga mengandung keseragaman tanaman yang bagus. "Tahun 
ini PT DuPont akan memproduksi sekitar 80 ton-100 ton benih. Pemasaran akan 
dimulai awal 2007."

Bayer BioScience Indonesia pun tidak mau kalah. Kendati terkesan diam-diam, 
mereka kini meluncurkan hibrida varietas Arize Hibrindo 1 yang dipanen dengan 
hasil 13,4 ton/ha gabah kering panen (GKP). Sidi Asmono, Manager Bayer 
BioScience Indonesia, mengatakan varietas padi hibrida Arize Hibrindo R-1 
memiliki karakteristik utama potensi produksi 10 -12 ton/ha GKP, toleran 
terhadap hama dan penyakit serta kualitas nasi enak, pulen dan wangi.

"Saat ini, selain di propinsi Gorontalo, Arize Hibrindo R-1 telah 
disosialisasikan di sentra-sentra produksi padi, baik provinsi di Jawa Timur 
maupun Jawa Barat."  Hal sama dilakukan PT Sang Hyang Seri. BUMN ini 
meluncurkan SL 8 SHS dan SL 11 SHS. Sebelumnya, mereka telah meluncurkan 
varietas Maro dan Rokan pada 2002.

Kita terasa lambat. Di China, pemakaian padi hibrida sudah hampir 50% dari 
areal ditanami padi hibrida. Saat ini, padi itu ditanam di 15 juta hektare 
lahan di China (dari total 30 juta hektare lahan padi) dan menghasilkan 1,5 ton 
per hektare gabah lebih banyak daripada varietas HYV pada lahan dengan irigasi. 
China negara pertama yang berhasil mengembangkan dan mengkomersialisasikan 
teknologi ini pada 1976, di bawah pimpinan Yuan Long Ping, yang diakui sebagai 
Bapak Padi Hibrida.

Tapi, menurut Institut Riset Padi Internasional (IRRI)-yang mengembangkan padi 
hibrida untuk daerah tropis sejak 1979-lebih dari 20 negara mengembangkan 
teknologi ini, bahkan ada yang melalui kerja sama dengan IRRI dan China. "Untuk 
meningkatkan hasil panen padi," papar Sant. S. Virmani, Wakil Kepala Divisi 
Penyilangan Tanaman, Genetika, dan Biokimia IRRI, seperti dikutip Rice Today.

oleh: Martin Sihombing
Rabu, 09/08/2006 10:59 WIB
© Copyright 1996-2004 PT Jurnalindo Aksara Grafika






REKOMENDASI MILIS:
http://groups.yahoo.com/group/hatihatilah
http://groups.yahoo.com/group/relasimania
http://groups.yahoo.com/group/ebookmaniak
http://groups.yahoo.com/group/agromania
http://groups.yahoo.com/group/katasibijak
http://groups.yahoo.com/group/mobilemaniak
http://groups.yahoo.com/group/indogitar
http://groups.yahoo.com/group/sukasukamu
http://groups.yahoo.com/group/satuXsatu

TIPS PENCARIAN DI GOOGLE:  daftar alamat pembeli agrobisnis / agribisnis, 
daftar alamat penjual dan pembeli Indonesia dan mancanegara, diskusi dan teori 
agribisnis, cara melakukan ekspor, buah-buahan, sayur-sayuran, ternak, kebun, 
taman, tanaman, tanaman obat (herbal), mesin pengolahan, mesin pertanian, 
makanan, minuman, ikan hias, hutan, pupuk, ikan, ikan laut, benih, biji, 
kacang-kacangan, daging, rempah-rempah, budidaya, hidroponik, hortikultura, 
sapi, ayam, burung, kambing, sawit, minyak sawit, bonsai, walet, anggrek, 
minyak atsiri, udang, kayu, lada, vanili, kopi, coklat, kacang, nilam, markisa, 
durian, lebah madu, pisang, bekicot, salak, ubi kayu, jagung, karet, eksportir 
/ importir, penjual / pembeli, waralabais (pengusaha waralaba), produsen, 
wiraswasta, petani, informasi jasa, iklan produk agribisnis, informasi lowongan 
bidang agrobisnis, forum diskusi, konsultasi, daftar alamat, informasi harga, 
pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan, kehutanan, agroindustri, agro 
indonesia. 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/agromania/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke