Mohon info dari teman2 milis agromania tentang SENGON PUTIH dan MAHONI UGANDA.
qitanonq <[EMAIL PROTECTED]> wrote: BAB I. PENDAHULUAN
Pinus merkusii dengan nama daerah tusam banyak dijumpai tumbuh di
belahan bumi bagian
selatan. Pohon bertajuk lebat, berbentuk kerucut mempunyai perakaran
cukup dalam dan
kuat. Walaupun jenis ini dapat tumbuh pada berbagai ketinggian
tempat, bahkan
mendekati 0 meter di atas permukaan air laut, dengan tempat tumbuh
yang terbaik pada
ketinggian tempat antara 400 1500 m dpl, pada tipe iklim A dan B
menurut Schmidt
Ferguson, pada curah hujan sekurang-kurangnya 2000 mm/tahun tanpa
dengan jumlah
bulan kering 0 3 bulan.
Jenis ini dapat tumbuh pada berbagai tipe jenis tanah dengan lapisan
tanah yang
tebal/dalam, pH tanah asam dan mengendaki tekstur tanah ringan
sampai sedang.
Manfaat jenis pohon ini cukup banyak. Kayunya dapat digunakan
sebagai bahan bangunan
ringan, peti, korek api, bahan baku kertas dan vinir/kayu lapis.
Pada umur 10 tahun, pohon sudah dapat disadap getahnya. Dari getah
Pinus dapat dibuat
gondorukem dan terpentin. Gondorukem digunakan dalam industri batik
sedang terpentin
digunakan sebagai pelarut minyak cat dan lak.
BAB II. PEMBUATAN BIBIT
1. Pengadaan biji
Biji Pinus merkusii akan mempunyai viabilitas dan daya kecambah
tinggi, apabila diambil
dari kerucut yang sudah masak dengan ciri-ciri berwarna hijau
kecoklatan dan sisik
kerucut yang telah mulai melebar kebiruan sedikit. Pengumpulan buah
dapat dilakukan
setiap tahun, karena berbuahnya setiap tahun. Biji kering berisi
antara 45.000 60.000
butir setiap kilogramnya.
Sebellum ditabur sebaiknya dilakukan seleksi biji. Biji yang baik
mempunyai ciri-ciri
warna kulit bij kuning kecoklatan dengan bintik-bintik hitam, agar
bentuk biji bulat,
padat dan tidak mengkerut. Untuk menyeleksi biji yang biasa juga
digunakan cara
perendaman. Biji yang akan digunakan sebagi bibit direndam dalam air
dan benih yang
tenggelam saja menandakan biji baik. Lama biji direndam air dingin
3 4 jam sebelum
ditabur.
2. Penaburan biji
Pada kegiatan ini yang perlu diperhatikan adalah bahan media tabur
yang akan
digunakan hendaknya mempunyai persyaratan sebagai berikut :
Bebas dari hama-penyakit (steril)
Cukup sarang
Dapat merangsang proses perkecambahan
Sesuai persyaratan di atas, maka bahan campuran berupa pasir yang
berukuran ± 2 mm
dan tanah (humus) halus dapat digunakan sebagai media tabur. Tanah
dan pasir
perbandingan 1 : 2. Selanjutnya campuran ini disterilkan dengan cara
digoreng 4 6
jam dan dijemur diterik matahari.
Media yang sudah siap digunakan dimasukkan ke dalam bak plastik
setinggi ± 5 cm.
Bak diletakkan di atas rak-rak di dalam bedeng penaburan atau ruang
kaca. Benih-benih
yang terpilih, kemudian dihamburkan di bak tabur, selanjutnya
ditutup dengan bahan
media tabur kira-kira sama dengan tebal benih yang ditabur.
Setelah 10 15 hari dari saat penaburan, benih akan berkecambah.
Proses
perkecambahan berlangsung sampai satu bulan.
3. Penyapihan
Sebelum dilakukan penyapihan terlebih dahulu disiapkan kantong
plastik yang berisi
media tumbuh. Pinus merkusii adalah jenis tanaman yang melakukan
simbiose dengan
jamur/mikorhiza. Penularan mikorihiza yang paling baik ialah pada
waktu pencampuran
media tumbuh. Untuk itu, dalam setiap kantong plastik media tumbuh
harus dicampur
dengan tanah humus yang berasal dari bawah tegakan tua Pinus
merkusii.
Media tumbuh untuk jenis tanaman ini yang paling baik adalah
campuran dari tanah,
pasir dan kompos dengan perbandingan 7 : 2 : 1 dengan penambahan
pupuk NPK
sebanyak 0,25 gram setiap kantong yang berisi 300 gram media.
Setelah bibit berumur 5 8 minggu di bak tabur kemudian dilakukan
penyapihan. Pada
saat ini kulit biji sudah terlepas dari kecambah dan bibit telah
memiliki daun jarum
pertama.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyapihan bibit antara
lain :
Semai ditanam berdiri tegak lurus
Akar tidak boleh terlipat
Hindarkan semai dari kerusakan
Lakukan penyapihan pada tempat yang teduh
4. Pemeliharaan
Dalam kegiatan ini perlu dilakukan penyiraman semai secara hati-
hati, dan untuk
menghindarkan damping off perlu dilakukan penyemprotan dengan
fungisida.
Upayakan agar bibit selama dipersemaian bebas dari gangguan rumput-
rumput liar,
erangga maupun penyakit. Untuk itu kebersihan persemaian sangat
menunjang
keberhasilan bibit yang disapih.
Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam kegiatan ini antara
lain :
Naungan untuk menjaga kelembaban, menahan percikan air hujan dan
mengurangi penguapan.
Penyiraman secara teratur, setiap hari satu kali pagi hari dan sore
hari.
Pemupukan dengan NPK dengan interval 2 minggu sekali.
Penyulaman pada kantong plastik yang mati bibitnya atau
pertumbuhannya jelek
segera dilakukan.
Perumputan apabila rumput atau tumbuhan liar lainnya mengganggu
pertumbuhan tanaman muda.
Akar-akar yang keluar dari lubang kantong agar dipotong.
BAB III. PEMBUATAN TANAMAN
1. Persiapan lapangan
Sebelum melaksanakan penanaman, perlu dilakukan pekerjaan persiapan,
antara lain :
Pembersihan lapangan dari tumbuhan pengganggu, seperti alang-alang,
semak
belukar, dan lain-lain.
Pengolahan tanah (manual/mekanik). Dalam pengolahan tanah pada lahan
miring hendaknya memperhatikan kaidah pengawetan tanah agar
dihindarkan
erosi yang berlebihan.
Pemasangan acir tanaman pada lahan miring sejajar garis kontour.
Pembuatan lubang tanaman.
Pembuatan bibit agar diusahakan seaman mungkin dan semurah mungkin.
Apabila
pengangkutan tidak hati-hati maka kerusakan bibit membawa kerugian
yang cukup
besar. Oleh karena itu jumlah bibit yang diangkut disesuaikan dengan
kemampuan
menanam regu tanam. Hal ini untuk menghindarkan penumpukan bibit di
lapangan.
2. Penanaman
Pada saat bibit akan ditanam, kantong plastik dilepas secara hati-
hati supaya media
tumbuh tetap utuh. Kemudian bibit dimasukkan ke dalam lubang yang
telah disiapkan.
Lubang yang telah berisi bibit ditutup kembali dengan tanah galian
dan dipadatkan di
sekitar leher akar. Harus diupayakan agar bibit tetap tegak.
Penanaman bibit dilakukan pada permulaan musim penghujan, setelah
curah hujan
cukup merata. Sistem penanaman dapat dilakukan dengan tumpangsari
atau tanpa
tumpang sari. Tanaman sela yang digunakan disesuaikan dengan tempat
tumbuhnya.
3. Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman dilakukan dengan maksud agar tanaman muda mampu
tumbuh
menjadi tegakan akhir dengan kerapatan dan tingkat pertumbuhan yang
diharapkan.
Kegiatan pemeliharaan meliputi :
a)
Penyulaman dilakukan apabila dijumpai adanya kematian bibit setelah
satu bulan
setelah satu bulan selesai penanaman, segera dilakukan penyulaman.
Penyulaman
ini terus dilakukan sampai jumlah tanaman muda cukup sesuai dengan
kerapatan
tegakan yang dipersyaratkan. Penyulaman ini sebaiknya dilaksanakan
pada
pertengahan musim penghujan.
b)
Penyiangan gulma dan tumbuhan lain yang mengganggu tanaman muda
segera
dilakukan, agar bebas dari persaingan untuk mendapatkan cahaya dan
unsur hara
dari dalam tanah.
c)
Pendangiran hanya dilakukan bilamana kondisi tanah yang padat atau
berdrainase
jelek. Dengan catat mendangir di sekitar piringan dengan berjari-
jari 0,5 meter.
Dan dilaksanakan bersamaan waktunya dengan penyiangan.
d)
Pemberantasan hama dan penyakit. Tindakan yang paling menguntungkan
dari
kegiatan ini adalah mencegah penularan hama dan penyakit yang
menyerang
tanaman muda. Cara pencegahannya antara lain dengan cara fisik atau
cara
kimiawi. Namun demikian harus selalu diupayakan agar nilai ambang
ekonominya
tidak terlalu membahayakan tanaman.
e)
Penjarangan. Dimaksudkan untuk memberi ruang tumbuh yang lebih baik
bagi
tegakan selanjutnya, sehingga mutu tegakan dan volume tegakan
menjadi
meningkat. Pohon yang tertekan terserang hama dan penyakit, batang
pokok
bengkok, menggarpu, dibuang dalam penjarangan. Saat penjarangan
tegakan
tergantung pada kerapatan tegakan, kesuburan tanah dan sifat
pertumbuhan dari
pohon. Tepatnya beberapa saat setelah tajuk saling bersinggungan.
f)
Pengendalian api dan kebakaran. Pinus merkusii sangat peka terhadap
api. Sekali
terjadi kebakaran, tanaman muda akan musnah. Hal ini disebabkan pada
batang
jenis tanaman ini banyak mengandung getah (damar). Tindakan
pencegahan
secara dini dapat dilakukan antara lain :
i. Membuat jalur sekat, jalur hijau secara jelas dan tegas.
ii. Pembentukan satuan tugas pengendali kebakaran dan mengaktifkan
ronda api.
iii.
Pembuatan sistem komunikasi yang menjangkau seluruh areal dan
sekitarnya.
BAB IV. PEMUNGUTAN HASIL
Pada umur 10 tahun, Pinus merkusii mulai dapat dipungut getahnya.
Penebangan untuk
tujuan kayu pertukangan sebaiknya dilakukan apabila tegakan telah
mencapai umur 30
tahun dengan taksiran produksi kayu tebal sebanyak 238 322 m3/ha.
Sedangkan untuk
tujuan kayu pulp dipergunakan daur 10 15 tahun.
Sistem pemungutan hasil yang digunakan dalam pengelolaan HTI Pinus
merkusii adalah
Sistem Tebang Habis dengan Permudaan Buatan.
Disalin dari : Departemen Kehutanan Direktorat Jenderal Reboisasi
dan Rehabilitasi Lahan. Teknik
Pembuatan Tanaman Pinus merkusii. Direktorat Hutan Tanaman Industri.
Mare 1990.
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]