Unggas Dibantai, Peternak Gontai        
  
Walau sudah menjelang sepuh, Eko Warkadihardja masih gesit mengurus 
ayamnya. Lelaki 70 

tahun itu saban hari membersihkan kandang ayamnya di Jalan Gandaria 
3, Jakarta Selatan. 

Menyemprot kandang dengan disinfektan dua pekan sekali. Ia pun 
memvaksin ternak 

piaraannya secara teratur.

Di luar itu, Warkadihardja membuat jamu ayam yang diramunya sendiri. 
Bahannya, beras 

kencur, bawang putih, kunyit, temu lawak, lengkuas, jahe, daun 
sirih, tepung kayu manis, 

tetes tebu, dan daun mahkota dewa. Ayamnya diberi jamu dua kali 
sebulan. "Agar kebal 

dari serangan virus," kata Warkadihardja kepada Rosmiyati Dewi Kandi 
dari Gatra.

Toh, jamu super itu tak kuasa melawan flu burung yang sedang 
mewabah. Usaha peternakan 

ayam yang dirintisnya sejak 1971 itu kini terus menyusut. Jumlah 
ayamnya, yang pernah 

mencapai 3.200 ekor, sekarang tinggal 1.700 ekor. Bukan karena 
ternaknya terserang flu 

burung, melainkan lebih karena kondisi usaha yang tak nyaman.

"Gara-gara flu burung, orang enggak bisa usaha ayam karena takut," 
ujarnya masygul. 

Apalagi, sejak Kamis pekan lalu, pemerintah mengeluarkan larangan 
memelihara unggas di 

kawasan permukiman. "Larangan ini berlaku di wilayah DKI Jakarta, 
Banten, dan Jawa 

Barat, yang masuk kategori berisiko tinggi flu burung," kata Menteri 
Koordinator 

Kesejahteraan Rakyat, Aburizal Bakrie.

Jakarta sendiri telah menelurkan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 5 
Tahun 2007 tentang 

Pelarangan Memelihara Unggas di Kawasan Permukiman. Beleid ini 
berlaku untuk peternakan 

non-komersial. Yakni bagi warga yang memelihara kurang dari 20 ekor 
unggas di sekitar 

rumah. Yang disebut unggas ini bisa berupa ayam, bebek, itik, hingga 
burung dara dan 

perkutut.

Mereka itulah yang bakal dibasmi. Pemerintah akan memberikan ganti 
rugi sebesar Rp 

12.500 per ekor. Setelah dimusnahkan, tak ada lagi unggas yang boleh 
berkeliaran di 

sekitar rumah selama enam bulan. "Kami telah mempertimbangkan dampak 
sosial ekonominya. 

Langkah ini terpaksa dilakukan," kata Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso.

Langkah ini kemudian diikuti daerah lain. Gubernur Banten, Ratu Atut 
Chosiyah, akhirnya 

mengeluarkan Pergub Nomor 1 Tahun 2007 yang juga melarang unggas 
berkeliaran di rumah, 

Jumat pekan lalu. Padahal sebelumnya, dalam rakor Pemda Banten telah 
disepakati bahwa 

beleid pemusnahan unggas adalah alternatif terakhir.

Maka, segala jenis hewan bersayap pun antre untuk dimusnahkan di 
sejumlah kawasan 

Jakarta sejak dua pekan lalu. Setidaknya ada 1.040 unggas yang 
diberangus, terdiri dari 

329 ayam, 618 burung dara, 10 bebek, dan 57 burung berbagai jenis. 
Selesai? Tentu saja 

tidak.

Menurut catatan Dinas Peternakan DKI Jakarta saja, setidaknya ada 
1.342.000 ekor unggas 

yang dipelihara warga Ibu Kota di permukiman. Selain itu, masih ada 
1.200 rumah potong 

ayam tidak resmi, 250 rumah penampungan ayam, dan 229 peternakan 
itik. Dapat dibayangkan 

bagaimana hebohnya jika semua unggas itu dibasmi.

Karena itu, tak semua pemda ikut acara basmi unggas. Wali Kota 
Cilegon, Tb. Aat Syafaat, 

tegas menolak rencana basmi unggas. Soalnya, kata Aat, sebagian 
besar warga Cilegon 

menggantungkan hidup pada beternak unggas di sekitar rumah. "Kalau 
dimusnahkan, saya 

khawatir perekonomian rakyat terganggu," katanya kepada wartawan. 
Begitu juga di 

Nanggroe Aceh Darussalam. Walaupun flu burung dinyatakan positif 
telah mampir di 

"Serambi Mekkah" itu, Dinas Peternakan setempat belum memutuskan 
untuk membasmi 

unggasnya.

Gerakan basmi unggas ini tak hanya membuat peternak kampung resah. 
Sejumlah peternak 

industri kecil juga waswas. Itulah yang kini dialami Koperasi 
Cipinang Farm, yang 

tercatat punya 250 anggota peternak ayam potong. Menurut Waryo, 41 
tahun, pengelola 

Cipinang Farm, koperasi yang bermarkas di Desa Cipinang, Kecamatan 
Cimaung, Bandung, ini 

didirikan untuk menghadapi mafia kartel produsen ayam potong sejak 
1986.

Kini Cipinang Farm menghadapi musuh yang tidak kalah ganasnya: flu 
burung. Akibatnya, 

menurut Waryo, harga ayam potong gontai, jatuh hanya Rp 4.500 per 
ekor selama setidaknya 

dua pekan terakhir. Padahal, harga pokoknya mencapai Rp 8.500 per 
kilogram. "Artinya, 

untuk tiap kilogram, peternak rugi Rp 3.500. Kami terpukul dengan 
isu flu burung ini," 

kata Waryo.

Padahal, menurut Waryo, nasib peternak ayam kecil-menengah sedang 
sekarat. Sebelum 

krisis moneter, mereka pernah berjaya menguasai 70% pasar ayam di 
kawasan Bandung dan 

sekitarnya. "Sekarang pangsa pasar peternak kecil-menengah tinggal 
30%," tutur Waryo.

Kalkulasi kerugian yang diajukan Sekretaris Jenderal Gabungan 
Organisasi Peternak Ayam 

Nasional, Herry Darmawan, hampir sama. Menurut Herry, harga ayam di 
tingkat peternak, 

yang semula Rp 8.500-9.000, menjadi Rp 6.000-Rp 6.500 per ekor. 
Secara keseluruhan, kata 

Herry, kerugian yang diderita sekitar 90.000 peternak mencapai 
milyaran rupiah.

Rinciannya, sekitar 90.000 peternak tadi setidaknya menghasilkan 
sekitar 20 juta ekor 

ayam setiap pekan dengan berat mencapai 1,5 kilogram per ekor. 
Dengan merosotnya harga 

hingga cuma Rp 6.000 per ekor, "Kerugian peternak ditaksir bisa 
mencapai Rp 90 milyar 

per minggu," ujar Herry dalam suatu diskusi terbatas tentang 
penanganan flu burung di 

Bandung, Sabtu pekan lalu.

Data tingkat penjualan ayam yang dikeluarkan Pusat Informasi 
Pemasaran (Pinsar) 

Hasil-hasil Unggas menunjukkan penurunan hingga 10%. Angka itu turun 
gara-gara anjloknya 

pasokan stok sebesar 20%. Permintaan ayam potong di Jakarta, yang 
biasanya mencapai 

sejuta ekor, turun menjadi 700.000 ekor saja. "Padahal, belum lama 
ini, penjualan ayam 

potong meningkat dari 2,5 juta menjadi 3 juta ayam potong," kata 
Ketua Pinsar, Hartono, 

Kamis pekan lalu.

Penurunan ini, menurut Hartono, memang tak separah tahun 2005. "Tapi 
ini cukup 

mengkhawatirkan. Penurunan ini tentu akan terus berlanjut. Kami 
masih terus memantau," 

kata Hartono kepada wartawan. Soalnya, ia khawatir kebijakan basmi 
unggas itu membuat 

kondisi peternak ayak bertambah parah. "Sosialisasinya juga kurang 
tepat dan gencar. 

Sebenarnya makan ayam kan tidak berbahaya. Flu burung tidak menular 
melalui makanan," 

kata Hartono lagi.

Kebijakan basmi unggas itu pun menggusarkan Perhimpunan Peternak 
Unggas Indonesia 

(PPUI). Sejak awal, mereka sudah melayangkan protes keras. "Langkah 
pemerintah ini tidak 

adil. Kami sedang menyusun gugatan class action pada pemerintah," 
kata Aswin Pulungan, 

54 tahun, pengurus PPUI.

Langkah itu diambil dengan pertimbangan berbagai hal. Kebijakan itu, 
menurut Aswin, 

merugikan masyarakat. Potensi ekonomi peternakan ayam bukan ras dan 
ayam ras nasional, 

yang mencapai Rp 60 trilyun per tahun, bisa terancam. Aswin juga 
meragukan kebijakan ini 

bisa memutus mata rantai penyebaran flu burung.

"Teliti dulu dengan detail bagaimana cara penularan virus flu 
burung. Pemusnahan unggas 

belum tentu efektif untuk menanggulangi penyakit itu," tutur Aswin. 
Lagi pula, harga 

ganti rugi ternak yang diberikan pemerintah, menurut Aswin, tidak 
manusiawi. "Masyarakat 

yang sudah kena musibah bukan dibantu, malah unggasnya dibeli harga 
murah," ia 

menambahkan.

Tak hanya PPUI, Perkumpulan Pencinta Perkutut Seluruh Indonesia 
(P3SI) juga sebal. 

Maklum saja, bagi P3SI, perkutut adalah segalanya, binatang yang tak 
bisa dinilai dengan 

duit. Banyak sudah juara nasional yang lahir dari Liga Perkutut 
Indonesia, kejuaraan adu 

merdu nyanyian perkutut yang diselenggarakan P3SI.

"Burung itu dilombakan sejak masa raja-raja dulu. Saat itu sudah 
dianggap burung pembawa 

hoki," kata Djoko Saksono, Sekjen P3SI, kepada pers. Coba saja 
bayangkan kalau perkutut 

yang juara nasional --yang sudah ditawar hingga puluhan juta rupiah--
 ternyata harus 

dimusnahkan. "Bahkan burung itu tidak penyakitan," ujar Djoko. Masak 
cuma diganti 12.500 

perak?

Nur Hidayat, dan Sulhan Syafi'i (Bandung)
30-01-2007
gatra.com

Kirim email ke