Harga Pakan Naik, Peternak pun Berhitung Kerugian

"PETERNAK ayam yang masih bertahan pun kini merasa stres, karena 
setiap hari mereka seakan hanya menghitung besarnya kerugian," kata 
Ketua Dewan Ekonomi Peternakan Jawa Tengah (Jateng), Herdiat 
Nugroho, baru-baru ini. Ia mengatakan hal tersebut menanggapi 
kondisi usaha peternakan ayam belakangan ini, yang semakin terpuruk. 
 
BERBAGAI upaya dilakukan ratusan peternak mandiri yang masih 
bertahan agar usahanya tidak cepat gulung tikar. Mereka memberi 
pakan ayam pedaging maupun petelur dengan campuran katul, jagung, 
serta remah-remah mi instan limbah atau sisa produksi yang mereka 
beli dari salah satu perusahaan mi instan di Jakarta Rp 
1.200,00/kilogram (kg).* EVIYANTI/"PR"
 
Betapa tidak, stres setelah dihunjam wabah flu burung dan anjloknya 
harga daging ayam di pasaran, semakin menambah keterpurukan sektor 
peternakan di tanah air. Kini mereka harus menghadapi harga pakan 
yang terus meroket, sekaligus menghadapi harga produksi mereka 
seperti daging dan telur ayam yang terus merosot.

Berbagai upaya telah dilakukan ratusan peternak mandiri, yang hingga 
sekarang ini masih bertahan agar usahanya bisa lebih berkembang. 
Yakni dengan memberi pakan ayam pedaging maupun petelur dengan 
campuran katul, jagung, remah-remah mie instan limbah, atau sisa 
produksi yang mereka beli dari salah satu produsen atau perusahaan 
mie instan di Jakarta denganharga Rp 1.200,00/kg. 

"Harga katul sangat mahal karena panen masih sedikit. Padahal, 
sewaktu berlangsungnya panen harga katul hanya dijual pedagang 
antara Rp 800,00 - Rp 1.000,00/kg. Namun sekarang ini harganya sudah 
mencapai Rp 1.700/kg, atau terdapat kenaikan mencapai hampir 90%. 
Jagung giling juga harganya sudah berkisar Rp 2.200,00 - 
2.400,00/kg," kata Pujono (34), peternak asal Desa Pandak Kecamatan 
Sumbang, Banyumas. 

Selain para peternak dari hari ke hari terus berhitung jumlah 
kerugian, mereka juga harus memberi makan ternaknya sampai masa 
panen tiba. Tidak sedikit dari peternak yang harus menguras 
tabungannya atau dengan berutang kepada bank. 

Kredit ke bank

Seperti yang dilakukan Pujono, misalnya. Untuk memperpanjang sisa 
tabungan, peternak terpaksa membeli remah-remah mie instan, karena 
untuk membeli pakan berupa katul dan jagung mereka sudah tidak mampu 
lagi. Selain harganya sudah mahal, katul pun sulit untuk didapat. 

Lebih parahnya, melambungnya harga pakan ternak tersebut tidak 
diimbangi oleh membaiknya harga daging ayam di pasaran. Harga daging 
ayam justru merosot yang terjadi sejak tiga bulan terakhir ini. 
Harga ini bertahan pada tingkat terendah, yakni antara Rp 4.500,00 - 
Rp 5.000,00/kg di tingkat peternak, atau jauh di bawah break even 
point (BEP). 

"Tidak seimbangnya harga produksi (daging) dengan pakan ternak, 
membuat kalangan paternak kecil semakin kesulitan membeli pakan," 
katanya.

Dengan kondisi begtu, maka yang bertahan dengan kondisi demikian 
adalah para peternak besar aau merka yang berskala nasional 
(breedeer farm) seperti PT Phokphand. Perusahaan tersebut seakan 
memonopoli mulai dari sektor hulu hingga hilir, mulai dari, pakan, 
induk ayam, day old chiken (DOC) pedaging (broiler) dan petelur," 
katanya.

Pemilik PS Pioneer di Purbalingga, Noto Pribadi mengaku kondisi 
peternakan ayam petelur skala kecil juga terpuruk. Hal tersebut 
terkait dengan semakin anjloknya harga telur di pasaran. Ini 
berlangsung sejalandengan semakin membanjirnya persediaan telur ayam 
di parapedagang. 

Sebab, pada kondisi tersebut jika harga ayam pedaging di pasaran 
anjlok, maka perusahaan atau breedeer yang memiliki modal besar 
telah mengurangi produksi DOC-nya. Harga DOC juga rontok dari 
sebelumnya Rp 2.500,00/ekor, kini hanya Rp 200,00 - Rp 
500,00/ekornya.

"Telur yang tidak ditetaskan kemudian dilempar ke pasar untuk 
dikonsumsi masyarakat. Akibatnya, yang terkena imbasnya adalah para 
peternak kecil, karena harga telurnya menjadi anjlok," kata Noto. 
Harga telur telur di tingkat petani sendiri mencapai Rp 6.500,00/kg, 
padahal BEP-nya sebesar Rp 7.500,00/kg.

"Selama persoalan harga kebutuhan pokok masyarakat umumnya terutama 
beras masih belum stabil, maka kondisi usaha peternakan ayam pun 
tetap terpuruk," ujar Noto. 

Terlibas

Gembong menambahkan, jumlah peternakan rakyat sekarang ini umumnya 
sudah gulung tikar di Banyumas dan Brebes, yang tadinya bisa 
memelihara hingga 100.000 ekor, maka persedidaan di para peternak 
saat ini sudah habis. "Peternak ayam yang masih bertahan pun kini 
merasa stres. Sebab, setiap hari mereka menghitung kerugian," 
katanya.

Menurut Herdiat yang akrab disapa Gembong itu, melihat kondisi 
peternakan ayam yang semakin terpuruk, para breedeer pun kini mulai 
memangkas produksinya. Perusahaan peternakan ayam memangkas antara 
30-40% produksinya. Selain peternak merugi, kondisi peternakan 
nasional yang karut marut itu juga berimbas pada pelaku perdagangan 
sektor ternak ayam. (Eviyanti/"PR")***

Pikiran Rakyat
Edisi Cetak - Kamis, 01 Maret 2007

Kirim email ke