AgroInves: Kabupaten Dairi dan Potensi Kopi


DAIRI yang juga disebut sebagai Tanah Pakpak-–Pakpak adalah penduduk
asli Dairi-merupakan salah satu daerah di

Sumatera Utara yang berhawa sejuk. Daerah yang berjarak sekitar 110
kilometer di sebelah barat daya Kota Medan ini

sebagian besar penduduknya menggantungkan hidup pada bidang pertanian.

KONDISI alam yang lebih dikenal sebagai negeri seribu bukit dan gunung
ini telah mampu membentuk kehidupan

masyarakat Dairi menjadi petani ulet.

Sepanjang sejarah Dairi, pertanian menjadi sumber kehidupan yang tak
tergantikan. Pada tahun 2001, dari nilai

kegiatan ekonomi daerah sebesar Rp 1,5 triliun, 70 persen di antaranya
disumbang oleh pertanian, khususnya tanaman

bahan pangan dan perkebunan.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2003 tanggal 25 Februari 2003,
Kabupaten Dairi mengalami pemekaran menjadi

Kabupaten Dairi dan Kabupaten Pakpak Bharat yang dapat berpengaruh
terhadap struktur perekonomian daerah.

Keunggulan pertanian sudah berlangsung bertahun-tahun tanpa ada
pergeseran yang berarti. Hal ini menjadi wajar

mengingat sekitar 90 persen dari 164.871 jiwa penduduknya mencari nafkah
di sektor ini.

Padi dan palawija menjadi salah satu tanaman utama petani. Di samping
itu, perkebunan yang masih didominasi tanaman

kopi juga memberikan kontribusi sebesar 17 persen.

Sebutan negeri kopi bagi Kabupaten Dairi semakin samar terdengar. Masa
keemasan kopi robusta dan arabika yang pernah

terjadi pada tahun 1970-an dan 1998, telah berlalu. Bayangkan, kopi
arabika sempat anjlok dari harga Rp 25.000 tahun

1998 ke kisaran Rp 10.000 per kilogram dua tahun kemudian. Sementara itu
untuk kopi robusta dari Rp 17.000 menjadi

Rp 2.500 per kilogram.

Produksi kopi Dairi, biasa dikenal sebagai kopi Sidikalang, sebagian
besar dijual ke luar daerah terutama Medan dan

Lampung. Jenis kopi ini harus bersaing dengan kopi impor dari Vietnam
yang secara umum kualitasnya lebih bagus.

Membanjirnya kopi impor ini diyakini oleh petani dan pedagang sebagai
penyebab hancurnya harga kopi lokal.

Keberadaan industri kecil pengolah kopi bubuk yang pada tahun 2001
sekitar 27 unit masih belum mampu mengobati

kepedihan petani kopi saat ini.

Menghadapi situasi seperti ini kepekaan pemerintah daerah terhadap nasib
petaninya diuji. Pemerintah Kabupaten

(Pemkab) Dairi menyikapi serbuan kopi Vietnam dengan memunculkan program
spesialisasi kopi arabika organik.

Upaya mengembangkan kopi arabika dengan kekhususan organik sedang giat
didengungkan secara khusus oleh Suku Dinas

Perkebunan Kabupaten Dairi melalui penyuluhan dan sosialisasi.

Pengembangan kopi arabika organik ini merupakan cara untuk mengembalikan
kejayaan kopi, meskipun sangat berat dan

hampir tidak mungkin tercapai. Untuk diketahui, pengembangan kopi
arabika organik ini tidak berorientasi pada

kuantitas, tetapi kualitas produksi. Meskipun dari sisi kuantitas lebih
rendah dari kopi anorganik, namun kualitas

yang lebih unggul diharapkan berpengaruh pada nilai jual yang lebih
tinggi.

Sebagai perbandingan, kopi arabika dengan pemupukan anorganik mencapai
produksi 1 ton per hektar sekali panen.

Sementara, pengembangan kopi arabika organik hanya mampu berproduksi
sekitar 700 kilogram per hektar.

Selain upaya terobosan terhadap tanaman kopi, alih budidaya yang
didasarkan sumber daya alam menjadi alternatif

pilihan Dairi. Gambir yang hanya dimiliki oleh dua daerah, yaitu
Kabupaten Limapuluh Koto di Sumatera Barat dan

Dairi di Sumatera Utara, mulai dilirik untuk dikembangkan.

Dalam penjajakan awal ke luar negeri diperoleh informasi, India
membutuhkan pasokan 50 ton gambir setiap bulan.

Sementara Dairi baru mampu menghasilkan 20 ton setiap bulan. Sebuah
peluang yang sangat bagus sekaligus tantangan

untuk membudidayakan gambir sebagai upaya untuk menggantikan kejayaan
kopi.

Bagaimanapun, kemajuan Dairi tidak akan lepas dari pertanian. Di samping
karena 90 persen tenaga kerja hidup di

pertanian, kemampuan pengusaha lokal untuk membangun industri pun sangat
terbatas.

Berbarengan dengan rencana peresmian pusat distribusi regional berupa
gudang pendingin oleh Menperindag Rini MS

Soewandi, akan dimulai pembangunan paling tidak dua industri pengolahan
komoditas pertanian di Sidikalang, Dairi.

Kedua industri besar itu merupakan investasi dalam negeri. PT Wahana
Graha Makmur misalnya, akan memproduksi kentang

goreng untuk menyuplai kebutuhan dalam negeri. PT Dairi Makmur akan
mengolah jagung dan serat rami.

Secara khusus produksi jagung yang melimpah di Dairi akan dapat
ditampung dan diolah di daerahnya sendiri. Selama

ini produksi jagung masih dibeli oleh industri pakan ternak di Medan.

Selain kedua industri itu, menurut rencana juga akan segera dibangun
sebuah industri yang mengkhususkan pengeringan

dan pengalengan produk hortikultura yang secara khusus melayani ekspor
ke Jepang.

Pemkab Dairi menginginkan ketiga industri tersebut hanya menjadi inti,
sementara petani dilibatkan sebagai plasma.

Sinergi antara pihak industri dan dinas terkait menjadi sangat penting.

Mulai dari penyuluhan, pembinaan petani, dan penanganan pascapanen.
Selain memberikan nilai tambah terhadap hasil

pertanian, industri diharapkan mampu memicu peningkatan produksi dan
kualitas hasil pertanian daerah.

Dengan demikian secara tidak langsung industri akan memberikan
peningkatan PDRB per kapita penduduk yang pada tahun

2001 baru mencapai Rp 4,9 juta. Angka ini masih jauh lebih rendah
daripada PDRB per kapita Provinsi Sumatera Utara

yang mencapai Rp 6,5 juta pada tahun yang sama.

Kehadiran gudang pendingin yang dibiayai dana APBN sebesar Rp 5,8 miliar
diharapkan dapat mengangkat pamor produksi

pertanian dan hortikultura Dairi dan sekitarnya.

Aritasius Sugiya/Litbang Kompas

Sumber: Kompas
Rabu, 30 April 2003


Kirim email ke