Pola peternakan rakyat yang dilakukan dalam skala kecil dan cara pemeliharaan yang bersifat tradisional adalah permasalahan produksi ternak domba dan kambing di Indonesia saat ini. Di Australia, pola peternakan intensif telah menjadikan negara tersebut dapat menghasilkan produksi domba skala besar dan berkualitas. Total ekspor daging domba Australia ke negara Saudi Arabia pada tahun 2006 adalah setara dengan 3,6 juta ekor, sedangkan daging kambing lebih kurang 2.322 ekor diekspor ke Malaysia. Tidak hanya dimanfaatkan dagingnya saja, kulit Domba Garut dapat dijadikan bahan baku untuk pembuatan jaket berkualitas. Data tahun 2005 di wilayah kabupaten Garut, industri jaket berbahan baku kulit Domba Garut dapat menyerap 2.656 tenaga kerja dengan nilai ekspor Rp. 84,7 milyar ke berbagai negara tujuan seperti Singapura, Malaysia, Taiwan dan Australia. Potensi pasar hewan ternak Domba Garut masih cukup baik dan layak untuk dikembangkan sebagai usaha ternak ke arah intensif dibandingkan dengan kambing. Seperti yang diketahui bila kondisi saat ini jumlah pasokan kambing yang ada adalah jauh lebih besar dibandingkan permintaan. Provinsi Jawa Barat adalah potensi pasar terbesar di Indonesia dengan kebutuhan 53.807 ekor Domba Garut per tahun atau 1.035 ekor per minggu. Kedua terbesar adalah potensi pasar di provinsi DKI Jakarta, 40.753 ekor per tahun atau 783 ekor per minggu. Angka ini akan terus meningkat seiring dengan pertambahan populasi penduduk Indonesia.
Kiriman: Agus Ramada S. Direktur Utama Eka Agro Rama

