Sebetulnya banyak ide2 yang bisa sangat membantu apabila dipecahkan bersama.
Seperti kita ketahui, dimana2 di negara2 yang sudah maju, produsen / petani
mendapat bagian yang lebih "sweet" dari total bisnis di area tersebut. Misalnya
apel. Di supermarket, yang namanya apel Malang harganya selalu diatas 12 rb,
tapi di kebun harganya oleh tengkulak hanya dibayar 2 rb. Dengan spread harga
seperti itu susah untuk menaikan quality dari produknya. Di negara2 lain para
petani bisa menikmati hasil produknya karena mereka mempunyai koperasi yang
sangat strong (Jepang, Perancis etc) untuk menentukan harga jual di level
petani.
Contoh lain : mangga pada saat puncak musimnya, di Malang bisa dijual
Rp1,500.- dengan kwalitas bagus (bisa dibayangkan di level petani bisa jauh
lebih rendah). Tapi itu hanya dalam jangka 1 bulan. Setelah produknya mulai
habis harganya naik lagi. Setahu saya di Manila, banyak mangga yang dijual
kering dan dijajakan di jalan2, bahkan di airport. Teknologi food processor
mereka sudah canggih, sehingga kwalitas produk mereka begitu menarik. Kalau
kita bisa melakukan hal yang sama, maka petani tidak harus menjual produk
dengan begitu murah dan tingkat kehidupan mereka tidak terlalu terpuruk seperti
sekarang. Sebetulnya banyak hal2 yang bisa didiskusikan kalau kita punya wadah
untuk hal tersebut.
Dari: "Soebekti Soebekti" <[EMAIL PROTECTED]>