Pupuk Kotoran Domba – PUKDOM
 
Harga pupuk kimia kian mahal. Petani menjerit karena biaya produksi 
tidak sebanding dengan tenaga dan keuntungan yang didapat. Namun itu 
bukan berarti tidak ada solusi atas kondisi yang membahayakan masa 
depan pertanian kita. Back to nature and Go Organic! Kotoran ternak 
Domba akan sangat bermanfaat bila diolah dengan teknik yang tepat 
sebagai pupuk organik untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman. 
Tidak hanya itu, penggunaan pupuk organik akan menyelamatkan kondisi 
tanah dari kerusakan jangka panjang. Meskipun sumber hara N pada 
kotoran Domba kalah dengan Urea, dalam jangka panjang juga maka 
manfaat pupuk organik akan jauh lebih baik dibandingkan Urea. Apa 
bedanya pupuk kimia dengan pupuk organik? Pupuk kimia terdiri dari 
gabungan beberapa unsur kimia yang diproses pada suatu pabrik. 
Sedangkan pupuk organik yang dikenal sebagai kompos merupakan hasil 
akhir atau perubahan antara tanaman atau hewan. Pupuk organik dapat 
dihasilkan dari perubahan limbah pertanian, limbah dapur dan kotoran 
ternak. Penggunaan pupuk kimia secara terus menerus akan menjadikan 
perubahan struktur tanah yang pada akhirnya akan mengganggu proses 
pertumbuhan dan produksi tanaman. 
Salah satu jenis hewan ternak potensial sebagai sumber pupuk organik 
adalah Domba Garut. Hasil penelitian dari Balai Penelitian Ternak 
(Balitnak) Bogor : Kotoran ternak domba mengandung bahan kering dan 
nitrogen berturut-turut 40 – 50% dan 1,2 – 2,1% (Bergantung pada 
Komposisi Pakan).  Jumlah nitrogen yang didapat dari kotoran domba 
yang memiliki berat 120 kg dan dengan periode pengumpulan kotoran 
selama 3 bulan mencapai 7,4 kg Nitrogen. Jumlah ini adalah setara 
dengan 16,2 kg urea atau 46% Nitrogen. Tidak hanya kotorannya, urin 
ternak domba juga bermanfaat untuk pertumbuhan dan produksi tanaman. 
Produksi urin domba dapat mencapai 0,6 – 2,5 liter/ hari dengan 
kandungan Nitrogen 0,51 – 0,71%. Dari hasil penelitian, pemberian 5 –
 10 ton pupuk kandang per tahun memberikan hasil cukup baik untuk 
tanaman kedelai, padi gogo dan rumput gajah. Jumlah ini dapat 
disediakan dari pemeliharaan 6 – 7 ekor domba dengan berat badan 
rata-rata 25 – 30 kg. Dengan proses penguraian, maka kotoran ternak 
domba dapat menyediakan zat hara bagi tanaman. Proses ini terjadi 
secara bertahap dengan melepaskan bahan organik sederhana untuk 
pertumbuhan tanaman. Kotoran ternak domba mengandung sedikit air 
sehingga mudah diurai. Sebuah artikel menarik dari Suara Karya 
Online:  
 
KABUPATEN NGAWI
Menuju Pertanian Organik


Senin, 8 Mei 2006

DARI luas wilayah 129.598,51 hektare (ha), lahan persawahan di 
Kabupaten Ngawi sekitar 57.911,19 ha. Daerah lahan pertanian subur 
(alluvial) terletak di bagian tengah, terutama di sepanjang tepi 
Sungai Madiun dan Bengawan Solo. Tanah pertanian subur lainnya 
terdapat di dataran rendah sebelah selatan Sungai Bengawan Solo dan 
sebelah timur Sungai Madiun. Namun, kebanyakan lahan pertanian 
didominasi jenis tanah vertisol (grumusol) dengan kadar tanah 
lempung hingga 70 persen. 
 
Dengan kondisi ini, kurang menguntungkan bila petani menggunakan 
sistem pertanian anorganik. Sebab, tanah dengan jenis itu memiliki 
struktur gumpal keras, sehingga sulit diolah bila dalam keadaan 
kering. Penggunaan pupuk dan pestisida anorganik secara berlebihan 
pada jenis tanah ini justru menyebabkan terjadinya penurunan 
produktivitas, serta kerusakan lingkungan karena pencemaran. 
 
Untuk mengatasi hal itu, solusi terbaik adalah dengan merubah sistem 
pertanian menjadi pertanian organik, yang mengacu pada sistem alami 
dengan prinsip keseimbangan lingkungan melalui rekayasa untuk 
mempercepat proses produksi pangan. 
 
Salah satu kebijakan yang perlu dilakukan dalam sistem pertanian 
organik ini, yakni kebijakan penambahan bahan organik melalui 
penggunaan pupuk organik. Tujuannya, untuk memperbaiki kualitas 
tanah, baik sifat fisik, kimia maupun biologi tanah, serta 
mengurangi biaya produksi petani. Selain itu, pupuk organik ini 
ramah lingkungan sehingga bisa menjaga lingkungan berkelanjutan 
serta mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia. 
 
Dengan kondisi tanah jenis lempung, pupuk kandang misalnya, akan 
mampu meningkatkan unsur hara serta memperbaiki struktur tanah 
menjadi lebih ramah. Kotoran hewan yang memiliki unsur hara tinggi, 
seperti N 1,70 P205 1,90 dan kandungan K20 1,50 terdapat pada 
kotoran ayam, sapi, kuda, babi, domba dan kotoran ayam. Kandungan 
unsur hara tertinggi pada kotoran ayam terdapat pada bagian 
cair/urine yang tercampur dalam bagian padat. 
 
Kabid Perencanaan dan Pengendalian Dinas Tanaman Pangan dan 
Hortikultura Pemkab Ngawi Ir Dwi Ningrum mengatakan, kebijakan 
pemkab adalah menuju pertanian organik. Apalagi tanah pertanian di 
Kabupaten Ngawi ini sudah mengalami penurunan unsur hara karena 
penggunaan pupuk anorganik secara berlebihan selama bertahun-tahun. 
Bahkan, sudah banyak petani menggunakan pupuk anorganik di atas 700 
kg pupuk/ha. Padahal, pemerintah melalui menteri pertanian sudah 
mengeluarkan aturan untuk menggunakan pupuk anorganik maksimal 400 
kg/ha. 
 
Untuk itulah, sejak empat tahun lalu sudah mulai diarahkan untuk 
menggunakan pupuk organik. Hingga tahun 2005 lalu, sudah ada sekitar 
355 ha yang menjadi lahan ujicoba pupuk organik dan hanya memakai 
pupuk anorganik antara 200-400 kg/ha. "Memang harus secara bertahap 
dan tidak bisa ujug-ujug (tiba-tiba) karena prokduktivitas bisa 
menurun sehingga bisa mengakibatkan petani menjadi enggan untuk 
beralih ke organik," ujarnya. Dengan kondisi tanah yang rusak karena 
unsur hara berkurang sebagai akibat penggunaan pupuk yang tinggi 
sejak tahun 1975, maka Dinas Tanaman Pangan dan Hortikulutra Pemkab 
Ngawi terus menerus melakukan sosialisasi kepada para kelompok tani. 
Setiap musim tanam, para kelompok tani memasukkan pupuk organik 
sebagai campuran sebanyak 10 persen. "Diperlukan sekitar 11 tahun 
untuk menjadikan kondisi tanah kembali normal. Tahun ini, kita 
menargetkan sebagai sasaran adalah 1.000 ha menuju pertanian 
organik. Begitu pula setiap tahun berikutnya. Pelan-pelan tapi pasti 
dengan tujuan petani lain ikut program ini," ujarnya didampingi 
Kabid Produksi Tanaman Pangan Ir Marsudi. 
 
Petani Untung
 
Dengan menggunakan pupuk organik, petani lebih diuntungkan karena 
harga gabah kering giling (GKG) atau beras yang dihasilkan lebih 
mahal dibandingkan dengan harga GKG atau beras yang penanamannya 
menggunakan pupuk anorganik. 
 
Di tingkat eceran misalnya, harga beras jenis C4 organik ini 
bersaing dengan beras jenis Wulu Super atau Cianjur yang terkenal 
enak dan pulen, serta di bawah sedikit dibanding harga beras jenis 
Rojolele. 
 
Sekarang ini, harga beras jenis C4 organik di tingkat eceran Rp 
38.600 setiap lima kg atau Rp 7.720/kg hingga Rp 8.000/kg atau 
hampir dua kali lipat dengan harga beras jenis sama yang menggunakan 
pupuk anorganik. 
 
Padi organik jenis IR 64 harganya sekitar Rp 4.000/kg hingga Rp 
4.500/kg atau lebih mahal dibanding jenis padi anorganik yang 
harganya sekitar Rp 3.500/kg - Rp 3.600/kg di tingkat eceran. 
 
Pasaran beras organik ini pada umumnya masyarakat menengah atas atau 
hotel berbintang. Mereka yang senang mengonsumsi beras organik pada 
umumnya berdalih karena beras organik sedikit terkontaminasi bahan-
bahan kimia. Selain itu, beras organik lebih tahan lama dibanding 
beras anorganik. Bahkan, nasi dari beras organik tak bau meski sudah 
dua hari, sedang rasanya lebih pulen. 
 
Berdasar hasil uji laboratorium Balai Penelitian dan Konsultasi 
Industri Laboratorium Penelitian dan Konsultasi Industri Surabaya 
pada 18 Maret 2004, menghasilkan data bahwa beras organik memiliki 
kadar lemak lebih rendah dibanding beras pasar. Sedang kadar protein 
lebih tinggi begitu juga kadar mineral dan vitamin. 
 
"Padahal, beras itu belum organik murni tapi masih menggunakan pupuk 
anorganik batas normal yakni antara 200 kg -400 kg per hektare," 
ujar Ir Dwi yang dibenarkan Ir Marsudi. Sedang hasil laboratorium 
yang dilakukan Sucofindo Surabaya pada 28 April 2003, menyebutkan 
tidak ada residu pestisida pada beras organik. Sistem beras organik 
yang mulai dilakukan di Ngawi sekaligus mengalihkan penggunaan 
pestisida kimia menuju alamiah secara bertahap. Hingga akhir tahun 
2005, penggunaan pupuk organik oleh para petani makin meningkat. 
 
 
Tercatat sudah ada 49 kelompok tani yang kini memproduksi pupuk 
organik (bokhasi) dan menghasilkan 8.750 ton/tahun. Pupuk bokashi 
merupakan hasil fermentasi kotoran ternak dengan menggunakan larutan 
EM-4, stardec, maupun mikroorganisme buatan sendiri. 
 
Dengan makin beralihnya ke pupuk organik, para petani diharapkan 
tidak lagi tergantungan akan pupuk anorganik. Selain itu, para 
petani juga tidak akan kelabakan lagi bila pupuk menghilang secara 
tiba-tiba di pasaran, seperti yang sering terjadi belakangan ini 
setiap musim tanam. Kendala yang hingga kini masih dihadapi dalam 
upaya menuju pertanian organik, adalah belum ada kesadaran petani 
dalam menjaga kondisi tanah. Mereka ingin mendapat hasil besar 
dengan cara memberi pupuk terlalu banyak, yang berakibat habisnya 
unsur hara tanah. Kendala lain adalah masalah pemasaran hasil panen 
raya. "Setiap kali panen raya maka harga gabah selalu jatuh. Masalah 
pasar ini yang sedang kita pikirkan. Kalau beras organik, karena 
produksinya masih terbatas, maka pasar masih terbuka dan selalu 
diambil sendiri oleh pembeli," ujar Ir Dwi. (H Adi Wardhono) 
  
Agus Ramada Setiadi 
Eka Agro Rama
West Java, Indonesia
Phone              : +62.22.522.1630
Fax                  : +62.22.522.1630
Mobile Phone : +62.815.941.3826
E-Mail             : [EMAIL PROTECTED]
 
SEE OUR VIDEO AT WWW.VIDEO.GOOGLE.COM 
WITH KEY WORD: eka agro rama


Kirim email ke