Kalau misalnya saja H. Ismail yang dari Mali ini mengenal kambing jenis BOER,
yang baru-baru ini lagi ngetrend di kalangan per-kambingan, maka usaha untuk
menghilangkan minyak untuk mengurangi kolesterol tidak perlu repot seperti itu.
Kadar kolesterol dari Kambing BOER ini sangat rendah, hanya 5 mg/100gram
daging (lima mg/seratur gram daging).
Ini setidaknya yang pernah saya dengar dan saya lihat di literatur tentang
Kambing BOER dari Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang.
Untuk keterangan lebih lanjut dapat menghubungi CV. INDONESIA UNIVERSAL
dengan alamat: Jl.Raya Kediri km.14 no.02 Sumberagung Wates Kediri Jawa Timur
64174
Telp. (0354) 442931 / 081335885333(ANDIK). perwakilan madiun : Perum Griya
Salak Blok D no 19 madiun, telp. (0351) 463824 / 081555614279 (BUDI) atau kirim
Email : [EMAIL PROTECTED]
Demikian yang dapat kami tambahkan mengenai Kambing BOER ini.
Salam,
KushaBS
infokita2 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Ada banyak ragam sate dijual di Jakarta. Sate madura, sate solo,
sate padang, sate sapi, sate lilit, dan sebagainya. Namun, selain
sate dari pelosok tanah air, ternyata di pelosok Jakarta terselip
sate dari seberang samudra. Kedai milik H. Ismail Coulibaly di
kawasan Tanahabang ini terkenal dengan nama kedai sate afrika.
Maklumlah, H. Ismail berasal dari Mali, Afrika. Di kedainya, Ismail
menjual sate domba ala negeri leluhurnya itu. Untuk mencicipi
bakaran daging domba ini, Anda harus menyusuri gang yang terletak
antara Museum Tekstil dan kantor Indonesia Power. Warung yang sudah
berusia tujuh tahun ini menempati lahan seluas 3 m x 7 m, yang
dibatasi pagar dinding setinggi pinggang. Setengah dari lahan
digunakan untuk menaruh tungku api, selebihnya ada meja sepanjang
tiga meter untuk menampung pembeli. Selain itu, ada dua meja dan
empat bangku tambahan di luar pagar pembatas. "Semua ini hanya muat
dua puluh orang," kata Herman, pengelola Kedai Sate Afrika.
Saban hari, kedai sate ini menerima pasokan daging domba dari
Cipanas. Jumlahnya tiga ekor domba minus kepala dan kulit. Setiap
Selasa dan Jumat, Haji Ismail meminta tambahan seekor domba lagi,
karena warungnya ramai. "Umur domba yang kami minta maksimal
sembilan bulan," ujar Herman. Selain itu, berat maksimal domba
dibatasi 20 kg saja, tidak lebih. "Biar lebih empuk," sambungnya.
Tiap ekor domba, menurut Herman, bisa menjadi 28 porsi sate afrika.
Sebenarnya, yang dijual di kedai ini bukanlah sate seperti lazimnya.
Maklum, kita tidak akan menemukan tusukan bambu di sini. Daging
domba hanya dipotong dengan bobot sekitar enam sampai tujuh ons.
Tanpa diberi bumbu apa pun, daging itu dibakar sekitar satu jam.
Selesai dibakar, barulah daging direbus dalam panci besar selama
satu jam juga. "Proses ini untuk menghilangkan minyak dan mengurangi
kolesterol," celetuk Herman. Minyak hasil rebusan domba kadang bisa
mencapai setengah kilogram banyaknya. Kecap khusus untuk versi
Indonesia Daging domba dalam panci itulah yang akan dijumpai para
pembeli di sini. Setelah pembeli memesan, baru Herman atau rekan
lainnya mencacah daging tersebut dan menaruhnya lagi di bakaran.
Belum cukup, daging cacahan akan direbus dalam bumbu dan dibakar
sekali lagi. "Lebih enak disajikan pas hangat-hangatnya," kata
Herman
Nah, melongok proses pemasakan dan penampilannya, Anda pasti
bingung, kan, dari mana sebutan sate itu berasal? Konon, menurut
Herman, awalnya Haji Ismail menggunakan nama asli hidangan khas Mali
ini. Hanya, ternyata banyak pembeli yang tidak bisa mengucapkannya
dengan fasih. Itu sebabnya, dagangan Haji Ismail lantas terkenal
dengan dua kata yang gampang saja: sate afrika. Pembeli yang memesan
sate domba akan mendapatkan tiga buah piring. Satu piring berisi
daging domba siap santap dengan irisan bawang bombay serta bumbu.
Piring lain berisi pengiring daging domba, berupa kecap, mustard,
dan cabe. Meski resep aslinya tidak mengenal kecap, Haji Ismail
tetap menyediakannya demi lidah lokal Indonesia. Teman untuk
menyantap sate afrika bukan nasi atau lontong, melainkan pisang
goreng. Harga pisang gorengnya Rp 10.000 per porsi. Pisang goreng
ala Afrika ini, tentu saja, berbeda dengan pisang pontianak yang
sedang ngetren itu. Kalau pisang pontianak penuh diselimuti tepung
dan gula, maka pisang afrika digoreng apa adanya; hanya dibubuhi
sedikit garam. Alhasil, rasa manis dan asin pada pisang akan bertemu
dengan rasa gurih dari daging domba.
Rasanya? Coba saja sendiri. Haji Ismail memasang harga Rp 35.000
untuk seporsi sate daging domba. Untuk sate jeroan, seperti jantung,
hati, atau ginjal, harganya Rp 30.000 seporsi. Setiap hari, kecuali
hari Minggu, Haji Ismail membuka kedainya pukul 07.00. Tapi, jangan
buru-buru ngiler mau sarapan sate afrika, karena daging domba baru
bisa disantap mulai jam 11.00. Maklumlah, proses pemasakan sate ini
memakan waktu tiga jam. Daging domba yang datang akan langsung
diolah hari itu juga. Biasanya pukul 14.00 sudah tidak ada daging
yang tersisa di meja saji Pak Haji. Menurut Haji Ismail, ada banyak
pelanggan yang enggan datang ke kedainya dan memesan melalui
telepon. Meski tidak menetapkan uang muka atau syarat pembayaran,
Pak Haji tidak khawatir yang memesan itu cuma iseng atau malah
mengemplang. "Setelah jam 13.00 pesanan akan saya jual sendiri. Toh,
tetap laku," cetus Pak Haji. Dari Sepatu Menjadi Sate Haji Ismail,
pemilik kedai sate afrika, datang ke Indonesia pada tahun 1998. Di
kampung halamannya di Mali, Pak Haji berbisnis komponen mobil. Tapi,
di Indonesia ia menjajal berdagang sepatu. Haji Ismail kulakan di
Mangga Dua, dengan modal Rp 500.000. Suami dari wanita bernama Nur
ini menjual sepatu dari hotel ke hotel. Tiap hari paling banter dia
berhasil menjual dua pasang sepatu saja. "Enggak cukup buat hidup di
sini," kenangnya. Tapi, Haji Ismail tidak putus asa dan kembali ke
Mali. Pria berusia 53 tahun ini memang hanya setahun berdagang
sepatu. Selanjutnya, lelaki berjanggut putih ini memutuskan untuk
berjualan sate domba. Ia menyadari bahwa sate adalah makanan yang
digemari di Indonesia. Namun, "Di sini belum ada yang berjualan sate
domba khas Mali," ujarnya. Dengan modal Rp 5 juta pada tahun 1999,
Haji Ismail membuka kedai sate. Modal tersebut habis untuk menyewa
tempat dan membeli alat masak. Mulanya ia berdagang sate domba di
salah satu sudut bangunan Indonesia Power. Karena lahannya sempit,
dua tahun kemudian Haji Ismail pun memutuskan untuk pindah ke
lokasinya yang sekarang. "Parkirnya luas, asap pun enggak masalah,".
Kiriman: Agus Ramada S.
Direktur Utama Eka Agro Rama
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
Check outnew cars at Yahoo! Autos.
[Non-text portions of this message have been removed]