Dari:   "ramada agus" <[EMAIL PROTECTED]>

Dear pak Endot

  Mohon maaf sebelumnya bila Saya terlalu lama merespond Email Bapak. Kebetulan 
aktivitas perkebunan dan peternakan sedang padat jadwalnya akan tetapi selalu 
ada waktu tentunya untuk berdiskusi tentang Pertanian dan PeternakanJ 
Terimakasih pula atas ketertarikan pak Endot dan teman-teman lainnya yang akan 
mengikuti kegiatan pelatihan Kami nanti.

  Motivasi dari Saya untuk pak Endot, background pendidikan Saya adalah 
Akuntansi di mana tetap nyambung dengan bidang pertanian dan peternakan, khan 
ujung-ujungnya Income > BiayaJ Bahkan ada adik Saya yang lulusan Manajemen 
lebih piawai dibandingkan Saya dalam pemeliharaan Domba Garut.

  Adalah betul pemikiran teman-teman pak Endot bilamana dalam menjalankan suatu 
usaha tentunya harus diperhitungkan dengan matang dan cermat tentang resiko 
bisnis yang kemungkinan terjadi. Namun yang jelas bila kita memutuskan untuk 
terjun dibidang Agribisnis khususnya pertanian organik, resiko bisnis di atas 
kertas haruslah diimbangi kesabaran, keuletan dan ketekunan di lahan pertanian, 
di mana jujur Saya pun masih terus belajar sampai saat ini. Kesabaran ketika 
menghadapi musim hujan yang tak kunjung tiba misalkan, keuletan menggarap tanah 
supaya tetap subur dan ketekunan untuk semangat bekerja menunggu hasil panen 
tiba. Kemudian besar kemungkinan terjadi kesabaran, keuletan dan ketekunan kita 
diuji pula oleh kondisi harga di pasar yang misalkan fluktuatif akibat pengaruh 
supply dan demand, namun faktor yang terakhir ini sebenarnya bisa diminimalkan 
dengan pemilihan jenis tanaman yang tepat, sistem rotasi tanaman atau kalender 
tanam yang berjalan sempurna dan pemilihan
 jalur distribusi pemasaran.

  Ada satu artikel menarik yang Saya temukan dari situs www.terranet.or.id dan 
Saya copy untuk pak Endot melalui Email ini:

  Penghasilan Tambahan dari Budidaya Sayuran Organik

  Mimpi saya sekarang adalah membangun semacam tempat wisata organik. Di situ 
ada lahan sayur organik yang cukup besar dengan kolam ikan dan gubuk 
peristirahatan. Di tempat itu, selain menikmati keindahan alam, orang-orang 
juga dapat belajar cara menanam sayuran organik”.

  Itulah mimpi Ibu Napsiah, 48 tahun, petani sayur organik dari Desa 
Pulungdowo, Malang. Entah butuh waktu berapa lama lagi dia dapat mewujudkan 
impiannya. Yang pasti, lahan sayuran organik seluas 500 m2 yang telah 
dikembangkannya sejak setahun yang lalu kini bertambah menghijau.

  Nafsiah tidak pernah menyangka kegiatan bertanam sayur yang dulu dilakukan 
dengan setengah hati kini mulai membuahkan hasil. dari lahan seluas itulah 
sekarang Napsiah mengandalkan kehidupan ekonominya. Bertanam sayuran yang 
dikelolanya bersama Jalan suaminya dipandang memberikan penghasilan tambahan 
disamping dari bertani padi. “Dulu dari panen padi saya hanya mendapatkan 
kurang lebih Rp 840.000 per empat bulan Sekarang, selain dari padi saya 
memperoleh penghasilan tambahan Rp 300.000 – Rp 400.000 per bulan nya dari 
lahan seluas 500 m

  Keberhasilan usahanya telah mengantarkan Nafsiah kepada pengalaman yang sama 
sekali baru. Sebuah perguruan tinggi di Malang pernah mengundangnya untuk 
bertukar pengalaman mengembangkan sayur organik. “Wah, ketika itu saya gugup 
sekali harus berbicara didepan orang-orang pintar” katanya. Dia juga gemar 
menularkan pengalamannya kepada tetangga-tetangganya. Tidak heran jika banyak 
warga sekitar Nafsiah yang mulai mengikuti jejaknya.

  Ceritanya berawal ketika Mitra Bumi Indonesia (MBI), sebuah LSM lokal yang 
berlokasi
  di Malang-Jawa Timur memperkenalkan budidaya sayuran organik. Suprie anaknya 
yang kuliah di Fakultas Pertanian Brawijaya ketika itu PKL (Praktek Kerja 
Lapangan) di MBI mendapat benih sayur organik dari MBI. Nafsiah dan Suprie 
mencoba mengelolanya di lahan seluas 50m2. Lahan itu mereka tanami dengan 5 
jenis sayur dalam petakan-petakan seluas 1 m2. Saat itulah Nafsiah sempat ragu. 
“Apakah mungkin menguntungkan menaman sayuran hanya dalam luasan 1 m

  Keraguannya ternyata tidak beralasan ketika bisa memanen sayuran 2 kali 
seminggu. Dan ini yang membuatnya untuk mulai menekuni usaha ini. Apalagi 
setelah tahu ternyata biaya bertani sayuran secara organik lebih murah, sebab 
sarana produksinya seperti pupuk organik bisa dihasilkan sendiri. Sayuran 
tersebut dijual ke toko yang dikelola MBI. Toko yang didukung oleh Oxfam GB ini 
memang sejak tahun 2001 mengkhususkan diri menampung hasil produksi pertanian 
organik, khususnya sayuran dari petani-petani seperti Napsiah. Di toko inilah 
Napsiah dan petani sayur organik dampingan MBI lainnya menjual sayurorganiknya 
dengan harga dan standard kualitas yang ditentukan bersama. Tentu saja tidak 
semua produk petani organik bisa dijual melalui toko MBI. Menurut Nafsiah 
mereka juga menjualnya di pasar lokal namun harganya biasanya lebih murah dari 
harga jual di toko MBI.

  Selain memperkenalkan pertanian organik MBI juga memperkenalkan kepada petani 
dan konsumen prinsip-prinsip fair trade, yang dalam level petani berarti 
mengajak petani memperhatikan aspek penguatan kualitas lingkungan, hubungan 
social terutama kesadaran ketaraan gender, penguatan sumber daya keuangan. 
Aspek-aspek ini masuk dalam komponen biaya produksi sehingga disepakatilah 
harga jual yang layak dari produk tersebut. Dengan dampingan MBI, para petani 
sayur ini belajar menghitung komponen harga dasar jual selain biaya produksi, 
asuransi gagal panen, biaya tabungan masa depan, dan tabungan pengembangan 
usaha bagi petani, serta bagaimana mengorganisasi diri dan bagaimana proses 
ketidakadilan menimpa perempuan. Setiap 6 bulan sekali perhitungan-perhitungan 
biaya produksi dan nilai-nilai yang dianut dievaluasi. MBI menjamin bahwa semua 
produk yang dijual di tokonya digaransi pasti diproses secara organik dan 
diperdagangkan menganut prinsip-prinsip keadilan yang disebut fair
 trade.


  Berkaitan dengan itu, MBI juga melakukan kampanye, pameran, dan pertemuan 
produsen-konsumen. Hal ini selain dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran 
masyarakat tentang prinsip-prinsip fair trade, perlindungan hak-hak petani 
miskin dan mengenalkan perdagangan yang adil, juga untuk menjaring minat 
masyarakat akan produk organik. Dengan cara seperti itu MBI berhasil menjaring 
60 konsumen setia, dan
  120 – 150 konsumen biasa. Kesadaran masyarakat tentang sayuran organik 
perlahan-lahan ditumbuhkan. Ibu Rudi salah satu konsumen setia MBI menyatakan 
bahwa meskipun banyak produk sayur organik yang dijual di supermarket besar, 
tetapi ia lebih memilih untuk membeli di toko MBI karena yakin bahwa 
produk-produk tersebut benar-
  benar hasil dari petani miskin dan diproses secara organik. Ibu Rudi pernah 
mengikuti pertemuan produsen-konsumen yang diadakan di desa Pulungdowo 
Membangkitkan kesadaran petani untuk bertani organik memang tidak mudah. Sama 
dengan keberhasilan Nafsiah yang juga tidak diperoleh dengan mudah. “Harus 
lebih rajin dan telaten”, katanya. Menurutnya tantangan terbesar justru datang 
dari lahan-lahan tetangganya yang masih menggunakan bahan-bahan non-organik 
semacam pupuk kimia.

  Sebagai institusi MBI melihat masih banyak tantangan yang harus dihadapi MBI 
untuk mewujudkan tujuan utama mereka yaitu membangun hubungan yang lebih 
manusiawi antara pertanian dan alam dan antara manusia yang memproduksi dan 
yang mengkomsumsi. . Saat ini banyak produk-produk organik di pasar yang 
dihasilkan oleh pemodal besar namun tidak diproduksi dengan memakai 
prinsip-prinsip seperti yang dianut oleh MBI. Bekerja di basis petani kecil 
tidak hanya berhadapan dengan penguatan nilai-nilai tetapi juga menyangkut 
bagaimana nilai-nilai itu secara praktis bisa dilakukan.
  Tantangan lain adalah kebijakan pemerintah yang disebut “Go Pertanian Organik 
2010” yang jelas maksudnya adalah tahap kedua revolusi hijau, dimana 
unsur-unsur pertanian organik dipabrikisasi dan tidak memperhatikan aspek 
hubungan harmoni antara manusia dengan manusia atau antara manusia dan alam. Di 
tataran yang paling praktikal MBI harus tetap mampu menjaga produktifitas (baik 
rutinitas, kuantitas maupun kualitasnya), di sisi lain masih perlu menjaga 
semangat petani (jangan sampai petani berorganik hanya karena proyek, tapi 
memang karena kesadaran dan kebutuhan mereka), serta menjaga loyalitas konsumen 
dan bagaimana nilai-nilai yang dianut bisa diinternalisasi .Dan secara internal 
adalah bagaimana tetap menjaga semangat MBI sesuai dengan mottonya “bekerja 
konkrit dengan kontinyu, konsisten, dan konsekuen".

  “Kita harus mulai berhenti memberikan racun kepada anak-anak kita”kata bapak 
Bambang (43) salah satu konsumen setia MBI.
  Tulisan dan photo oleh: Reina Asmedi (Progarmme Assistant and Media Officer – 
Sustainable Livelihood Programme Oxfam
  GB Indonesia Office)

  Perhitungan tentang ternak Domba akan segera Saya Emailkan dalam waktu dekat 
karena sehubungan data yang tertinggal di Bandung. Kebetulan saat ini Saya 
sedang di Jakarta untuk suatu urusan. Namun bila pak Endot hadir di pelatihan 
nanti, akan ada Bp. Purnomo sebagai instruktur yang ahli dalam perhitungan 
analisa usaha ternak untuk menjadi teman diskusi menarik. Kemudian ada pula DR. 
Ir. Mesak Tombe yang akan lebih pintar dibandingkan Saya dalam usaha pertanian 
organikJ Di lokasi perkebunan& peternakan Eka Agro Rama nanti pak Endot juga 
dapat melihat lahan sayuran organik yang Kami miliki termasuk proses pembuatan 
pupuk organik dari kotoran ternak domba.

  Salam Bertani Sehat!


  Agus Ramada Setiadi




---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke