Tanggal:  Tue, 24 Apr 2007 21:36:11 +0700 (ICT)
Dari:   "ramada agus" <[EMAIL PROTECTED]>

Dear pak Asmadi
   
  Salam kenal dari Saya petani organik dan peternak Domba Garut di kabupaten 
Bandung. Saya amat senang dengan ketertarikan dan semangat yang Bapak miliki 
untuk mulai bertani organik. Sebenarnya bertani organik tidak mengharuskan 
petani untuk menggunakan teknologi tertentu. Karena pada prinsipnya bertani 
organik adalah cara bertani secara sehat dan alami dengan meminimalkan input 
dari luar. Petani dihadapkan pada suatu tantangan yang mengasyikkan untuk 
mengoptimalkan potensi sumber daya alam yang tersedia. Sebagai contoh 
pemanfaatan kotoran ternak untuk pupuk tanaman.
   
  Namun tentunya petani dihadapkan pada kenyataan target panen untuk perolehan 
pendapatan. Disinilah baru dinyatakan saat yang tepat untuk penerapan atau 
aplikasi teknologi pertanian organik. Banyak ragam dan macam penemuan teknologi 
pertanian organik di Indonesia saat ini, bahkan kondisi terakhir ditandai 
dengan munculnya berbagai merek dagang teknologi pertanian organik. Terpenting 
adalah pak Asmadi harus memahami betul dan mengerti cara penggunaan teknologi 
tersebut, misalkan: Teknologi Fermentasi Kompos untuk Kotoran Ternak, kemudian 
aplikasi Pestisida Nabati dan lain sebagainya. Cara ini dapat dipilih bila pak 
Asmadi menginginkan cara yang praktis, mudah dan gampang. Teknologi Bio Triba 
adalah salah satu produk teknologi pertanian organik yang mana sangat membantu 
dalam pengolahan kotoran ternak sebagai bahan baku kompos. Teknologi ini adalah 
hasil penemuan DR. Ir. Mesak Tombe, peneliti utama Balai Tanaman Obat dan 
Aromatika Bogor serta Penasihat Teknologi Eka Agro
 Rama. Terdapat pula Teknologi Bio Fob untuk peningkatan produktivitas 
pertanian organik dan Teknologi Pestisida Nabati masih dari hasil penemuan DR. 
Ir. Mesak Tombe. Bilamana pak Asmadi ingin mengetahui lebih jauh tentang 
teknologi ini maka silahkan mengikuti kegiatan pelatihan yang akan diadakan 
pada Tgl. 17 s.d 19 Mei Tahun 2007 bersama Eka Agro Rama dan Agromania.
   
  Apakah tidak ada cara lain yang lebih hemat? Pertanyaan ini sering Saya 
peroleh dari petani. Tidak perlu khawatir pak, nenek moyang kita dahulu juga 
bertani apa adanya dan secara alami. Silahkan pak Asmadi membaca beberapa 
artikel menarik berikut yang Saya peroleh dari Media Surat Kabar. 
   
  Salam Bertani Sehat!
   
  Agus Ramada S
   
  Pikiran Rakyat  
  Bahan Makanan Beresidu Bahan Kimia Mulai Ditinggalkan
Pestisida Aman yang Sempat Ditinggalkan 
  PENGGUNAAN pestisida nabati sebenarnya sudah dilakukan sejak lama oleh para 
petani, jauh sebelum intensifnya penggunaan pestisida kimia pada tahun 1980-an 
ke Indonesia. Penggunaan pestisida nabati bukan hanya dilakukan untuk 
pengendalian hama secara terpadu tanaman perkebunan, melainkan digunakan pula 
untuk tanaman pangan dan hortikultura. 
  Di antara pestisida nabati yang sudah banyak digunakan sejak lama, bahannya 
diambil dari daun tanaman surian dan tuba. Sejak dahulu, para petani sering 
menggunakannya di sawah untuk membasmi hama, walaupun tak spesifik untuk jenis 
hama tertentu. 
  Umumnya, bahan pestisida dari surian dan tuba yang sudah ditumbuk tersebut 
dimasukkan ke aliran air di sawah (kokocoran). Hasilnya cukup efektif. Sejumlah 
hama langsung berkurang dalam tempo dua atau tiga minggu setelah aliran air 
diberi pestisida nabati itu. 
  Namun, sejak penggunaan pestisida kimia intensif digunakan, terutama pada 
zaman Bimas (Bimbingan Masyarakat) dan Inmas (Intensifikasi Masyarakat), para 
petani secara bersangsur mulai "melupakan" penggunan pestisida nabati. Apalagi, 
pada masa itu, pestisida kimia dengan berbagai promosi gencar mampu merebut 
minat petani, terutama karena efektivitasnya dalam membunuh hama sangat cepat 
dibandingkan pestisida nabati. 
  Hanya, konsumen masyarakat dunia belakangan mulai "ogah" memakan makanan yang 
mengandung bahan kimia. Pasalnya, efek residu bahan kimia ternyata cukup 
banyak, sehingga diindikasikan akan merusak kesehatan. 
  Pada sisi lain, untuk komoditas pertanian, ternyata menimbulkan pula efek 
sampingan, yaitu terjadinya resistensi atas hama, hama kedua menjadi lebih 
banyak, serta pencemaran lingkungan. Itu membuat banyak komoditas pertanian 
menjadi kurang laku di pasaran. 
  Beranjak dari persoalan itu, pemerintah kembali menggalakkan penggunaan 
pestisida nabati pada tahun 1996 dan secara gencar mengenalkan sejumlah jenis 
pestisida nabati pada tahun 1997. Namun, ini pun semuanya sudah melalui proses 
pengujian di lapangan, dengan saat itu mengambil dua bahan utama, surian untuk 
tanaman teh dan cengkeh untuk tanaman vanili. 
  Hasil uji coba di lapangan ternyata cukup efektif. Pestisida nabati memiliki 
kelebihan, yaitu mudah terurai (tak ada residu yang melengket pada tanaman), 
spektrum sempit (jenis hama yang dibunuh terfokus), serta bahan yang dibutuhkan 
mudah diperoleh dan harga lebih murah. 
  Penggunaan pestisida nabati bukan hanya untuk ekonomis pengendalian hama 
tanaman, melainkan punya fungsi ganda, yaitu mendukung pembangunan yang 
berwawasan lingkungan, pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) 
diarahkan kepada sistem pengendalian hama terpadu (PHT). Selain itu, pestisida 
nabati merupakan salah satu komponen PHT yang telah teruji efektif, efisien, 
dan ramah lingkungan. 
  "Secara regional pun, penggunaan pestisida nabati ikut mendukung konsep 
pembangunan dan pelestarian lingkungan daerah Jabar yang kini sedang giat 
dilakukan. Itu setidaknya dilakukan secara aplikasi melalui subsektor 
perkebunan untuk pengendalian hama terpadu pada tanaman teh. Apalagi, fungsi 
tanaman teh bukan hanya untuk segi ekonomis, melainkan juga untuk pelestarian 
lingkungan," ujar Asep Sobari, pemandu lapang-1 dari Bagian Projek Pengendalian 
Hama Terpadu Perkebunan Rakyat, Dinas perkebunan Jabar. (Kodar Solihat/"PR") 
*** 



       
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke