Tanggal:  Tue, 24 Apr 2007 13:53:07 +0700 (ICT)
Dari:   "ramada agus" <[EMAIL PROTECTED]>

Ternak Domba Garut,
Peluang Usaha Menembus Pasar Lokal& Dunia
Oleh. Agus Ramada Setiadi, Direktur Utama Eka Agro Rama

  Seringkali masih banyak orang yang keliru ketika membedakan antara domba dan 
kambing. Uniknya lagi adalah lebih dikenal kelezatan sate kambing dibandingkan 
sate domba. Apakah betul domba dan kambing itu sama? Atau keduanya memang jenis 
hewan ternak yang berbeda? Pada dasarnya domba dan kambing merupakan jenis 
hewan ternak pemakan rumput yang tergolong ruminansia kecil, keduanya pun 
populasinya hampir tersebar merata dan ada di seluruh dunia. Namun bila kita 
melihat visual fisiknya dengan cermat maka domba berbeda dengan kambing. Postur 
tubuh domba cenderung lebih bulat dibandingkan dengan kambing yang ramping. 
Daun telinga kambing panjang dan terkulai. Bentuk bulu domba pun lebih ikal dan 
keriting sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bulu wool sedangkan lain halnya 
dengan kambing yang cenderung lurus.
  Hewan ternak domba yang ada sekarang diduga merupakan hasil dometikasi 
manusia dari 3 jenis domba liar: Domba Mouflon dari Eropa Selatan dan Asia 
Kecil, Domba Argali dari Asia Tenggara serta Urial dari Asia. Domba-domba ini 
awalnya diburu secara liar sampai akhirnya diternakkan oleh manusia. 
Dibandingkan dengan sapi, babi, kuda dan kerbau sebagai sesama hewan 
ruminansia, hewan ternak domba lebih dahulu memiliki nilai komersial sejak abad 
7000 SM. Bahkan di Indonesia keberadaan hewan ternak domba dapat dilihat pada 
relief Circa 800 SM pada Candi Borobudur. Olehkarenanya tidaklah heran bila 
jumlah populasi domba adalah jauh lebih banyak dibandingkan dengan kambing di 
dunia. Data Food Agricultural Organization (FAO) tahun 2002, jumlah populasi 
domba dunia kurang lebih 1.034 milyar ekor sedangkan kambing hanya sekitar 743 
juta. Populasi terbesar domba dan kambing dunia adalah di negara Tirai Bambu 
Cina, di mana negara kedua terbesar adalah Australia untuk domba dan India
 untuk kambing.
  Sebagai bagian dari sektor usaha peternakan nasional, prosentase kebutuhan 
daging domba dan kambing masyarakat Indonesia adalah masih jauh di bawah sub 
sektor usaha peternakan lainnya seperti ayam/ unggas (56%), sapi (23%) serta 
babi (13%). Menurut data Ditjen. Peternakan – Deptan RI tahun 2005, konsumsi 
daging domba dan kambing di masyarakat memang masih sangat rendah yaitu hanya 
sekitar 5%. Namun bila melihat potensi kebutuhan daging hewan ternak ini yang 
pada tiap tahunnya kurang lebih sekitar 5,6 juta ekor untuk kebutuhan ibadah 
kurban saja, dan belum termasuk kebutuhan pasokan untuk aqiqah, industri 
restoran sampai dengan warung sate kaki lima yang membutuhkan 2 – 3 ekor tiap 
harinya, pertumbuhan populasi domba dan kambing  adalah belum sebanding dengan 
angka permintaan yang terus meningkat. Potensi ini belum dihitung kebutuhan 
pasar di kawasan Asia Tenggara seperti Malaysia dan Singapura, serta kawasan 
Timur Tengah yang tiap tahunnya membutuhkan kurang lebih 9,3
 juta ekor domba. Di mana kebutuhan pasokan daging domba untuk kawasan Timur 
Tengah sampai saat ini masih dipenuhi oleh Australia dan Selandia Baru. Miris 
memang, di mana Indonesia sebagai negara dengan jumlah populasi masyarakat 
muslim terbesar di dunia sebenarnya lebih memiliki peluang untuk itu.
   Pertumbuhan populasi domba dan kambing di Indonesia adalah relatif kecil 
sedangkan permintaan terus meningkat seiring jumlah penduduk dan perbaikan 
pendapatan kesejahteraan masyarakat. Bukan mustahil suatu saat akan terjadi 
kelangkaan produksi daging domba dan kambing sehingga pelaksanaan ibadah kurban 
akan mengimpor dari Australia ataupun Selandia Baru. Di Indonesia, keberadaan 
populasi domba dan kambing hampir tersebar dengan merata di seluruh wilayah. 
Namun sayangnya pemeliharaan ternak domba dan kambing di negeri ini sebagian 
besar masih dalam skala kecil dan tradisional. Berbeda dengan Australia, pola 
peternakan intensif dengan dukungan teknologi telah menjadikan negara tersebut 
dapat menghasilkan produksi domba skala besar dan berkualitas. Bayangkan saja, 
total ekspor daging domba Australia ke negara Saudi Arabia pada tahun 2006 
adalah setara dengan 3,6 juta ekor.
  Populasi hewan ternak domba dan kambing terbesar pada akhir tahun 2006 ada di 
wilayah provinsi Jawa Barat yaitu kurang lebih 3,5 juta ekor atau sekitar 49% 
dari jumlah populasi nasional. Di provinsi ini bahkan terdapat jenis hewan 
ternak ruminansia kecil yang merupakan kekayaan plasma nutfah Indonesia serta 
menjadi ciri khas provinsi yang dikenal dengan julukan bumi parahyangan 
tersebut. Domba Garut, Ovies Aries, domba ini adalah hasil persilangan dari 3 
rumpun bangsa domba: Merino - Australia, Kaapstad dari Afrika dan Jawa Ekor 
Gemuk di Indonesia. Domba Jawa Ekor Gemuk sudah ada sebelumnya sejak lama 
sebagai jenis domba lokal, Domba Merino dibawa oleh pedagang Belanda ke 
Indonesia  sedangkan Domba Kaapstad didatangkan para pedagang Arab ke tanah 
Jawa sekitar abad ke-19.
  Domba Garut adalah jenis domba tropis bersifat profilik yaitu dapat beranak 
lebih dari 2 (dua) ekor dalam 1 siklus kelahiran. Di mana dalam periode 1 
tahun, Domba Garut dapat mengalami 2 siklus kelahiran. Domba ini memiliki berat 
badan rata-rata di atas domba lokal Indonesia lainnya. Domba jantan dapat 
memiliki berat sekitar 60 – 80 kg bahkan ada yang dapat mencapai lebih dari 100 
kg. Sedangkan domba betina memiliki berat antara 30 – 50 kg. Ciri fisik Domba 
Garut jantan yaitu bertanduk, berleher besar dan kuat, dengan corak warna 
putih, hitam, cokelat atau campuran ketiganya. Ciri domba betina adalah dominan 
tidak bertanduk, kalaupun bertanduk namun kecil dengan corak warna yang serupa 
domba jantan. Domba Garut merupakan plasma nutfah terlangka di dunia karena 
postur hewan ternak ini nyaris menyerupai bison di USA.  Populasi Domba Garut 
terbesar di Indonesia tentunya ada di wilayah provinsi Jawa Barat dengan lokasi 
daerah penyebaran antara lain: Garut, Majalengka,
 Kuningan, Cianjur, Sukabumi, Tasikmalaya, Bandung, Sumedang, Indramayu dan 
Purwakarta. Mungkin hampir sebagian orang lebih mengenal hewan ternak Domba 
Garut identik dengan domba aduan yang berlaga di arena adu ketangkasan. Domba 
Garut adalah hewan ternak eksotis. Memanglah betul bila sampai saat ini di 
kalangan masyarakat provinsi Jawa Barat masih menggemari adu ketangkasan domba, 
akan tetapi perlu untuk diluruskan bahwa arena adu ketangkasan yang ada 
sekarang tidak memperbolehkan pertarungan 2 ekor domba jantan sampai titik 
darah penghabisan. Telah dilakukan perubahan peraturan oleh organisasi Himpunan 
Peternak Domba Kambing Indonesia (HPDKI) yang saat ini dipimpin oleh Drs. H.A.M 
Sampurna, MM. selaku ketua umum dan Drs. H. Uu Rukmana selaku ketua wilayah 
provinsi Jawa Barat. Arena adu ketangkasan saat ini lebih menjadi arena seni 
dan budaya yaitu tempat bertemunya silaturahmi antar peternak, penghobi, show 
room, transaksi bibit domba berkualitas serta objek wisata.
 Beberapa nama seperti kang Ibing, dalang Asep Sunarya merupakan nama yang 
cukup dikenal sebagai penghobi dan pemilik Domba Garut berkualitas. Hobi 
memelihara ternak Domba Garut dijamin tidak akan kalah kepuasannya dengan 
memelihara jenis hewan lainnya seperti kucing, ikan dan sebagainya. Suatu 
kepuasan ketika tanduk Domba Garut jantan dapat terbentuk dan tumbuh maksimal 
ataupun dengan keindahan corak serta warna bulu yang dihasilkan. Sepatu boot, 
bertopi koboi, pakaian hitam adalah ciri penghobi ketika datang ke arena seni 
dan budaya adu ketangkasan. Dan jangan salah, harga 1 ekor ternak Domba Garut 
jantan berkualitas dikalangan penghobi dapat bernilai di atas 10 juta rupiah 
bahkan ada yang ratusan juta rupiah.
  Namun yang patut dikhawatirkan pada kondisi saat ini adalah populasi Domba 
Garut berkualitas yang kian menyusut dan dapat terancam punah di mana bertolak 
belakang dengan sifat profilik yang dimilikinya. Kurangnya perhatian serius 
terhadap sektor usaha pembibitan menjadikan populasi Domba Garut unggulan agak 
sukar ditemukan. Dan ini pula yang menjadikan hewan ternak Domba Garut untuk 
kebutuhan ibadah kurban kian mahal harganya. Seperti yang diutarakan oleh Drh. 
Abdul Jabbar Zulkifli selaku Sekretaris Jenderal Himpunan Peternak Domba 
Kambing Indonesia (HPDKI) dalam diskusinya dengan penulis belum lama ini.
  Kondisi tersebut tentunya sangat disayangkan, terlebih bila kita tahu potensi 
ekonomis hewan ternak Domba Garut yang tidak hanya identik dengan domba aduan, 
kualitas daging Domba Garut juga memiliki nilai gizi yang cukup baik 
dibandingkan dengan kambing untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat. 
Bahkan tidak hanya dimanfaatkan dagingnya saja, kulit Domba Garut dapat 
dijadikan bahan baku untuk pembuatan jaket berkualitas. Data tahun 2005 yang 
didapat dari website kabupaten Garut, industri jaket berbahan baku kulit Domba 
Garut dapat menyerap 2.656 tenaga kerja dengan nilai ekspor Rp. 84,7 milyar ke 
berbagai negara tujuan seperti Singapura, Malaysia, Taiwan dan Australia. 
Kotoran ternak Domba Garut pun dapat memberikan keuntungan dan nilai manfaat 
bila diolah dengan baik yaitu sebagai bahan baku pembuatan pupuk organik.
  Dari hasil penelitian yang dilakukan, kebutuhan unsur hara pada tanaman dapat 
terpenuhi dengan pemberian pupuk organik hasil fermentasi berbahan baku kotoran 
domba yang sangat bermanfaat untuk meningkatkan hasil produksi pertanian.  
Seorang peneliti utama lulusan Jepang dari Balai Penelitian Tanaman Obat dan 
Aromatika – Bogor, Dr. Ir. Mesak Tombe, saat ini berhasil menemukan teknologi 
yang sudah mendapatkan hak paten untuk meningkatkan kualitas pupuk organik yang 
dihasilkan dari kotoran ternak,  teknologi tersebut dinamakan Bio Triba. 
Dikemas dalam bentuk formula cair dengan kandungan mikroorganisme B. 
Pantotkenticus strain J2 dan T. Lactae strain TB1.
  Teknologi yang ditemukan Dr. Ir. Mesak Tombe sangat membantu dalam proses 
pematangan kotoran ternak menjadi pupuk organik antara periode 1 – 2 minggu. 
Tidak hanya itu, teknologi ini juga dapat diaplikasikan pada pengolahan limbah 
organik pasar dan rumah tangga. Kelebihan lain teknologi ini adalah dapat 
berperan pula sebagai bio fungisida untuk pengendalian penyakit pada tanaman. 
Adalah tepat bila sektor usaha peternakan dan pertanian memang harus saling 
bersinergi. Terlebih lagi saat ini petani dalam posisi sulit diantara kenaikan 
biaya produksi sebagai akibat harga pupuk yang terus melambung, di sisi lain 
petani tidak bisa seenaknya menaikkan harga jual sehingga perolehan pendapatan 
semakin menipis. Terbesit gagasan pula untuk mengkombinasikan ternak Domba 
Garut dengan sektor perikanan air tawar. Design kandang ternak domba dibuat 
panggung di atas kolam ikan.
  Secara segmentasi pasar lokal, Domba Garut memiliki potensi pasar yang multi 
user. Seperti yang disampaikan oleh Agus Ramada selaku Direktur Utama Eka Agro 
Rama sebagai perusahaan agri bisnis yang concern dalam usaha ternak Domba Garut 
dan pertanian organik.  Dan ini yang menjadikan hewan ternak Domba Garut layak 
untuk dikembangkan sebagai pilihan dalam sektor usaha peternakan. Potensi pasar 
terbesar pertama adalah hewan ternak Domba Garut untuk memenuhi kebutuhan 
tahunan ibadah kurban. Kemudian menyusul kebutuhan konsumsi daging harian baik 
itu rumah tangga, restoran dan warung sate. Selanjutnya adalah kebutuhan 
aqiqah, dan terakhir adalah penghobi yang selalu mencari bibit Domba Garut 
jantan unggulan.
  Penjelasan Dr. Ismeth Inounu, peneliti utama bidang pemuliaan dan genetika 
dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak – Deptan RI), 
yaitu pada kunjungannya ke lokasi peternakan Domba Garut Eka Agro Rama, 
kabupaten Bandung, provinsi Jawa Barat bulan April lalu, pemerintah saat ini 
memberikan perhatian serius untuk pengembangan sektor usaha pembibitan dan 
perbanyakan hewan ternak domba serta kambing antara lain Domba Garut.
  Tidak hanya program pemuliaan galur murni untuk mengembalikan kualitas 
terbaik hewan ternak Domba Garut, akan tetapi program pengembangan domba 
komposit untuk dapat menghasilkan keturunan ataupun bibit unggulan baru juga 
sedang giat dilakukan. Berbagaimacam penemuan teknologi terkait reproduksi 
ternak domba terus dikembangkan untuk mempermudah upaya produksi dan 
perbanyakan domba berkualitas, sebagai contoh teknologi laserpuntur dan suntik 
hormonal yang akan sangat bermanfaat untuk sinkronisasi birahi dan perkawinan 
massal. Keberhasilan perkawinan domba lokal Sumatera dengan domba St. Croix 
dari Virgins Islands dan domba Barbados, kemudian Domba Garut dengan domba St. 
Croix serta Domba Moulton dari Prancis, adalah program pengembangan domba 
komposit yang berhasil dilakukan oleh Puslitbangnak – Deptan RI dari aplikasi 
penemuan teknologi tersebut.
  Tidak hanya sebatas itu, di lokasi peternakan Eka Agro Rama juga telah 
berhasil program pengembangan domba komposit berupa perkawinan Domba Garut 
betina dengan Domba Suffolk pejantan dari Inggris, kemudian Domba Garut betina 
dengan pejantan Merino – Australia yang telah menghasilkan kualitas anakan 
dengan harapan akan jauh lebih baik sehingga dapat memenuhi kebutuhan konsumsi 
daging. Adalah Alam Yanuardi selaku Direktur Operasional yang dengan tangan 
dinginnya berhasil menjalankan program pengembangan domba komposit tersebut.
  Dalam pengembangan usaha ternak Domba Garut maka Eka Agro Rama tidaklah 
bergerak seorang diri. Terlebih dengan potensi menembus peluang pasar lokal dan 
dunia yang masih cukup besar. Dirintis pula upaya kerjasama mulai dari sektor 
hulu sampai dengan sektor hilir untuk dapat mencapai tujuan usaha ternak yang 
diinginkan. Salah satu rekanan kerjasama yang senantiasa membantu Eka Agro Rama 
dalam pengembangan usahanya antara lain adalah Kampoeng Ternak – Dompet Dhua’fa 
Republika. Eksistensi Kampoeng Ternak – Dompet Dhua’fa Republika patut diacungi 
jempol dalam pengembangan sub sektor usaha peternakan domba kambing di 
Indonesia. Program Tebar Hewan Kurban dan 1000 Aqiqah yang sedang dijalankan 
oleh Kampoeng Ternak tidak hanya bertujuan untuk memajukan usaha ternak domba 
dan kambing di Indonesia, akan tetapi bertujuan pula untuk membantu masyarakat 
yang kurang mampu dalam kebutuhan konsumsi daging domba. Seperti yang 
dijelaskan Purnomo, SPt selaku Direktur Kampoeng Ternak
 – Dompet Dhua’fa Republika. Eka Agro Rama sendiri saat ini lebih terfokus 
bergerak dalam sektor usaha pembibitan dan perbanyakan Domba Garut. Penyediaan 
Domba Garut berkualitas untuk kebutuhan kurban, aqiqah, restoran sampai dengan 
warung sate kaki lima adalah menjadi impian Kami, ucap Agus Ramada. Salam 
Peternak Domba Sehat!




---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke