Tanggal:  Thu, 3 May 2007 22:40:18 +0700 (ICT)
Dari:   "ramada agus" <[EMAIL PROTECTED]>

  PETANI& INTERNET
  Oleh. Agus Ramada Setiadi

              “Hah, Internet? Apa’an tuh? Kita harus waspada dan tingkatkan 
keamanan desa kalau begitu!” Demikian kiranya cuplikan dialog dari sebuah iklan 
layanan masyarakat di televisi Indonesia. Mohon maaf yang sebesar-besarnya di 
mana hendaknya ini menjadi suatu renungan dan motivasi. Coba untuk membuka 
situs www.idrc.ca, kelompok petani kecil di negara Kenya dapat memperoleh 
informasi tentang perkembangan harga pasar melalui Internet. Adalah kota 
Karatina tempat di mana kelompok petani itu berada, sebuah kota kecil berjarak 
100 kilometer dari kota Nairobi sebagai ibukota negara Kenya. Kota kecil ini 
dapat ditempuh kurang lebih 2 jam perjalanan dari kota Nairobi dengan 
berkendaraan mobil dan itu berarti jaraknya hampir sama dengan Jakarta ke Bogor 
barangkali? Sebagai informasi pula, komunikasi telepon baru mulai masuk ke 
negara ini sekitar tahun 60-an.
              Petani di kota Karatina umumnya adalah petani sayuran dan 
buah-buahan. Mereka menjual hasil panennya dengan harga yang kurang begitu baik 
ke pasar lokal setempat di mana banyak berkumpul ribuan pedagang dari Nairobi. 
Sungguh miris nasib mereka, terlebih setelah diketahui harga hasil panen petani 
akan naik menjadi 40% sesampainya di kota Nairobi ibukota negara Kenya. Apakah 
di Indonesia juga sama? Mungkin hati kecil kita yang lebih tahu jawabnya. Upaya 
terobosan coba dilakukan oleh Peter Kimani, petani lokal Karatina yang juga 
ketua kelompok petani di kota kecil itu. Sebuah project yang didukung oleh Bank 
Dunia telah mengubah drastis nasib petani. Project yang dinamakan DrumNet telah 
menjadikan petani Karatina dapat mengetahui perkembangan harga pasar sampai ke 
ujung dunia sekalipun. Tidak hanya itu, bahkan saat ini importir dari berbagai 
negara di dunia dapat langsung berhubungan dengan Kelompok Petani di Karatina.
              Coba pula untuk membuka situs www.rirdc.gov.au, pemerintah negara 
Australia mewajibkan petaninya untuk memanfaatkan teknologi internet sebagai 
sarana publikasi, promosi dan mengetahui perkembangan pasar diberbagai negara 
dunia. Lebih merinding lagi pidato Perdana Menteri Malaysia pada situs bursa 
pertanian dan peternakan di negeri Jiran tersebut yang kira-kira isinya,”Petani 
kita harus maju dibandingkan petani di negara lainnya. Sebelum petani hendak 
menjual, petani harus tahu berapa harga yang berlaku di Kuala Lumpur, berapa 
harga yang berlaku di Johor dan Kelantan, berapa harga di Indonesia dan berapa 
harga di Singapura!”
  Bagaimana dengan petani Indonesia? Jangankan untuk dapat fasilitas akses 
internet, modal untuk bercocok tanam saja kadang masih harus meminjam? Belum 
soal harga jual, balik modal saja sudah bagus! Mohon maaf yang sebesar-besarnya 
di mana hendaknya ini menjadi suatu renungan dan motivasi. Kenapa Kenya bisa 
dan Indonesia tidak? Kenapa Australia mampu sedangkan Indonesia tidak? Negeri 
Jiran saja sanggup tetapi Indonesia tidak? Sebagai penutup, simak situs 
www.bizcommunity.com, petani Uganda mengakses jaringan internet dengan 
mudahnya. Dalam satu wilayah katakanlah desa dibuat semacam ruangan kecil yang 
terdiri dari 2 unit komputer dan 1 jaringan telepon. Sungguh beruntung 
tampaknya petani Uganda dibandingkan kita di mana produk pertanian negara itu 
sudah banyak yang menembus pasar dunia! Terlebih saat sekarang ini kita sudah 
memiliki sebuah millis yang sarat anggotanya, adalah suatu harapan bila millis 
Agromania dapat dinikmati pula oleh petani Indonesia yang jauh berada di
 pelosok sana. Salam Bertani Sehat!




---------------------------------
Sekarang dengan penyimpanan 1GB
 http://id.mail.yahoo.com/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke